Beberapa waktu yang lalu, sebuah petisi di change.org dituliskan oleh seorang perempuan bernama Maimon Herawati. Petisi tersebut berisi tentang penolakan (penghentian tayang) iklan salah situs belanja daring yang dibintangi oleh salah satu girlband top asal Korea, BlackPink. Iklan tersebut dianggap merusak moral anak-anak Indonesia. Meski banyak mendapatkan tanda tangan, netizen justru berpikir petisi tersebut salah alamat dan penulis petisi terlalu fokus pada persoalan ‘paha’ ketimbang subtansi dari iklan dan persoalan tayangan di Indonesia.

Di akhir Februari 2019, muncul sebuah penolakan baru. Penolakan tersebut dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa terhadap penayangan salah satu film berjudul Dilan 1991 di bioskop-bioskop Makassar. Alasannya terlalu bombantis, film tersebut dapat merusak pendidikan karena tidak sesuai dengan adat ketimuran. Mereka melakukan pra-aksi pada tanggal 27 Februari 2019. Kemudian, saat tayang perdana, kelompok tersebut melakukan aksi di salah satu bioskop yang ada di Makassar dan berujung ricuh.

Menarik untuk menelisik lebih dalam terkait peristiwa penolakan film Dilan 1991, peristiwa ini menimbulkan kesan yang heroik, lucu, sekaligus membingungkan. Tak ada titik pangkal masalah yang jelas, serta alasan yang benar-benar bisa merasionalisasi akal sehat untuk menerima aksi ini sebagai upaya perbaikan pendidikan. Berikut ini beberapa hal yang menjadi catatan epigram.or.id terhadap peristiwa tersebut.

Seperti apa kedalaman kajian mereka?

Mereka yang menolak penayangan film Dilan 1991 mengaku telah melakukan kajian yang mendalam kemudian memutuskan bahwa film Dilan dapat meningkatkan kekerasan di dunia pendidikan. Akan tetapi, hingga kini, publik belum tahu seperti apa isi kajian tersebut, metode yang digunakan, referensi, serta cara mengelola data sehingga menemukan sebuah kesimpulan bahwa film Dilan dapat menyebabkan meningkatnya kekerasan dalam dunia pendidikan.

Ada baiknya, hasil kajian tersebut dipublikasikan, dengan demikian publik bisa melakukan pengujian. Akan tetapi, yang terjadi adalah mereka melakukan pra-aksi dan aksi langsung tanpa melakukan publikasi hasil kajian. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan di benak publik dan mencurigai mereka sebagai jomlo-jomlo yang iri terhadap kemesraan Dilan dan Milea (jika tidak percaya, coba buka Lambe Turah).

Mengapa Dilan 1991?

Pertanyaan ini harus dijawab dengan serius oleh orang-orang yang menolak penayangan film Dilan. Jika alasannya karena persoalan kekerasan di dalam film, ada banyak film serupa yang mengandung unsur kekerasan di dalamnya. Bahkan, yang paling dekat adalah sinetron-sinetron yang tayang di tivi-tivi, mereka menjual kisah cinta yang dibalut perkelahian.

Bukan hanya di tivi, akses digital memudahkan anak menemukan konten kekerasan melalui youtube dan sosial media. Selain itu, jika kita buka game semacam Mobile Legend, PUBG, Free Fire, konten-konten mereka juga mengandung kekerasan. Dan kita tahu bersama bagaimana game saat ini menjadi sosok yang menginvasi anak-anak kita. Tentu tidak adil jika yang diboikot hanya Dilan, sedangkan masih banyak konten-konten lain yang lebih bermasalah.

Apakah menolak film Dilan 1991 merupakan jalan terbaik menyelamatkan (memperbaiki) pendidikan?

Di Makassar, hampir tiap pekan mahasiswa melakukan unjuk rasa mengangkat isu pendidikan. Hal ini terutama yang berkaitan dengan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UU PT) No. 12 tahun 2012. Mereka memperjuangkan pendidikan dengan berusaha menyasar sistem yang dipercaya membawa pendidikan berkompromi terhadap komersialisasi, privatisasi, dan liberalisasi.

Di sisi lain, ada banyak orang mengabdikan diri, melakukan pekerjaan sukarela demi pendidikan. Bahkan setiap tahunnya, beberapa lembaga pendidikan seperti Indonesia Mengajar, melakukan pengiriman guru ke tempat-tempat terpelosok demi meningkatkan kualitas pendidikan. Maka dari itu, cara melakukan pemblokan terhadap penayangan film Dilan 1991 di bioskop tentu menjadi tanya besar. Ada banyak cara, dan banyak jalan yang lebih baik.

Jangan-jangan, hal itu hanya menjadi sebuah gimik, bukan usaha yang benar-benar memperjuangkan pendidikan untuk menjadi lebih baik.

Teladan apa yang hendak kawan-kawan sampaikan?

Salah satu alasan utama penolakan penayangan film Dilan 1991 di Makassar adalah meningkatnya kekerasan di sekolah. Hal itu mungkin dimaksudkan sebab di Dilan 1990, Dilan memang melawan seorang guru yang menamparnya saat upacara bendera. Persoalannya adalah, mengapa kekerasan dilawan dengan kekerasan. Anda memasuki mall, berorasi dan hingga akhirnya melakukan aksi, lalu terjadilah saling dorong dengan petugas yang berujung pada kericuhan. Kejadian seperti itu bukan teladan yang baik. Logika macam apa yang berpikir bahwa cara mengurangi kekerasan adalah dengan cara kekerasan pula. Jangan kau padamkan api dengan api, kamerad.

Jika kawan-kawan berdalih bahwa insinden di dalam karena ada provokasi dan semacamnya, maka tentu saja Dilan pada film pertama juga melawan guru karena merasa diperlakukan secara tidak adil.

Mengapa kita suka melarang?

Demi apa bangsa ini begitu suka melarang? Masih hangat di ingatan kita tentang razia buku-buku yang dianggap sebagai buku kiri. Orang-orang mengutuk itu sebagai cara berpikir yang salah dan tertutup. Lantas, hari ini kita hadir untuk melarang penayangan sebuah film yang nyatanya telah lulus sensor dari lembaga yang berwenang. Kita melarang orang-orang yang membayar tiket dengan keringatnya sendiri untuk menyaksikan film karya anak bangsa.

Dan demi apa kita suka melarang? Bukannya menghadirkan diskursus yang berbeda, kita justru mencoba mematikan karya. Jika Dilan memang harus ditolak, buktikan bahwa ia berhak untuk ditolak. Ketidaksukaan bukan alasan yang tepat menolak sesuatu. Apakah kawan-kawan mahasiswa pernah merasa ditolak, odo’-odo’ misalnya.

Sebagai penutup, kami berpikir bahwa aksi menolak pemutaran Film Dilan 1991 di bioskop-bioskop Makassar demi mengurangi kekerasan di dunia pendidikan merupakan hal yang baik. Tetapi, alangkah lebih baiknya jika hal itu tidak dilakukan. Sebab sudah menjadi watak manusia bahwa semakin ia dilarang, semakin ia ingin melakukannya.

Redaksi

Facebook Comments
No more articles