“Semakin sesuatu itu berulang, semakin ia kehilangan makna”, gugah Milan Kundera penulis kesukaanku. Aku berpikir, Kundera benar-benar memikirkan hal itu dengan baik sebelum menuliskannya dalam satu di baris novelnya.

Ketika aku menghadiri sebuah seminar program kerja mahasiswa yang sedang mengabdikan diri menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Aku kembali teringat dan spontan meresapi kata demi kata kalimat yang pernah diucapkan Kundera tersebut.

Bagaimana tidak, menurutku sejak tahun 0 keberadaan mahasiswa KKN di kampung halamanku, tak ada program yang berubah, selalu seperti biasanya, dan selalu berulang. Kerja bakti, mengajar, penyuluhan, pelombaan, dan beberapa seminar menjadi program yang selalu ada. Bagaimana menu makanan di atas meja, semua itu adalah menu yang selalu ada dan tak tergantikan. Aku bertanya dalam hati, apa gerangan yang membuat hal itu terjadi dan selalu seperti itu. Letak persoalannya ada pada siapa dan mengapa?

Yasraf dalam buku tebalnya berjudul Medan Kreativitas menjelaskan dengan baik asal muasal tidak adanya perubahan dan progres dalam setiap aktivitas dan pekerjaan manusia. Yasraf meminjam pemikiran Christopher Lasch peristiwa tersebut dengan menggunakan istilah “minimalisme”. Istilah itu dikutip Yasraf dari buku Lasch yang berjudul The Minimal Self: Psychic Survival in Troubled Times.

Minimalisme, didefinisikan sebagai fenomena sosial yang memperlihatkan seseorang mengalami keadaan diri minimal (minimal self), yaitu diri yang terjerat di dalam minimalisme perspektif, visi dan motivasi. Lebih detail hal ini disebut sebagai kreativitas minimalis.

Yasraf menyebut keadaan ini sebagai kondisi saat seseorang atau sekolompok orang bukannya tidak memiliki ide, tetapi ide itu dikerjakan dengan pikiran yang minimal, kualitas seadanya, motivasi sekadarnya, dan ekspresi yang sekenanya. Orang-orang cepat puas, tak perlu kerja keras, dan tak ada dorongan untuk terus meningkat dan berpikir maju.

Aku berpikir bahwa demikian yang sedang terjadi. Dalam seminar tersebut, kita semua sedang terjerat minimalisme. Mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah hanya mengulang terus menerus apa yang pernah dilakukan tahun-tahun yang telah lalu. Tak ada inovasi, tak ada loncatan berpikir, semua mengacu dengan hal-hal yang telah terjadi tanpa berpikir untuk melampauinya. Hal yang lebih buruk lagi, itu semua tampak seperti tiruan semata.

Ada semacam kabut pikiran yang hadir di tengah-tengah seminar itu. Semua lebih senang untuk mengatakan “itumo”, “begitumi saja”, seolah semua kegiatan adalah rutinitas hampa yang hanya perlu untuk sekadar dijalankan. Di sisi lain, mahasiswa yang hadir juga menyukai hal itu, mereka tak berani mengambil beban dan berpikir untuk lebih maju. Rutinitas yang ada merupakan hal-hal yang memudahkan mereka untuk kerjakan.

Minimalisme dan kabut pikiran ini sepertinya banyak terjadi di sekitar kita. Kita ketahui bahwa beberapa tahun terakhir, pemerintah pusat mengelontorkan triliunan anggaran dana segar untuk membangun desa. Akan tetapi, yang terjadi bahwa tidak hanya segelintir desa yang benar-benar mampu menunjukkan pembanguan dan perubahan yang signifikan.

Yang lebih banyak terjadi justru dana itu habis tanpa benar-benar terlihat dampak sosialnya. Pembangunan demi pembangunan terjadi, tetapi manfaat justru tidak begitu terasa. Bagaimana tidak, kemungkinan besar pembangunan itu direncanakan dengan cara berpikir yang minimalis atau asal jadi dan asal ada.

Sisi lain yang menjadi sumber utama masalah yang ada adalah adanya markantilisme pikiran. Hal ini dimaknai sebagai pikiran yang bermasalah karena adanya tekanan ekonomi, sehingga pikiran-pikiran yang memproduksi pengetahuan diarahkan pada pencarian-pencarian yang didorong oleh motif keuntungan. Dimensi terpenting adalah dimensi ekonomi: seberapa besar untungnya, bukan seberapa besar manfaatnya.

Orang-orang yang terlibat dalam pembangunan kemudian mendapat untung, sedangkan sasaran yang sebenarnya kemungkinan besar hanya mendapat buntung. Sebab cara berpikir orang-orang yang terlibat masih menggunakan cara berpikir minimalisme, kabut pikiran, dan adanya markantalisme pikiran.

Aku kemudian berpikir secara sederhana, bahwa sebaiknya kita mulai untuk mempercayai anak muda. Orang-orang yang masih berpikir dan bertumpuh pada kreativitas, bukan pada nilai ekonomi. Di setiap tempat, anak muda harus lebih dipercaya, diberi ruang, dan yang paling penting adalah adanya kebebasan berekspresi dan berkarya. Jangan kemudian semua panggung diisi oleh orang-orang yang berpikiran minimalis. Sebab yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang “kreatif sejak dalam pikiran”. 

Lantas, bagaimana jika anak muda juga pada kenyataanya berpikir demikian? Saya sendiri sulit untuk menjawabnya.

Facebook Comments
No more articles