“Bagaimana menurutmu tentang book shaming?” Ucap kawan diskusi saya di suatu malam. Saya hampir terkecoh dengan pertanyaan itu, untungnya saya sedikit paham dengan bahasa Inggris sehingga bisa membedakan antara kata body dengan book.

Saya langsung mengerti apa maksud dari pertanyaan itu. Jika selama ini kita mengenal istilah pelecehan terhadap tubuh seseorang “body shaming”, maka “book shaming” tentu artinya pelecehan terhadap buku. Dalam konteks yang lebih luas lagi saya memaknainya sebagai pelecehan kepada seseorang karena buku bacaan yang dibacanya.

Pertanyaan itu tak serta merta bisa saya jawab. Meski pertanyaan itu konteksnya adalah ranah privat, tetapi tentu pertanyaan itu butuh jawaban yang jelas. Saya kemudian merasa sedang mengembara menyusuri lorong waktu.

Saat SMP, saya membaca seluruh buku mata pelajaran bahasa Indonesia, terutama cerpen-cerpen dan resensi novel yang ada di dalamnya. Hobi itu berlanjut hingga SMA, saya sering nongkrong di perpustakaan sambil membaca puisi, kumpulan cerpen, seperti cerpen-cerpen terbitan Horizon dan Majalah Pendidikan di perpustakaan. Di sana saya banyak megenal beberapa penulis seperti Chaeril Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Idrus dan beberapa penulis yang tentunya saat ini sudah sepuh dan tiada. Meski demikian, saya merasa tidak benar-benar mengenal mereka. Hanya satu dua karya saja yang bisa saya daras hingga habis.

Saat masuk kuliah, salah seorang teman memperkenalkan saya dengan Seno Gumira Ajidarma. Buku pertama yang membuat saya jatuh cinta secinta-cintanya terhadap Seno adalah kumpulan cerpen yang berjudul Linguae. Sejak saat itu, saya memburu karya-karya Seno. Sialnya, saya bertemu dengan kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, buku yang membuat saya benar-benar menjadi pembaca.

Saya banyak membaca, entah itu membeli ataupun meminjam dari teman. Saat itu saya tidak benar-benar tahu bagaimana membedakan dan mengukur suatu karya. Hal ini membuat saya membaca buku apapun yang saya temui selama itu bisa saya pahami. Saya membaca buku Raditya Dika, Tere Liye, Ollie, dan beberapa penulis muda lainnya.

Dalam proses pembacaan itu, kita akan menemukan banyak hal. Salah satunya adalah persoalan kedalaman. Untuk menentukan suatu karya itu baik atau buruk, pada dasarnya harus melalui kritik sastra, akan tetapi semakin kita banyak membaca, maka semakin kita menyadari bahwa ada lebih banyak hal lagi yang belum saya baca dan kita selalu ingin membaca sesuatu yang lebih dalam lagi.

Perlahan saya menyadari bahwa kita butuh bacaan yang lebih menantang. Saya kemudian diperkenalkan dengan penulis-penulis Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohamad, Remy Sylado, Ahmad Tohari, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Eka Kurniawan, dsb. Saya membaca beberapa karya mereka dan menyadari bahwa hidup tidak sesederhana apa yang dibicarakan oleh Raditya Dika dan Tere Liye.

Dengan adanya perasaan seperti itu, saya kemudian mencoba untuk mencari karya-karya yang bisa menjadi perbandingan denga karya-karya yang saya baca sebelumnya. Akhirnya saya bertemu dengan beberapa karya penulis luar seperti, George Orwell, Leo Tolstoy, Kafka, Zola, Murakami, Dostoyevsky, Joyce, Mark Twain, Kundera dan Gabo. Dua nama terakhir merupakan nama yang sedang saya gandrungi karya-karyanya. Penulis dari luar kemudian memberikan saya perspektif yang berbeda dari karya-karya yang telah saya baca sebelumnya.

Hal ini kemudian menyadarakan saya bahwa dalam membaca, pada dasarnya adalah proses penemuan. Kita akan menemukan buku dan bacaan demi bacaan yang lebih dan lebih. Saat saya membaca karya-karya Gabo, saya kemudian penasaran dengan penulis-penulis Amerika Latin lainnya atau karya-karya yang banyak orang sebut sebagai realisme magis.

Proses penemuan bacaan dari Tele-Liye hingga Gabo bagi saya adalah proses yang panjang. Ibarat kata, untuk bisa terbang, anda harus mulai dari merangkak, bejalan, berlari, barulah kemudian terbang. Membaca bukan dongeng tentang Icarus yang tiba-tiba bisa terbang dengan sayap buatan.

Melalui ingatan panjang tentang bacaan saya, jawaban atas pertanyaan teman saya pada akhirnya mengarah kepada harapan untuk berhenti menghina bacaan seseorang. Membaca selalu lebih baik daripada tidak membaca sama sekali.

Kalaupun mereka membaca buku yang kita anggap tidak penting, tetapi mungkin saja itu penting bagi mereka saat ini. Proses membaca secara sederhana adalah proses pendewasaan. Kita bisa memulainya dengan membaca hal-hal yang ringan, hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Atau saya bisa merangkumnya dengan istilah membaca karya cinta-cintaan melulu.

Tak ada masalah dengan semua itu. Membaca tentang A dengan baik setidaknya akan membuat kita berusaha untuk membaca tentang B, C, D dan seterusnya. Artinya apa, bahwa yang terpenting dari peristiwa membaca adalah mendorong orang untuk mengembangkan bacaannya ke tahap yang lebih serius, bukan justru menghinanya.

Saya seringkali menemukan adik-adik saya membaca Wira Nagara, Fiersa Besari, Boy Candra dan Tere Liye, saya mengatakan bahwa selesaikan bacaanmu dan temukan bacaan lain. Saya kemudian menyebutkan beberapa penulis yang mungkin akan mereka cari usai menyelesaikan bacaan dari nama-nama yang saya sebutkan.

Saya tidak sedang berusaha untuk mengatakan bahwa mereka terlalu sederhana, saya justru hanya ingin mengatakan bahwa ada lebih banyak buku lain selain yang sedang mereka baca. Saya kemudian mengatakan: jangan pernah berhenti membaca!

Facebook Comments
No more articles