Pada tahun 1961, Hannah Arendt mendapatkan kesempatan untuk meliput sebuah sidang kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Adolf Eichmann. Sidang tersebut belangsung dari 11 April – 14 Agustus 1961 tepatnya di kota Yerusalem, Israel. Eichmann merupakan tentara Nazi yang mengatur trasportasi jutaan orang Yahudi dari negara-negara Eropa menuju kamp-kamp konsentrasi milik Nazi saat Perang Dunia ke-2 (1939-1945). Di kamp-kamp tersebut, jutaan orang Yahudi kehilangan nyawa.

Pengadilan ini dimaksudkan untuk mencari keadilan terhadap kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan Eichmann terhadap jutaan orang Yahudi. Namun, laporan yang kemudian dihasilkan oleh Arendt kemudian menimbulkan polemik. Arendt menyebutkan tak ada wajah yang mengerikan atau menakutkan dari apa yang telah ia saksikan di persidangan. Eichmann tidak terlihat kejam meski telah berperan dalam pemusnahan jutaan manusia. Dari sidang tersebut, Arendt kemudian menuliskan laporan yang kontroversial.

Dalam laporan yang berjudul Eichmann in Jerusalem, A Report on the Banality of Evil pemikir perempuan itu merumuskan satu gagasan yang disebutnya sebagai Banility of Evil atau Banalitas Kejahatan. Menurut Arendt, Eichmann bukanlah orang bodoh yang jahat, tetapi Arendt melihat Eichmann sebagai orang biasa yang cerdas dan patuh. Namun apa yang alpa dari diri Eichmann sehingga melakukan kejahatan yang luar biasa. Menurut Arendt hal tersebut adalah kealpaan untuk berpikir.

Eichmann tidak menggunakan kemampuan berpikirnya secara menyeluruh dan sistematis. Ia hanya patuh kepada perintah yang dilakukan oleh atasan. Kealpaan berpikir atau ketidakberpikiran ini jauh lebih berbahaya dan merusak dibandingkan dengan insting jahat itu sendiri. Hal inilah yang disebutkan Arendt sebagai Banality of Thinking. Fragmen mengenai gagasan ini dapat juga kita saksikan melalui film yang mengambil judul dari nama pemikir perempuan tersebut “Hannah Arendt” yang diperankan dengan apik oleh Barbara Sukowa.

Banalitas kejahatan ini akan menyeruak kembali di dalam pikiran-pikiran kita ketika menyaksikan film dokumenter Joshua Oppenheimer yang diberi judul “Tha Act of Killing” atau dalam bahasa Indonesia kita lebih suka menyebutkan sebagai “Jagal”. Algojo di dalam film dapat dijadikan sebagai contoh yang kontekstual dengan banalitas kejahatan ini.

Sebagaimana artikel Evangeline Setiawan yang berjudul Representasi Banalitas Kejahatan dalam Film “The Act of Killing” (2014), algojo atau tukang jagal di dalam film tersebut menujukan apa yang disebut sebagai banalitas kejatahan. Evangeline menyebutkan bahwa aspek kategori kealpaan berpikir adalah aspek yang paling banyak terlihat dalam berbagai scene di dalam film. Hal tersebut terepresentasi melalui dialog, tingkah laku, dan aksi yang didukung oleh berbagai ekspresi. Padahal, mereka bukanlah orang bodoh. Mereka adalah orang yang patuh terhadap perintah yang otoriter tanpa menggunakan pikirannya dalam bertindak.

Jika kita tarik ke dalam konteks permasalahan di abad informasi, salah satu wujud nyata Banality of Evil tersebut terlihat di dalam penyebaran hoax atau fake news. Hal ini sangat dekat dengan mereka yang menyebarkan hoax. Seperti yang sering kita dengar, hoax dibuat oleh orang pintar yang jahat, dan disebarkan oleh orang baik yang tidak berpikir.

Mengapa hoax masih menjadi konsumsi sehari-hari kita, sebab selain ada yang memproduksi, ada lebih banyak orang yang menyebarkan. Mereka menyebarkan tanpa berpikir apakah itu benar atau salah. Dan itu tentu menjadi sebuah kejahatan yang berbahaya.

Pada dasarnya, semua orang bisa berpikir, tetapi tidak semua melakukannya. Itu yang sedang marak di tengah masyarakat. Masyarakat kita tidak hanya malas membaca, tetapi juga malas untuk berpikir. Kondisi inilah yang mungkin kita sebut sebagai banality of thingking, banalitas berpikir. Banalitas berpikir ini menciderai esensi manusia sebagai mahluk yang berpikir.

Karena tak ada proses berpikir di dalam setiap tindakan, tindakan tersebut tidak akan menimbulkan rasa bersalah sedikitpun. Ini tentu sangat sering kita temukan, terutama di sosial media.

Ketika ada sanak keluarga menyebarkan informasi dalam bentuk teks tanpa sumber yang jelas di dalam grup, sering saya iseng menanyai mereka sumber utama informasi tersebut. Dengan enteng, mereka hanya menjawab, “copas dari grup tentangga”, tanpa ada rasa tanggungjawab yang lebih. Demikian, mereka menyebar tanpa berpikir, hanya sebatas eksistensi semata dan atas dasar suka.

Lain lagi jika dalam bentuk potongan-potongan video atau audio. Mereka menganggap sahi, sebab ia berupa data dan fakta yang bergerak. Menurut penyebar, hal itu tak dapat dibantahkan seperti teks. Tetapi, kenyataanya di dalam video, selalu ada konteks yang dilupakan. Misalnya dalam sebuah pidato berdurasi 60 menit, akan diambil bagian tertentu, 90 detik saja yang sesuai dengan kebutuhan wacana.  Hal inilah yang kemudian “digoreng” dan diarahkan sesuai kebutuhan wacana pihak-pihak tertentu.

Jika kita belajar persoalan wacana kritis, salah fondasi utama sebuah wacana adalah konteks. Tetapi, di dalam penyebaran hoax, orang-orang kemudian melupakan konteks. Keseluruhan bukan segalanya, tetapi bagian tertentu yang menguntungkan saja yang kemudian dikutip dan disebarkan. Demikian, cara-cara orang jahat menggiring wacana hoax dan fake news, serta ujaran kebencian.

Kembali kepada apa yang dilaporkan Arendt dari sidang kejahatan kemanusiaan Aichmannt, bahwa ketiadaan berpikir dalam bertindak sesungguhnya lebih berbahaya daripada insting jahat itu sendiri. Akan tetapi, hal ini tentu bukan sesuatu yang sederhana, sebab kata Arendt “berpikir adalah pekerjaan yang sunyi” dan  tidak semua orang menyukai jalan sunyi.

Facebook Comments
No more articles