Ia seorang kartunis. Namanya Kurt Westergaard. Pada bulan September 2005 publik Denmark menyaksikan karya Westergaard: gambar ‘Nabi Muhammad’ dengan bom sebagai serbannya, yang dimuat bersama sebelas kartun lain [1] di koran lokal Aarhus, kota terbesar kedua di Denmark setelah Kopenhagen, yang bernama Jyllands-Posten[2].

Seperti telah dikertahui bersama, pemuatan kartun seperti itu mengundang gelombang protes dan demonstrasi dengan akibat hyang fatal. Seperti dapat dibaca dari laporan kantor berita Reuters yang ditulis Kim McLauglin, dan dimuat The Jakarta Post tanggal 30 Maret 2008, lebih dari 50 orang tewas dalam huru-hara yang terjadi di kota-kota Asia, Afrika, dan Timur Tengah[3]. Gelombang ini terus berulang, karena gambar itu ternyata juga dimuat kembali berkali-kali pada 2006. Setidaknya 15 korban Denmark, telah melakukan cetak ulang, menurut Westergaard, sebagai bentuk solidaritas atas ancaman terhadap kebebasan berpendapat dan rencana pembunuhan.

Sejak kartun itu disiarkan tahun 2005, sejumah pemuda Muslim Denmark telah dihukum karena merencanakan serangan bom, sebagian sebagai protes atas gambarnya. Sampai Februari 2008, Biro Keamanan dan Intelijen Denmark (PET) telah menahan tiga orang, satu warga Denmark dan dua warga Tunisia, karena dicurigai telah berencana membunuh kartunis itu. Akhir 2008, masih terlansir berita bahwa Osama bin Laden memperingatkan akan ‘menghukum Eropa’ karena kartun tersebut.

Kritik utama terhadap peristiwa ini: kartun tersebut telah melecehkan kepekaan beragama atas nama kebebasan berekspresi[4].

Apa komentar Wastergaard sendiri? “Saya tidak punya masalah dengan umat Islam, saya membuat kartun yang saya tujukan kepada teroris, yang memanfaatkan suatu penafsiran atas Islam sebagai dinamit spiritual mereka,” ujar kartunis yang pada 2008 telah berusia 72, yang seperti dikutip Reuters, mengaku sebagai atheis.

Dalam pendapatnya, kartun itu dapat membantu memberi tempat bagi Islam di dunia Barat, tempat nilai-nilai sekular berdampingan tak nyaman dengan pandangan kemasyarakatan Islam. “Saya akan melakukannya dengan cara yang sama (lagi), karena saya pikir krisis kartun ini dengan suatu cara adalah katalisator yang meningkatkan adaptasi (terhadap) Islam,” katanya dalam wawancara oleh McLughlin pada Rabu 26 Maret 2008, “tanpa kartun yang menjadi provokasi bagi orang Muslim, akan ada yang lain lagi: apakah itu novel, drama, film, betapapun cepat atau lambat situasi ini tetap akan muncul. Kita sedang membicarakan dua kebudayaan, dua agama itu, tak pernah seperti sebelumnya, dan ini adalah penting.”

Kartun itu dan segala ancaman yang muncul karenanya, jelas mengubah kehidupan Westergaard. Saat itu, meski masih bekerja penuh waktu di kantor redaksi Jylland-Posten, sudah lima kali kartunis gaek tersebut pindah tempat tinggal demi keamanannya. Tentu ini merupakan kebijakan polisi yang telah memberitahukan perkara ancaman pembunuhan pada November 2007, dan saat diwawancarai ia mesti berpindah ke tempat tinggal keenam.

Tentang ‘risiko profesi’ semacam ini, komentarnya, “Ini suatu cara hidup yang istimewa, tetapi betapapun saya masih memiliki hidup keseharian saya, melakukan apa yang biasa saya lakukan. Tidak terlalu jeleklah.” Agaknya, seperti judul artikel yang dimuat oleh The Jakarta Post pada Maret 30 Maret 2008 itu (“Danish Prophet cartoonist says has no regrets”), kartunis ini sama sekali tidak menyesal[5].

Pemaparan di atas dengan jelas memperlihatkan terdapat dua wacana[6] terpisah, yang tidak dapat dipertemukanmaupun diperdamaikan akibat publikasi kartun tersebut; yakni wacana yang menyimpulkan ‘penghinaan’ di satu pihak, dan wacana yang menyimpulkan ‘bukan penghinaan’ di pihak lain—yang dalam dunia hari ini tak dapat disebut diakibatkan oleh jarak geografis[7].

Di Indonesia, hampir setahun sebelumnya, berlangsung ‘peristiwa kartun’ dengan akibat yang nyaris sama, karena dimuatnya kartun Nabi Si Suar Sair di harian Sinar Indonesia Baru edisi Minggu 24 Oktober 2004, di Medan. Kali ini, meski kartunis dan koran itu memang menjadi sasaran kemarahan, jelas formasi diskursifnya[8] cukup berbeda.

Seperti diberitakan majalah Tempo Online pada 15 November 2004, dalam kartun itu panil pertama dibuka dengan seorang kiai sedang berdoa, tetapi di saku bajunya terdapat berkas bertuliskan KKN[9], dan di bawahnya tertulis “Alkitab: sembahlah Tuhan dalam roh dan kebenaran”; panil kedua memperlihatkan Si Suar Sair berbuka puasa bersama orang berkopiah, yang berkata, “Tak guna puasa bila sesudahnya berbuat dosa lagi/ puasa cuma 40 hari (sic!-sga), tapi… jujur??? Harus seumur hidup, panil ketiga terbaca ujaran Suar Sair: “Backing togel, makelar perkara, korupsi APBN, ruilsag, dlsb, jangan purak2 puasa ya[10].”

Apabila Tempo Online menyatakan kartu itu sebagai sindiran yang dialamatkan kepada pelanggar hukum, maka dalam pemberitaan Tempo-interaktif disebut sebagai sindiran tentang orang yang tampak rajin beribadah, tetapi perilakunya tetap korup.

Namun tujuan semacam ini, dalam formasi diskursif tertentu[11], memang dengan mudah sengaja maupun tidak sengaja, bisa ditafsirkan putar-balik sebagai ‘menghina Islam’ dan menimbulkan keributan, seperti penyerangan dan perusakan kantor redaksi Sinar Indonesia Baru, selain juga bahwa pihak kepolisian melakukan sejumlah ‘penjemputan’, yang oleh Tempo Online disebut “peristiwa ini menjadi penangkapan jurnalis terbesar sepanjang sejarah penerbitan di Sumatera Utara”. Pun Gubernur disebutkan menghimbau agar permintaan maaf media itu diterima.

Pada bulan Agustus 2006 saya bertemu dengan Selwyn Sitanggang, saat itu 56, kartunis Nasib Si Suar Sair[12], di Pematang Siantar. Setelah berbincang, kesana kemari, tanpa saya perlu bertanya beliau mengakui, bahwa meskipun tujuan kartun itu bersikap krittis terhadap yang memang bersalah, kemudian disadarinya bahwa kartun semacam itu sangat berisiko ketika tampil di bulan puasa. Bagi saya, ini berarti kartunis—yang sempat ditahan selama satu bulan—tersebut mengenal formasi diskursif yang tidak terlalu ramah bagi ‘kebebasan tawa’ setidaknya dalam wilayah edar Sinar Indonesia Baru. Apa yang saya sebut sebagai dua wacana dalam peristiwa kartun di Denmark, dan tetap tidak dapat dipertemukan setelah kegemparan, terleburkan sebagai satu wacana dalam peristiwa kartun di Medan.

Dengan kata lain, tawa ternyata tidak ‘netral’ dan tidak pula ‘murni’—dalam tawa terdapat beban makna, yang maknanya sendiri tidak dapat dibakukan, untuk berlaku sama terhadap segala sudut pandang[13]. Tertawa, dengan begitu, selalu berada dalam risiko tertafsir sebagai menertawakan, yang tak setapak berjarak dengan penghinaan—yang terakhir inilah sumber hiruk pikuk yang terhubungkan dengan kartun. Sudah jelas pula betapa profesi kartunis bukanlah sekadar berurusan dengan tawa, melainkan penuh juga dengan kemungkinan betapa tawa, yang semula ibarat berkah kemanusiaan sebagai penanda kebahagiaan, ternyata menimbulkan bencana.

Dalam hiruk pikuk ini, baik di Denmark (yang lantas mendunia) maupun di Medan (dan tak berlanjut ke mana pun jua), di Indonesia tidak pernah sejenak pun diperbincangkan tentang kartun itu sendiri sebagai kartun berdasarkan suatu pengetahuan tentang kartun. Tidak pernah. Padahal peristiwanya sudah jelas sangat gawat dan berbahaya.

Ditulis Seno Gumira Ajidarma dalam buku Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor hal.3-8. Diterbitkan KPG pada November 2012.

[1] Rupanya ini memang sebuah proyek undangan membuat kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad, di antara sebelas, selain kartun Westergaard, kartun buatan Jens-Julius juga dianggap kontroversial. Baca Paul Lewis “Towards an Ethich of Humor for The Digital Age” dalam Ted Gournelo dan Viveca Greene, A Decade Of Dark Humor: How Comedy, Irony, and Satire Shaped Post-9/11 America (2011), h.218.

[2] Dari sisi redaksional, tanggungjawab soal pemuatan kartun ini rupanya lebih ditimpakan kepada Flemming Rose, redaktur kebudayaan koran tersebut (telah diliburkan secara permanen), yang memuatnya—seperti diakuinya kepada harian The Washington Post—dengan tujuan untuk menggarisbawahi “meluasnya ketakutan dan perasaan (ter) intimidasi dalam berurusan dengan isu-isu yang berhubungan dengan Islam. “Tujuan kami hanyalah mendorong kembali batas-batas yang dibebankan sendiri atas ungkapan yang dengan semakin ketat tampak menutup,” sambungnya, melalui Davud Wallis (peny.), Killed Cartoons: Casualities from The War on Free Expression (2007), h. 83.

[3] Dari sumber lain telah menjadi lebih dari 139 orang (www.cartoonbodycount.com), dengan demo besar terutama di Libanon dan Suriah, sementara orang-orang bersenjata Palestina memburu pekerja-pekerja bantuan Denmark di Gaza, dan para imam di Pakistan memperlakukan kartunisnya seperti Salman Rushdie, melalui Wallis, ibid., h. 84.

[4] Pembelaan Rose lain, “Kami mengintegrasikan Anda ke dalam tradisi satir Denmark karena Anda adalah bagian dari masyarakat kami, bukan orang asing. Kartun-kartun (including) daripada mengeluarkan (excluding) kaum Muslimin, yang sepertinya ditujukan kepada pemeluk Islam Denmark, tampak seperti proyek-proyek jembatan komunitas yang bukan hanya gagal, tetapi berakibat fatal akibat jarak antarwacana. Tengok Lewis dalam Gournelos dan Greene, op.cit., h. 222.

[5] Dalam kenyataannya, suatu self-cencorship, yakni suatu ‘standar sharia’ tenyata bisa juga berlaku di newsroom media Amerika Serikat dan Kanada, apakah itu karena mengkhawatirkan akan membangkitkan amarah para pembaca mereka yang Muslim atau panik sendiri akan terjadinya demonstrasi penuh kekerasan di depan kantor mereka. Tercatat banyak di antaranya menekan political cartoon yang melakukan kritik terhadap kelompok Muslim garis keras. Bahkan para kartunisnya, seperti pemenang Pulitzar Prize, Joel Pett, berkata, “Saya tidak keberatan mengakui bahwa saya sangat tidak ingin melihat ke belakang dalam sisa hidup saya, meskipun cuma seminggu, sebulan, atau istri saya ketakutan tentang itu.” Tengok Wallis, op.cit., h.84.

[6] Wacana sebagai alih bahasa dari discourse, dalam konteks ini saya pahami sebagai himpunan gagasan dan praksis sosial budaya yang membentuk manusia sebagai subjek sosial, sehingga menentukan cara memandang dan berpikirnya tentang dunia. Pemikiran Foucoult, melalui John Storey, Cultural Studies & The Study of Popular Culture: Theories and Methods (1996), h. 16.

[7] Keberhadapan ‘dua wacana’ lain yang lebih spesifik: “Bagi kebanyakan non-Muslim, ironi kunci adalah cara penghinaan atas asosiasi Muhammad dengan teroris-teroris kejam tampaknya mendorong aksi perotes yang keras; bagi kebanyakan Muslim, ironi kunci adalah kemunafikan doktrin kebebasan-bersuara yang membatasi para penyangkal Holocaust sementara memperbolehkan penghujatan anti-Islamik.” Lewis dalam Gournelos dan Greene, op.cit., h. 218.

[8] Wacana, juga disebut diskursus. Tidak pernah terdiri dari satu pernyataan, satu tindakan, atau satu sumber. Wacana, ciri dari cara berpikir atau situasi pengetahuan dalam suatu momen historis tertentu (Foucault menyebutnya episteme), akan muncul melewati suatu jajaran teks, dan sebagai bentuk pengarahan, kepada sejumlah situs kelembagaan yang berbeda dalam masyarakat. Jika sejumlah peristiwa diskursif ini mengacu g obrbjek yang sama, berbagi gaya yang sama, dan mendorong suatu strategi, sebagai suatu arah dan pola administratif atau politis dalam kelembagaan umum, maka disebutkan oleh Foucault bahwa mereka berada pada formasi diskursif yang sama. Melalui Stuart Hall, “The Work of Representation” dalam Stuart Hall (pny.), Representation: Cultural Representations and Signifying Practices (1997), h. 44.

[9] Saya tambahkan, karena salinan kurang lengkap, berdasarkan dokumen kartun tersebut, ketika sudah menjadi bagian kode buntut.

[10] Dalam Tempointeraktif.com edisi 9 November 2004 disebutkan terdapatnya tiga panil, tetapi tidak menyebut isi yang ketiga.

[11] Setidaknya terdapat dua informasi diskursif: pertama, disebutkan bahwa Sinar Indonesia Baru (SIB), dalam bahasa Tempo Online 15 Desember 2004, “Ada yang bilang polisi marah pada SIB, lantaran suka mengusik perjudian di kota Medan. Apalagi, sebulan sebelumnya, setelah memberitakan judi, kantor SIB digerubuk orang tak dikenal, berl, anjut dengan aksi pengrusakan. Namun polisi tidak bertindak.” Dalam konteks ini berita Kajian Informasi, Penerbitan dan Penerbitan Sumatra (KIPPAS), 16 Agustus 2008, menyebut jumlah penyerbu yang 15 orang itu sebagai ‘preman’. Kedua, kemunduran besar dalam toleransi antar—sebagian kecil—umat beragama di Indonesia yang sudah lama menjadi isu, jelas merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan, bahkan menjadi makanan empuk bagi yang jeli (dan jahat) untuk memanfaatkannya.

[12] Arti suar sair sendiri menurut Selwyn, yang bekerja di SIB antara 1977-2004, adalah ‘sesuatu yang amburadul’. Wawancara pada 27 Agustus 2006.

[13] Makna adalah produksi sosial, dan karenanya menjadi situs potensial bagi konflik dalam proses dominasi makna. Tengok Storey, op.cit., h.4.

Facebook Comments
No more articles