Musik sudah lama dianggap punya pengaruh terhadap tubuh maupun jiwa manusia. Umumnya, musik berpengaruh besar bagi manusia dari segi fisiologis, psikologis, dan spiritual. Keberpengaruhan itu mendorong musik punya posisi tertentu sekaligus menjadi bagian sentral atas kebutuhan estetik manusia.

Dalam bukunya  Nurturing Your Child with Music, John M. Ortiz (2002) mengatakan bahwa musik dapat mempercepat detak jantung maupun menenangkan pikiran seseorang. Selain pengaruh musik pada tubuh dan jiwa seseorang, terdapat pula manfaat dari mendengarkan musik, seperti diantaranya membantu meningkatkan konsentrasi, menenangkan pikiran, meningkatkan kewaspadaan, dan mengurangi suara-suara eksternal yang bisa mengalihkan perhatian seseorang.

Istilah musik pertama kali berasal dari kata dalam bahasa Yunani, Musike yang diadopsi dari kata Muse-muse yakni sembilan dewa Yunani di bawah Dewa Apollo yang bertugas melindungi seni dan ilmu pengetahuan. Dalam mitologi Yunani kuno, musike berarti suatu kehidupan yang berasal dari kemurahan hati para dewa-dewa dan diwujudkan sebagai bakat. Lalu seseorang bernama Pythagoras menegaskan, bahwa musik bukan sekadar hadiah atau bakat dari para dewa-dewi, tetapi musik terjadi karena akal budi manusia dalam bentuk teori-teori dan ide yang konseptual.

Musik bagi bangsa Yunani kuno mengemban peranan penting. Hal tersebut ditunjukkan dalam upacara-upacara keagamaan, bersanding dengan syair-syair (yang jadi cikal bakal puisi) yang berisi ekspresi penghormatan dan pemujaan kepada Dewa Apollo dengan menggunakan instrumen atau alat musik lira dan Dewa Dyonisian dengan instrumen aulos. Lira atau kithara merupakan alat musik petik yang mempunyai 5-7 senar, sedangkan aulos adalah alat musik tiup yang terdiri dari satu atau dua lidah (reed). Mitologi telah melahirkan budaya musik bagi orang-orang Yunani, dan dari kedua Dewa tersebutlah kemudian pondasi bagi kemegahan musik-musik Barat terbangun.

Secara fisiologis, musik mampu mempengaruhi denyut jantung dan tekanan darah sesuai dengan frekuensi, tempo, dan tinggi rendahnya suara. Dengan tempo yang lambat, denyut jantung juga ikut menjadi lambat dan tentu saja tekanan darah menjadi menurun yang menyebabkan tubuh berada dalam suasana rileks, baik itu terjadi pada pikiran maupun tubuh seseorang. Djohan dalam bukunya Psikologi Musik (2005) secara tegas mengatakan bahwa perasaan manusia terikat dengan bentuk musik karena terdapat konsistensi dalam respon musik yang secara relatif memberikan lingkungan yang sama. Psikologi dan musik saling berhubungan karena psikologi tertarik untuk menginterpretasi perilaku manusia dan musik sebagai bagian dari seni merupakan bentuk perilaku manusia yang unik dan memiliki pengaruh yang kuat.

Unsur seperti irama dalam musik memiliki pengaruh motorik fisik yang kemudian memberi efek psikologi bagi manusia, seperti denyut jantung yang merespons elemen-elemen tersebut melalui tempo. Semakin cepat tempo musiknya, semakin cepat detak jantung, begitu pula sebaliknya ketika mendengar musik yang lambat detak jantung juga akan ikut melambat.

Unsur lain seperti melodi memberikan pengaruh terhadap konstruksi pola jiwa seseorang demikian pula halnya dengan harmoni. Akan tetapi pengaruh yang ditimbulkan tidak akan sama pada setiap orang. Musik dapat mempengaruhi hidup seseorang. Mendengarkan musik, suasana ruang batin seseorang dapat dipengaruhi, maupun suasana bahagia ataupun sedih, tergantung pada kondisi batin pendengar itu sendiri.

Perpustakaan dan Alunan Musik

Hadirnya musik menjadi bagian paripurna dalam mendukung bagaimana manusia menemukan dan mempertahankan kondisi yang fokus, terkonsentrasi, serta tenang saat melakukan suatu pekerjaan. Kita patut curiga ketika mengunjungi tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan, hampir di setiap bagian kita akan mendengar musik dengan berbagai jenis, tergantung selera operator yang pasti. Tujuannya tentu saja agar para pengunjung merasa santai, rileks, dan terhibur dan yang paling penting adalah fokus dan konsentrasi tidak terganggu saat berbelanja.

Namun bagaimana jika musik diperdengarkan di ruang yang tidak biasa, seperti di perpustakaan? Paling tidak kebanyakan orang akan memikirkan bahwa perpustakaan identik dengan situasi hening, sunyi, dan membosankan. Tapi musik yang diputar di ruang perpustakaan akan dapat menghadirkan lingkungan yang berbeda. Lingkungan tersebut bisa saja memberikan perasaan yang berbeda, pengunjung akan merasa nyaman, rileks, dan fokus saat membaca, namun barangkali bisa saja menjadi sebaliknya, tergantung jenis musik yang dipergunakan.

Dikutip dari jurnal yang diterbitkan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berjudul Pengaruh Musik Terhadap Kenyamanan Membaca Mahasiswa di Perpustakaan ISI Yogyakarta tahun 2017 dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian yang lebih menekankan makna dari pada generalisasi yang difokuskan pada persepsi pengunjung perpustakaan terhadap musik yang diperdengarkan.

Musik bagi semua orang itu berbeda-beda persepsinya. Musik tidaklah sama di mata semua orang. Lebih lanjut, pengunjung mengatakan bahwa musik itu hidup. Musik mampu membangkitkan semangat, menyegarkan pemikiran lewat caranya bertutur. Musik juga mampu menghapus kesedihan dan anugerah yang sudah Tuhan ciptakan, dan dengan bakat musikalitas yang Tuhan berikan menjadi sangat bermanfaat.

Kebayakan responden lebih merasa, bahwa musik yang diperdengarkan di perpustakaan lebih baik di waktu pagi hari atau siang hari. Musik yang diputar di pagi hari dapat berdampak positif, karena kondisi tubuh yang masih segar, dengan dibantu musik, pembaca jadi lebih rileks dalam membaca. Musik yang diputar di siang hari dengan kondisi yang hening ketika perasaan kantuk dan lelah dalam berpikir, dengan hadirnya musik dalam kondisi seperti itu, dapat membuat lebih bersemangat membaca.

Meskipun dengan hadirnya musik sebagai variasi dalam kegiataan membaca, hampir seluruh responden mengatakan kekhawatiran terhadap gangguan yang ditimbulkan oleh volume musik yang terlampau keras. Hal tersebut harus diperhatikan oleh petugas dalam memutarkan musik. Oleh karena hal tersebut membuat pembaca merasa tidak nyaman dan susah berkonsentrasi. Pada akhirnya fokus yang terbangun menjadi runtuh dan terbagi-bagi, serta pengunjung akan lebih terfokus pada musik ketimbang materi bacaannya.

Facebook Comments
No more articles