Saya curiga, barangkali Yael Stefani Sinaga menulis cerpen berjudul Ketika Semua Menolak Diriku di Dekatnya (terbit 12 Maret 2019 di suarausu.co) hanya menulisnya kisaran 15-20 menit. Barangkali tak ada upaya untuk membaca ulang dan merevisinya. Pasalnya cerpen itu sangat terlihat amatiran, terlalu banyak rincian yang tidak ia masukkan, sebab-akibat peristiwa juga tak terlalu tergambarkan, ia bahkan melewatkan persoalan pentingnya mengatur tempo dalam membuat percakapan (itu dapat ditemui di penggalan akhir cerpen).

Di sisi lain, kenapa tiba-tiba tokoh Kirana (tokoh utama) pada puncak klimaks cerpen begitu mudah naik ke panggung berbicara spontan, saya melihat super ego Kirana yang mengajak Laras menikah sangat kabur dalam cerpen itu, prosesnya terlalu singkat dan sangat terlihat seperti sinetron. Saya bahkan malah melihatnya sebagai kisah sinetron, alih-alih memandangnya sebagai sebuah karya sastra.

Hanya dua pekan berlalu, pada 26 Maret 2019, SK Pemberhentian delapan belas awak redaksi Pers Mahasiswa Suara USU diterbitkan. Mereka kemudian diperintahkan membereskan perlengkapan mereka di sekretariat Suara USU sampai Kamis (28/3). Cerpen Yael Stefani Sinaga menuntun persma USU menerima kenyataan pahit sikap birokrasi dalam memandang dan memperlakukan kerja-kerja kelembagaan.

Apakah Rektor USU, Runtung Sitepu memberhentikan seluruh awak redaksi Suara USU karena persoalan karya Yael terlalu biasa untuk dibaca sebagai sebuah karya sastra? Tentu saja tidak. Runtung Sitepu, lelaki yang mengenggam gelar profesor itu menganggap bahwa cerpen yang ditulis Yael terlalu mendukung paham LGBT.

Bentakan yang dikeluarkan Runtung Sitepu saat bertemu dengan seluruh awak redaksi suarausu.co mempertanyakan persoalan angkatan dengan keharusan untuk tidak melawan, membuat kita harus bertanya ulang atas gelar yang kini ia pegang. Tak ada diskriminasi umur untuk urusan mengeluarkan pendapat. Runtung Sitepu mengabaikannya dan menggunakan kuasa jabatan agar bisa menekan, alih-alih menjelaskan letak teks yang ia anggap tidak sejalan dengan visi dan misi kampus USU.

Namun sebelum lebih jauh membahas kekeliruan Runtung Sitepu, saya hendak menuliskan sedikit pertanyaan di kepala yang belum selesai. Sebuah kehormatan jika ada yang membalas tulisan ini dengan lebih bernas dan lebih masuk akal.

Saat membaca berita dari Tirto.id, terkait kasus suspensi website suarausu.co dan mengetahui bahwa penulis cerpen tersebut tenyata merupakan Pemimpin Umum (Ketua umum lembaga) Suara USU, saya bertanya terus, kenapa musti PU yang menulis cerpen? Memang tak ada aturan yang melarang PU menulis dan menerbitkan cerpen di lembaganya sendiri. Tapi menurut saya ini aneh dalam sebuah lembaga pers.

Di cerpen itu mestinya tercantum, Yael menulis atas nama redaksi atau sebagai mahasiswa USU. Sebab jika ia menulis atas nama mahasiswa USU, sepertinya tak ada masalah dengan persoalan itu. Namun jika seandainyaYael menulis atas nama keredaksian, apalagi ia sebagai PU, tulisan ini bisa dianggap sebagai sebuah framing—sebuah upaya mengarahkan pembaca ke persoalan yang ingin redaksi ulas.

Hal ini tidak akan bermasalah andai yang menulisnya bukan dari pengurus Suara USU, sebab di semua portal lembaga pers, tanggung jawab tulisan berupa karya sastra atau opini dan esai diemban sepenuhnya kepada penulis.

Saat mengetahui cerpen tersebut ditulis oleh PU Suara USU, saya malah merasa persoalan seperti ini, terutama yang menyangkut persoalan identitas (jika ia menggunakan framming) semestinya lebih tepat jika dibuat menjadi laporan panjang berupa depth reporting yang memuat fakta-fakta soal diskriminasi yang terjadi terutama di kampus. Laporan tersebut akan lebih membantu mereka, sebab laporan mendalam akan memperlihatkan fakta-fakta yang lebih jelas dan akurat ketimbang menulisnya dalam media cerpen.

Fungsi media adalah penyampai pesan, dan kita bertugas untuk memilah, gagasan semestinya di letakkan menggunakan media apa.

Saya juga masih menyimpan pertanyaan lekat dalam kepala, kenapa Yael yang memiliki jabatan PU musti mengirim cerpennya di lembaga yang ia pimpin sendiri? Kenapa harus Yael? Kenapa ia tidak mengirim ke koran atau portal lain? Atau Mengapa bukan orang lain saja yang menuliskannya dan mengirimnya ke suarausu.co? Atau kenapa suara tidak membuat saja semacam editorial.

Meski Yael menulis fiksi dalam bentuk cerpen, identitasnya sebagai PU akan terus melekat. Hal itulah yang barangkali menyulut pertanyaan, seakan-akan Suara USU membela LGBT karena yang menulisnya adalah PU nya sendiri. Tentu saja urusan ini tidak akan sampai serumit ini jika yang menulis adalah orang di luar kepengurusan Suara USU.

Saya pernah mengalaminya, saat berstatus sebagai demisioner dalam sebuah lembaga pers, saya mengirim satu opini ke lembaga pers yang pernah saya masuki. Mereka menerbitkannya dengan mencantumkan bahwa penulis adalah mahasiswa aktif “tanpa mencantumkan bahwa pernah menjadi pengurus di lembaga pers tersebut”. Tulisan itu terbit, dibaca ratusan orang, dan didiskusikan. Sementara yang lain menyalahkan saya karena menulis di lembaga saya sendiri, seakan-akan itu adalah suara utuh saya sebagai pengurus lembaga pers yang lebih tepat dijadikan sebagai editorial.

Waktu itu, saya bisa mengelak dengan mudah, bahwa saya menulis sebagai mahasiswa bukan sebagai pengurus lembaga. Pertama, karena status saya saat itu sebagai demisioner. Kedua, karena saya mencantumkan data diri sebagai mahasiswa alih-alih menulis “pernah mengemban tugas di lemabaga pers” tersebut yang berarti saya menulis bukan atas nama keredaksian. Meski memang pada akhirnya banyak yang tidak bisa sependapat. Sebab teman-teman sangat melihat identitas saya sebagai pengurus lembaga pers, alih-alih sebagai demisioner atau mahasiswa biasa yang juga berhak mengirim tulisan di media kampus.

Cerpen Yael Stefani Sinaga, sama sekali tak mengundang berahi. Dikaji dari aspek mana pun tak akan terlalu ditemukan bahwa cerpen tersebut berupaya mendukung LGBT. Cerpen itu malah secara tersirat menyinggung perilaku kita yang suka menghaikimi orang-orang yang berbeda dengan kita. Cerpen tersebut malah ingin mempertanyakan, hal apa sebenarnya yang telah kita lakukan untuk memberi ruang kepada orang-orang minoritas agar mereka juga merasa diri sebagai manusia?

Saya rasa, Yael punya tugas untuk menjelaskan hal yang masih kabur itu, terutama alasannya menulis cerpen tersebut dengan menggunakan status sebagai PU Suara USU. Tentu saja yang patut diapresiasi adalah keterlibatan langsung sebagian besar media, lembaga-lembaga, dan lembaga pers mahasiswa yang menerbitkan serta menyayangkan perilaku birokrasi Suara USU.

Setelah kasus cerpen Suara USU, dan melihat betapa membludaknya bantuan dari segala arah untuk membela sebuah kebebasan berpendapat, pers mahasiswa bisa dikatakan mulai kembali bisa bernapas.

Kemarin saat kasus Agni mencuat terkait pelecehan seksual, yang banyak memberitakan kasus tersebut malah portal-portal berita nasional alih-alih portal berita pers mahasiswa, padahal di situlah letak pers mahasiswa bisa saling membantu memberitakan kasus-kasus besar semacam pelecehan seksual dan lainnya. Jika kita mencari di pencarian geoogle, enam puluh portal daftar teratas yang memberitakan kasus Agni, tak satu pun ditemui portal pers mahasiswa. Kasus Persma USU tak demikian, ia mendapat bantuan banyak dari pers mahasiswa lain.

Saya sangat menyayangkan pernyataan Runtung Sitepu yang lebih menekankan Suara USU sebagai humas kampus alih-alih sebagai pers mahasiswa, hanya karena Suara USU berlabel UKM. Memang tak ada orang yang ingin diberitakan keburukannya, tetapi tentu saja pers mahasiswa tidak sebercanda itu Jinny, pers mahasiswa tidak memiliki tugas untuk selalu hanya memberitakan kebaikan kampus. Aneh melihat kampus-kampus yang tidak memiliki kualitas memadai dan selalu ingin diberitakan baik-baik saja.

Pers mahasiswa selalu diharapkan sebagai penyampai informasi kebenaran, jika kebenaran itu buruk, ia juga harus tersampaikan. Pers mahasiswa semestinya memang menjadi alarm, mengingatkan kekeliruan dan menyampaikan data-data fakta dari hasil berpikir kritis dan penemuan data riil. Satu di antara sekian banyak lembaga kampus yang setiap waktu bertarung menemukan data kebenaran dan di sisi lain, namanya yang tercantum sebagai mahasiswa aktif selalu terancam diskriminasi birokrasi, itu berlaku untuk mereka yang mengembang tugas di lembaga pers mahasiswa.

Mengapa kebenaran yang terungkap tentang keburukan kita, begitu sulit untuk kita terima, ya salam?

Facebook Comments
No more articles