“I have always imagined that Paradise will be a kind of library.”

(Jorge Luis Borges)

Borges merupakan sastrawan Amerika Latin, berkebangsaan Argentina, sama dengan tempat kelahiran Carlos Maria Dominguez, penulis buku fenomenal La Casa de Papel. Sesuai dengan kutipan di atas, Borges menyatakan bahwa ia selalu membayangkan surga adalah tempat yang dipenuhi dengan buku; layaknya sebuah perpustakaan. Pernyataan Borges tersebut merupakan euforia bagi para bibliophile, bibliomaniac, dan tsundoku. Sebab, pada dasarnya buku adalah barang mewah dan sakral bagi para pecintanya.

Beberapa waktu lalu, tersebar berita Pria Jepang Tewas Terkubur Majalah Porno Seberat 6 Ton. Berita ini kemudian menuai opini dan menjadi bahan diskusi di berbagai media sosial. Banyak yang berpendapat, “ngapain koleksi buku? Sekarang itu kita sudah pakai file digital.” Meski pada akhirnya berita yang judulnya sangat clickbait itu dikonfirmasi sebagai hoax, namun di sisi lain berita tersebut mengingatkan saya pada sebuah buku Carlos Maria Dominguez, La Casa de Papel yang kemudian diterjemahkan penerbit Marjin Kiri sebagai Rumah Kertas.

Halaman pertama buku Rumah Kertas mengungkap sebuah tragedi yang memberi euforia para pembacanya, terlebih jika yang membaca adalah seorang bibliophile. Seorang Dosen, Bluma Lennon ditabrak mobil saat sedang membaca Poems karya Emily Dickinson. Bluma termasuk korban buku-buku dan bukan korban satu-satunya. Seorang profesor sepuh pengajar bahasa-bahasa kuno, Leonard Wood, lumpuh setelah lima jilid Encyclodaedia Britannica jatuh menimpa kepalanya dari rak perpustakaannya. Richard patah kaki ketika mencoba menjangkau Absalom, Absalom! karya William Faulkner yang ditaruh begitu saja menyempil di rak sampai ia terpelanting dari tangga. Selain itu, pada masa kediktaktoran militer  Argentina, buku seperti sebuah teror. Banyak orang membakar buku-bukunya di toilet, menguburnya di bawah pondasi rumah, atau menyimpannya di sudut-sudut yang tak terjangkau, karena buku dianggap sangat berbahaya.

*

Dalam Rumah Kertas, Dominguez dengan lihai menulis catatan perjalanan tokoh “aku” seorang dosen yang menggantikan posisi Bluma di Jurusan Sastra Amerika Latin, Universitas Cambridge, London. Suatu hari, ia menerima paket  yang dialamatkan pada almarhum Bluma Lenon. Paket  berperangko Uruguay  tanpa nama dan alamat pengirim tersebut, berisi sebuah buku edisi lama La linea de Sombra karya Joseph Conrad. Paket itu hanya menyisakan dua petunjuk yang akan mengarahkan perjalanan sang dosen untuk melintasi kota demi kota memecahkan misterinya. Dua petunjuk itu adalah tulisan Bluma yang berisikan buku ini ditujukan bagi seseorang bernama Carlos Brauer dan sebuah lokasi penanda pertemuan mereka, di Monterrey serta “kotoran berkerak” berupa partikel-partikel semen yang meninggalkan debu halus di meja kantor sang dosen.

Terdorong rasa penasaran siapa Brauer dan apa motif pengiriman buku tersebut ke Bluma, maka tokoh “aku” berusaha  mencari identitas si pengirim. Dalam perjalanan pencarian itu, tokoh “aku” bertemu dengan beberapa bibliophile serta melihat sejumlah fakta-fakta dari bibliophile tersebut. Awalnnya ia bertemu dengan Jorge Dinarli, pemilik toko buku lawas, yang menganjurkan menemui Agustin Delgado yang sangat menyayangi buku-bukunya, akhirnya si tokoh “aku” berhasil mengungkap misteri buku berkerak semen yang ditujukan untuk Bluma. Ternyata pengirimnya adalah Carlos Brauer, si kutu buku. Bagi Brauer, buku adalah segalanya. Ribuan buku menyesaki setiap inci sudut ruang di rumahnya, bahkan hingga ke kamar mandi dan garasi. Mobilnya ia hibahkan secara cuma-cuma kepada temannya, agar garasi tersebut dapat menyimpan buku-buku yang setiap saat beranak-pinak. Bagaimana tidak, untuk menekuri satu buku saja, Brauer terbiasa ditemani sekitar dua puluh buku pendamping di sampingnya.

Dalam buku Rumah Kertas, fakta-fakta tentang kutu buku, atau biasa dikenal dengan istilah bibliophile de facto setidaknya menjelaskan lima hal, diantaranya:

Pertama, cara seorang bibliophile merampungkan bibliografi, yaitu dengan merujuk ke buku-buku lain yang berhubungan sampai berpuluh-puluh buku seperti yang dilakukan oleh Delgado dan Brauer.

Kedua, cara atau tips-tips merawat buku dan cara  unik untuk menata buku ala bibliophile. Misalnya, tokoh Delgado harus memesan lemari khusus untuk menyimpan bukunya. Lemari itu terbuat dari lapacho, kayu tak berkerak yang tidak dapar ditembus serangga. Lemari itu juga harus dipasangi pelapis kaca karena buku jelas-jelas mengundang debu, selain juga harus disemprot anti serangga, agar kayu tak mudah ditembus serangga.

Ketiga, bibliophile akan selalu menghabiskan banyak uang demi buku, seperti mengikuti acara pelelangan buku. Selain itu, bibliophile terkadang juga memiiki obsesi yang aneh, misalnya tokoh Brauer, ia ingin puluhan ribu buku-bukunya dapat melindungi dirinya dari angin, hujan, dan menjadi tempat teduh di musim panas . Ia kemudian memerintahkan para kuli yang membangun rumahnya untuk menggunakan buku-bukunya sebagai pengganti batu-bata, dan masih banyak lagi keanehan lainnya.

Keempat, cara menikmati buku ala bibliophile. Seperti tokoh Brauer yang memiliki kebiasaan membaca atau menikmati penulis-penulis Perancis abad kesembilan belas diterangi cahaya lilin. Ada pula Delgado yang suka membuat catatan entah asosiasi, indikasi, atau renungan di sana-sini untuk disisipkan ke halaman-halaman buku yang dibacanya, hal tersebut berfungsi sebagai rujukan agar ia membaca buku lain sesuai dengan catatannya. Lain halnya dengan Brauer, ia menulisi marjin-marjin buku secara langsung dan menggaris bawahi kata-kata, kerap kali dengan warna berbeda-beda yang mengandung sandi tertentu. Ia lebih menangkap makna jika melakukan hal tersebut. Brauer berkata:

Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.” Sungguh unik cara para bibliophile dalam menikmati buku.

Kelima, bibliophile memiliki pengetahuan yang luas. Dalam Rumah Kertas pembaca seakan-akan dapat melacak peta kesusastraan melalui para bibliophile, misalnya karya sastra Amerika Latin, bahkan karya sastra dunia. Selain itu kita akan dipertemukan dengan para maestro sastra dunia seperti Borges, Garcia Lorca, Shakespeare, Marlowe, Martin Amis, Julian Barnes, Vargas Llosa, Pablo Neruda, Roberto Arlt, Vallejo, Onetti, Valle-Inclan, William Faulkner, Dostoievsky, Leo Tolstoy, Hegel, Victor Hugo, Sarmiento, Benedetti, Felisberto Hernandez, Goethe, Hemingway, Kafka, Kant, Cortazar, Huidobro, Burckhardt, Balzac dan banyak lagi.

*

Rumah Kertas berhasil mendobrak idiom “buku bagus itu pasti bukunya tebal”, ketebalan sebuah buku tak menjamin kualitas, seperti halnya sebuah idiom lain, “jangan gampang menilai sesuatu dari luarnya saja”. Buku Rumah Kertas memuat empat bab yang padat dan hanya berisi 76 halaman. Selanjutnya, mengacu pembagian kategori yang ditentukan oleh SFWA (Science Fiction Writers of America), maka buku ini merupakan prosa jenis novela karena tebalnya kurang dari seratus halaman.

Berbicara teknik penuturan dan gaya bercerita Carlos Maria Dominguez, maka akan dijumpai penggunaan kalimat yang minim metafora, dialog yang tak bertele-tele bahkan gaya berceritanya terkesan seperti seorang detektif, ia begitu lihai mengikat pembaca, dan dia cukup bijak untuk tidak membebani pembaca dengan teks yang panjang, rumit, dan pada akhirnya cenderung membosankan. Setiap kata mampu membuka sedikit demi sedikit kisah layaknya memecahkan sebuah kasus dan lebih penting lagi gaya berceritanya mudah dipahami. Ide yang ditampilkan terkesan ringan, dikemas dengan apik membuat cerita lebih bernyawa. Selanjutnya, penggambaran latar waktu berganti begitu cepat.

Dominguez sangat apik membangun karakter lewat deskripsi tempat. Tokoh hadir lewat dialog yang dilakukan oleh narator dan tokoh lain. Melalui alur dan dialog antar-tokoh rekaannya, Dominguez berhasil menyuguhkan segala hal ikhwal mengenai dunia buku dengan segala pernak-pernik yang mengitarinya.

*

Membaca Rumah Kertas akan membawa pembaca ke dalam percakapan tentang buku. Buku bisa menjadi hal yang mengerikan, menyenangkan, bahkan menentukan hidup seseorang. Dalam kehidupan seorang bibliophile, buku tanpa disadari dapat membuat sempit seisi rumah dan menjadi pekerjaan besar untuk merawatnya. Secara tidak langsung penulis Rumah Kertas menyisipkan pesan kepada pembacanya untuk menggilai buku seperti kutipan berikut “…di sini kita semua cinta buku,” imbuhnya sambil menunjuk rak-rak bukunya (Dominguez, 2016: 19).

Selain itu, Dominguez juga dengan tegas menyindir idealisme para penulis buku. Ia menyindir penulis yang lebih mementingkan ketenaran daripada menghasilkan karya yang bagus, sebagaimana kutipan dibawah ini:

Aspirasi sastra mereka tak ubahnya kampanye politik atau tepatnya taktik militer yang dikerahkan untuk merobohkan tembok-tembok ketidakterkenalan, penghalang tak tertembus yang cuma bisa diatasi oleh segelintir orang untuk mencapai status terpandang. Ada bintang-bintang menyilaukan di peta sastra, orang-orang yang kaya raya dalam semalam berkat buku-buku payah, yang dipromosikan habis-habisan oleh penerbitnya, di suplemen-suplemen koran, melalui pemasaran, anugerah-anugerah sastra, film-film acakaduk, dan kaca pajang toko-toko buku yang perlu dibayar demi ruang untuk tampil menonjol.” (Dominguez, 2016: 15)

Dari kutipan di atas, pembaca seolah-olah diminta untuk mempertimbangkan antara memilih penerbit-penerbit kecil yang memperlakukan naskah dengan sungguh-sungguh, atau bersinar terang selama sebulan dengan penerbit besar lalu kemudian lenyap bak bintang jatuh dari deretan buku baru.

Bagi Dominguez, dunia penerbitan kian merosot kualitasnya dan lebih memilih menghamba pada tuan besar kapitalisme. Dunia penerbitan telah menjadi sumber perang strategis yang halusinatif, sehingga bakat penulis menjadi soal ketenaran dan kekuasaan belaka. Pernyataan Dominguez telah meruntuhkan kepercayaan pembaca dan sekaligus publik terhadap penerbit besar yang diharapkan tetap setia menyangga pilar kualitas buku, namun tak sesuai dengan harapan. Sentilan dalam novela ini membuat senyum sekaligus meringis melihat kenyataan dibalik kenyaantaan yang digambarkan dengan cermat oleh Dominguez.

Tak dapat dipungkiri bahwa pada dasarnya sistem kapitalisme telah menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan, seiring dengan munculnya globalisasi. Jadi, kita tinggal memilih cakrawala dalam memandang fenomena globalisasi dan kapitalisme. Mau menuruti sistem tersebut atau menjadi bagian dari orang-orang yang sadar akan kedudukannya sebagai manusia yang intelek dan bermoral.

Penulis: Sunarti Mr, Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Makassar (UNM).

Facebook Comments
No more articles