Sebelum mereka kembali bercinta, tiba-tiba Jan melihat sebuah senyuman yang tidak biasa dari Edwig. Senyuman yang kemudian menimbulkan pikiran-pikiran absurditas di antara mereka. Akhirnya, mereka menemukan batas, bahkan melampaui apa yang disebutkan sebagai perbatasan. Penemuan batas menyebabkan semenit yang lalu kau rela mati demi seseorang, kemudian di menit berikutnya ia kemudian tak lagi bermakna.

Narasi di atas adalah narasi dari novelis Ceko, Milan Kundera dalam salah novelnya yang sangat terkenal Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Sebuah karya yang lebih suka saya sebut sebagai memoar politik. Di bagian ketujuh novel yang membuatnya kehilangan kewarganegaraan Ceko-nya, Kundera merumuskan gagasan psikologi tentang batas/perbatasan. Sebuah gagasan yang sangat menarik untuk dikuliti kembali di era fanatisme ini.

Perempuan yang paling dicintainya pernah berkata bahwa hidupnya hanya bergantung pada sebuah benang. Mudah sekali bagi setiap orang untuk menyeberangi sebuah perbatasan yang di baliknya segala sesuatu kehilangan makna: cinta, keyakinan, kepercayaan, dan sejarah.

Demikian yang terjadi dengan Jan kepada Edwig, seseorang yang ia cintai setengah mati, tiba-tiba kini kehilangan makna hanya karena sebuah senyuman dan muka yang datar saat sedang memadu kasih. Sesuatu yang dulu  dicintai, bisa kehilangan makna dalam sekejap, hanya karena persoalan yang sungguh sederhana, tetapi sangat mengecewakan.

Apa sebenarnya yang ingin disampaikan Kundera, bahwa fanatisme selalu berdampingan dengan kebencian, apatisme, dan ketidakpedulian. Sesuatu yang sangat kita fanatikkan, sangat mudah berbalik menjadi sesuatu yang sangat mudah untuk dibenci ketika kita menemukan sesuatu yang tidak sesuai harapan. Batas antara fanatisme dan kebencian hanyalah dipisahkan antara sebuah benang kehidupan, sesuatu yang sangat mudah untuk putus, lepas, dan terhempas.

Selain ketidaksesuaian harapan, Kundera menyebutkan bahwa penyebab orang menemukan batas atau melampaui perbatasan adalah “pengulangan”. Semakin sesuatu itu diulang, semakin ia kehilangan makna – kata Kundera. Pengulangan semakin membuat perbatasan itu terlihat, terasa, dan dialami.

Imaji tentang perbatasan dan pengulangan ini kemudian mengingatkan saya tentang Pilpres 2014. Joko Widodo, seorang pengusaha mebel yang mempunyai tampilan yang sederhana, begitu menarik perhatian dan dicintai masyarakat. Di Pilpers 2014, ia menang melawan Prabowo. Salah satu alasan kita mencintai Jokowi saat itu adalah ia tidak punya beban masa lalu seperti Prabowo. Seolah di pundak Jokowi-lah persoalan-persoalan kemanusiaan akan segera terselesaikan.

Tetapi apa yang kemudian membuat banyak orang berhenti berteriak untuk mendukung Jokowi dan bahkan mungkin patah hati kepada Jokowi? Munurut hemat saya adalah banyak orang telah menemukan batas itu. Ia begitu mencintai Jokowi, tetapi pada akhirnya dikecewakan sedalam-dalamnya.

Benar bahwa Jokowi tidak terlibat sama sekali pada beberepa peristiwa berdarah 1998, tetapi di era Jokowi ada banyak persoalan HAM dan agraria yang kemudian muncul. Korporasi besar, bahkan pemerintah sendiri melalui regulasi undang-undang menggusur rakyat kecil dari tanah nenek moyangnya dengan alasan pembangunan infratsruktur. Peristiwa Kulongprogo, kematian si Salim Kancil, pembanguan pabrik semen di Jawa Tengah adalah beberapa dari sekian banyak persoalan era Jokowi.

Maka dari itu, jangan heran jika tiba-tiba banyak orang yang memilih untuk mendukung paslon lain atau bahkan berpikir apolitis dengan memilih untuk tidak memilih. Tanpa mengabaikan variabel lain yang telah dilakukan oleh Jokowi membangun negeri, pada dasarnya cinta dan harapan mereka telah dikhianati. Harapan besar itu telah melumer menjadi sebuah sikap kecewa dan apatisme.

Batas itu semakin terasa ketika di akhir debat pertama Jokowi mengatakan “Kami tidak punya beban masa lalu”. Benar bahwa ia tidak memiliki beban masa lalu, tetapi untuk apa semua itu ketika Aksi Kamisan di negeri ini tak pernah digubrisnya. Persoalan Munir, Semanggi, hingga Novel Baswedan belum nememukan keadilan. Jokowi “mengulang” retorika 2014 yang sudah mengecewakan orang-orang yang berharap banyak kepadanya.

Lantas, apakah Prabowo adalah solusi dari semua ini? Saya justru tidak berpikir demikian. Sejak 2009 Prabowo telah mengecap pertarungan Pilpres dengan menjadi wakil dari Megawati, tetapi hingga hari ini, saya tidak benar-benar tahu ia telah melakukan apa untuk negeri ini. Mencoba Prabowo menjadi presiden mungkin akan menjadi narasi dari para kampret untuk menggaet pendukung Jokowi yang kecewa, tetapi tentu kita paham bahwa menjadi seorang Presiden bukanlah hal coba-coba. Situasinya sama seperti kata iklan di tv, “buat anak kok coba-coba”.

Lantas apa yang harus kita lakukan? Saya berpikir bahwa hal terbaik yang harus kita lakukan adalah melanjutkan hidup tanpa berpikir dan bertikai demi salah satu paslon Presiden dan Wakil Presiden 2019 ini. Berhenti bersikap fanatik, sebab fanatisme dan kebencian adalah hal yang berseberangan dan sangat mudah untuk saling menyeberangi.

Jika Anda sudah punya pilihan, maka teguhkan hati saja untuk memilih saat waktunya telah tiba. Anda cebong atau kampret bukan alasan untuk menghakimi orang-orang yang berbeda pilihan apalagi orang yang belum atau bahkan—memang—tak ingin memilih.

Hal lain yang juga mesti saya katakan bahwa berhenti menjadi fanatik buta ke salah satu calon. Kehilangan daya kritis dan menerapkan filter buble—hanya ingin mengetahui hal-hal baik dari paslon yang didukung, tak ingin tahu apapun hal-hal yang baik bagi lawan. Filter seperti itu hanya menempatkan Anda pada cara berpikir yang hitam putih. Sialnya, Anda tak pernah berpikir bahwa calon kesayangan Anda adalah hitam (salah), tetapi justru menganggap calon Anda putih (benar) dan calon yang lain sudah pasti hitam (salah).

Mari belajar dari kisah cinta Jan dan Edwig. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, tetapi pada akhirnya menjadi sepasang kekasih yang merasa absurd untuk saling bersama. Sesuatu yang sangat kita cintai pada dasarnya adalah hal yang paling mudah untuk melukai kita. Jan dan Edwig mengajarkan kita bahwa bahkan kekasih kita, seseorang yang sangat kita kenal dengan baik kadang menkhianati kita. Jika tidak dikhianati, mungkin saja yang terjadi adalah kekecewaan karena ia tak seperti yang kita inginkan. Terlebih dengan Capres dan Cawapres yang hanya kita kenal melalui pencitraan di layar kaca, ia sangat rentan untuk membuat kita kecewa. Jadi, mencintailah secukupnya, membenci seperlunya dan mari melanjutkan hidup.

Facebook Comments
No more articles