Perang sudah jauh meninggalkan waktu, bermil-mil jarak ia tempu. Tetapi ada hal yang ia tinggalkan yang tak dapat kau hitung dan lupakan begitu saja, selain kematian dan nyawa—ada kesedihan dan air mata di dalamnya. Mereka menghampiri tetapi saling mengakhiri. Mereka berteriak dan saling mengusung riak. Mereka menebak tetapi saling tembak. Situasi yang menghadirkan sejumlah resepsi bahwa perang adalah permainan penguasa antara aku dan diriku yang lain.

Di baris yang lain, telah lahir sejumlah narasi berbagai bentuk. Bahasa lalu dengan sengaja hadir di tengah kobaran api, berupaya sedapat bisa serupa air, meski takkan pernah sama—memadamkan sisa pembakaran, mendamaikan subjek yang berdiri dalam kepungan penyesalan, dendam, dan kebencian. Sialnya, bagi apa dan siapapun, ia dapat menjadi sebaliknya, menjadi api yang lain.

Perang digambarkan sebagai situasi yang sungguh romantis, perseteruan dibongkar menjadi puing-puing yang berseru, paling tidak di tangan penyair Inggris Thomas Hardy. Saya tak bisa memastikan nama itu telah tersimpan baik dalam hippocampus kekawan, saya hanya bisa memastikan bahwa perang sampai saat ini masih berlangsung dibalik mata peradaban. Untuk memastikan atau paling tidak merasakannya, izinkan saya sedikit bercerita bagaimana sebuah puisi melihat kompleksitas perang.

Hardy dikenal sebagai salah satu novelis dan penyair terkemuka dalam sejarah sastra Inggris. Ia lahir pada medio 1840 di sebuah desa di Inggris Higher Bockhampton di bagian Dorset. Dalam karyanya, ia cukup dipengaruhi oleh musikalitas ayahnya, seorang buruh bangunan dan pemain biola serta ibunya yang ia gambarkan sebagai cahaya yang menuntunnya memasuki dunia kepenulisan.

Sebagai salah satu kota termiskin dan terbelakang, tanah Dorset memberinya ruang sekaligus bahan untuk karya-karya awalnya dengan mengimitasi kehidupan pedesaan. Eksplorasi tokoh-tokoh novelnya dipinjam dari kenyataan masyarakat di sana dan mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari yang tak terpisahkan oleh keterbelakangan. Hardy melihat dirinya sebagai penerus penyair dialek Dorset, William Barnes yang pernah menjadi mentor sekaligus sebagai teman.

Ketertarikan Hardy pada sejarah dan perang meluas ke perang Napoleon yang dianggap sebagai salah satu peristiwa besar dari masa lalu. Tradisi Dorset menceritakan mengenai ketakutan atas invasi Bonaparte ke Inggris. Ia merekam peristiwa itu dalam drama-puisi The Dynasts (1908) yang merepresentasikan keterlibatan seumur hidupnya dengan sejarah itu—termasuk wawancara yang dilakukannya dengan mantan tentara tua yang bertempur dalam kampanye Napoleon.

Untuk melacak peninggalan masa lalu, Hardy juga mengunjungi bekas medan pertempuran Waterloo, di mana pasukan Napoleon dikalahkan. Selain The Dynasts, satu yang paling patut didaras adalah puisi yang ia tulis pada masa pertengahan perang dunia pertama, In Time of ‘Breaking of Nations’ (1915-1916).

Ia sangat optimis dalam menyatakan fakta bahwa hal sederhana yang baik dari kehidupan sehari-hari akan bertahan dibanding kenangan yang ditimbulkan perang. Fakta tersebut digambarkan sebagai perlawanan kolektif terhadap realitas perang yang sukar dihindari. Secara konsisten Hardy benar-benar serius mengutuk perang hingga akhir hidupnya sebagai seorang penyair. Menegaskan sekaligus mengatakan pada pembaca lewat puisinya bahwa perang adalah kesia-siaan. Jika perang adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh sebagai jalan pintas atau upaya menuju perdamaian, kapankah ia akan berakhir sebagai kedamaian?

Puisi ini selangkah lebih maju daripada hanya mengutuk subjek. Sebagai seorang melioris, ia menjelaskan keyakinannya bahwa manusia dapat mengatasi kejahatan perang dengan cara yang sederhana.

In Time of ‘Breaking of Nations’ dibagi menjadi tiga bagian, masing-masing bagian menggambarkan sisi lain masyarakat yang berbeda dan cara hidup yang terus berlanjut. Meskipun tak semua bagian di seluruh dunia merasakan dampak dari Perang Dunia I, tetapi setidaknya Hardy ingin menegaskan kepada semua orang bahwa perang tidak perlu dilawan dengan perang, dendam, ataupun kebencian. Di sana seorang gadis dan kekasihnya/Datang bisikan;/Sejarah perang akan berawan menuju malam/Sebelum kisah mereka berakhir.

Puisi yang berbicara ‘karena’ dan bukan ‘tentang’ perang. Ia menulisnya dengan sudut pandang lain, dari suatu tempat yang jauh dari medan pertempuran. Kebangkitan tentang cara hidup pastoral yang tidak berubah selama berabad-abad dibangun untuk menghibur mereka yang hidup melalui pergolakan yang mengerikan dan cepat dari perang. Konstruksi teks puisi tersebut dibangun dengan realitas yang kuat dan bertahan lama melalui pekerjaan, alam, dan cinta, dibandingkan dengan perang itu sendiri.

Sejarah perang akan berawan menuju malam menegaskan perang tidak akan bertahan lama daripada kisah cinta antar manusia dan alam itu sendiri. Kita bisa lebih jauh masuk ke lapisan bahasa selanjutnya, pada level ini Hardy dengan kecerdasan yang optimistis melihat peristiwa mengerikan sebagai teks yang tidak berpengaruh kepada kehidupan selanjutnya dengan narasi yang paradoks atau berkebalikan dengan situasi terhadap kenyataan perang, sebagai aktivitas pertanian dan bercocok tanam, hanya seorang lelaki yang menggaru gumpalan tanah/Dalam berjalan diam yang lambat/Dengan kuda tua yang hampir terjatuh dan tertunduk/Setengah tertidur saat mereka berjalan diam-diam.

Kontras antara kengerian perang yang diperjuangkan dengan kesederhanaan kehidupan pedesaan sebagai pernyataan sikap dan aktivitas yang berkelanjutan. In Time of ‘Breaking of Nations’ atau pada saat bangsa-bangsa dihancurkan—yang digambarkan justru hanya seorang lelaki yang menggaru gumpalan tanah/Dalam berjalan diam yang lambat/Dengan kuda tua yang hampir terjatuh dan tertunduk..Lalu sementara api tengah berkobar, mengamuk-amuk menghabiskan banyak desa dan menghanguskan lahan pertanian, ia menggambarkan Hanya asap tipis tanpa nyala api/Dari tumpukan gulma.

Perbedaannya terletak antara kekuatan penghancuran dan konstruksi, kematian melawan kehidupan. Senjata perang dapat menghancurkan negara, tetapi senjata perdamaian hanya menghancurkan gumpalan tanah sehingga dapat ditumbuhi tanaman baru. Api dapat menghancurkan mata pencaharian, tetapi dengan membakar gulma atau tanaman pengganggu, justru dapat menciptakan lahan baru untuk ditanami tanaman baru.

In Time of ‘Breaking of Nations’ membawa semangat, harapan, dan hidup untuk masa depan, di segala jenjang usia. Dampaknya tentu saja hingga hari ini, merawat ingatan dan kenangan manusia untuk tidak terjerembab selamanya dalam ingatan perang, bahwa perang bukan akhir dari segalanya, persis seperti yang digambarkan Hardy di akhir puisinya. Dua tokoh manusia laki-laki dan perempuan menjadi representasi dari subjek-objek perang (orang-orang yang berperang dan yang menjadi korban perang). Sejarah perang akan menjadi awan malam sebelum kisah mereka berakhir.

Facebook Comments
No more articles