“Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal, sementara mereka yang dewasa justru bersedia hidup dengan rendah hati memperjuangkan hal itu”

Ada beberapa bagian yang cukup sinis ketika membaca novel legendaris J. D. Salinger The Catcher in the Rye. Holden Caufield tokoh yang diciptakan Salinger digambarkan dengan persona kurang ajar, malas, dan terus terang bahkan sejak kita membacanya di awal cerita. Jika dibayangkan, adegan ini seperti ketika telinga kita mendengar langsung anak-anak bersikap arogan kepada orang dewasa, membentak ketika dinasihati baik-baik. Saya membayangkan dengan sinisme ketika seorang adik mengumpati kakaknya dengan sebutan pelacur hanya karena ia hidup dari pekerjaannya sebagai penulis. Meski dapat dipahami bahwa hal tersebut cukup natural dan wajar, tapi dengan umpatan-umpatan—rasa-rasanya itu tidaklah alami. Tidak apa-apa, dia kan masih anak-anak, sabar ya. Kata ustazah.

Ada banyak sekali review tentang J. D. Salinger dan karya-karyanya, paling tidak ada perasaan semacam ketakutan terhadap pengaruh luar biasa yang ditimbulkan buku ini. Sinisme terhadap orang-orang munafik melalui tokoh utamanya yang bernama Holden Caufield yang masih berusia tujuh belas tahun, meskipun penuh dengan umpatan-umpatan dan bahasa yang kasar, kecerdikan Salinger berhasil merekam ekspresionisme remaja yang terkungkung nilai patriarchy private. Ditambah jagat kehidupan Salinger cukup pas diinterpretasikan ke layar lebar dengan judul Rebel in the Rye.

Mengutip review yang dipublikasikan The Guardian Books 21 Juni 2012 penggambaran Salinger untuk tokohnya itu cukup elegan menjelaskan proses transisi seorang anak remaja. Dan tentu hal ini tidak cukup mengejutkan, bagaimana suasana kurang ajar sejak dari awal buku ini. Tersirat sekaligus terus terang bahwa ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang masa depannya.

Buku ini sangat populer di kalangan siswa di Amerika Serikat dan sekitarnya. Buku ini menjadi bacaan wajib yang harus dibaca oleh anak sekolah di negara itu, bahkan beberapa anak ingin menjadi seperti Caufield. Saya kemudian berpikir bahwa jiwa muda, pemberontak, kenakalan remaja, dan sebagainya (di dalam buku ini) dianggap hal yang netral. Artinya sebagai abstraksi kepribadian yang mencoba menemukan karakter yang sebenarnya, relevansi yang hadir tentu akan sama jika melihat bagaimana seorang anak remaja (mencoba) meninggalkan masa remajanya dengan membenci hal-hal (film, mata pelajaran, aturan-aturan sekolah) yang tengah dialami oleh yang seusianya.

Lihatlah, bagaimana buku ini diawali dengan adegan simpel dari Holden Caufield yang langsung berbicara kepada seseorang (pembaca), dan sedikit demi sedikit mulai menceritakan kembali kejadian selama periode tiga hari dari bulan Desember yang lalu di sebuah sekolah/pesantren bergensi di Pencey Prep yang penuh dengan fonies.

Novel ini, secara keseluruhan bisa dikatakan kilas panjang yang memotret peristiwa sebagai referensi aktual tahun 1951 sampai sekarang. Saya curiga bahwa novel ini merupakan salah satu rujukan yang cukup banyak mempengaruhi gaya penulisan (bertutur) novel-novel Indonesia dengan menggunakan bahasa sehari-hari (kalimat yang tak senonoh, kurang ajar, model slank language) yang cukup efektif, jujur dan realistis. Jika anda berusia di bawah lima belas tahun, buku ini tentu tidak akan jadi rekomendasi bacaan yang pas. The Catcher in The Rye tidak diperuntukkan untuk pembaca muda, tetapi bagi saya—selama ia mampu menegaskan batas antara ‘menjadi’ dan ‘terjadi’, buku ini cocok dibaca oleh siapapaun.

Novel yang diterjemahkan oleh Yusi Avianto Pareanom ini tentu bagi saya (meski sangat terlambat membacanya) seperti teh hangat yang menormalkan emosi sekaligus membakar depresi di tengah derasnya hujan malam hari. Panggilan jiwa untuk seluruh remaja dalam arti tertentu yang mengilhami sebab mengirimkan pesan bahwa sebagai manusia harus tetap berharap dan benar paling tidak pada diri sendiri.

Masa remaja dapat diasumsikan sebagai sebuah fase penghubung yang sangat liar, keras dan tanpa kendali bahkan atas dirinya sendiri. Tema pemberontakan, identitas dan kemandirian yang rumit memunculkan kesan bahwa novel ini akan sangat pas dibaca saat Anda belum dewasa. Jika sudah dewasa, kemungkinan besar Anda berkeinginan kuat untuk memukul, menampar Holden Caufield atas tindakan serta tingkah lakunya. Apakah Caufield benar mewakili J.D Salinger di masa remajanya dahulu?

Facebook Comments
No more articles