Di Indonesia pra-kemerdekaan, kita mengenal Mas Marco Kartodikromo sebagai pengarang novel mahsyur, Student Hidjo. Novel moncer berkat muatan menggugah nalar. Membaca novel itu bikin sadar bahwa kolonial Belanda mesti cepat ditendang agar buru-buru angkat kaki dari Hindia.

Marco menulis dengan apik ketakpantasan penjajah menginjak harga diri bangsa lewat pengisahan tokoh utama, Hidjo. Suatu kali, sesaat tiba di Belanda, Hidjo disambut sangat baik. Ia dianggap bak turis tajir karna berasal dari Jawa oleh sebagian orang Belanda. Hidjo pun tertawa. Sinis. Ia lantas berkata: “Kalau negeri Belanda dan orangnya itu cuma begini saja keadaanya, betul tidak seharusnya kita orang Hindia mesti diperintah oleh orang Belanda”.

Novel Student Hidjo ditulis Marco dalam penjara. Aktivitasnya sebagai wartawan dan aktivis anti-kolonial, memicu pergolakan politik dengan para penjajah. Berkonfrontasi dengan giat membuatnya ditangkap. Dijebloskan dalam sel. Ia dianggap meresahkan. Mengganggu kerja-kerja kolonial melakukan penindasan.

Sebelum terbit sebagai novel utuh, Student Hidjo mulanya diterbitkan secara serial di surat kabar Sinar Hindia tahun 1918. Orang-orang di Balai Pustaka, suatu lembaga penerbitan kolonial asuhan D.A Rinkes, menganggap Student Hidjo hanya bacaan liar. Bacaan seperti Student Hidjo diburu, diberangus karena menyinggung kekuasaan kolonial. Kecongkakkan Balai Pustaka begitu menjengkelkan. Tetapi, Marco tetap menulis. Ia tak mau berhenti.

Di sela-sela menulis cerita bersambung, Marco juga menulis puisi. Marco mewartakan diri sebagai penyair lewat puisi berjudul Sama Rasa Sama Rata. Puisi itu terbit di surat kabar Sinar Djawa no. 81, Rabu 10 April tahun 1918.

Puisi Sama Rasa Sama Rata berkisah ihwal kehidupan dari balik bilik besi. Kesengsaraan, siksaan, dan tekanan batin terpisah anak-istri, jadi tema puisi Marco. Ada rasa geram, sekaligus emosi terhadap perlakuan keji pemerintah kolonial.

Ini sair nama; “Sama rasa”

“Dan Sama rata” itoelah njata,

Tapi boekan sair bangsanja,

Jang menghela kami dipendjara.

Didalam pendjara tidak enak,

Tertjere dengan istri dan anak,

Koempoel maling dan perampok banjak,

Seperti bangsanja si pengampak.

Tapi dia djoega bangsa orang,

Seperti manoesia jang memegang,

Koeasa dan harta benda orang,

Dengan berlakoe jang tidak terang.

Ada perampoek aloer dan kasar,

Djoega perampok ketjil dan besar,

Bertopeng beschaving dan terpeladjar,

Dengan berlakoe jang tidak terang

Marco melanjutkan puisinya dengan omelan. Penjajah itu maling. Perampok.. Dia itoelah sama perampoeknja,/ Minta orang dengan lakoe paksa,/ Tidak mengingat kebangsaannja,/ Bangsa manoesia didoenia.

Pramoedya Ananta Toer pernah menyatakan kekagumannya pada puisi Marco. Pram memuji muatan kritik yang tajam terhadap pemerintahan kolonial. Dalam bukunya Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (2003), semboyan “Sama Rasa Sama Rata” menyentuh simpatik rakyat, sekaligus memantik kesadaran berbangsa tetap menyala, tukas Pram.

Marco, meskipun seorang wartawan handal pendiri Inlandsche Journalisten Bond (IJB) tahun 1914, lebih gemar menuturkan kegelisahannya lewat karya sastra. Sastra lebih mudah berterima di masyarakat. Sastra tak tampil dengan tutur instruksi setamsil seorang raja pada budak. Bahasa sastra menyusup dengan pelan dalam kesadaran lewat ajakan lembut, partisipasif, dan lebih persuasif. Sastra tentu berbeda dengan laporan jurnalistik yang blak-blakkan. Cespleng. Terang-terangan. Namun begitu, apapaun bacaan memuat kabar busuk tekait kolonial di era itu, selalu saja menggoda para serdadu sah melakukan persekusi. Juga penangkapan. Penyiksaan.

Masih di tahun 1918, tanggal 23 Desember, di surat kabar Sinar Hindia no. 255, kita menemukan puisi Marco berjudul Badjak Laoet. Puisi di koran menggambarkan kolonial sebagai penjahat, “Badjak Laoet” yang menjarah tanah orang-orang Hindia. Marco menuliskan hobi kolonial mengancam dan membuat takut orang-orang. Kepala orang boemi jang takoet,/ Lebih senang marika menoeroet,/ Kehendaknja badjak badjak laoet./ Maskipoen temannja kalang kaboet. Marco melanjutkan sajaknya dengan kritik pada para orang Hindia yang penakut. Tak memiliki keberanian. Rela martabatnya dinjak-injak. “Lebih baik kita orang mati,/ Dari pada kita menoeroeti,/ Kehendak badjak jang amat kedji,”/ Begitoe kata orang jang berani.”

Situasi politik kolonial medio 1918 begitu panas dengan mulai bergeliatnya bacaan politik. Dari bacaan itu pula, dengan menggunakan bahasa melayu-pasar, kesadaran bangsa mulai tumbuh di masyarakat. Puisi Badjak Laoet anggitan Marco bertenaga besar mendobrak kesadaran tumpul masyarakat gara-gara melulu dibisiki kebohongan serta hasutan untuk memaklumi praktik kolonialisme Belanda. Marco dengan dahsyat menulis potret keji kolonial dalam sajaknya:

Dari itoe orang-orang boemi,

Hidoep melarat setengah mati,

Dia bekerdja seperti sapi,

Tjoema mendapat oeang setali.

Apa kabar orang boemi sitoe?

Banjak jang mengoeli mikoel batoe,

Badannja roesak hatinja piloe,

Pikiran bingoeng mendjadi denggoe.

Saban hari bertambah tambah,

Bangsa badjak jang datang mitenah,

Ditanah itoe jang amat moerah,

Mentjari makan ta’ dengan soesah.

Djangan tanja lagi orang boemi,

Bertambah soesah mentjari nasi,

Sebab tanahnja jang keloear padi,

Banjak jang sama di djoeali.

Maka hal ini haroes dipikir,

Akan goenanja merobah takdir,

Soepaja kita bisa mengoesir,

Manoesia bangsa orang…..

Apa yang dilakukan Marco, di kemudian hari menular ke Seno Gumira Ajidarma saat menelurkan buku kumpulan esai bertitel Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Konteks sedikit berbeda. Seno berhadapan dengan penguasa dari bangsanya sendiri. Tetapi tak suka kritik dan interupsi. Tiap yang beraroma ketaksepakatan, melulu dianggap melawan, membangkang. Kewartawanan Seno, diakali dengan menulis kisah kejahatan negara dengan medium dan metafora karya sastra.

Baik Marco maupun Seno, keberpihakan politik itu penting disisipkan dalam tiap tulisan. Sastra itu politik, kata Budi Darma dalam buku Bahasa, Sastra, dan Budi Darma (2007). Karya sastra tak pernah lahir dari bilik hampa. Karya sastra susah, dan mungkin tak akan terlepas dari pengalaman penulis mencandra realitas. Penulis merespon kenyataan objektif, mengekstraksi, lalu melahirkan butir-butir hal-ihwal. Dan teks yang kemudian kita baca itu, tak lain merupakan ejawantah dari pergumulan alot pelbagai konsepsi ideologis, rangkaian sintaksis, yang membentuk keutuhan sebuah cerita.

Dari Marco kita bisa tahu, bahwa sejarah sastra Indonesia itu tak seperti anggapan sebagian orang yang melulu kata-kata indah atau romantis. Sastra bukan rangkaian puisi picisan, klise, yang bikin nalar tetap tak tajam, tak terasah. Sastra itu alat perjuangan politik. Alat perjuangan membebaskan hajat hidup bangsa dari rentetan praktik penindasan. Noh.

Penulis: Mario Hikmat, momong di dapur Dialektika, Makassar.

Facebook Comments
No more articles