Sebuah negeri bernama Indonesia kerap berduka. Selain kondisi sosial yang karut-marut, kondisi alamnya juga demikian. Beberapa bulan terakhir, bencana alam terjadi di beberapa tempat yang berbeda. Gempa di Lombok, gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, tsunami di Banten, dan Banjir di Sulawesi Selatan dan di Papua. Bencana alam tersebut memakan korban dan kerugian materi yang tidak sedikit. Tangisan pun menyertainya.

Kondisi itu diperburuk dengan adanya orang-orang yang menghakimi korban bencana alam. Alih-alih memberikan bantuan, mereka justru sibuk menyebar ujaran yang tidak mengenakkan telinga korban. Bencana alam tersebut mereka nilai sebagai azab–teguran atas segala maksiat yang pernah dilakukan. Mereka memosisikan korban sebagai pendosa dan seolah layak mendapat hukuman.

Agama seharusnya menjadikan manusia lebih berbelas kasih. Berbela sungkawa terhadap korban tanpa perlu menyakiti perasaannya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Barangkali amat sukar memberi dukungan, tanpa perlu memosisikan diri sebagai pendikte. Padahal memberikan bantuan sekecil apa pun atau sekadar mendoakan korban–lebih dari cukup untuk meringankan beban dan menenangkan batin mereka.

Mendapati orang-orang yang demikian, sungguh membuat kesal. Telinga kita dipaksa akrab dengan pernyataan-pernyataan hasil produksi kedangkalan berpikir. Kita jarang menjumpai pernyataan bahwa bencana alam sebagai bentuk fenomena alam dan akibat ulah manusia, bukan karena dosa-dosa.

Mereka tidak menganggap gempa sebagai sentakan yang muncul karena pergeseran lempeng-lempeng tektonik bumi. Apabila terjadi di bawah laut akan menimbulkan tsunami. Begitu pun dengan banjir yang tidak dianggap sebagai akibat ulah manusia yang gemar membuang sampah sembarangan, pembangunan dan tata kelola kota yang tidak ramah lingkungan, tambang yang mengakibatkan pendangkalan sungai, dan sebagainya.

Terkait itu, Richard Dawkins dalam bukunya The Magic of Reality mengatakan bahwa orang-orang terkadang keliru menafsirkan pernyataan “segala sesuatu terjadi karena alasan tertentu.” Orang-orang cenderung menganggap “alasan” dalam pernyataan tersebut bukan sebagai “penyebab di masa lalu”. Bahwa bencana alam adalah akibat pergerakan lempeng bumi dan perusakan oleh manusia. Namun orang-orang cenderung menafsirkan “alasan” pada pernyataan tersebut sebagai “tujuan” seperti dengan mengatakan tsunami adalah hukuman atas dosa-dosa–untuk menghancurkan klub tari telanjang, disko, bar, dan tempat-tempat lain yang dilabeli kemaksiatan.

Menurut Richard Dawkins, orang-orang berbicara hampa seperti itu karena telah dibiasakan sejak kecil. Anak-anak dibiasakan dengan mitos dan hal-hal tidak masuk akal lainnya. Misalnya, anak-anak tidak diberikan penjelasan ilmiah mengenai mengapa batu-batu bisa menjadi runcing. Justru alasan yang seringkali diberikan: agar hewan bisa menggaruk badan sewaktu kegatalan.

Kesesatan berpikir seperti itu, tumbuh subur dalam kehidupan masyarakat. Dampaknya semakin parah ketika agama berusaha dipisahkan dengan aktivitas berpikir. Padahal pendiskreditan keberadaan akal yang demikian–hanya terjadi pada abad pertengahan di Eropa dan telah lama ditinggalkan. Bahkan ketika orang-orang Eropa terjebak pada zaman kegelapan tersebut, Islam justru berada pada zaman keemasan. Banyak ilmuwan muslim yang melahirkan berbagai penemuan yang menginspirasi teknologi modern.

Kemajuan berpikir ilmuwan muslim tersebut karena melaksanakan anjuran Tuhan yang berulang kali ditegaskan dalam Quran mengenai keutamaan orang-orang yang berilmu–orang-orang yang berpikir. Namun, berbeda dengan muslim saat ini, kebanyakan cenderung meninggalkan aktivitas berpikir tersebut. Barangkali menjadi latah pada berbagai kedunguan, tampak lebih menggiurkan bagi mereka. Alhasil, kepandiran pun diwariskan dengan bangga kepada anak-anak dan dianggap sebagai suatu kewajaran.

Masih terekam jelas dalam ingatan saya tentang seorang teman yang percaya dilahirkan melalui jempol kaki, bukan melalui vagina. Dia mengetahui itu dari orang tuanya. Kepercayaannya baru berubah, ketika dia dengan polos menanyakan hal tersebut kepada guru biologi saat SMP. Mendengar pertanyaannya, kami pun sontak tertawa dan dia tampak bingung. Semestinya, orang tua tidak memberikan jawaban bohong seperti itu karena setiap anak akan selalu memercayai perkataan mereka. Maka dari itu, sangat penting mengajarkan anak-anak untuk berpikiran ilmiah sejak dini agar tertanam dalam dirinya hingga ia dewasa.

Akan tetapi, susah sekali menjumpai orang tua seperti Ben Cash dalam film Captain Fantastic yang mengajarkan anak-anaknya untuk senantiasa berpikir ilmiah. Menjadi orang tua yang selalu memberikan jawaban jujur terhadap setiap pertanyaan yang diajukan anak-anaknya. Dia mengharamkan jawaban yang memuat kebohongan, setabu apa pun pertanyaan itu bagi masyarakat umum.

Hal itu terlihat pada adegan di dalam mobil ketika anak bungsunya yang berusia lima tahunan bertanya mengenai apa itu pemerkosaan, apa itu hubungan seks, dan mengapa orang melakukannya. Juga dalam adegan ketika makan malam dengan keluarga istrinya, sewaktu keponakannya bertanya mengenai penyebab kematian istrinya, dia pun memberikan jawaban jujur bahwa istrinya mengidap gangguan jiwa dan melakukan bunuh diri–yang kemudian diprotes oleh orang tua keponakannya itu.

Film tersebut mencerminkan kehidupan sosial kita mengenai masyarakat yang cenderung melanggengkan kebohongan–dengan alasan melindungi anak-anak dari konsep tertentu sebelum waktunya. Padahal itu memicu tumbuh suburnya kedunguan.

Kenyataan tersebut tidak mengherankan karena kita sedang hidup di dunia yang mengagungkan kedunguan. Makanya banyak orang yang berlomba-lomba mencapai puncak kedunguan–kebebalan. Aku berpikir, maka aku ada–tidak memiliki kekuatan dalam masyarakat yang menghamba pada kebebalan. Perkataan Rene Descartes tersebut pun bergeser menjadi “Aku bebal, maka aku ada!”

Akibatnya, kebebalan tersebut menjadi sesuatu yang tidak hanya mengkhawatirkan, tetapi juga mengerikan. Sebab orang-orang yang malas berpikir ini justru sangat aktif melakukan sesuatu, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Mereka menjadi golongan yang merasa paling benar dan paling suci disertai fatwa-fatwa yang berangkat dari kepicikan berpikir. Mereka menjadi golongan yang sangat tidak ramah pada perbedaan. Kerap menuntut setiap orang tunduk pada kebenaran yang mereka yakini. Konsekuensi logis dari kemalasan berpikir adalah tingginya kepuasaan pada pemikiran sendiri dan menutup diri dari pemikiran orang lain.

Saking puasnya, mereka bangga memamerkan kebebalan setiap kali terjadi bencana alam dan seolah telah bertindak bijaksana dengan berkata, “bencana alam adalah azab, bertobatlah!”

Penulis: Suriadi Bara, Pustakawan Komunitas Setara dan Anggota Teman Baca.

Facebook Comments
No more articles