Sepekan yang lalu saya dibuat gelisah dengan tulisan yang diterbitkan qureta.com, tulisan itu ditulis Muhammad Alfian Sofakhairi dibubuhi judul Jangan Terus-Terusan Menjadi Buruh! Membaca judulnya, membuat saya bertanya-tanya, kalau tidak jadi buruh lantas mau jadi apa? Ada apa dengan buruh?

Saya penasaran, membaca lebih lanjut tulisan tersebut, apakah ada solusi realistis yang ditawarkan atau sistem untuk kelangsungan hidup kaum buruh yang lebih baik? Yah, hasilnya tak perlu menghabiskan sebatang rokok dan segelas kopi hanya untuk membaca tuntas opini tersebut. Saya hanya membacanya sekali duduk, betul-betul hanya sekali duduk, tidak seperti yang ada pada definisi cerpen. Tapi untuk menulis opini ini, saya mesti menghabiskan berbatang-batang rokok ditambah segelas kopi—tandas—di warung kopi langganan saya. Sebuah pekerjaan yang menguras pikiran.

Sebagai orang awam, saya tidak bermaksud menggurui Muhammad Alfian Sofakhairi, melainkan hanya sekadar menyampaikan satu perspektif lain. Bahkan ia jauh melampaui saya dalam segala hal, termasuk dalam segi penulisan. Kepada kawan Muhammad Alfian Sofakhairi, dengan hormat saya sajikan perspektif lain saya ke hadapan pembaca.

Pertama, penulis mengatakan secara gamblang tentang kondisi yang sedang terjadi saat ini. Masifnya aksi tuntutan kenaikan upah para buruh yang semakin hari makin digerogoti permasalahan ekonomi. Maka dengan keadaan seperti itu, para buruh tak pernah jenuh melakukan aksi demi meningkatkan kesejahteraan mereka. Yah, tentu wajar manusia menginginkan kesejahteraan. Apakah kalian tidak?

Masifnya aksi tersebut, membuat ia berasumsi pada sudut pandang yang berbeda. Kondisi yang ia narasikan, menurut saya, para pekerja dalam hal ini buruh, diibaratkan telah memasuki penyakit kanker stadium empat, seperti perkataan Prabowo yang menyinggung soal korupsi. Mengapa demikian? Karena terbangunnya mental buruh di kalangan masyarakat, khususnya para keluarga buruh.

Mental buruh yang dimaksudkannya adalah para anak-anak mereka, nantinya akan selalu mewarisi pekerjaan ayahnya sebagai buruh dan berlanjut sampai ke beberapa generasi. Entah pada generasi ke berapa yang akan memutuskan rantai setan itu.

Saya hanya ingin meyampaikan, bahwa para buruh mesti bekerja. Tak ada jalan lain yang patut mereka lakukan saat ini selain bekerja dan bekerja. Mirip slogan Pak Jokowi yah? Kerja dalam pandangan teoritisi kontemporer, seperti Bob Black ialah aktivitas produktif wajib yang dilakukan di bawah paksaan tuntutan ekonomi dan politik.

Secara sadar, untuk dapat bertahan hidup, mereka terpaksa menjual tenaga. Bagi yang bukan pemodal, hanya tenaga satu-satunya yang mereka miliki untuk dapat memenuhi segala tuntutan yang serba cepat dan serba gila ini. Dunia yang sedang dihadapi saat ini memang gila, yang waras hanya mereka (para buruh).

Kedua, penulis beranggapan bahwa sikap buruh yang meminta kenaikan upah, menurut beberapa pengusaha tidak dibarengi dengan kerja yang lebih baik. Akibatnya, beberapa pengusaha keberatan menaikkan upah buruh sampai mereka meningkatkan kualitas kerjanya. Bahkan, ia katakan para buruh justru mengabaikan meningkatkan kualitas kerja dan malah melakukan aksi mogok kerja. Tentunya pasti tidak ada yang mau mengalah dan masalah ini tidak akan pernah selesai.

Baik, perspektif saya berikutnya ialah bahwa kapitalisme mengibarkan etika hemat, kerja keras, dan anti bersenang-senang. Itulah mengapa walau sedemikian besar kerja keras yang telah dilakukan oleh kaum buruh, tetap saja kebutuhan jasmaniah dan mental mereka tidak terpenuhi. Kelaparan, kekurangan bahan sandang, dan papan semakin menggerogoti hidup mereka. Pertanyaannya, apakah karena faktor kaum buruh terlalu rajin atau malah kurang rajin? Tentu saja, tidak!

Pun, saya akui bahwa aksi mogok saja tidak bisa menyelesaikan persoalan, tetapi aksi mogok kerja merupakan salah satu jalan di antara banyak jalan menuju tatanan sistem dan kesejahteraan buruh yang lebih baik. Kenapa? Sebab dengan aksi mogok kerja, kaum buruh bisa membuat sewot atau kocar-kacir para kapital-kapital dan setidaknya memaksa mereka untuk melakukan sedikit kebijakan yang menyenangkan hati para kaum buruh. Bukankah Pram mengatakan bahwa, “didiklah masyarakat dengan berorganisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”.

Biarkanlah para serikat buruh memikirkan nasibnya sendiri. Terlepas siapa yang berwenang dan bisa menyelesaikan persoalan ini saya kesampingkan dulu. Saya hanya sedikit menekankan bahwa aksi mogok kerja punya histori yang panjang dan di sini saya tidak mau mengulas bagaimana histori panjang mogok kerja dilakukan dan diinisiasi oleh para pesohor kita. Aksi mogok kerja bisa dibilang pertama kali diinisasi oleh Tan Malaka setelah pulang dari tempat belajarnya, ketika ia resah melihat keadaan pahit yang dialami para buruh perkebunan tebu.

Ketiga, penulis menyarankan kepada kaum buruh untuk dapat keluar dari zona nyaman, persis judul lagu dari fourtwnty dan menyarankan pula kepada kaum buruh untuk lebih menantang nasibnya dengan jalan membuka usaha.

Saya beranggapan dalam kondisi saat ini, coba kita berpikir secara realistis saja, tak perlu terlalu berpikir ideal. Membuka usaha membutuhkan modal, bukan hal ini tidak bisa tercapai, namun sulit untuk mereka. Dunia usaha telajur dikuasai para capital dan tentu persaingan akan semakin sulit.

Kita butuh adanya perbaikan dalam sistem, karena masalah perubahan sosial juga terkait dengan perubahan kesadaran dan yang paling dekat juga berpotensi untuk memikirkan hal tersebut adalah para politisi negeri ini. Serupa orasi pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, setiap politisi memiliki tanggung jawab sosial membawa negerinya melalui aktivitas politik untuk tumbuh sebagai sebuah bangsa. Politisi memiliki panggilan sejarah untuk merawat kehormatan setiap warga negara.

Terakhir, saya ingin mengatakan, kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal telah ada sejak dulu. Manusia melakukannya dengan cara meramu dan mengumpulkan bahan-bahan kebutuhannya. Tapi sekarang hal-hal itu sudah dieksploitasi dan menjadi hak milik pribadi seseorang. Jalan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhannya dengan cara membeli dan bekerja.

Kawanku, jangan melukai hati para kaum buruh! Bergurulah kepada Pram, sebab ia mengatakan:

“Yang harus malu itu mereka, karena mereka takut untuk bekerja. Kau kan kerja. Kau tidak boleh malu. Mereka yang harus malu, tidak berani bekerja. Semua orang bekerja, itu adalah mulia. Yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan”.

Facebook Comments
No more articles