Simone de Beauvoir (1908-1986) dan Jean-Paul Sartre merupakan pasangan filsuf yang amat populer sepanjang abad ke-20. Selain dikenal sebagai pasangan “kumpul kebo” yang saling setia, mereka juga dikenal sebagai filsuf yang paling banyak mengeluarkan karya-karyanya. Misalnya, de Beauvoir menulis karya legendaris berjudul The Second Sex, dan karya-karya lainnya, seperti Memoirs of a Dutiful Daughter, The Prime of Life, The Force of Circumstance, Adiux: A Farewell to Sartre, The Mandarins, The Coming of Age, dan beberapa tulisan pendek lainnya. Baik Sartre maupun de Beauvoir dikenal luas oleh publik dan sering diwawancarai di media massa.

Selama hidup mereka yang dijalankan bersama baik di ruang publik maupun privat, keduanya saling melindungi dari serangan-serangan publik. Oleh sebab itu, ketika de Beauvoir meninggal, pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan mereka ramai dibicarakan dan ditulis.

Ketertarikan dari semua kalangan disebabkan karena terutama rasa ingin tahu mereka sejauh manakah “kefeminisan” de Beauvoir. Persoalan keotentisan ini bukan merupakan persoalan yang baru dalam kehidupan seorang filsuf perempuan. Sepanjang sejarah hal ini selalu dipermasalhkan, khususnya pada karya-karya yang ditulis oleh perempuan yang memiliki pasangan seprofesi.

Permasalahan utama de Beauvoir dalam pemikiran filosofinya adalah other yang telah ia tulis dalam dua novelnya, yakni She Came to Stay dan The Blood of Others serta buku yang membuatnya sangat terkenal The Second Sex.

Persoalan The Other bagi de Beauvoir diambil dari pemikiran konsepsi Hegel tentang diri, di mana other direpresentasikan sebagai sesuatu yang negatif dari diri. Yang kedua adalah dari interpretasi Sartre tentang fenomenologi Husserl yang mengkontraskan diri sebagai  for it self (ada bagi dirinya) dan diri sebagai ego.

Konsep Being-for-itself yang sering dipakai de Beauvoir, ia gambarkan juga dalam karyanya The Ethics of Ambiguity, yang menolak determinasi dan penyetaraan manusia dengan kebebasan seperti dalam eksistensialisme Sartre[1]. Perbedaan dengan Sastre, ia menyatakan bahwa “etika adalah kemenangan dari kebebasan atas kepalsuan…” maksudnya di sini, de Beauvoir memasukkan isu-isu politik ke dalam etika eksistensialisnya. Ia memberi contoh persoalan pembantaian kaum Yahudi dan kolonialisme di Aljazair[2]. Hasil The Second Sex dapat dikatakan juga lahir dari Ethics of Anbiguity, dimana kebebasan telah dipangkas dan kepalsuan didukung oleh mereka yang menindas.

Perempuan, menurutnya, merupakan seorang mahluk dan seharusnya menjadi subyek, bebas, dan independen sehingga dapat membuat pilihan-pilihan, tetapi ia menjadi tidak bebas karena kondisi yang memakasakannya tidak menjadi subyek[3].

Simon de Beauvoir sepanjang sejarahnya telah dinilai oleh banyak kritiknya sebagai filsuf yang dibayang-bayangi Sartre. Padahal, jelas sekali, paling tidak dari dua karyanya The Second Sex dan Ethics of Ambiguity, ia telah melampaui Sartre. Simon de Beauvoir sendiri juga telah menghasilkan sekian banyak novel bergengsi yang dapat dikatakan sangat independen dari pemikiran Sartre, namun toh sampai akhir hayatnya ia masih dilihat oleh banyak orang sebagai seorang filsuf bayangan Sartre.

Quintin Hoare, yang mengedit buku Letters to Sartre, sama sekali tidak memahami mengapa ada pendapat yang sangat salah tentang eksistensi de Beauvoir sebagai seorang filsuf. Menurutnya, de Beauvoir merupakan seorang sosok yang memang loyal, cinta, dan setia pada Sartre sama halnya seorang anak yang patuh pada ibunya saat ia memberontak, seorang puritan yang melanggar tabu, pendemonstran untuk perdamaian dan kesetaraan untuk seluruh manusia[4], pendek kata, de Beauvoir merupakan sosok yang kuat, mungkin lebih kuat dari Sartre.

Catatan kaki:

[1]. Simone de Beauvoir, The Ethics of Ambiguity, Citadel Press, NY, hal.10

[2]. Ibid. hal. 101

[3]. Ibid., hal. 149-150

[4]. Quintin Hoare. Letter to Sartre, Simone de Beauvoir (New York: Arcade Publishing, 1990), hal. IX

Dicopy paste (copas) dari sub bab Simone de Beauvoir dan Jean Paul Sartre dalam buku Filsafat Berperspektif Feminis karya Gadis Arivia, Yayasan Jurnal Perempuan (2003),  halaman 231-232.

Facebook Comments
No more articles