Di sebuah kampung yang jaraknya satu jam dari kota Makkassar jika mengendarai kendaraan roda dua, hidup seorang bernama Sahar bersama keluarganya di sebuah bantaran sungai. Selain bekerja sebagai tukang ojek, Sahar menyandarkan hidup dari usaha berjualan bambu yang telah telah digelutinya selama belasan tahun. Ia menjual bambu dengan berbagai jenis dan ukuran. Dari yang kecil untuk umbul-umbul hingga yang sebesar paha untuk penyangga cor bangunan.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari Sahar selain tingkahnya baru-baru ini menjadi bahan omongan khalayak ramai. Sahar yang harusnya menyambut musim pemilu layaknya angin segar karena bisa berjualan bambu lebih banyak dari biasanya malah bertingkah aneh. Sahar menolak menjual puluhan batang bambunya kepada seorang untuk dijadikan sebagai peraga kampanye dan baligho. Alasannya sepele, si calon pembeli adalah tim sukses pak Jokowi-Ma’ruf, sedangkan ia adalah supporter sejati pak Prabowo. Sahar punya prinsip, ia tidak peduli bambu-bambu itu lapuk diguyur hujan atau habis dimakan rayap selama tidak menghianati sang idola.

Sahar hanya segelintir dari sekian banyak pendukung yang larut dan mabuk karena politik. Orang-orang yang rela, periuk di dapurnya dingin demi sang pemimpin idaman. Di tempat lain misalnya, ada seorang ibu-ibu Majelis Ta’lim yang tiba-tiba memilih keluar dari kelompoknya karena merasa dikucilkan oleh anggota yang lain. Hingga pada kejadian yang mengenaskan terjadi di Sampang Madura beberapa waktu lalu, ketika salah seorang pendukung pasangan calon (Paslon) harus meregang nyawa karena ditembak oleh pendukung paslon lain yang kebetulan berpapasan di jalan.

Ulah-ulah aneh dari para simpatisan yang saling barsambung dari hari ke hari itu menjadi bukti bahwa masyarakat kita menganggap pilpres sebagai suatu yang sangat serius. Sampai-sampai, ketimbang menggunakan akal sehat dan kepala dingin, mereka lebih mendahulukan emosi ketika dihadapkan dengan perbedaan selera politik.

Narasi atau wacana yang diproduksi para elit yang kemudian mereka telan mentah-mentah lewat berbagai kanal, menjadikan pemilu di benak mereka sebagai ajang kompetisi politk  yang melibatkan persoalan hidup dan mati.

Yang sering terjadi berikutnya adalah masyarakat awam salah kaprah memandang politk. Di benak mereka politik tidak lebih dari perjuangan tentang keadilan. Jika idola mereka menang, negeri ini akan menjelma menjadi negeri yang adil makmur sentosa, semacam cerita negeri dongeng. Sehingga banyak dari mereka yang mengidap fanatisme aneh, menyembah calon presiden (Capres) pilihan mereka layaknya pejuang revolusi, dengan harapan harkat dan martabat mereka akan terangkat seiring duduknya sang idola di puncak kekuasaan.

Padahal bisa saja di tengah harapan mereka yang membumbung tinggi akan sebuah perubahan sehingga rela mengorbankan apa saja yang mereka sembah itu, atau berita para elit yang gemar mereka konsumsi dan bagikan potongan videonya sebagai pijakan atau dasar pilihan mereka dan untuk memengaruhi pilihan orang lain adalah politisi-politisi yang murni melihat politik sebagai profesi. Murni sebagai alat atau jalan untuk menggembungkan saku masing-masing.

Masyarakat harus paham bahwa yang namanya politisi, meskipun tidak semuanya adalah orang-orang yang memiliki prinsip hidup yang dinamis, lentur bisa berubah kapan saja sesuai dengan kebutuhan. Di depan layar kaca bisa saja mereka saling berdebat dan  memaki untuk agenda yang saling berseberangan, namun di tempat lain saling tertawa dan bercanda layaknya seorang teman. Politik bagi politisi bukanlah sesuatu yang selamanya sangat serius. Hari ini boleh saja mereka saling menghujat tapi esoknya bertemu di cafe atau restoran untuk makan bersama sambil berbagi proyek.

Maka sebaiknya di sisa dua bulan menjelang pemilu ini, kita sebaiknya berhenti bersikap polos dan naif memandamg sebuah kontestasi politik. Jangan lupa, para calon dan para politisi yang fasih bersilat lidah itu masing-masing punya watak aktor yang tingkah laku dan ucapannya tidak semuanya harus dipercaya.

Redaksi

Facebook Comments
No more articles