Tersebutlah Medusa, pinggang yang lampai, tenggorokan bak kulit bawang, dan betis yang putih pualam membuat ia menjadi perempuan paling mempesona se-seantero Athena. Waktu itu, dingin sisa pagi masih menggantung di udara, tangan fajar mengacu di langit, dan Medusa tengah membaca puisi-puisi cinta di tepi pantai di sebelah kuil. Terlihat di kejauhan, kereta kuda emas bergulir diatas buih laut.

Semesta berkidung ria menyambut sang dewa samudra Poseidon. Dari mata yang setajam hiu, dilihatnya tubuh Medusa di tepi pantai tersepuh sinar matahari. Poseidon tergetar, ada yang mendadak panas di selangkangannya. Ditariknya medusa ke balik pintu kuil.  Setelah itu pembaca bisa mengetahui adegan selanjutnya, yang bisa penulis gambarkan hanyalah erangan satu nada Medusa, menggema memenuhi ruangan kuil Athena.  

Kabar pemerkosaan itu menyebar sampai ke telinga mahkama agung. “Medusa telah memancing dewa laut, bersundal di kuil suci”. Tidak ada yang bisa ia lakukan sesaat setelah kutukan mahkama agung Athena menimpanya. Ikal rambutnya yang berlingkar-lingkar akan menjadi tempat bersarang ular dan matanya, cahaya tempat tersungkur beku setiap orang. 

Setelah kutukan itu, ia malah ditakuti sebagai monster dan menjadi momok Athena. Warga kota yang resah, akhirnya menugaskan seorang lelaki  bernama Perseus memengggal kepala Medusa saat tertidur, hanya di saat paling lengah itu, lelaki pengecut Perseus mampu memenggal kepalanya. Dari deras alirah darah di lehernya, muncul Pegasus, dewa kebudayaan.

Di waktu dan tempat yang lain, tersebutlah seorang perempuan bernama Amba. Dia, satu dari tiga besaudara, hadiah sayembara para kesatria di India. Dikisahkan dia dimenangkan oleh Bhisma. Maksud hati Bhisma mengikuti sayembara itu untuk menikahkan amba dengan saudaranya Wichitrawirya. 

Di tengah jalan Bhisma dicemooh, amba rupaya sudah punya pinangan, Salwa dari kerajaan Saubala. Tidak tega merusak kisah cinta mereka, Bhisma memulangkan Amba ke Saubala, tetapi sayangnya raja Salwa tidak  bisa menerima Amba. Ia telah kalah dalam sayembara, dan jika menerima amba, ia telah melanggar dharma kesatria.  Amba akhirnya dipulangkan ke Bhisma, tetapi Bhisma juga tidak bisa menerimanya karena telah menikahkan Wichitrawirya dengan dengan saudara amba, yakni ambika dan ambalika.

Tidak tahu harus kemana, Amba merasa dirinya harus mati saja, penolakannya atas Bhisma membuat hidupnya pupus sudah. Api dendam atas Bhisma membuat Amba mengasingkan diri bertapa di kaki gunung Himalaya. Atas pertolongan Batara Shiwa, kelamin Amba berubah, ia menjadi lelaki. dalam pertarungan Mahabaratha ia diberi restu oleh dewa Shiwa untuk membunuh Bhisma.

Mitologi-mitologi agung, hadir seolah menjadi lonceng pengingat untuk menjelaskan kepada kita, betapa perempuan selalu menjadi bagian paling asing dalam sejarah manusia, tetapi di satu sisi, dari sanalah peradaban bermula. Kita bisa melihat di Indonesia, tercatat dalam Komnas perempuan, pada tahun 2015, terdapat 16.217 kasus, sedangkan di tahun 2016, tercatat 259.150 kasus kekerasan terghadap perempuan didominasi oleh pelecehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Pada tahun 2017 Komnas perempuan mencatat 348.446 kekerasan terhadap perempuan didominasi oleh kasus pacaran dan KDRT. Berdasarkan hasil data yang diperoleh dari tahun 2015-2017, peningkatan kekerasan terhadap perempuan melonjak drastis setiap tahunnya.

Artinya dari kuil Athena tempat Medusa diperkosa oleh dewa Laki-laki, dihakimi oleh hakim Laki-laki dan dibunuh oleh kesatria laki-laki, erangan itu abadi dalam silang-saling sambungnya. Bersahut-sahutan dengan ribuan erangan perempuan di seluruh penjuru dunia.  Mitologi-mitologi agung juga menjelaskan kepada kita, bahwa perempuan hanyalah barang sayembara. Perempuan bisa dibeli dan ditaklukkan dengan keperkasaan laki-laki.

Sebutan yang palim lazim di era kini misalnya Pekerja Seks Komersial, atau Ayam kampus.  Ketika perempuan menolak, itu berarti petaka baginya, seperti petaka hidup dari penolakan Srikandi yang menolak pinangan Wichitrawirya dari Bhisma atau Dayang Sumbi dalam mitologi Sangkuriang.

Di negeri kita, berapa banyak suara yang bisa perempuan katakan untuk menolak berbagai tuduhan yang ditimpakan kepada mereka? Misalnya frasa klise tentang “perempuan itu penggosip!” Kata ustadz dalam mimbar khutbahnya. Tetapi adakah perempuan yang cukup berani untuk naik ke mimbar mesjid, menolak dan mengatakan bahwa laki-laki tidak lebih penggosip dari perempuan?

Di kantor, masjid, atau kedai kopi, mereka juga bergosip, pagi ke pagi. Menggunjingkan banyak perihal, dari mulai hiruk pikuk calon presiden kosong satu atau dua, sampai ketidakpuasannya bercinta. Mitologi Srikandi juga menjelaskan betapa banyak perempuan yang mampu bertahan dalam pabrik di era kapital yang kejam seperti ini dengan cara harus berperangai laki-laki.

Pada akhirnya sebelum feminisme atau ekofeminisme menggaungkan seruan tehadap keserataan perempuan, jauh sebelum itu, jerit Medusa di kuil Athena dan ratapan Amba di kaki gunung Himalaya, juga mitologi agung lainnya hadir untuk memberi bentang perenungan yang panjang terhadap kita, laki-laki ataupun perempuan untuk memformulasikan ulang gender dalam sistem tata sosial kita. Peradaban yang dibangun dan tersungkur di bawah kaki perempuan. 

Penulis: Jusiman Dessirua, Alumni Sastra Indonesia UNM Makassar dan mahasiswa Institut Sastra Makassar (ISM)

Facebook Comments
No more articles