Mengapa diskusi mengenai mimesis Plato yang paling luas dan berpengaruh akan terjadi di tengah-tengah dialog tentang teori politik dan etika? Pertanyaan ini telah lama menjadi bahan perdebatan di kalangan para cendekiawan, dan jelas dari argumennya sepanjang karyanya, Plato ingin para pembacanya mampu merefleksikan hubungan antara mimesis dan politik. Bukan kebetulan bahwa Socrates menanggapi bahaya mimesis dengan tindakan politik: penyensoran dan pengasingan secara resmi. Dan sepanjang dialog, Plato dengan gigih bergabung dengan tindakan mimikri yang tampaknya tidak berarti bagi nasib masyarakat.

Kedua diskusi mimesis di Republik dimulai dengan mendefinisikan dan mengkritik mimesis artistik, tetapi diakhiri dengan pertimbangan tentang keamanan republik dan ‘rezim’ jiwa. Memang, kata mimesis mencakup serangkaian aktivitas manusia yang mencolok, setidaknya bagi Plato. Awalnya, dan yang paling jelas, menggambarkan aktivitas seniman yang representasional. Baik puisi dan lukisan meniru kenyataan: objek material dalam lukisan, tindakan manusia, dan emosi dalam puisi. Tetapi mimesis juga menjadi bagian lain dari proses pendidikan. Anak-anak meniru kisah yang mereka dengar, dan peniruan itu membentuk jiwa mereka. Dengan demikian Socrates bersikeras mengawasi para pendongeng kisah dan memastikan bahwa narasi mereka tidak menimbulkan tiruan yang bermasalah bagi pendengar.

Socrates juga mengaitkan mimesis dengan performa artistik. Penyair dan aktor meniru, dan dengan demikian mengambil kualitas dari karakter yang mereka gambarkan. Untuk mencegah kontaminasi mimesis, Socrates berpendapat bahwa aturan itu berlaku juga dari apa mereka dengar. Dibagian akhir buku sepuluh, mimesis telah menjadi ciri seluruh respons estetik. Bukan lagi hanya kualitas murid atau pemain, mimesis menggambarkan identifikasi penonton (audience) dengan tontonan di atas panggung. Tersapu oleh emosi yang tragis, secara pribadi para penonton meniru sekaligus merasakan penderitaan yang didengar di atas panggung. Dari penciptaan hingga penerimaan, seni dan pengaruh ditentukan oleh mimesis.

Progresivitas seniman individu menuju respons yang lebih kolektif, dan dari perilaku kekanak-kanakan ke sifat yang berjiwa besar, menjadikan mimesis artistik sebagai mikrokosmos kehidupan politik. Ini mencakup baik individu dan dunia sosial, dan mempengaruhi masyarakat dari lahir hingga dewasa. Plato menawarkan petunjuk di sepanjang dialog bahwa subjeknya lebih besar daripada cerita dan gambar. Mimesis memasuki dialog bersama dengan kemewahan dan kerusakan politik, dan diskusi awal puisi berkaitan dengan pendidikan para penjaga (petugas keamanan) yang diperlukan untuk melindungi kota dari musuh-musuhnya dan dari dirinya sendiri.

Kisah-kisah yang dipilih Socrates untuk dikeluarkan dari program pendidikannya hampir semuanya menggambarkan perselisihan di dalam kelompok. Sepanjang dialog, apalagi, Plato secara halus menentang mimesis dengan cita-cita maskulinitas. Dia mengaitkan imitasi dengan wanita, anak-anak dan orang gila, yang semuanya secara tegas dikucilkan dari kehidupan politik Athena. Larangan spesifiknya, dan bahkan contoh-contohnya yang tampaknya insidental, sering menyoroti hubungan mimesis dengan orang-orang yang diasingkan dari partisipasi politik.

Misalnya, para aktor yang tiba di kota bersama dengan pembuat perhiasan wanita, dan mereka adalah perawat atau ibu yang penceritaannya harus dikontrol. Para penjaga dilarang meniru budak, Socrates khawatir pelukis bisa menipu ‘anak-anak dan manusia bodoh’ agar percaya bahwa mereka adalah seniman sejati (Plato, 1991: 281). Tragedi, akhirnya, mendorong pria untuk menangis seperti wanita dan anak-anak.

Dua perumpamaan Plato dalam buku Republik juga mengisyaratkan implikasi politik mimesis. Yang paling jelas adalah alegori gua, yang oleh sejumlah filsuf abad ke-20 terkait dengan metode politik modern. Gua menggambarkan kehidupan politik sebagai pertunjukan teater yang totaliter, di mana orang-orang yang tidak saling kenal dan tidak terlihat seolah menyerupai tahanan yang dirantai dengan simbol yang mengalihkan kondisi dan kebenaran mereka. Apa yang tampak nyata bagi orang-orang sebenarnya adalah pertunjukan yang dimaksudkan untuk membuat mereka tetap tenang dan tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan.

Implikasi politik dari gua sama sekali bukan hal yang kebetulan, karena tahanan yang dibebaskan dan meninggalkan gua adalah sosok raja atau filsuf yang ideal bagi Plato. Setelah melihat kebenaran di balik gambar-gambar itu, tahanan ini dapat kembali dan memanipulasi sesama tahanan yang masih tertipu. Kisah ini mereproduksi gagasan terkenal Plato tentang ‘kebohongan yang mulia’ bahwa para penguasa diizinkan untuk membohongi orang banyak untuk memastikan kebahagiaan mereka. Sebuah perumpamaan yang sebelumnya ada pada cincin Gyges (The ring of Gygess), mengimplikasikan panggung teater yang seolah-olah demi kepentingan kekuasaan.

Di dalam buku dua, tentang auditor Socrates, saudara lelaki Plato bernama Glaucon, menceritakan kisah seorang penggembala yang menemukan cincin emas, memberinya kekuatan magis sehingga ia dapat tak terlihat. Terkagum-kagum dengan kekuatan itu, penggembala itu menggoda istri raja dan kemudian membunuh raja dan mengambil alih posisinya (Plato, 1991: 38). Walaupun cerita ini muncul jauh sebelum diskusi tentang mimesis, ini menunjukkan seperti yang digambarkan alegori gua, bahwa kekuatan politik terletak pada kontrol simbol. Sama seperti penguasa gua yang tak terlihat menggunakan bayang-bayang untuk menaklukkan subjek lain dalam gua, jadi penggembala menggunakan kekuasaannya atas visibilitas untuk melengserkan raja.

Semua contoh tersebut menunjukkan bahwa teori Plato tentang mimesis adalah teori kehidupan politik. Peniru bukan hanya subjek yang buruk tetapi juga memberikan penyakit baru terhadap republik; mimesis bukan hanya masalah narasi dan imaji tetapi masalah bagi sifat kemanusiaan itu sendiri. Klaim ini sering dianggap aneh oleh pembaca di abad modern, tetapi hal ini diperkuat yang didasarkan pada konteks politik masa Plato. Para ahli telah mencatat bahwa pengasingan Plato terhadap para penyair adalah bagian dari perdebatan yang lebih besar dalam tradisi dan kebudayaan Yunani atas ruang puisi-puisi dan filosofi dalam pendidikan kaum muda dan perilaku kehidupan sosial, sebuah perdebatan yang digelorakan dalam dialog oleh tokoh yang bersifat sangat patriaki ini.

Seperti yang dikemukakan Eric Havelock, kritik Plato tersirat bahwa puisi memegang monopoli atas kehidupan sosial dan politik. Socrates sendiri merujuk pada bagian akhir deskripsi mimesis di buku sepuluh untuk ‘pertengkaran lama antara puisi dan filsafat, dan sebelum dia menantang status puisi menjelang akhir dialog, dia setengah bercanda meminta auditornya untuk tidak’ mencela sebagai penyair tragis dan semua peniru lainnya, seolah-olah mereka mungkin melihat argumennya sebagai permainan kekuasaan. Sejarah perjuangan antara puisi dan filsafat ini, menurut Havelock muncul dari transisi yang lebih besar di dunia klasik dari budaya lisan ke tulisan.

Abad ke-5 SM, budaya Yunani dipertahankan dan diterima oleh para penyair yang menghafal dan membaca epos-epos besar (rhapsode). Puisi adalah gudang kebijaksanaan budaya, dan orang-orang Yunani memberikan otoritas khusus kepada epos Homer otoritas disertai rasa hormat dalam kehidupan publik yang jauh melebihi apa yang kita berikan pada literatur (karya sastra) saat ini. Jauh lebih dari sekadar penyair besar kuno, Homer adalah ensiklopedia budaya, menawarkan sarana untuk melatih para pemimpin dan menyediakan model (strukturasi sosial) untuk kebajikan masyarakat sipil.

Ditulis oleh Matthew Potolsky dalam bukunya Mimesis, The New Critical Idiom diterbitkan tahun 2006 oleh Routledge 270 Madison Ave, New York hal. 27 – 30 dan diterjemahkan oleh Wahyu Gandi G.

Facebook Comments
No more articles