Hari ini “kita” Sapiens (Manusia), mengendalikan dan menguasai planet ini, tapi pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa sampai pada zaman seperti sekarang ini? Apakah yang menjadi hal utama yang menyebabkan kita bisa sampai seperti ini? Bagaimana kita berevolusi dari kera yang biasa (Insignificant Apes) yang cuma mengurusi dirinya sendiri di sekitar Afrika menjadi penguasa dari planet ini. Apa yang sebenarnya membedakan kita “Manusia” dengan hewan adalah pertanyaan pertama yang di keluarkan oleh Yuval dalam beberapa seminarnya di berbagai negara.

Kita ingin percaya atau kita ingin mengetahui bahwa ada sesuatu yang spesial tentang kita “Manusia”, tentang tubuh kita, otak yang membuat kita lebih hebat daripada anjing, babi ataupun simpanse. Namun pada kenyataannya jika saya “seorang manusia” dan “seekor simpanse” dilepas di sebuah pulau dengan tujuan untuk melihat siapa yang dapat bertahan hidup lebih lama di pulau tersebut dengan mengandalkan diri sendiri saja maka saya akan kalah dari simpanse tersebut, begitu pun dengan manusia-manusia lainnya jika kita berbicara pada tingkat individu saja, atau paling tidak sebagian manusia pasti akan kalah. Saya berani bertaruh soal ini.

Perbedaan yang mendasar dari manusia dan binatang lainnya yang membuat manusia dapat bekerja lebih baik dibanding hewan-hewan lainnya adalah kolektivitas. Manusia dapat menguasai planet ini karena manusia adalah satu-satunya hewan yang dapat bekerjasama dengan sangat baik dalam jumlah yang sangat besar. Tentu kita dapat berpikir kalau ada binatang-binatang yang dapat bekerja secara masif juga seperti semut dan lebah. Namun binatang tersebut tidak dapat bekerjasama secara fleksibel karena kerja sama mereka sangat kaku.

Mari kita ambil contoh lebah, dalam kehidupan sekelompok lebah, mereka hanya mempunyai seekor ratu yang akan terus seperti itu, lalu ketika ada kesempatan baru untuk perubahan atau ada bahaya yang sedang melanda yang menyebabkan si ratu mati mereka tidak dapat menemukan atau membangun kembali sistem sosial mereka dalam semalam. Tanpa adanya seekor ratu para lebah itu tidak dapat bekerjasama dalam jumlah yang besar. Lebih lanjut lagi, sekelompok lebah tidak dapat membunuh ratunya dan mendirikan Republik Lebah atau Kediktatoran Komunisme Pekerja Lebah.

Hal ini juga berlaku untuk sekelompok mamalia seperti, simpanse, serigala, gajah, sapi dan lain-lain, namun untuk sekelompok mamalia ini mereka dapat bekerja secara fleksibel dan tidak kaku tapi hanya dalam jumlah yang sedikit. Kita ambil contoh simpanse, kerjasama yang mereka lakukan berdasarkan seberapa kenal simpanse A dengan simpanse B, C dan seterusnya, intinya mereka hanya bisa bekerjasama dengan simpanse yang mereka kenal.

Satu-satunya hewan yang dapat bekerjasama secara fleksibel seperti mamalia dengan jumlah yang besar seperti lebah adalah manusia, seperti yang telah saya tuliskan di atas. Semua pencapaian besar manusia dalam sejarah seperti membangun piramida sampai denga terbang ke bulan tidak hanya berdasarkan pada level per individu, tapi juga pada kemampuan untuk bekerjasama secara fleksibel dalam jumlah yang besar. Contoh kecilnya ketika orang-orang dalam jumlah yang sangat besar pergi menonton pertandingan sepakbola di stadion Gelora Bung Karno, mereka tertib duduk serta menyaksikan pertandingan tersebut tanpa adanya kekacauan. Ribuan orang yang ada di stadion tersebut pastinya tidak mengenal satu sama lain. Tetapi mereka dapat bekerjasama secara fleksibel dalam jumlah yang sangat besar untuk menonton pertandingan tersebut dalam keadaan yang kondusif.

Contoh lainnya, seorang profesor dari Norwegia akan pergi memberi ceramah tentang perkembangan teknologi di salah satu Universitas di Makassar. Profesor itu sekarang sedang berada di dalam pesawat dan tahu jika ia tidak mengenal pilot, pramugari, pramugara serta penumpang lainnya. Tetapi si profesor dapat tetap bekerjasama dengan orang-orang yang ada di situ tanpa menimbulkan kekacauan. Lalu setibanya di Universitas Negeri Makassar, si profesor harus memberi ceramah kepada ribuan orang yang sama sekali tidak ia kenali, mulai dari orang-orang yang mengatur acara tersebut sampai dengan peserta yang hadir di acara tersebut.

Tentunya simpanse dan hewan-hewan lain yang ada di bumi tidak bisa melakukan hal demikian. Mereka dapat berkomunikasi satu sama lain, tapi kita tidak akan pernah menemukan seekor simpanse yang pergi keliling dunia untuk berceramah soal sebuah pisang. Hanya Sapiens yang dapat melakukan hal tersebut secara fleksibel dalam jumlah yang besar.

Meski demikian, bekerjasama tidak selamanya berdampak positif atau menghasilkan hal-hal yang baik. Semua hal yang mengerikan telah dilakukan manusia sepanjang sejarah adalah hasil dari bekerjasama secara fleksibel dalam jumlah yang besar juga. Hal-hal mengerikan seperti perang dunia pertama, perang dunia kedua ataupun holokaus (Holocaust) adalah beberapa contoh yang membuktikan, kita tetap tidak dapat menghindari hal-hal yang seperti itu.

Kemudian pertanyaan selanjutnya yang muncul, bagaimana kita dapat melakukan hal tersebut? Bagaimana kita dapat bekerjasama secara fleksibel dalam jumlah yang sangat besar? Atau apa yang membuat kita bisa melakukan hal itu, sedangkan hewan-hewan yang lain tidak dapat melakukannya?

Saya akan meminjam istila Harari yang disebutnya sebagai Fictional Reality”. Kita dapat bekerjasama dengan orang yang kita tidak kenali dalam jumlah yang sangat besar karena kita satu-satunya makhluk hidup yang dapat menciptakan dan juga percaya pada “Fictional Reality” atau “Fictional Stories”. Selama orang lain percaya pada fictional reality yang sama maka setiap orang akan mematuhi aturan yang sama, norma yang sama dan juga nilai yang sama. Hewan yang lain misalnya seperti simpanse akan menggunakan kemampuannya untuk berkomunikasi kepada simpanse yang lain hanya untuk mendeskripsikan realitas.

Seekor simpanse mungkin akan berkata “Lihat! Ada Harimau di sana, ayo kita segera lari!!” atau “Lihat! Ada pisang di atas sana, ayo kita segera panjat pohon itu!”, adalah contoh bagaimana simpanse mendeskripsikan sebuah objek nyata.

Demikian halnya dengan manusia, mereka dapat melakukan hal yang sama seperti apa yang simpanse tadi lakukan—mendeskripsikan sebuah objek nyata. Namun tak hanya itu, manusia juga dapat membuat realitas yang baru dan inilah istilah yang digunakan oleh Harari sebegai realitas fiksi. Bagaimana manusia dapat menciptakan sebuah cerita fiksi atau realitas yang baru untuk sama-sama dipercayai dan dipatuhi.

Seorang lelaki mengatakan kepada seseorang didekatnya “coba lihat, ada dewa di atas awan sana dan jika kalian tidak melakukan apa yang saya katakan, maka setelah kalian mati, dewa itu akan menghukummu dan melemparmu ke neraka!”. Ketika para pembaca mempercayai apa yang dikatakan laki-laki itu, maka kalian akan mengikuti aturan yang sama, norma yang sama, nilai yang sama untuk bekerja sama agar tidak dihukum oleh dewa tersebut. Ini adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan manusia.

Kita tidak akan pernah bisa meyakinkan seekor simpanse agar memberikan pisangnya kepada kita dengan menjanjikan kepadanya ketika kamu mati, kamu akan pergi ke surga simpanse dan kamu akan mendapatkan lebih banyak pisang di sana. Tidak, kita tidak akan bisa melakukan hal tersebut kepada hewan lain, hanya kita manusia yang percaya dengan cerita tersebut (Fictional Reality) dan oleh karenanya dengan alasan itu manusia dapat menguasai bumi di mana para simpanse dan binatang-binatang lainnya terkurung di kebun binatang ataupun menjadi bahan penelitian para ilmuan.

Inilah bukti kalau manusia dapat bekerjasama secara fleksibel dalam jumlah yang besar dengan mempercayai cerita fiksi yang sama. Dalam keagamaan, manusia dapat bekerjasama untuk beribadah, mendirikan gereja, mesjid ataupun berperang pada perang salib dan jihad yang tentunya dalam jumlah yang sangat besar. Semua itu karena kita menciptakan realitas baru yang kita percayai dan ikuti bersama. Bukan hanya soal keagamaan yang dipercayai dengan sebutan fictional reality, tetapi juga hal-hal lain seperti Hak Asasi Manusia (HAM). Harari menjelaskan dalam beberapa ceramahnya kalau HAM itu fictional reality yang kita ciptakan, yang sama persis dengan cerita keagamaan tadi.

HAM bukanlah sebuah realitas yang objektif dan juga cerita keagamaan tadi. HAM dan cerita keagamaan juga bukanlah bagian biologis dari kita. Coba Anda membedah seorang manusia dan lihat sampai ke dalam tubuhnya, belah jantungnya, paru-paru, lambung dan lain-lainnya pasti Anda tidak akan menemukan HAM di dalam tubuh manusia karena HAM bukanlah sebuah realitas yang objektif begitu pula dengan cerita keagamaan. Yang ingin Harari tekankan di sini bahwa realitas tidak bersifat objektif yang kita ciptakan ini bukanlah suatu hal yang buruk, ini bagus buat kehidupan manusia. Namun pada dasarnya keduanya hanya realitas yang kita ciptakan.

Harari juga menambahkan contoh lainnya seperti kebangsaan. Sama halnya dengan kedua contoh sebelumnya, kebangsaan bukanlah sebuah realitas yang objektif tidak seperti gunung. Kita dapat melihat sebuah gunung, kita dapat menyentuhnya dan bahkan menciumnya. Tapi kebangsaan atau sebuah negara seperti Jerman, Inggris atau Indonesia hanyalah fictional reality yang kita ciptakan. Lebih jauh lagi, Harari memberikan contoh tentang seorang pendongeng yang hebat yaitu para Bankir yang memberikan sebuah dongeng dengan sangat meyakinkan. Bankir itu mengatakan “Apakah kamu melihat kertas hijau ini? Kertas hijau ini setara dengan 10 buah pisang” kata si Bankir. Jika saya dan Anda mempercayai dongeng itu dan setiap orang mempercayai itu maka dongeng Bankir tadi pasti akan menjadi realitas fiksi yang disepakati bersama dan akan menjadi nyata.

Ketika setiap orang sudah mempercayai dongeng Bankir tadi dan ketika Anda pergi ke Alfamart, maka kertas yang tadinya tidak bernilai tersebut akan menjadi bernilai. Tetapi sekali lagi, kita tidak bisa melakukan hal yang sama terhadap simpanse atau binatang lainnya dengan dongeng yang telah di ceritakan si Bankir. Kertas yang pada awalnya tidak berharga menjadi bernilai dan diberi nama “Uang”

Jadi kenyataannya bahwa uang adalah dongeng yang paling sukses dari semua dongeng yang pernah ada, yang diciptakan oleh manusia. Dongeng tentang uang atau fictional reality tentang uang tadi adalah sebuah realitas yang tidak bersifat objektif atau bisa kita katakan tidak nyata. Namun itu menjadi sebuah realitas ketika kita mempercayainya atau menyepakatinya karena tidak setiap orang percaya dengan Tuhan ataupun Dewa, tidak semua orang percaya pada HAM dan tidak semua orang percaya pada nasionalisme tapi setiap orang masih percaya dengan “Uang”.

Jadi sebagai kesimpulan, manusia dapat bertahan hidup, mengelola bumi dan bahkan menguasai bumi karena manusia adalah satu-satunya makhluk yang hidup di dalam dua realitas yang berbeda. Hewan seperti simpanse, sapi, lebah, dan lain-lain hidup hanya pada satu realitas saja yakni realitas yang bersifat objektif. Namun manusia hidup dalam dua realitas, yang pertama realitas yang bersifat objektif seperti hewan lainnya dan satu lagi fictional reality atau mungkin bisa saya sebutkan sebagai realitas yang bersifat fiksi. Fictional reality seperti kebangsaan, dewa-dewa, uang maupun HAM bukanlah hal yang buruk dan hal yang paling menakjubkan.

Penulis: Rahman Hidayah, bekerja sebagai penerjemah dan alumnus UNM Makassar

Facebook Comments
No more articles