“Di hadapan Tuhan mereka mengaku muslim, di hadapan manusia mereka  anti-komunis, karena banyak suara di antara banyak manusia.”

Sebuah upaya memelintir kutipan Tan Malaka dalam sebuah novel sejarah yang berjudul “Tan”. Novel sejarah yang ditulis Hendri Teja dan dikemas dalam bentuk trilogi. Hendri Teja mengupas secara tuntas sejarah perjalanan Tan Malaka dari masa ke masa yang tidak kita temui di dalam buku-buku sejarah lain. Tapi kali ini saya tidak membahas sepak terjang Tan Malaka.

Pelintiran kutipan itu hasil dari perenungan atas realitas politik yang terjadi di tanah air kita. Negeri yang sangat dicintai oleh para godfather terdahulu. Negeri yang diperjuangkan untuk menyandang gelar sebagai Negara merdeka. Sekalipun, perjuangan itu harus ditempuh dengan darah dan air mata. Kesedihan apa yang tampak diraut wajah para godfather ketika melihat negeri ini?

Hiruk pikuk atas realitas politik itu tak lain dan tak bukan karena menjelang pemilihan serentak: pilpres dan pileg. Sayangnya, pemilihan serentak kali ini mengalami ketimpangan. Wacana pilpres melejit ke mana-mana, ke media sosial, warung kopi, kampus-kampus, bahkan di posko pemenangan caleg sekalipun.

Jokowi dan Prabowo

Wacana pileg tenggelam akibat pertarungan rival politisi ini: Jokowi dan Prabowo. Tapi mereka bersatu dalam satu hal, sama-sama anti-komunis dan sama-sama mengaku seorang yang agamis. Merangkul dan berada di tengah-tengah pesohor agama tidak cukup menjadikan kita sebagai seorang yang agamis. Berada di tengah-tengah politisi yang beragama lebih baik ketimbang berada di tengah-tengah ulama yang berpolitik.

Kedua politisi kawakan ini kompak dalam hal itu. Dilansir kompas.com, Jokowi mengatakan ingin menggebuk komunis saat bertemu sejumlah pimpinan redaksi di Istana Merdeka. Jokowi tegas mengatakan, “Saya dilantik jadi presiden yang saya pegang konstitusi, kehendak rakyat. Bukan yang lain-lain. Misalnya PKI nongol, gebuk saja!”

Hal serupa di kubu Prabowo, dilansir merdeka.com,  Direktur Komunikasi dan Media BPN Prabowo-Sandi, Hasim Djojohadikusumo mengatakan, “Kita mau menang, tapi yang jelas Pak Prabowo tak mau dibawa ke arah palu arit”. Parahnya, ketika maraknya berita penyitaan buku-buku di Kediri yang dianggap mengandung paham komunisme.

Untuk melegitimasi ke-anti-komunisme-annya, mereka secara masif merangkul pesohor agama. Strategi Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin jelas ingin memenangkan hati para kelompok agama, terkhusus NU. Sedangkan Prabowo secara halus terus menunggangi para pembesar gerakan 212 dan lebih membangun kedekatan dengan Habib Rizieq Shihab agar FPI ikut bergabung di atas perahu Prabowo-Sandi.

Bahkan salah satu di antara pendukung mereka tak malu mengatakan ini sudah perintah Allah dan Ijtihad para ulama untuk kemenangan pilpres. Saya ingin tegaskan, di antara kelompok agama yang mendukung salah satu capres dan cawapres dalam pilpres 2019, sangat tidak bisa dikatakan hal itu sebagai representasi suara umat Islam.

Islam dan Komunis 

Mari kita mulai dari dua tokoh Islam ini: Haji Datuk Batuah dan Haji Misbach. Haji Datuk Batuah murid dari ayah ulama legendaris Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Sampai awal 1923 beliau berprofesi sebagai guru dan pengurus Thawalib Padangpanjang. Pada tahun yang sama ia menanamkan ajaran komunis di kalangan pelajar-pelajar dan guru-guru muda Sumatera Thawalib Padangpanjang.

Sumatera Thawalib suatu lembaga pendidikan yang dimiliki oleh kalangan pembaharu islam di Sumatera Barat dengan Ayah Hamka sebagai pilar utamanya. Ajaran Datuk Batuah disebut sebagai “ilmu kominih”. Ilmu ini menggabungkan ajaran Islam dengan ide anti penjajahan Belanda, anti-imperialisme, anti-kapitalisme, dan ajaran Marxis.

Selain bersentuhan langsung dengan masyarakat, Datuk Batuah mendirikan harian Pemandangan Islam untuk menyebarkan ajarannya. Salah satu media massa yang berpengaruh di zamannya. Di tahun yang sama Datuk Batuah ditangkap dan diasingkan ke Tanah Merah Boven Digoel, tempat pembuangan tokoh pergerakan yang dianggap Belanda berpotensi menganggu stabilitas politik yang mereka bangun.

Mereka yang dibuang ke Digoel, sudah siap menjalani kematiannya. Pernyataan Haji Datuk Batuah yang sampai saat ini masih membekas dipikiran saya ialah “Islam untuk menyelamatkan manusia dan komunis menyelamatkan manusia dari penindasan”.

Sedangkan sosok Haji Misbach, seorang Jawa yang pernah melakukan perjalanan suci ke Mekkah dan Madinah adalah seorang mubaligh berpendidikan pesantren. Ia dilahirkan di Kauman, Surakarta, sekitar tahun 1876, dan dibesarkan sebagai anak seorang pedagang batik yang kaya raya. Mas Marco Kartodikromo, teman seperjuangannya, menggambarkan Misbach sebagai seorang yang ramah dan teguh kepada ajaran islam.

Haji Misbach terang berkata, “Qur’an dan komunisme berkesesuaian, orang yang mengaku dirinya islam tetapi tidak setuju adanya komunisme, saya berani mengatakan bahwa mereka bukan islam yang sejati, atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama islam.”

Secara jelas beliau mengatakan Qur’an mewajibkan setiap muslim untuk mengakui hak asasi manusia dan perintah Tuhan yang menganjurkan untuk berjuang dan melawan penindasan. Beliau berpendapat gagasan itu sama dengan program dan sasaran komunis. Maka disebutlah gagasan ini sebagai “Islam-Komunis”.

Sosialisme dan Komunisme

 Tak dapat dipungkiri bahwa semua itu berasal dari pemikiran Karl Marx yang banyak disalahartikan oleh sebagian orang. Pertama, sudah hal lazim ketika orang-orang berbicara Marx dengan gagasannya, malah sebagian orang menuduh mereka ateis. Yah, mungkin karena pernyataan Marx yang begitu terkenal: agama itu candu masyarakat. Perlu kajian yang lebih mendalam untuk menamatkan gagasan itu.

Kedua, sebagian orang tak banyak mengikuti silsilah sejarah dari Marx sampai Marhaenismenya Soekarno. Banyak tokoh-tokoh pergerakan yang mengambil spirit gagasan Marx tapi dikemas dengan cara yang berbeda-beda sesuai kebutuhannya masing-masing. Jadi, tak bisa dikatakan di antara mereka adalah seorang yang tidak ber-Tuhan.

Terlepas apakah Marx sosialis atau komunis, sejarah mencatat dalam 200 Tokoh Super Jenius, Penemu dan Perintis Dunia, Marx tercatat sebagai bapak sosialis modern. Maka timbul pertanyaan, apakah sosialis dan komunis itu berbeda?

Sosialisme bukan hanya sekadar pandangan-pandangan sempit tentang politik dan ekonomi, seperti umumnya orang yang beranggapan akan adanya perlindungan hak-hak kaum buruh dan tani miskin dan mencabut keserakahan kaum borjuis serta membagikan kekayaan dengan sama rata dan sama rasa.

Paham tersebut juga merupakan filsafat atau cara berpikir secara menyeluruh. Ada banyak polemik dan pemahaman yang berbeda terkait sosialisme di antara para tokoh. Membahas sosialisme bukan perkara yang mudah. Sosialisme demikian kompleks dan luas.

Banyak orang yang bisa dikatakan pertama kali menggunakan kata sosialis, salah satunya berasal dari Prancis Pierre Leroux dan Marrie Roch (1834). Bisa dibilang mereka yang pertama kali mengkritisi dan belum menjadi sebuah gerakan. Sejak kehadirannya sampai sekarang paham ini terus menjadi perdebatan yang tak usai. Terkait kapan munculnya pertama kali sosialisme itu.

Marx hadir membawa penerang di tengah-tengah kegelapan. Bersama sahabatnya Friedrich Engels, mereka mendengungkan Manifesto Komunis. Dalam buku ini Marx mengatakan bahwa kapitalisme sebagai sistem ekonomi akan hancur dan harus digantikan oleh komunisme, seperti juga kapitalisme menghancurkan feodalisme, maka begitu juga komunisme akan menghancurkan kapitalisme lewat jalan revolusi kaum proletar.

Komunis hadir sebagai praktik pergerakan untuk mencapai apa yang disebut sosialisme. Sosialisme sendiri sifatnya teori tanpa pergerakan. Dasar dari komunis adalah sosialisme, artinya ide dasar komunisme asalnya dari sosialisme.

Pada dasarnya semua polemik para filsuf, ahli, serta tokoh pergerakan sama-sama menginginkan sosialisme. Sama halnya dengan Sarekat Islam (SI) dan Partai Komunis Hindia (PKH). Mereka satu tujuan dalam melawan kolonialisme. Sekalipun SI menganut sosialisme Nabi Muhammad dan PKH menganut sosialisme Marx. Saya heran dengan banyak orang yang anti-komunis lalu tak tahu komunis. Sedangkan yang ahli saja masih berdebat.

Meniru pribadi sekeping koin dari kedua politisi kawakan itu sangat gampang, yang kita lakukan hanya pandai berkepala dua. Tapi meneladani pribadi sekeping koin Tan Malaka itu tidak mudah. Kita harus rela hidup melarat, diasingkan, dilupakan, dan dibenci oleh bangsa sendiri.

Menjelang pemilu, pandai-pandailah menggunakan hak suaramu. Kedua rival politisi ini sama-sama berkepala dua. Jadi, pilihlah mana yang menurutmu kadar berkepala duanya minim karena kita mencegah orang yang lebih jahat menjadi pemimpin.

Facebook Comments
No more articles