Pak, kepahitan itu bermula saat kakek Ibrahim menghembuskan napas terakhir dan pergi melanjutkan perjalanannya. Nagari Pandam Gadang bersedih atas kepergiannya. Ibrahim yang saat itu sedang menjalani praktik mengajarnya di Belanda mendengar kabar kepergian kakeknya.

Kabar kepergian itu dibawa langsung oleh salah seorang petugas pos. Tak ada lagi yang terpikirkan oleh Ibrahim selain terseduh-seduh dan selekasnya ingin tiba di kampungnya, seakan tak percaya kabar kepergian yang dibawa oleh petugas pos itu.

Pertalian darah memang kuat ketimbang ancaman sanksi dari pihak sekolah. Harapan dan kenyataan memang biasa tak berjalan dengan semestinya. Setibanya di tanah Nagari Pandam Gadang, ia sudah tak menemukan kakeknya, beliau dikebumikan tepat setelah Asar sedangkan ia tiba setelah Magrib. Benar-benar kesakitan yang luar biasa. Tak ada yang mencintai kita setulus kematian, tepat seperti potongan sajak yang ditulis Aslan Abidin.

Malam itu terasa ganjil, mungkin pertanda akan terjadi sesuatu. Yah, memang begitu adanya. Selepas kepergian kakeknya, pada malam ketujuh, para datuk pucuk sepakat mengangkat Ibrahim sebagai cucu tertua untuk mengisi jabatan datuk pamuncak, Datuk yang memimpin sembilan datuk pucuk di Nagari tersebut. Jabatan itu sepadan dengan To Manurung selaku raja pertama di kerajaan Gowa yang memimpin kesembilan kerajaan kecil dengan sebutan Bate Salapang.

Saat itu, Ibrahim hendak melayangkan protes terhadap kesepakatan para datuk pucuk, ia merasa tak bisa mengampuh jabatan yang begitu besar. Seorang pemimpin suku yang harus mempertahankan nagarinya dalam menghadapi hiruk-pikuk zaman kolonialisme dengan umur yang belum genap 17 tahun. Tapi, protes itu tak digubris dan selepas 40 hari kepergian kakeknya, ia resmi dilantik sebagai datuk pamuncak. Gelar Datuk Tan Malaka kini resmi disandang oleh Ibrahim.

Gelar nama itu tak asing lagi bagi kita. Mengapa nama Tan Malaka begitu melekat ketimbang Ibrahim? Itu berawal ketika Horensma telah membaca tulisan Ibrahim terkait kerja rodi yang ditugasi oleh gurunya. Horensma merupakan kepala sekolah Ibrahim saat di Kweekschool Bukittinggi, sekolah menengah untuk pendidikan guru.

Horensma berpikir tulisan ini harus segera diterbitkan sampai ke negeri seberang. Tak perlu menempuh waktu panjang, akhirnya Horensma mengirim tulisan tersebut dengan dibubuhi nama Tan Malaka, nama inilah yang kelak terus dipakai Ibrahim sebagai nama pena dan panggilan. Nah, pembaca yang budiman, mulai saat itu ia dipanggil Tan Malaka.

Mendengar kabar pelantikan Tan Malaka, Horensma selekasnya mengirimkan surat. Surat yang berisi rasa terkejut Horensma karena Tan Malaka meninggalkan praktik mengajarnya di Rijkweekschool. Rijkweekschool merupakan sekolah tinggi untuk calon guru, setara dengan ijazah S1.

Namun, setelah Horensma mengetahui ihwal yang menimpa Tan Malaka, ia memberikan kebijakan lega, ia mengatakan apabila Tan Malaka hendak melanjutkan sekolahnya di Kota Haarlem maka ia akan membantunya kembali. Ia mengatakan sangat disayangkan orang secerdas Tan Malaka berhenti begitu saja. Ia menyarankan untuk menuntaskan pendidikan itu agar lebih berfaedah setelah pulang ke Hindia.

Surat itu satu-satunya keriangan Tan Malaka yang diterimanya selepas berkabung selama berbulan-bulan. Tekad Tan Malaka semakin besar untuk kembali belajar di Kota Haarlem. Begitu berat keputusan yang akan diambil oleh Tan Malaka, ia mesti meninggalkan nagarinya selama bertahun-tahun dan berpikir siapakah yang akan menjalankan tugas-tugas datuk pamuncak selepas kepergiannya nanti. Tapi, ia tetap ingin mengatakan kepada para datuk pucuk.

Tiba saatnya, selepas Isya, rapat adat dilakukan. Ia diserang bertubi-tubi oleh para datuk pucuk dan menolak keinginan Tan Malaka. Malam itu, suasana sangat tegang, rapat adat cukup alot. Tan Malaka tak menyerah, ia terus bersitegang dengan para datuk pucuk. Apa boleh buat, karena tekad ingin belajar dan menjadi seorang guru begitu besar, ia tetap memutuskan akan pergi ke Negeri Kincir Angin.

Pertemuan itu mencapai puncak masalah, para datuk pucuk geram mendengar ketegasan Tan Malaka. Suasana seketika hening, tubuhnya sudah tak berdaya dan pasrah menerima segala sanksi yang begitu berat. Tidak main-main, bukan hanya gelar datuk pamuncak yang dicabut, tapi ia juga dibuang sepanjang adat dan memikul dosa berat. Ia tak bisa lagi kembali ke tanah nagarinya dan berpisah selamanya dengan keluarga.

Keesokan harinya, kepergiannya dilepas dengan perpisahan yang tragis. Adiknya tak mau muncul melepas kepergiannya, Ayahnya menggeram, bahkan orang-orang kampung menatap jijik dirinya. Hanya ibunya yang mendekap erat dan mengeluarkan air mata deras melepas kepergiannya.

Setibanya di Kota Haarlem, Belanda. Tak menjamin masalah yang dihadapinya selesai. Konflik demi konflik makin menerpa dirinya. Mulai dari persoalan asmara yang tak kesampaian, persahabatan yang retak, dan persoalan perut. Ia mesti rela menangguhkan makannya berhari-hari guna tak mengeluarkan banyak uang yang juga tak bekecukupan. Hanya untuk menuntaskan impiannya. Impian yang kelak tak berwujud pada kenyataan.   

Nur Kalim sosok guru SMP PGRI Wringinanom, Gresik. Ia guru honorer mata pelajaran IPS. Belakangan ini, berita dan media digital mengabarkan masalah yang ditimpanya. Ia dipersekusi oleh salah seorang siswanya berinisal AA ketika proses belajar mengajar di kelas sedang berlangsung. Tapi, Nur Kalim mesti tahu, tak ada yang lebih pahit ketimbang Ibrahim.

Pak, begitu pahitnya perjalanan hidup Tan Malaka, keinginannya untuk menjadi seorang guru harus ditempuh dengan jalan seperti itu. Ia harus berjuang seorang diri di tanah perantauan tanpa dukungan keluarga.

Jangan bersedih Pak kalau hanya diolok-olok, didorong-dorong, dan dicekik oleh siswa lantaran karena menegurnya ketika bolos saat pelajaran berlangsung dan ketika mendapati siswa merokok di dalam kelas. Jangan bersedih pak kalau upah yang didapat guru honorer hanya Rp. 450.000 setiap bulannya dan biasanya diterima saat per tiga bulan.

Pak, saya berempati dengan kehidupan yang sedang Anda jalani, tak mudah menjalani kehidupan  dengan status sebagai guru honorer dan masih diperlakukan seperti itu oleh siswa dan orang tua siswa. Bahkan pemerintah seolah abai dengan kondisi yang dialami guru honorer saat ini.

Apa yang Anda lakukan merupakan sebuah pengabdian besar terhadap Negara untuk mendidik dan mencerdaskan anak-anak Indonesia. Saya rasa, mereka yang mau mengabdi sebagai guru honorer adalah orang-orang pilihan Tuhan yang kelak akan mengisi surga-Nya.

Mereka yang memilih hidupnya sebagai guru honorer adalah para malaikat-malaikat kecil. Tak usah berkecil hati, setelah Pak Nur Kalim yang mendapat rejeki nomplok besar berkat buah dari hasil kesabarannya, saya yakin rejeki itu juga akan datang pada kalian. Ini hanya persoalan waktu.

Sesekali kalian menengok kehidupan Tan Malaka di masa lampau. Temui Tan Malaka lewat mimpi dan gagasan-gagasannya. Ia rindu dengan kalian. Ia Cuma ingin mengatakan biarlah gajimu hanya ratusan ribu rupiah, tetapi dari tanganmu kelak akan lahir sosok-sosok yang bakal mengubah wajah Indonesia.

Facebook Comments
No more articles