Sebelum menonton film, pastikan kamu memisahkan film tersebut ke dalam beberapa kategori. Seperti kategori ”baik”, “buruk”, “perlu”, “tidak perlu”, “informatif” dan “propagandis”. Kali ini film dengan kategori “perlu” harus kamu tambahkan dalam daftarmu karena Film La Belle Verte atau dalam bahasa Inggris The Green Beauty memang perlu kamu tonton. Film ini mengajak penonton untuk mempertanyakan lagi keberadaannya sebagai manusia di bumi.

Film Perancis tahun 1996 yang ditulis dan disutradarai oleh aktirs, sutradara dan penulis Perancis Coline Serreau. Dibintangi olehnya sendiri, Vincent Lindon, Marion Cotillard dserta Yolade Moreau.

Film yang memberikan perbandingan antara sebuah planet utopis bernama La Belle Verte (The Green Beauty) dan planet bumi. Perbadingan ini ditunjukkan melalui pengalaman Mila (Coline Serreau) seorang janda dari planet La Belle Verte yang berusia 150 tahun saat mengunjungi planet bumi.

La Belle Verte merupakan sebuah planet kecil yang sangat beradab dan makmur. Masyarakatnya egaliter, tidak mengenal uang, hidup tanpa rumah, tidak memakan daging, hanya mengonsumsi sayur serta buah yang ditanam secara organik.

Mereka memiliki kemampuan telepati yang sangat tinggi. Jadi dalam berkomunikasi mereka hanya perlu berkonsentrasi, meski terpisah jarak, pikiran tetap akan terbaca. Barang-barang dihasilkan sesuai dengan spesialisasi masing-masing dan diperdagangkan sesuai dengan kebutuhan tanpa menggunakan sistem moneter. Usia penduduk La Belle Verte juga sangat panjang. Mereka berusia hingga ratusan tahun dan meninggal dalam kebijaksanaan.

Kisah dalam film dimulai dengan adegan pertemuan manusia penghuni La Belle Verte di sebuah lapangan hijau di puncak bukit. Itu adalah pertemuan akbar tahunan untuk membicarakan bagaimana kehidupan harus dijalankan hingga satu tahun ke depan. Mereka saling bertukar kebutuhan, tentu saja tidak ada yang membayar menggunakan uang.

Jika manusia di bumi mengontrol kelahiran manusia baru dengan mengonsumsi pil KB atau mengenakan kondom saat melakukan hubungan seksual, di planet utopis ini mereka mengontrol kelahiran dengan menyesuaikan ukuran tanaman yang mereka tanam. Mereka memutuskan tidak melahirkan jika ukuran tanaman belum tepat.

Film ini memungkinkan penonton melihat kehidupan di planet bumi yang penuh dengan perbudakan materi, sistem moneter yang kacau, populasi manusia yang tidak terkontrol, ego, dan stress yang menyiksa semua jiwa. Saat berkunjung ke bumi, Mila melihat nyaris tidak ada kebahagiaan di planet itu. Manusia menjadi karnivora, menghirup polusi, dan mengenakan hal-hal menyakitkan seperti anting-anting, pakaian yang agak sempit, sepatu yang harus selalu mengkilap agar bisa mengobrol satu sama lain.

La Belle Verte dipenuhi percakapan yang mengajak penonton berpikir. Bayangkan, film ini dibuat tahun 1996 dan sekarang 2019, di mana black hole alias lubang hitam sudah tertangkap kamera dan diketahui seluruh dunia bentuknya. Peradaban di bumi sudah semaju ini, namun permasalahan yang dialami planet kita sepertinya tidak berubah sejak film ini dibuat.

Ada rasa sedih saat seorang penghuni planet La Belle Verte mengatakan manusia di planet bumi hanya menggunakan otaknya kurang dari 10%. Namun rasa sedih tidak akan lama karena film ini memiliki sentuhan komedi yang disisipkan melalui ucapan-ucapan sarkas. Lumayan membuat senyum-senyum sendiri. Film yang konon diproduksi prematur ini sempat mengundang kontroversi di jamannya.

Coline Serreau merupakan satu dari deretan penulis film berbakat di Perancis. Karya-karyanya selalu lekat dengan isu sosial mendalam yang dibuat berdasarkan riset panjang, mengandung pesan yang tegas dan dibalut dengan komedi. Sebut saja Three Men and a Cradle, film komedi yang dibuat tahun 1985 dan cukup terkenal. Karyanya memenangkan tiga penghargaan Cesar yang bergengsi. Film lainnya adalah Saint Jack, Mecca, kemudian film Chaos yang dia produksi tahun 2001 yang mengangkat isu empowered women empower women.

Pada April 2010, dia juga merilis film dokumenter berjudul Local Solutions for Global Disorder yang membahas mengenai masalah produksi pangan modern serta solusinya. Film dokumenter ini tayang perdana di hadapan para anggota parlemen di Belgia dan mendapat sambutan yang sangat positif.

Melalui La Belle Verte, Coline Serreau mencoba mengingatkan penonton pada banyaknya kekeliruan yang dipercaya manusia sebagai sebuah kebenaran. Tidak hanya kekeliruan dalam memperlakukan sesama manusia atau alam, tapi juga kekeliruan dalam memperlakukan diri sendiri.

Orang-orang Indonesia mungkin akan memikirkan masyarakat adat Baduy ketika melihat cara hidup penghuni planet La Belle Verte. Cara hidup di mana manusia menghargai tumbuhan, pohon, air, udara, dan semua yang semesta sediakan

Penulis: Claudia Liberani, penulis lepas yang sehari-hari bermain dan belajar di @saomamasa. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di blog pribadi www.claudialiberani.com

Facebook Comments
No more articles