Bukankah kampung halaman adalah pijakan yang paling teduh meski kerap menyimpan pilu? Seperti itulah keintiman sang jiwa dan tanah rahimnya. Keintiman yang tidak tertandingi lantaran adanya kesaksian tanah rahim terhadap kuat-lemah dan bengis-mulianya sang jiwa. Sehingga walau kaki telah jauh melangkah, sekujur tubuh akan selalu teringat masa lalunya. Itulah mengapa Damhuri Muhammad kerap mengatakan kampung halamannya sebagai fosil-fosil bernyawa, selalu hidup dan rindu meski yang ada hanya derita dan nestapa. Maka dengan tenggelam dalam 14 cerpen di buku ini, pembaca menemukan sandaran kerinduan pada kampung halaman di tengah terpaan kehidupan kota.

Bagaimana tidak, bila banyak penulis bertumpu pada nilai-nilai modernitas, Damhuri bertolak pada nilai-nilai lokalitas termasuk mitos-mitos yang ada pada kampung halaman. Bukankah di kampung halaman cukup lumrah dengan kisah-kisah petakut, seperti dalam kisah Tembiluk yang saban hari harus bergulat dengan anjing berkepala manusia, atau kisah Badar Besi yang mampu memberikan kesaktian terhadap pemegangnya, atau pantang dan larang untuk menapakkan kaki di Kepala Air sebagai sumber mata air yang suci? Tiga cerpen tersebut merepresentasikan mitos yang berkembang di kampung halaman. Namun, Damhuri tidak berhenti pada ‘mengisahkan’ tapi juga menjawab apa yang ada dibalik mitos-mitos tersebut. Misalnya, dibalik kisah Tembiluk dan peliharaannya yang berupa anjing berkepala manusia terdapat perang kekuasaan yang bersembunyi. Sehingga yang terlihat bahwa watak kemaruk yang bersemayam dalam diri masyarakat Lubuktusuk ternyata lebih busuk dibanding bau anjing yang sesungguhnya.

Semua kisah tersebut dianggit oleh Damhuri dengan gaya bercerita ‘piring pecah’. Ia memperlakukan suatu peristiwa layaknya sebuah piring kaca, sebab dengan jenakanya, ia berhasil memecah suatu peristiwa menjadi beberapa bagian. Bagian tersebut mengantarkan pembaca menuju karakter yang berbeda. Konon, gaya bercerita seperti ini dirumuskan oleh Norman Friedman sebagai teknik kolase, dimana teknik tersebut menyajikan lintasan pikiran tokoh yang berbeda dalam bentuk fragmen-fragmen. Misalnya, pada Reuni Dua Sejoli yang pemilihan judulnya begitu ketat dan begitu mewakili isi cerita. Di fragmen pertama pembaca akan memasuki alam pikiran tokoh laki-laki sedangkan fragmen kedua membuka pintu alam pikiran tokoh perempuan. Kedua fragmen tersebut bersatu padu menyajikan jawaban sederhana tentang kisah dua sejoli yang saling mencintai namun tidak saling memiliki.

Selain itu, Damhuri— walaupun bukan yang pertama, bukan pula yang terakhir— mereproduksi teknik tersebut dengan tidak hanya menggunakan pikiran tokoh, namun juga bermain pada ruang dan waktu yang berbeda. Misalnya kisah dramatis Dua Rahasia, Dua Kematian yang begitu menyayat-nyayat perasaan, mengantarkan pembaca pada fragmen pertama yang mengisahkan masa lalu dua keluarga, kemudian pada fragmen-fragmen berikutnya menyajikan masa kini sebagai dampak tragis dari masa lalu kedua keluarga tersebut. Keseluruhnya sampai kepada klimaks cerita yang mampu membuat pembaca menarik napas sedalam-dalamnya.

Begitulah Damhuri dengan tekniknya merangkai cerita dengan pecahan-pecahannya yang tampak seolah bercerai-berai, namun merupakan suatu kesatuan yang utuh. Dengan menghubungkan keseluruhan cerita, pembaca akan menyingkap bahwa pecahan tersebut membentuk sebuah piring, bahwa pecahan tersebut menceritakan sebuah peristiwa. Namun jangan salah, walaupun teknik berceritanya cukup rumit, Damhuri menyajikannya dengan runutan fragmen yang mudah dicerna. Sebab fragmen-fragmen yang ia hadirkan bukan untuk mempersulit pembaca namun untuk menciptakan sebuah ledakan yang menyentak pembaca dan mempertanyakan pesan yang tersirat dalam cerpen-cerpennya.

Jika ditilik lebih jauh, dalam seikat kisah di buku ini terendus sebuah pemberontakan terhadap tradisi kelam yang merugikan anak-anak dan remaja. Misalnya, Luka Kecil di Jari Kelingking dan Lelaki Ragi dan Perempuan Santan telah merobek-robek perasaan lantaran membuat pembaca menjadi saksi terhadap pedihnya tradisi perjodohan, cinta yang bertepuk sebelah tangan dan kerinduan sang ibu.

Sebagai contoh lainnya, Anak-anak Masa Lalu mengisahkan mitos tentang penyembelihan anak-anak yang tidak bersalah dimana batok kepala mereka didapuk untuk dicampurkan bersama adukan semen sebagai bahan utama pembangunan jembatan. Alhasil, jembatan tersebut menjadi kokoh dan pantang roboh sekalipun diterpa gempa yang paling dahsyat. Semua itu dilakukan oleh Alimba demi meraih kemahsyuran sebagai insinyur dan melanggengkan reputasi perusahaan PT. Sinamar Jaya Karya. Di balik semua itu, kisah ini menjadi tamparan kepada orang-orang dewasa, bahwa selama ini keluguan anak-anak dimanfaatkan untuk memenuhi hasrat mereka.

Bukankah di masa Nazi, anak-anak menjadi pemancing? Mereka diajarkan untuk menarik simpati musuh, agar di waktu yang tepat, pelatuk atau peledak diaktifkan untuk memusnahkan musuh-musuh. Jika kita begitu pelupa, mari kita lihat apa yang terjadi di Palestina hari ini. Anak-anak dididik tentang strategi perang demi memenangkan Palestina, ketimbang mendidik mereka secara kritis mengapa negara mereka sedang dirundung peperangan. Padahal itu penting agar mereka dapat menentukan untuk memihak kepada negaranya atau ‘pihak sebelah’ atau bahkan tidak memihak siapa-siapa.

Bila cakupan pandangan kita tidak sampai ke sana, bagaimana dengan rusuk-rusuk jalanan yang kerap kita temui telah didiami anak-anak untuk mengais kepingan mata uang? Ditambah lagi, mereka melakukannya bukan untuk dirinya sendiri. Jika sekali lagi saraf kepekaan kita tidak berlaku untuk mereka, coba tanyakan kepada diri masing-masing, apakah benar selama ini kita ditanamkan naluri ‘pasar’ untuk menjadi tulang punggung negara? Jika masih belum tersentil dengan semua itu, mungkin kitalah orang-orang dewasa yang menghancurkan dunia anak-anak dan menyembelih kebebasan mereka secara dingin.

Bocah-bocah dalam Anak-anak Masa Lalu bukanlah yang pertama, pula bukan yang terakhir. Sehingga bersama tumbuh-kembangnya anak-anak, mitos “jembatan kepala manusia” akan selalu menjadi kisah petakut untuk meredam keliaran mereka. Sedangkan mereka hanya perlu memaklumi segala kesadisan itu dan menjaga diri mereka sendiri walaupun tetap harus memikul hasrat orang-orang dewasa.

Sebelum saling menuduh siapa anak-anak dan orang dewasa di sini, lebih baik sekali-kali tenggelamlah dalam kenangan usang kampung halaman melalui buku ini. Setidaknya dengan ini, antara anak-anak dan orang dewasa bisa saling menampar diri sendiri. Bisa jadi, keduanya akan tersadar atas segala kemuliaan dan kebengisan yang masing-masing mereka miliki.

Penulis: Mizan Asyuni, Pengajar yang gemar belajar.

Facebook Comments
No more articles