Tahun politik tidak hanya menghasilkan kegaduhan diantara simpatisan dan kontestan, tetapi masyarakat secara keseluruhan kemudian harus menelan berbagai macam wacana yang kadang terlalu asing untuk dimaknai. Jika menilik kepada Pilpres 2019 ini, yang paling hangat adalah adanya dugaan penggunaan metode kampanye tertentu oleh Capres-Cawapres untuk memenangkan Pilpres. Metode tersebut sering disebutkan sebagai Firehose of Falsehood.

Elit politik kemudian berdebat persoalan metode tersebut. Ada yang membantah, tetapi ada juga yang yakin seyakin-yakinnya bahwa metode itu benar-benar digunakan oleh salah satu pasangan calon. Maka dari itu, dalam tulisan ini saya mencoba secara sederhana meletakkan dasar sekaligus pengantar untuk memahami perdebatan politisi di tivi yang terlalu sering mengungkap persoalan Firehose of Falsehood.

Hal pertama yang mesti kita ketahui bahwa pada tahun 2016, Oxford menjadikan kata Post-Truth sebagai word of the year. Konon, kata post-truth ini, penggunaanya dari tahun 2015 ke tahun 2016 meningkat sebanyak 2000 persen.

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia secara literal, post-truth artinya “pasca kebenaran”. Sementara itu, Oxford sendiri mendefinisikan post-truth sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal.

Definisi tersebut tentu bukan tanpa alasan, tetapi definisi tersebut dilatarbelakangi oleh dua peristiwa besar yaitu wacana keluarnya Inggris Raya dari Uni Eropa (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS.

Konon, dalam kasus Brexit, ahli-ahli di berbagai dunia, berdasarkan berbagai macam analisis dan data menyebutkan bahwa bukan langkah yang tepat bagi Inggris Raya untuk keluar dari Uni Eropa, akan tetapi, sentimen yang dikeluarkan para politisi kemudian berhasil membentuk opini publik untuk mengabaikan fakta-fakta tersebut.

Artinya apa, bahwa data dan fakta yang ada tidak lagi berpengaruh, tetapi sentimen perasaan menjadi penunjang utama pembetukan opini dan mempengaruhi pengambilan keputusan.

Demikian halnya dengan terpilihnya Trump, sentimen emosi dan kebohongan Trump berhasil mempengaruhi publik untuk memilih Trump sebagai presiden AS. Komunikasi tersebut tentu saja digerakkan oleh hoax, fake news dan ujaran kebencian. Konon, setiap hari Trump mengeluarkan statement yang dianggap sebagai kebohongan. Baik peristiwa Brexit maupun kemenangan Trump di Pilpres AS, dicurigai sebagai bagian dari pendekatan Firehose of Falsehood.

Istilah Firehose of Falsehood ini pertama kali dipopulerkan oleh RAND Corpooration di dalam artikel yang berjudul The Russian “Firehose of Falsehood”  Propaganda Model, ditulis oleh Christopher Paul dan Miriam Matthews.” Di Indonesia sendiri, istilah tersebut coba diterjemahkan oleh beberapa politisi sebagai propaganda “semburan dusta”.

Lantas bagaiman cara kerja metode ini? Secara sederhana, sebagaimana definisi post-truth menurut Oxford bahwa post-truth adalah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Maka, cara meyakinkan publik adalah dengan menggunakan narasi-narasi yang bisa menyentuh perasaan seseorang seperti membentuk ketakutan dan kecemasan.

Melalui persebaran informasi dalam bentuk hoax, news false, hate speecs, opini publik dibentuk dengan mengeksploitasi ketakutan publik. Hal ini tentu dijalankan dengan cermat, sebab ketakutan-ketakutan tersebut tentunya telah dianalisis secara mendalam sebelum mencekoki mereka dengan isu-isu tertentu.  

Misalnya, persoalan keyakinan (agama), dibentuklah opini bahwa salah satu calon pemimpin ini kafir, anti terhadap agama tertentu, bagian dari komunis. Hal itu terus diulang-ulang sehingga publik merasakan takut. Karena terus diulang, isu tersebut kemudian bisa menjadi isu yang dibenarkan publik tanpa mempedulikan fakta di balik isu tersebut.

Persoalan lain  misalnya pada aspek nasionalisme. Sebagai warga Negara, tentu nasionalisme menjadi tameng yang harus dimiliki masyarakat untuk bisa berjuang bersama. Maka, diisukanlah lawan politik sebagai antek asing, atau pro asing, pro pekerja asing dsb. Isu tersebut untuk meningkatkan ketakukan akan ancaman kita terhadap orang asing.

Dari dua contoh isu di atas, tentu sangat rentang menyerang dan mempengaruhi orang-orang tertentu. Mereka yang meyakini bahwa menjadi pemimpin itu harus berasal dari golongan mereka dan golongan lain adalah kafir, maka dengan mudah terpengaruh isu tersebut.

Demikian halnya dengan isu yang kedua, jika kalian adalah seorang yang mencari kerja, susah mendapatkan kerja, atau mengalami kesulitan ekonomi karena persoalan lapangan kerja, maka isu tersebut akan sangat mudah untuk dipercayai.

Bukan tanpa sebab, tetapi isu tersebut menyerang sisi terlemah dalam diri kita yaitu perasaan. Mereka tidak membuat kita percaya dengan menyajikan fakta dan data, tetapi mereka membuat kita percaya dengan menyentuh perasaan kita, sebab persoalan tersebut merupakan persoalan yang kita rasakan sehari-hari.

Dan apa yang menjadi klimaks dari gaya kampanye dengan isu-isu tersebut? Akan muncul satu calon yang akan menjadi superhero, paslon yang menjadi satu-satunya solusi dari masalah. Jadi, ada kebohongan yang terus diulang, kemudian kebohongan tersebut menyentuh perasaan publik. Dan tahap terakhir adalah muncul calon yang satu-satunya dianggap menjadi solusi dari persoalan yang ada.

Banyak dari kita yang mungkin tidak sepakat dengan penyederhaan yang saya lakukan dan berpikir bahwa tidak sesederhana itu mempercayai sesuatu, termasuk soal isu-isu di atas. Akan tetapi, saya ingin mengatakan bahwa “jika itu menyangkut perasaan, manusia akan menemukan titik terlabilnya”.

Analoginya seperti ini, Anda adalah seseorang yang menjomlo, Anda resah karena tidak memiliki kekasih, Anda kesepian, dan yang paling genting hidup anda terasa kosong.

Tiba-tiba, datang seseorang yang menyatakan cinta, mengaku akan setia dan selalu ada bersamamu untuk mengisi hari-harimu. Saya yakin Anda akan menerimanya menjadi kekasih. Rekam jejak, masa lalu, dan keseriusan kata-kata dari mulutnya tak penting lagi, yang jelas perasaanmu tertutupi oleh kasih sayang yang mungkin saja itu palsu. Ketakutan menjadi sasaran utamanya.

Ada banyak orang yang diselingkuhi berkali-kali dan lucunya ia dengan mudah memafkannya begitu saja, sebab ia percaya bahwa perasaanya adalah hal terbaik yang harus ia dengar. Ia cinta buta.

Mungkin kekasihnya sudah selingkuh dan menyakitinya berulang kali, tetapi saat ia meminta untuk kembali, ia akan menurutinya. Mengapa, sebab perasaanya mengatakan itu. Tak peduli fakta-fakta yang tersusun menggunung bahwa ia pernah dan berpotensi besar akan mengkhiantimu kembali.

Pendukung pilpres yang dengan mudahnya percaya terhadap isu-isu yang disebarkan melalui hoax, fake news, dan hate speecs tak ubahnya seperti seseorang yang cinta buta terhadap kekasihnya sehingga apapun yang dikatakan kekasihnya, akan ia percayai, meskipun itu bohong. Dan cinta buta mengintai kita-kita kaum-kaum yang lemah.

Facebook Comments
No more articles