“Mengapa keputusan yang tampak kecil menjadi keputusan besar dalam hidupmu?”

Pertanyaan itu dilontarkan Nick kepada seorang perempuan bernama Brooke di dalam film ditayangkan lima tahun silam (2014): Before We Go.

Film itu berkisah tentang Nick dan Brooke yang tanpa sengaja bertemu di stasiun kereta api Grand Central,  New York. Brooke seorang perempuan yang ketinggalan kereta. Tiket yang ada di tangannya jadi satu-satunya tiket yang mampu ia beli karena kecopetan. Sementara Nick adalah seorang lelaki yang sedang berduka, datang ke New York demi seorang yang ternyata sudah bersama orang lain.

Nick mencoba membantu dan Brooke tak punya pilihan lain selain menerima itu semua. Tetapi, kebersamaan mereka yang begitu singkat ternyata menjadi bagian terpenting dalam kehidupan mereka.

Tak ada waktu yang lebih baik daripada pertemuan mereka. Brooke bahkan berkata “Bagaimana mungkin aku merasa hari ini sebagai hari paling buruk sekaligus hari yang paling bahagia”. Demikian kalimat sederhana untuk menggambarkan pertemuan mereka.

Ada banyak kisah di balik waktu yang singkat itu. Nick harus berhadapan dengan pencopet yang mengambil tas Brooke. Mereka tersesat di sebuah pesta dan mendadak menjadi seorang musisi. Mereka mempreteli lukisan di hotel demi mendapatkan catatan pengunjung. Mereka bertemu dengan peramal yang meramalkan bahwa mereka punya masa depan ketika bersama. Sederhananya, saya ingin mengatakan bahwa mereka bahagia.

Tetapi ada satu monumen penting di dalam kisah mereka. Bahwa mereka bahagia, tetapi di waktu yang sama mereka menyadari bahwa ada hal yang lebih penting dari sebatas kebahagiaan itu. Hal itu adalah keluar dari zona bahagia itu dan mengejar apa yang ada di dalam hatimu.

Lihat bagaimana Brooke meyakinkan Nick untuk bertemu dengan mantan kekasihnya. Brooke percaya bahwa selalu ada harapan atas perasaan di dalam dada.

“Kau tidak datang jauh-jauh ke New York sebagai tanda tidak melakukan apa-apa?” ujar Brooke.

“Yah kukira dia akan sendiri. Bukan dalam hal menyedihkan, tetapi dalam hal romantis”, ujar Nick yang sudah mengetahui bahwa mantan kekasihnya Hannah telah memiliki seorang kekasih.

“Wanita seperti itu takkan pernah sendiri. Jadi, kau tidak bisa pakai itu sebagai alasan,” ujar Brooke.

Usai terdiam, Brooke melanjutkan ucapannya.

“Dan ada sesuatu di antara kalian. Kau melihatnya, dan aku melihatnya”, ujar Brooke usai menyaksikan kecanggungan pertemuan antara Nick dan Hannah di sebuah pesta.

“Itu tak berarti apa-apa”, timpal Nick.

“Itu artinya kau punya kesempatan”, kata Brooke.

“Untuk apa? Untuk dikecewakan?” ujar Nick Kesal.

“Bukankah kau merasa dikecewakan sejak saat itu…. dan kau tidak tahu peluangnya. Bisa jadi satu banding satu triliun atau juga satu banding dua. Lagipulah ini tentang penyesalan dan peluangnya selalu 100%”, kata Brooke yang kemudian meluluhkan hati Nick untuk bertemu dengan Hannah.

Meski pertemuan Nick dan Hannah berakhir buruk, tetapi setidaknya mereka berani untuk saling mendukung satu sama lain mengejar orang yang ia sayangi. Padahal, mereka saat itu sedang kondisi bahagia untuk bersama.

Brooke sendiri sedang mengalami masalah rumah tangga dan mencoba untuk lari dari masalah tersebut. Ia bahkan sudah menyimpan surat tanda perpisahan di rumah. Surat itu ditujukan untuk suaminya. Hanya saja, masih ada keraguan di dalam dirinya. Ia ingin mengambil surat itu sebelum suaminya pulang dari luar negeri. Tetapi apa daya, ia ketinggalan kereta dan justru bertemu dengan seseorang yang mampu mengubah hidupnya.

Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa mereka bahagia. Masalah yang mereka hadapi satu persatu berubah menjadi sebuah kebahagaian yang mungkin tak pernah ia dapatkan melalui pasangan masing-masing. Tetapi mereka memilih untuk berpisah.

Lalu apa sebenarnya yang ingin disampaikan di dalam film ini? Saya menemukan satu pesan singkat bahwa bahagia itu tidak cukup untuk sebuah hidup. Bahagia bukanlah satu-satunya alasan untuk bersama. Ada banyak hal-hal yang menjadi bagian dari hidup yang pantas untuk dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.

Bahagia itu tidak cukup, tetapi komitmen adalah bagian terpenting dalam sebuah hubungan. Terkadang orang terjebak dalam sebuah kebahagiaan yang membuatnya berpikir untuk mengkhianati komitmen yang sedang penuh dengan masalah, tetapi itu adalah sesuatu yang salah.

Di dalam hubungan, sebenarnya tidak ada yang namanya terjebak. Setiap orang selalu punya pilihan. Hanya saja kita terkadang takut untuk menghadapi pilihan itu.  Kupikir, itu inti dari persoalan yang sering dihadapi dalam sebuah komitmen.

Film Before We Go hadir untuk menyampaikan kepada seluruh umat manusia bahwa komitmen itu penting. Kebahagiaan bukan alasan untuk mengkhianati sebuah komitmen. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah berbuat, berusaha memperbaiki keadaan, bukan justru menghindarinya.

Tetapi hidup bukanlah sesuatu yang sederhana, terutama dalam persoalan cinta. Ia selalu menjadi sesuatu yang misterius. Seperti kata peramal dalam film ini bahwa satu hal yang saya pelajari dari pasangan saya bahwa “kau tidak perbolehkan orang yang kau cintai untuk menentukan bagaimana kau mencintainya”.

Ya, setiap orang punya cara untuk mencintai. Entah itu dengan cara memiliki atau merelakannya bersama orang lain, tetapi satu hal yang pasti bahwa kita selalu diperhadapkan pada sebuah pilihan dan kita harus berani untuk memilih.

Kalian tahu apa jawaban Brooke atas pertanyaan yang saya letakkan di awal tulisan? Ia menjawab “Saya tidak tahu. Tetapi, terkadang kau harus buat pilihan dan melakukannya”.

Facebook Comments
No more articles