Mengantar tulisan ini, saya akan meminjam kalimat dari Ibe S. Palogai dalam satu tulisannya yang menyampaikan bahwa “perasaan perempuan sangat perempuan.”

Audrey, menjadi nama yang tengah melanglang di beberapa media massa dan media sosial hari ini. Kasus pengeroyokan yang sama sekali tidak ia kehendaki, menimpanya, akibatnya ia harus mendekam di rumah sakit untuk beberapa waktu karena luka fisik dan psikis yang ia alami. Dari sejumlah media yang memberitakan, Audrey mendapat tindak kekerasan oleh beberapa orang ditengarai persoalan asmara dan saling balas komentar di media sosial.

Remaja cantik yang baru memasuki fase pemekaran pikiran ini dijemput di rumahnya lalu mendapat perlakuan tidak manusiawi dari remaja cantik lainnya. Tentu saja hal ini menjadi undangan perhatian banyak pihak. Baik atas dasar kemanusiaan maupun atas dasar moralitas karena para pelaku dan korban masih berada pada status di bawah umur.

Selanjutnya, mari menggaris bawahi apa yang menjadi api penyebab asap kasus ini, sehingga menyita endusan banyak pihak. Persoalan asmara dan saling balas komentar. Berangkat dari kedua garis bawah ini, akal kita dikacaukan dengan kalimat yang saya pinjam di awal tulisan ini. Kasus ini secara tegas menyampaikan kepada kita semua, bahwa cara perempuan menyikapi persoalan asmara dan saling balas komentar adalah dengan mendahulukan perasaannya ketimbang logikanya. Besar kemungkinan, para pelaku menihilkan aspek kemanusiaan karena telah disulut emosi yang meronta-ronta dalam diri mereka. Dan tiba pada titik paling jauhnya, penyelesaian persoalan perasaan dengan mengambil tindak kekerasan dipilih sebagai jalan keluar terbaik oleh para pelaku.

Tapi, apa yang sebenarnya membuat kita hari ini begitu akrab dengan kekerasan?

Seharusnya kasus ini menjadi ruang sadar kita terhadap peristiwa kekerasan yang ternyata amat dekat dan banyak terjadi di sekitar kita. Hanya saja bentuk dan sajiannya yang berbeda-beda. Sialnya, kita kadang tidak menyadarinya atau menganggap kekerasan sebagai sebuah kewajaran.

Sejak dulu dan bahkan sampai sekarang, anak-anak kita sebagian besar tumbuh oleh kekerasan. Misalnya, ketika seorang anak memcahkan piring, gelas, keramik, atau ketahuan oleh ibunya. Atau katakanlah ia berbuat salah, ia akan dipukuli terlebih dahulu kemudian dinasihati. Itu pun, syukur-syukur jika dinasihati.

Secara tidak langsung hal ini membentuk mental dalam benak anak-anak bahwa jika kesalahan harus dibayar dengan kekerasan. Ingatan kolektif itu akan terbawa terus menerus dalam proses pertumbuhan mereka. Sehingga kasus ini secara nyata memperlihatkan bahwa mental kekerasan tumbuh dalam diri kita. Hanya saja, ada yang berhasil menyadari dan mengendalikannya dan tentu saja ada yang tidak.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya manusia bertindak dari hasil kontemplasi peristiwa yang mereka alami dalam perjalanan hidup. Sosok perempuan yang sering diindikasikan sebagai udara sejuk, ternyata berpotensi berubah menjadi api yang menyala-nyala dalam situasi tertentu. Para pelaku barangkali tidak pernah menyadari dan memilih secara jelas tentang kekerasan yang mereka lakukan, melainkan mereka hanya bersikap dari hasil relevansi peristiwa yang mereka alami.

Terlepas dari semua upaya yang tengah dilakukan untuk membangun mental dan keadilan untuk Audrey. Kendati saya tidak menandatangani petisi yang beredar, pun turut mencatut tagar #JusticeForAudrey yang banyak bertebaran. Hal yang ingin sekali saya lakukan adalah setidak-tidaknya turut bersuara melalui tulisan ini dan menitipkan sebuah perspektif yang lain, bahwa kasus ini jangan hanya sampai pada ranah hukum saja. Ia harus menyentuh titik persoalan lebih jauh tentang tindak kekerasan di sekitar kita, harus disadari secara nyata, dan dihentikan secara saksama dengan atau tidak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jika kita membenci tindakan yang menimpa Audrey, seharusnya kita juga membenci dan turut menghentikan semua bentuk kekerasan di sekitar kita. Kekerasan anak ke orang tua, kekerasan senior ke juniornya, kekerasan seseorang terhadap pasangannya, dan kekerasan lainnya. Petisi yang sudah ditandatangani berjuta orang itu, saya yakin dua puluh empat karat di dalamnya yang turut bertandatangan adalah orang yang pernah juga melakukan kekerasan terhadap orang lain.

Maka dari itu, pada akhirnya, menjernihlah! Yang sepatutnya dipukul, ditendang, dan dibenturkan ialah kekerasan yang ada pada diri sendiri dan yang beredar di sekitar kita.

Karena sungguh, darah itu merah, Sayang!

Penulis: Fadhil Adiyat, saat ini tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas). Bergiat aktif, belajar, dan berdiskusi sastra di Kelompok Belajar Memancing, Malam Puisi Makassar, dan Kawan Baca.

Facebook Comments
No more articles