“George’s voice became deeper. He repeated his words rhythmically as though he had said them many times before. ‘Guys like us, that work on ranches, are the loneliest guys in the world. They got no family. They don’t belong no place. They came to a ranch an’ work up stake, and  the first thing you know they are poundin’ their tail on some other ranch. They ain’t got nothing to look ahead to”.

-John Steinbeck, Of Mice and Men

Demikian kutipan sebuah novel karya John Steinbeck. Begitu menyentuh bagi orang yang mengerti perihal ‘buruh’ dan segala hal yang ada di dalamnya. John Steinbeck, sastrawan terkemuka kelahiran Salinas, California pada 27 Februari 1902, wafat di apartementnya pada usia 66 tahun, tepatnya 20 Desember 1968 di New York City dan dimakamkan di Salinas, California, tanah kelahirannya.

John Steinbeck termasuk pengarang kenamaan Amerika Serikat yang terkenal dengan kritik sosialnya. Melalui gaya deskripsi yang selalu menggoda, ia mampu menyampaikan kritik sosial dengan sangat baik. Lanskap situasi dalam karyanya digambarkan dengan detail, serta memasukkan unsur-unsur “emosi”. Ia memasukkan emosi manusia, bagaimana manusia menangis, bersedih, tertawa dan mengungkapkan pikiran. Hal itu wajar membuatnya menerima beberapa penghargaan atas karyanya yang begitu mumpuni.

Salah satu karya John Steinbeck yang terkenal dan paling populer adalah novel Of Mice and Man. Novel ini telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, terdiri atas enam  bagian dan  mengangkat tema persahabatan dengan latar sosial  kondisi Amerika Serikat pada masa depresi sekitar tahun 1930-an. Tahun-tahun itu Amerika Serikat mengalami situasi prekonomian yang anjlok hingga 40%. Hal ini membuat banyak sekali buruh yang diberhentikan, juga pengangguran dan tingkat kriminalitas yang meningkat.

Dalam Of Mice and Men kita mendapati bagaimana George harus menempatkan dirinya sebagai sahabat dengan keadaan Lennie yang sangat menguji kesabaran. Lennie Small dan George Milton merupakan dua tokoh bersahabat dan selalu bersama sepanjang cerita Of Mice and Men. Lennie memiliki tubuh besar dengan keterbatasan mental. Ia memiliki pemikiran serta perilaku yang menyerupai anak-anak, ingatannya sangat terbatas. Lennie sangat menyukai hal-hal yang lembut seperti tikus, anjing, kelinci, dan kain lembut.

Lennie kadang melakukan kesalahan tanpa ia sadari, tanpa ia sengaja. Meskipun begitu di balik keterbatasannya, Lennie dengan fisiknya yang besar tentu saja memiliki tenaga yang besar. Selain itu ia juga memiliki hati yang lembut dan penurut. Ia akan menuruti apa yang dikatakan oleh George dan selalu berusaha mengingatnya. Lain halnya dengan George, ia merupakan sosok lelaki yang memiliki tubuh kecil dan sigap dengan otak yang cukup pintar.

George selalu menjadi panutan bagi Lennie dan harus mengawasinya, sebab Lennie seringkali membawa mereka berdua pada masalah. Seperti ketika Lennie dan George harus melarikan diri karena ulah Lennie yang dengan polosnya menyentuh gaun indah nan lembut milik seorang wanita, sehingga Lennie dituduh akan memerkosa wanita tersebut ketika mereka berdua masih bekerja di Weed. Hal inilah yang menjadi sebab mereka berdua harus mencari pekerjaan baru.

Mereka berdua bekerja sebagai buruh. Pada suatu malam ketika mereka berdua beristirahat dalam perjalan menuju ke peternakan tempat mereka akan bekerja sebagai tukang angkut biji-bijian, George berkata kepada Lennie bahwa “Orang-orang seperti kita, yang bekerja di peternakan adalah orang-orang yang paling kesepian di dunia. Mereka tak punya tempat. Mereka datang ke peternakan untuk bekerja keras demi uang, kemudian mereka pergi ke kota dan menghabiskan uang mereka. Setelah itu mereka akan bekerja keras lagi di peternakan lainnya. Mereka tak punya apa-apa untuk masa depan mereka.” (hal. 32). Ungkapan yang sungguh menyentuh, bukan?

Di tempat baru George dan Lennie bekerja, mereka menetap di rumah sederhana. Di sanalah mereka berkenalan dengan para pekerja lain. Ada Candy si leleki tua yang bekerja sebagai tukang besih-bersih sebab tangannya cacat akibat kecelakaan kerja, Slim si pemimpin penggembala yang hebat, Carlson dan Whit yang juga penghuni rumah tersebut, Crooks ras negro yang kamarnya terpisah, bertugas untuk mengurus kandang kuda, Bos si pemilik peternakan, Curley si anak Bos, serta istri Curley yang selalu berkeliling dengan alasan mencari Curley, meski sebenarnya ia hanya mencari perhatian sebab ia juga kesepian seperti halnya para buruh di peternakan tersebut; mereka adalah orang-orang yang kesepian.

Di tempat inilah George dan Lennie bekerja mengumpulkan uang demi mewujudkan rencana memiliki tanah sendiri yang akan dia banguni sebuah rumah, berternak kelinci dan hewan lainnya serta bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Obrolan mereka tentang impian itu didengar oleh Candy sehingga ia juga ingin bergabung dengan dua sahabat itu dengan menyumbangkan tabungannya yang ada di bank serta sejumlah uang hasil kerjanya.

Sejak awal pertemuan sebenarnya Curley kurang suka dengan Lennie sebab Lennie memiliki fisik yang besar. Curley sendiri merupakan petinju yang kadang terobsesi untuk mengalahkan orang yang memiliki fisik yang lebih besar darinya. Hingga pada suatu hari Curley beradu mulut dengan Slim ketika ia mencari istrinya. Lennie tertawa sehingga memancing Curley, ia menyangka bahwa Lennie menertawakannya namun sebenarnya Lennie bahagia membayangkan pembahasannya dengan Candy dan George mengenai rumah masa depan mereka. Curley marah dan menghajar Lennie, sehingga tanpa sengaja Lennie meremukkan tangan Curley.

Suatu ketika, istri Curley sedang berkeliling untuk sekadar bertanya apakah ada yang melihat suaminya. Hari itu orang-orang sedang keluar, yang tinggal hanya Candy dan Lennie. Istri Curley mendatangi Lennie di lumbung, ia bercerita tentang kesepiannya. Di samping itu, Lennie sedang panik karena ia tidak sengaja mematahkan leher anjingnya yang diberikan oleh Slim. Ia takut George tidak mengizinkannya memelihara kelinci jika mereka sudah memiliki rumah. Ia juga bercerita kepada istri Curley bahwa ia menyukai hal-hal lembut, dan terlihat  manis. Istri Curley pun mengizinkan Lennie membelai rambutnya yang lembut. Namun Lennie membelai semakin keras dan enggan melepaskan sehingga perempuan itu jadi panik dan berteriak. Lennie ketakutan hingga menangis sementara istri Curley masih berusaha melepaskan diri. Dengan panik, istri Curley  diam, Lennie mengguncang tubuh istri Curley hingga lehernya patah dan meninggal tanpa Lennie sadari.

Sesuai apa yang pernah diperintahkan oleh George tempo hari, maka Lennie lari ke semak-semak dekat sungai Salinas untuk bersembunyi hingga George datang mencarinya. Di tempat itu Lennie merasa seakan-akan bibi  Clara berbicara padanya “kamu tidak pernah memikirkan George”, perempuan itu melanjutkan dalam suara Lennie. “Ia selalu berbuat baik padamu. Ketika ia mendapat kue pai, kau selalu mendapatkan separuh atau lebih dari separuhnya. Dan jika ada kecap, Wah ia selalu memberikannya padamu.” (hal. 219).

Akhir cerita, George mendatangi Lennie mengajaknya bicara dan menenangkannya bahkan mereka masih sempat membicarakan masa depan impian mereka. Sungguh akhir cerita yang tak terduga, ironis, dan mengharukan George menembak kepala bagian belakang Lennie hingga ia tewas agar Lennie tak dihukum mati oleh Curley.

Dilihat dari segi psikologi, maka jelas bahwa George merupakan super ego dari Lennie. Dalam hal ini George seolah-olah merupakan salah satu dari aspek kepribadian Lennie yang menampung standar internalisasi moral dan cita-cita yang diperoleh dari orang tua atau masyarakat. George seolah-olah menjadi penentu, benar dan salah serta merupakan pedoman untuk membuat penilaian bagi Lennie.

Dari sisi lain, jika dicermati lebih mendalam, novel ini  tidak hanya membahas masalah persahabatan dan harapan antara Goege dan Lennie, namun juga tak luput membahas isu rasisme, terlihat dari si penjaga kuda, Crooks, yang harus tidur di kandang kuda sendiri. Tak seorang pun mengajaknya bermain kartu, mengobrol, atau yang lainnya di luar pekerjaan, karena dia seorang yang berkulit hitam. Istri Curley juga sering merendahkannya dan mengancamnya karena Crooks seorang negro.

Selain itu relasi-relasi yang terjadi dalam Of Mice and Men melibatkan false consciousness atau kenyataan palsu yang ditanamkan penguasa (kapitalis), agar para pekerja, jika tidak dengan senang hati, atau dengan terpaksa menjalankan apa yang diinginkan penguasa. False consciousness tidak secara kaku bekerja dalam dikotomi atau hubungan penguasa dan pekerja dalam novel ini. Dalam novel Of Mice and Men false consciousness bekerja dalam relasi antara George dan Lennie. George dan Lennie digambarkan bertolak belakang, dan karenanya, saling melengkapi. Mereka pas untuk diajak bekerja dan digaji hanya sebagai satu manusia, mereka bekerja berdua, namun digaji dengan hitungan satu orang.

George berbadan kecil dan cekatan, bermuka kehitam-hitaman, dengan mata jalang tajam, dan raut muka teguh. Segala-galanya yang ada padanya digambarkan; kecil, bertangan kuat, berlengan langsing, dan hidung tipis mancung. Tokoh satunya, Lennie seorang yang dalam segala hal serba bertentangan, gigantis dengan muka yang tak tentu bentuknya, mata besar pucat, bahu lebar menurun, langkah yang berat-berat, kaki yang menyeret jika berjalan dan lebih cenderung mengalami keterbelakangan mental atau idiot.  George tidak memiliki kekuatan fisik, yaitu tubuh besar yang dimiliki Lennie. Begitu pula sebaliknya, Lennie tidak memiliki kemampuan berpikir dan otonomi diri seperti yang dimiliki George. Namun, relasi yang saling melengkapi tersebut tidaklah setara sifatnya, melainkan hirarkis: George penentu, Lennie pelaksana; gerak George terbatas, gerak Lennie dibatasi; George memimpin, Lennie mengikuti.

Dalam lingkup yang lebih kecil lagi, gejala sistem kapitalisme bekerja dalam hubungan antara George dan Lennie. Konsep false consciousness ditanamkan oleh George, yang dalam hal ini sebagai kapitalis, sehingga George mendapatkan keuntungan yang optimal dari Lennie. False consciousness yang bekerja dapat dilihat dari bagaimana Lennie memandang George sebagai pelindung yang ia sayangi sehingga ia rela melakukan apa saja yang diperintahkan George. Lennie bahkan menangis menanggapi kemungkinan kehilangan George yang dikatakan Crooks kepadanya. Namun, dalam proses pengambilan keuntungan tersebut, George malah semakin banyak dirugikan. Oleh karena itu, sebagaimana kapitalisme bekerja, Lennie harus disingkirkan karena dianggap sebagai mesin yang tidak menguntungkan.

Adegan terakhir, Lennie mengalami delusi tentang berbagai hal. Ending cerita diakhiri dengan tragis, Lennie duduk di pinggir danau, membicarakan cita-citanya tinggal di sebuah desa yang indah, sambil memandangi angsa-angsa yang berenang di danau. George menembak kepala Lennie, setelah tersenyum, mendengarkan ceritanya sembari mengelus pundak sahabatnya yang malang itu. George membebaskan dirinya dari masalah-masalah yang disebabkan oleh Lennie karena keterbelakangan mental. Lagi-lagi kapitalisme menunjukkan bagaimana seseorang yang lemah harus disingkirkan, agar tak merepotkan pekerjaan dan mengganggu sebuah kinerja kerja yang hanya menginginkan untung belaka.

Penulis: Sunarty Mr, mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Makassar (UNM).

Facebook Comments
No more articles