To Balo, demikian nama salah satu suku yang ada di kabupaten Barru. Mereka lahir dengan karakteristik kulit belang di tubuh. Demikian, mengapa mereka disebut sebagai To Balo, sebab To Balo dalam bahasa Bugis bermakna orang belang.

Pagelaran teater dengan naskah To Balo karya Faisal Yunus merupakan salah satu agenda dalam menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kab. Barru yang ke-59. Ia dilakonkan oleh anak-anak muda Barru.

To Balo bercerita tentang asal mula munculnya suku To Balo di Bulo-Bulo, Kecamatan Pujananting, Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Dengan mengusung genre komedi, teater To Balo mengangkat sisi lain dari semula To Balo.

Jika selama ini kita mengenal dua versi asal mula To Balo, maka naskah To Balo muncul dengan versi yang berbeda. Kedua versi yang selama ini berkembang di masyarakat, pertama tentang sekelompok pemuda yang pulang dari berperang kemudian lupa menunaikan nazarnya, yaitu memotong beberapa ekor ayam sebelum menaiki rumah panggungnya.

Kedua, dikisahkan bahwa seorang perempuan yang tengah hamil konon menertawai kuda belang yang sedang bercinta. Hal yang kemudian membuat keturunannya menjadi belang. Dari berbagai versi yang ada, tentu ahli sejarah, antropologi dan pelaku sejarah itu sendiri yang berhak menentukan sejarah mana yang paling sahi.

Sementara itu, naskah teater To Balo yang digarap oleh Sanggar Seni Colliq Pujie menarasikan bahwa asal mula To Balo merupakan doa dari seorang putri raja. Saat kuda kesayangan raja lepas dari kandang, raja resah dan bermuram durja. Ia kemudian mencari ahli nujum untuk memberikan solusi atas masalah yang ada.

Ahli nujum yang dihadirkan kerajaan berpendapat bahwa hal yang dilakukan oleh kerajaan yaitu dengan melakukan sayembara. Barang siapa yang mampu menangkap kuda itu, maka akan mendapatkan harta kerajaan serta berhak menikah dengan putri raja yang bernama Puang Cenning.

Seorang pemuda bernama Lapawae berhasil menaklukan kuda tersebut. Ia pun berhak mendapatkan harta kerajaan Bulo-Bulo dan mempersunting Puang Cenning. Tetapi apa daya, Puang Cenning tak kunjung memiliki momongan. Akhirnya, ia berdoa kepada dewata. Ia ingin seorang anak meskipun anak itu memiliki kulit belang seperti seekor kuda kesayangan raja yang tepat ada dihadapannya.

Doa itu terkabul, dan putri raja melahirkan seorang anak berkulit belang dengan diberkahi kekuatan yang melampaui manusia biasa. 

Teater ini dibalut humor dan komedi. Sepanjang waktu penonton terbahak-bahak menyaksikan aksi para pelakon. Narasi dan dialognya dipenuhi oleh hal-hal yang kontekstual dan kekinian. Hal-hal yang dekat dengan masyarakat, dipungut dengan baik oleh penulis dan digarap dengan apik oleh sutradara. Penonton begitu paham ketika disebutkan tentang cayya-cayya, 80 juta, dan bahkan tentang KPK.

Tak ada tendensi apapun di dalam naskah ini. Tak ada upaya untuk menyatakan bahwa narasi yang dibangun dalam cerita merupakan narasi yang paling benar. Teater To Balo hanya ingin membumikan To Balo itu sendiri.

Saya sebagai seorang awan tentang teater justru melihat bahwa naskah To Balo mengungkapkan sisi lain dari To Balo. Sebagai suku minoritas (secara jumlah) To balo tidak lahir dari keterasingan. Ia merupakan rangkaian dari sejarah panjang salah satu kerajaan besar yang ada di Barru yakni kerajaan Bulo-Bulo.

Jika selama ini, persepsi kita tentang To Balo, bahwa mereka adalah suku asing, minoritas, tidak terintegrasi dengan masyarakat secara pergaulan dan kebudayaan, hal itu yang hendak dipatahkan oleh naskah ini. Ia muncul dengan sebuah persepsi yang menarik bahwa asal mula suku To Balo yaitu berasal dari keluarga inti kerajaan, mereka bukan orang asing yang terasing. To Balo lahir dari manusia normal. Mereka sama dengan kita. Satu-satunya yang membedakan hanya persoalan warna kulit dan mitos.

Apa yang ada di dalam naskah juga sudah diintegrasikan oleh pemerintah saat ini. Kepala Desa Bulo-Bulo, Rahman, S.Pd. saat ini menghubungkan seluruh masyarakat Bulo-Bulo menjadi satu kesatuan. Ia menghimpun To Balo, To Garibo, dan To Bentong menjadi satu komunitas masyarakat utuh yang mereka sebut sebagai masyarakat Bulo-Bulo. Meraka adalah manusia-manusia Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Facebook Comments
No more articles