Di masanya, sebagian orang barat anti pada sosok Machiavelli, dari cara berpikir, gagasan hingga sepak terjangnya dalam struktur pemerintahan. Ia begitu disetan-setankan oleh berbagai orang dan kelompok penguasa di masa itu. Pemikiran Niccolo Machiavelli sangat berpengaruh, utamanya dalam tradisi politik praktis dan negara. Banyak pemimpin besar dunia yang mengadopsi cara berpikir tokoh filsafat politik yang satu ini, diantaranya Napoleon Bonaparte hingga Benito Mussolini.

Ia mengembangkan gagasan-gagasan mengenai politik dari yang sebelumnya sifatnya idealis menuju yang sifatnya realis. Sebelumnya orang-orang dahulu membicarakan politik menerapkan model platonik atau aristotelian yang ia pikir sangat idealis. Filsafat atau politik itu harus dan mampu menata masyarakat, membuat orang-orang di dalamnya murni merdeka atau fitrah manusia untuk saling memanusiakan. Tapi bagi Machiavelli, model lawas itu dibangun ulang dengan memperhatikan kondisi masyarakat yang lebih otonom. Melihat masyarakat apa adanya, bukan apa yang seharusnya.

Niccolo Machiavelli merupakan anak yang dilahirkan zaman abad pencerahan (periode awal modernisme) Italia abad ke-15. Masa ketika menjelang berakhirnya imperium Romawi yang kemudian menyisakan berbagai kelompok di kota-kota seperti Turin, Genoa, Florence, Venice, dan Milan yang dikenal sebagai City States (1450). Ada tiga kota besar yang berpengaruh di Italia pada masa itu: Florence, Venice dan Milan. Sedangkan sisa-sisa dari otoritas dominasi gereja masih ingin  bertarung merebut pengaruh dengan City States membuat kedua kelompok menjadi lemah. Di sisi lain, sisa dari kekaisaran Romawi yang terlibat juga ikut melemah.

Model wilayah City States menerapkan sistem republik dan liberty (bebas) yang dipimpin oleh konglomerat atau orang yang memiliki kemampuan finansial di atas rata-rata. Umumnya penguasa yang mampu membayar tentara bayaran untuk mengamankan kekuasaannya. Pertarungan perebutan kekuasaan dan pengaruh antar konglomerat atau keluarga terpandang. Dalam persaingan inilah lahirnya seorang tokoh bernama Niccolo Machiavelli di kota Florence yang nantinya ia menulis kitab suci Il Principle  (sang pangeran), sebuah buku praktis dan taktis bagi seorang pemimpin.

Dari tiga kota besar City States, Florence, Venice, dan Milan mempunyai karakteristik masing-masing dalam membentuk cikal bakal negara Italia seperti sekarang ini. Seperti misalnya Florence, kota itu dikenal melahirkan berbagai macam tokoh pemikir-pemikir jenius Eropa di masanya. Keluarga yang paling terkenal adalah keluarga Medici, dengan kepemilikan kapital dan orang-orang loyal di belakangnya, mereka melahirkan tokoh-tokoh besar dan berpengaruh seperti Michael Angelo hingga Leonardo da Vinci. Lalu Venice dikenal sebagai pusat perdagangan karena letaknya yang berdekatan dengan Laut Mediterania sehingga pemerintahannya cukup stabil dan efesien. Sedangkan Milan dengan posisinya yang strategis sebagai kota besar dan menjadi pusat militer.

Karena Machiavelli lahir dari huru-hara perebutan pengaruh antara City States dan Church atau Gereja sehingga memaksanya berpikir revolusif. Terlahir dari keluarga setengah terpandang dengan seorang ayah sebagai pengacara, Machiavelli kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya di lingkungan konglomerat hingga dewasa. Baru di usia 29 tahun ia lalu diterima sebagai staf ahli bagian negosiasi dan militer di Florence. Era ketika keluarga Medici dikalahkan oleh kekuatan baru bernama Cesare Borgia. Machievalli menjadi penasihat atau konsultan Borgia yang sangat gila kuasa dan ambisius. Dari Borgia-lah, ia terinspirasi menulis Il Principle. Saat keluarga Medici melangsungkan misi balas dendam hingga merebut kembali kekuasaan Borgia, Machievalli kemudian ditangkap, disiksa, dan diasingkan. Dari pengasingan itulah ia menulis Il Principle selama kurang lebih tujuh tahun.

Il Principle merupakan karya yang paling terkenal dari Machievalli. Karya tersebut dipandang sebagai jembatan dari teori politik idealisme menuju teori politik realisme dengan tujuan mengamankan tugas-tugas pemerintah (kekuasaan) dan menstabilkan City States dari intervensi dan gangguan luar, baik masyarakat sipil maupun luar wilayah. Il Principle lahir dari pengalaman (empirik) Machievalli selama menjabat sebagai penasihan Cesare Borgia dan masa-masa pengasingannya. Ia berpikir sebuah pemerintahan tak akan bertahan lama jika pemimpinnya hanya mengedepankan ambisi pribadi atas egoisme. Dari sini, lahirlah gagasan yang disebut virtu.

Menurutnya, seorang pemimpin dalam menjalankan pemerintahannya harus mempunyai virtu. Virtu berarti kejantanan atau kecerdikan. Virtu adalah kualitas personal yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin untuk mengelola pemerintahannya dan meningkatkan kekuasaannya. Virtu diidentikkan sebagai sumber daya yang dimiliki seseorang, dapat diciptakan, dimobilisasi, dan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan selaku aktor politik. Bentuknya seperti kepintaran, keberanian, strategis, taktis, ketelitian, ketegasan, reputasi dan integritas, dukungan berbagai pihak, juga tentu kelihaian dan kesediaan berdusta dan menggunakan kekerasan secara kejam dan berdarah dingin.

Sisanya adalah fortuna, sebuah istilah yang mengacuh pada kebetulan, keberuntungan, probabilitas, dan faktor eksternal di luar kontrol dan kuasa seseorang. Jika virtu adalah sesuatu yang bisa dikontrol, fortuna sebaliknya. Fortuna menjadi musuh dari tatanan politik, ditenggarai sebagai ancaman bagi keselamatan dan keamanan pemerintahan. Istilah fortuna sendiri diadopsi dari mitologi yunani, Dewi Fortuna atau dewi pembawa keberuntungan. Sederhananya sebaik apapun cara seorang presiden memimpin sebuah negara (virtu), tetapi ketika negara tersebut tak berhenti dirundung masalah seperti bencana alam dan gerakan-gerakan sekularisme, atau gerakan-gerakan yang tak terduga (fortuna), lambat laun negara tersebut akan hancur. Pemimpin akan sukses ketika virtunya kuat dan fortunanya pas, kata Machievalli.

Il Principle ditulis dengan corak pragmatik, suatu konsep praksis yang mengutamakan tujuan ketimbang proses. Misalnya tujuan yang baik diperbolehkan dengan cara yang jahat, atau seorang pemimpin tidak harus religius, namun dapat mendorong masyarakatnya untuk menjadi religius untuk membantu pemimpin melahirkan ketertiban dan kemudahan kontrol sosial. Di balik Il Principle sendiri, terdapat perlawanan atau kritik terhadap nilai-nilai gereja bahwa setiap orang berhak menentukan nasibnya sendiri, serta setiap individu mesti ambisius, mengambil resiko, menciptakan sistem baru, dan semuanya merupakan hal yang alami. Kesimpulannya tidak mempertimbangkan moralitas dalam politik dengan menghalalkan segala cara dengan prinsip urusan negara lebih penting dibandingkan apapun. Secara politik, nilai individu boleh dikorbankan demi kepentingan negara.

Model berpikir Machiavellian sangat banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-sehari, sadar ataupun tidak. Di dunia mahasiswa misalnya, lulus dan mendapat gelar akademik adalah tujuannya. Dalam praksisnya sendiri tentu saja tidak lurus-lurus begitu saja, atau sesuai prosedur dan aturan yang ada, hingga subjek berpikir dan berperilaku menghalalkan segala cara untuk bisa sarjana. Mengerjakan tugas kuliah dengan mengcopy-paste dari internet, bolos masuk kuliah demi kepentingan lain, menjilat ke beberapa dosen tertentu atau ujian dengan cara mencontek. Semuanya dilakukan bukan tanpa dasar.

Faktanya model berpikir Machievallian telah banyak diterapkan manusia-manusia modern dalam menghadapi sebuah persoalan untuk tidak berlama-lama di dalamnya. Tapi apakah gagasan Machiavelli ini hadir dan penting di kepala para calon politisi muda di Indonesia?

Kabar baiknya, meningkatnya partisipasi calon anggota legislatif tahun 2019 dari kalangan pemuda (17 s/d 40 tahun) adalah hal positif dan mengundang berbagai bentuk apresiasi masyarakat. Ada yang mendukung, bangga, dan penuh harap dengan semangat mudanya. Tapi ada pula yang mengecam, mencaci maki, hingga meragukan kredibilitas dan kemampuan interpersonalnya. Namun terlepas dari dikotomi tersebut, para politis muda ini merupakan sosok yang cukup menginspirasi, paling tidak bagi pemuda lainnya. Bagaimana tidak, asumsi awal kita adalah tentu saja prioritas kebijakan dan niat politik mereka adalah memperjuangkan hak-hak normatif pemuda.

Mereka dihadapi dengan persoalan mendasar pemuda di Indonesia hari ini seperti, kurangnya partisipasi terhadap publik, antipati dan apatis, miskin gagasan dan ide untuk masyarakat luas, hingga nasionalisme dan partriotisme yang bias. Semua itu merupakan persoalan umum. Kita mungkin menebak-nebak bahwa proses pencalonan para politisi muda ini dilatarbelakangi oleh motif dan kendaraanyang berbeda-beda, tapi umumnya terinspirasi dari politisi senior yang terikat dengan ikatan keluarga yang telah ulung dan berpengalaman bertarung dalam dunia politik.

Pertanyaannya, apakah integritas dan kredibilitas politisi muda ini telah teruji tajam di masyarakat? Tidak gagap berbicara kepada masyarakat dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan kebudayaan yang berbeda-bebda. Tidak gagap menghadapi persoalan yang lebih besar ketika berhadapan dengan kekuatan yang mapan. Sudah siapkah mereka unjuk kualitas di hadapan publik yang lebih plural? Atau jangan-jangan para politisi muda ini menjadikan dunia politik sebagai ruang privat—mengurung Dewi Fortuna dan dewi-dewi yang lain membagi-bagikan keberuntungan di tengah masyarakat yang stagnan dan primordialis.

Facebook Comments
No more articles