Siang ini, Kamis 11 April 2019, di grup WhatsApp komunitas Malam Sureq Makassar (Malam Puisi Makassar) saya mendapat kabar mendadak dari salah satu kawan bahwa salah satu penulis yang beberapa tahun terakhir karya-karyanya cukup banyak dibicarakan dan dibaca, Kedung Darma Romansah sedang berada di Makassar dan ia berniat ‘menculik’, membawanya nongkrong di salah satu tempat di bilangan Jalan Adyaksa, sembari diajak berdiskusi, bertemu sesama orang-orang gammara’, berlepas tangkap dalam satu meja yang sama setelah agendanya di salah satu Mall di Makassar selesai.

Hari itu sebenarnya saya sudah merencakan agenda lain. Saya akan menghadiri sebuah acara nonton bareng (nobar) dan diskusi seputar film dokumenter Sexy Killers yang dilaksanakan atas inisiasi dari komunitas Literasi Ruang Abstrak, Stigma Makassar, dan Semalam Collective yang bekerjasama dengan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Makassar. Tapi, skip dulu pembahasan yang itu, besok atau besok yang lain akan saya coba tuliskan.

Dua hal kemudian menjadi kebetulan, pertama Ipin, salah satu redaktur Epigram yang tengah berada di Wajo membantu keluarga mengurus pernikahan kakaknya mengirimkan saya beberapa daftar pertanyaan yang ditujukan pada Bang Kedung. Sebenarnya pekerjaan ini adalah spesialisasinya. Tetapi sebagai teman yang pengertian, saya mau melakukannya. Dua, karena lokasi nobar dan diskusi dan lokasi yang dipilih oleh kawan-kawan Malam Sureq tidak jauh, setengah jam setelah film usai dan tengah memasuki agenda diskusi terbuka, saya pamit ke teman-teman untuk pulang lebih cepat. Niat sebenarnya adalah mencatat beberapa poin penting seputar topik diskusi sebagai bahan tulisan dan konten tentu saja, tapi akhirnya, ya jadi seadanya.

Sekitar sejam lewat, ritual perkopian di Kedai Pojok Adyaksa sudah berlangsung dan saya baru tiba. Imbasnya, tiga dari keseluruhan pertanyaan yang semestinya jadi inti wawancara nanti menjadi di luar ekspektasi dan konsekuensinya tak berjalan sesuai harapan teman-teman Epigram yang saat ini tengah berjauhan. Oleh karenanya, tulisan ini yang sebenarnya direncakan awal berbentuk tanya-jawab, tapi karena alasan time management ala jurnalis magang yang khilaf seketika berubah jadi bentuk tulisan yang semau-maunya. Ora popo lah, yang jelas usaha.

Bang Kedung berbicara, dari jauh nampak kawan-kawan pun diam menyimak, mendengarkan penjelasan penulis sekaligus aktor berkumis itu. Begitupun dengan saya yang terlambat, tanpa pikir panjang langsung ke kursi kosong dan sedikit mengganggu pembicaraan mereka dengan menyalami tangan Kedung sebagai tanda perkenalan dan ucapan selamat datang di kota Metropolitan yang ke sekian di Indonesia. “Kedung” katanya. “Wira!” kata saya. Saya langsung duduk dan ikut menyimak sisa pembicaraan malam itu.

Saya menitipkan beberapa pertanyaan kepada kawan di samping kanan saya yang kebetulan ia yang menginisiasi dan membawa Bang Kedung ke ritual perkopian malam itu. Karena saya sadar, beberapa daftar pertanyaan itu sudah pasti ditanyakan kawan yang lain sebelumnya—yang mengarah ke seputar karya prosa Telembuk-Nya. Saya kemudian memilih jalan lain ke Sudiang agar tidak macet.

Tanpa ia sadari gawai saya letakkan tepat di depannya, merekam bahasa yang keluar dari mulutnya, dan agar proses wawancara ini tak terlihat kaku, terlihat natural dan tak dibuat-buat. “Mas, gimana menurut mas pandanganya tentang kondisi kesusastraan Indonesia saat ini?”,  Sembari mengisap rokoknya yang terlihat enak itu—tergantung dari perspektifnya dari mana. Ia melanjutkan, dari kacamata politis, sastra itu duitnya tidak ada, tapi jadi rebutan, sastrawannya juga banyak yang cerewet. Dari yang tua, (dan salah satu kawan menyebut satu nama yang identik dengan Hujan Bulan Juni), dan ya banyaklah modelnya macam-macam.

“Aku bergaul bukan hanya sama orang sastra, politik juga, aku punya banyak teman, di dunia seni rupa, teater, jadi aku bergaul untuk memperluas cakrawala agar tidak sempit, jadi tidak hanya di kalangan orang sastra saja,” ujar Kedung. Pembicaraan kami terasa serius, namun kami berupaya menanggapinya sesantai mungkin. Saya kembali memperbaiki cara duduk serileks mungkin dan meminta sebatang rokok lalu menyulutnya. Saya lanjut mendengarnya.

“Misalnya, aku kenal pengusaha, mereka pebisnis. Mereka jelas tujuannya tuh uang, jelas kan, mereka profesional. Tapi di sastra, ada proyek, rebutan.” Saya dan kawan-kawan sontak tertawa mendengarnya.

“Iya, gitu. Uangnya sedikit dan itu nggak di depan, ributnya di belakang, ngocehnya itu di situ. Proyek itu misalkan 30 juta atau 3 sampai 4 miliar, nah rebutan itu pasti. Bikin konsep, pasti ada nih yang protes, protesnya ini ributnya sampai kayak dunia kiamat.” Spontan kami tertawa dengan gaya bahasa satir itu. Ternyata Bang Kedung se kritis itu terhadap beberapa sastrawan, gumanku. Hahaha

Ia melanjutkan, “menurutku sifat krisis (dalam konteks bahasa lokal, mungkin maksudnya balala) itu boleh, tapi jangan kelewat lipstik gituloh.” Sungguh metafora yang apik. “Menor yang Bang?” ya gitu!

“Aku sukanya sama orang-orang yang klir di depan, kalau misalnya ada proyek diselesaikan di depan, misalnya diskusi atau tawar menawar ya di depan biar enak meski itu proyek. Nanti ada yang dikentit, pemerintah juga ikut dikentit, kan jadi repot. Meskipun tidak semua, tapi ada dan itu oknum.” Ia menjeda dan menghisap rokok asli buatan Jombang yang aromanya mirip ganja.

Di kepala saya tentu saja berusaha menginferensikan ujaran yang begitu panjang dan lugas serta menebak-nebak referensi yang dimaksud oleh Bang Kedung. Meski tak secara eksplisit menanyakan maksud siapa dibalik oknum yang ia maksud. Persepsi saya jatuh dan tertancap pada fenomena politik sastra dan kanonisasi sastra Indonesia. Pembicaraan kami semakin masuk ke lapisan yang lain, pengalaman dan pandangan seputar aktivitas membaca dan menulis.

“Ribetnya bisa kayak apa gitu, yang kritis bagus, kalau itu menyangkut masalah keadilan, tentu harus diperjuangkan. Tapi kadang begitu (sastrawan balala). Tapi itu kan kadang tipikal, jadi misalkan seperti peta sastra kita, itu tergantung ambil sudut pandang mana, arena pertarungannya apa. Makanya kenapa aku tidak mau mengenal teman-teman yang hanya dari dunia sastra aja, nanti pengalamannya bagaimana gitu. Emang pengalaman menulis hanya dari orang sastra?” Ia bertanya, dan sontak kami menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku butuh kenal sama orang lain, termasuk penguasaha itu. Nah itu mereka jujur, tidak munafik, dan konkrit benar-benar nyari uang. Kita ini, gayanya orang-orang di sastra, nulis untuk memperjuangkan hak rakyat, pas ada proyek jadi rebutan. Itu yang bikin aku kesal.” Saya tak menduga sebelumnya bahwa topik pembicaraan ini mengarah ke situ.

“Selain menulis prosa, juga puisi, Mas kan ini aktor, bagaimana dengan itu? Maksudnya menyeimbangkan dua pekerjaan itu”. Dibagian ini, Bang Kedung membicarakan pengalaman sekaligus menyenangkan berproses dalam dunia teater. “Pergaulan!” Jawabnya singkat. Sebelum saya menyimpulkan bahwa itulah jawabannya, ia lalu melanjutkan dengan mimik yang sedikit lebih santai dari sebelumnya.

“Aktor kan juga harus bergaul dengan banyak orang. Nah aku butuh suasana baru, makanya aku bergaul dengan ini, dengan itu. Di dunia film, aku bergaul banyak, di dunia politik beberapa temanku ada yang nyalon, dan itu jadi modal. Jadi kumpulkan modal sebanyak-banyaknya untuk wawasan kalian dalam menghadapi banyak karakter orang yang berlatar berbeda, itu penting apalagi untuk kepenulisan.” Saran dan nasihat yang tentu saja membangun. Kami mengangguk pelan. 

Lebih lanjut, “misalnya kamu mau nulis masalah pejabat atau dunia politik tapi tidak pernah bergaul, bagaimana coba? Tapi kalau kamu bergaul, itu observasi berjalan. Kalau dalam teater, itu tiap hari observasi berjalan, tiap hari mengamati karakter orang.”

“Kayak tadi aku ngomong yang kalau menurut Stanilavsky, kalau kita minum kita harus sadar, kenapa megangnya seperti ini, (sambil mempraktikan yang ia katakan dengan memegang sebuah gelas yang berisi air putih). Makanya Stanilavsky menulis The Art of Acting. Kalau menurut Eco, manusia itu acting. Tiap hari, tiap detik. Kamu ketemu ibumu beda nggak ketemu temanmu? Itu karena Act.” Saya tak begitu memahami bagian ini, saya belum pernah membaca tulisan-tulisan Umberto Eco.

Lalu apa bedanya akting dalam teater dan film? Ia menjawab “Art! Seni, ada seni berakting. Oleh karena itu, akting ada dua, ada mekanikal dan psikologikal. Mekanikal itu kamu tidak senyum, tapi bibirmu seperti tersenyum, berpengaruh nggak dengan hatimu?” Kami sontak menjawab tidak.

Namun ia berdalih dan mengutarakan, “itu pasti berpengaruh”, coba kamu rasakan pelan-pelan. Itu mekanikal. Jadi mimik tubuh mempengaruhi psikologis melalui pikiran.

“Kalau psikologikal, psikologis mempengaruhi tubuh, coba kamu menciptakan kesedihan di dalam dirimu, secara otomatis tubuhmu akan menunduk kayak gini (ia menunduk), atau kamu menciptakan kesedihan sambil jalan, mungkin jalanmu tidak seperti biasa. Itu psikologikal. Psikologi mempengaruhi tubuh. Orang barat itu cenderung mekanikal. Meskipun ada beberapa yang menguasai dua-duanya. Kalau menguasai dua-duanya itu keren. Mekanikal itu hitungannya tepat, rapi. Apalagi ditambah dengan psikologikal lebih keren lagi.”

Saya merasa bahwa tulisan ini sudah cukup panjang. Dengan melewatkan pertanyaan seputar karya-karyanya, “Bang, rekomendasi buku bacaan untuk kami-kami ini kira-kira apa?” dengan sedikit jeda sembari membalas WhatsApp yang masuk di telepon pintarnya. “Kalau aku suka sama karya-karya Llosa (Mario Vargas Llosa), terus kelurga Pascal Duarte (La familia De Pascal Duarte), Gorky (Maxim Gorky), terus Tikus dan Manusia (Of Mice and Men) nya Steinbeck, Murakami (Haruki Murakami) Norwegian Wood, karya-karyanya Naipaul yang Jalan Miguel (Street Miguel), aku tuh suka yang realis-realis tapi nakal. Saya suka karakter-karakter tokohnya yang sederhana.”

Nampak pelayan di kedai pojok sedang bersih-bersih meja. Beberapa pasang meja dan kursi telah disusun rapi. “Sepertinya sudah mau tutup”. Sekitar setengah jam lagi, imbuh pak ketua Malam Sureq. “Baca puisi dululah baru pulang” tambahnya, Bang Kedung menyambut lugas dengan mengambil tablet dari tas dan mencari puisi yang akan ia bacakan. Saya memperhatikan hal lain, yakni merek rokok tepat di depannya. Kata sebelumnya bahwa rokok itu asli produksi lokal dan tidak dapat ditemukan di tokoh-tokoh umum di Indonesia. Saya penasaran. Saya meminta izin untuk mencoba satu, “silakan”. Kawan yang lain tentu saja tak ingin kelewatan.

Sebelum kami membakar rokok tak berfilter yang sedikit beraroma ganja dan katanya diproduksi oleh anak pesantren, kami tertawa, Bang Kedung menyuruh salah satu kawan membaca peringatan bahaya merokok di kemasannya yang berwarna coklat kekuningan, sontak kami tertawa kembali. “Rokok ini dapat menimbulkan kesehatan.” Sundallang!

Di bagian akhir sebelum kami pulang, secara bergantian orang-orang membacakan puisi seperti pada ritual-ritual sebelumnya, termasuk Bang Kedung. Ia membacakan satu puisi yang gagal dimuat dari sekian puisi-puisinya yang terbit di koran Kompas beberapa waktu yang lalu. Judulnya Nasihat-nasihat yang (di)lewat(kan), ia mulai membaca puisi panjang itu:

seseorang pernah melewati mulutnya, dan dari mulutnya nasib berubah..hingga kami mendapat giliran satu persatu membacakan puisi.

Sebelum kami benar-benar beranjak dari tempat duduk, saya hampir melupakan satu pertanyaan inti dari seluruh pertanyaan dalam pembicaraan kami malam itu. “Sudah makan coto?”

Beloooommm!

Facebook Comments
No more articles