Horor menjadi salah satu genre dalam disiplin film yang berusaha memancing emosi penonton, dengan menghadirkan efek berupa ketakutan dan rasa ngeri terhadap apa yang dia tonton. Alurnya seringkali mengandung tema-tema seperti kematian, supernatural, penyakit psikologi, dan tokoh antagonis yang ada pada film. Genre ini biasanya bersifat meta atau di luar dari dunia realita.

Perkembangan film horor, khususnya di Amerika Serikat dimulai sebelum Perang Dunia I dengan dirilisnya film-film adaptasi karya sastra yang bersifat gotik seperti Drakula, Frankenstein dan Dr. Jekyll & Mr. Hyde. Kemudian dilanjutkan pada era sebelum dan sesudah Perang Dunia II dengan dirilisnya The Wolf Man dan Creature from the Black Lagoon, film horor era ini biasanya berkutat dengan narasi sekelompok orang yang mencoba bertahan hidup dari serangan monster. Kemudian di era post modern film horor, seorang filmmaker indie asal Kanada memperkenalkan sebuah sub genre horor yang baru, George A. Romero dan zombi-nya.

Istilah zombi tercatat pertama kali digunakan di Afrika Barat, oleh masyarakat Kongo dari kata “nzambi” (dewa) dan “zumbi” (fetish), yang definisikan sebagai “roh yang berjalan di muka bumi untuk menyiksa yang hidup”. Dalam budaya masyarakat Haiti, zombi adalah mayat hidup yang dibangkitkan menggunakan sihir atau ilmu hitam, biasanya untuk diperbudak. Zombi dalam film sebenarnya pertama kali muncul pada White Zombie arahan Victor Halperin di tahun 1932, zombi digambarkan sebagai budak yang dalam pengaruh ilmu hitam oleh tuannya, zombi jenis ini pun muncul hingga tahun 60-an.

Pada tahun 1968, George A. Romero merilis Night of the Living Dead, dengan budget $114.000, dia memperkenalkan format baru pada zombi, Romero menggambarkan zombi sebagai mayat hidup pemakan manusia yang menjadi epidemik melalui virus, Romero punya istilah sendiri untuk menggambarkan zombi, yaitu “setan pemakan manusia”. Romero dianggap salah satu pelopor post modern horor, ditandai dengan karyanya yang lebih berani menampilkan darah dan bersifat gory. Penanda film post modern horor yakni dengan menampilkan kengerian yang ada dari kegiatan sehari-hari, mempertanyakan ulang bagaimana ketakutan itu sendiri, dan menolak narasi yang bersifat kesimpulan. Semua hal ini ada pada Night of the Living Dead.

Night of the Living Dead bercerita tentang dua tokoh yaitu Ben (Duane Jones) dan Barbara (Judith O’Dea) yang saling bahu-membahu ketika dunia telah berakhir dan orang-orang menjadi mayat hidup dengan memangsa manusia. Mereka pun bertahan hidup setelah bertemu penyintas lainnya di sebuah rumah pertanian, namun hidup mereka semakin terancam ketika usaha mereka untuk bertahan terus-menerus gagal. Dua karakter utama inilah yang membawa cerita menghadapi tiap konflik yang ada bahkan hingga akhir kisah yang tragis dan menjadi alat bagi Romero untuk membawa pesan yang ingin ia sampaikan melalui Night of the Living Dead, yaitu persoalan rasisme di Amerika tahun 1960-an.

Di awal cerita, penonton diperkenalkan pada Barbara, seorang wanita kulit putih yang kehilangan saudaranya akibat serangan zombi dan kemudian mengalami kondisi traumatis sepanjang cerita, dia kemudian bertemu dengan Ben, seorang pria kulit hitam yang lebih moral dan tenang dibanding Barbara dengan karakter pendukung lainnya, yang kebetulan berkulit putih. Meski pada akhir cerita, Ben menjadi satu-satunya yang selamat, namun harus kehilangan nyawanya setelah ditembak di kepala karena disangka salah satu zombi oleh segerombolan kulit putih yang memburu zombi. Romero memperkenalkan karakter utama tokoh berkulit hitam di film ini, saat film-film horor hollywood diserbu dengan film horor yang bersentral pada karakter kulit putih, sementara kulit hitam digambarkan sebagai tokoh antagonis atau monster dalam cerita. Saat itu, pada era Reagan tahun 60-an, rasisme menjadi polemik di antara masyarakat Amerika Serikat, kaum kulit putih dan kulit hitam mengalami kesenjangan sosial. Romero mencoba mendobrak kultur yang ada pada masyarakat kulit putih Amerika dengan memberi tokoh protagonis kulit hitam di film horor indie-nya, Night of the Living Dead. Di akhir cerita, Romero juga memberikan kenyataan pahit bagaimana perlakuan kaum kulit putih terhadap apa yang berbeda dari warna kulitnya.

Kengerian serangan zombi dianggap menyerupai kengerian perang Vietnam pada masa itu, memberikan kesan konflik pembantaian sebuah perang dengan darah dan mayat di mana-mana. Zombi juga seringkali diidentikkan dengan “Silent Majority“, sebuah kelompok, di era Richard Nixon pada 1969, yang tidak vokal secara politik dan terkesan “mati” dalam masyarakat. Istilah “mati” pada era ini juga menjadi hal yang menarik, karena secara statistik, mereka yang mati menjadi salah satu mayoritas pendudukan dari dampak perang Vietnam yang ada pada saat itu.

Inilah yang menarik dari seorang George A. Romero, dibanding film-film horor lainnya pada masa itu yang lebih mengutamakan jumpscare dan monster yang mengerikan dengan efek dan make up yang mumpuni, Romero membuat film horor menjadi medium untuk memberi pesan sosiopolitik yang ingin ia sampaikan, membuang jauh-jauh kesan bahwa genre film horor tak memiliki substansi dan tidak relevan pada isu-isu yang ada pada saat itu. Dengan alat, kru, dan bujet seadanya, dia berhasil menciptakan sebuah film dengan salah satu social commentary terbaik. Bahkan di sekuelnya, Dawn of the Dead yang di tahun 1978, Romero pun kembali menyelipkan konteks konsumerisme pada masyarakat Amerika Serikat dan Day of the Dead di tahun 1985, dia membahas mengenai nihilisme dan menolak alegori dua film sebelumnya. Lihat bagaimana pola Romero merilis filmnya tiap 10 tahun sekali semata-mata memberikan pesan kepada penontonnya bagaimana isu yang dia bawa di tiap filmnya tetap relevan bahkan sepuluh tahun setelah film itu dirilis. Night of the Living Dead, Dawn of the Dead dan Day of the Dead, saat ini lebih dikenal dengan Trilogy of the Dead, tiga cerita yang menyoal pada kematian sebagai alat untuk menyentil masyarakat urban pada saat itu.

Aturan zombi George A. Romero pun menjadi landasan film zombi modern yang ada saat ini dalam budaya pop. Jika tidak ada Romero, maka tak ada film zombi masa kini, seperti Shaun of the Dead, 28 Days Later dan World War Z. Tapi Romero, mengkritik film zombi pop yang ada saat ini dengan menyebutnya “kosong” dan “sekadar mencari uang”, dia bahkan membenci The Walking Dead, sebuah series zombi yang saat ini memiliki salah satu penonton terbanyak dalam pertelevisian Amerika Serikat. Padahal, kreator The Walking Dead, Robert Kirkman menyebut Romero sebagai inspirator terbesarnya dan bahkan hampir menamai karyanya ini Night of the Living Dead sebagai tribut untuk Romero sendiri.

Perlu diperhatikan bahwa semua film atau karya lainnya yang memuat zombi bebas digunakan dalam budaya pop, karena zombi sendiri menjadi public domain, keadaan pada sebuah materi kreatif bebas digunakan, digandakan, dan diperjualbelikan oleh khayalak luas karena tak memiliki hak cipta. Hal ini terjadi karena Night of the Living Dead tak mendaftarkan hak ciptanya di tahun rilisnya sehingga membuat semua materi di dalamnya bersifat public domain, membuat Romero tak mendapatkan sepersen pun dari monster yang dia ciptakan sendiri. Dalam salah satu interview, Romero hanya berpesan agar zombi tetap menjadi alat yang mambawa pesan dan dapat menginspirasi filmmaker muda di luar sana agar menggunakan monster yang dia ciptakan untuk berkarya.

George A. Romero menghembuskan napas terakhirnya pada 16 Juli tahun 2017, menuju alam kematian yang mungkin saja dia telah menjadi dewa di sana. Karena George A. Romero telah menciptakan sebuah ode kematian terbaik dalam sejarah film horor dunia.

Penulis: Muhammad Iqbal Muchlis, alumnus Sastra Inggris UNM Makassar

Facebook Comments
No more articles