Menutup tahun 2018 kemarin, saya hampir saja berseloroh bahwa film Ratsasan yang disutradarai Ram Kumar yang juga pernah menyutradarai Mundasupatti (2014) dengan menggunakan bahasa Tamil India adalah film terbaik tahun itu. Kecintaan saya terhadap film India itu luruh, setelah menyaksikan Roma, film berlatar Meksiko tahun 1970-an besutan sutradara Alfonso Cuaron. Roma sekaligus menghapus praduga saya bahwa setelah film Schinder’s List (1993) barangkali tak akan adalagi film hitam putih yang sangat menguras emosi saat menontonya.

Roma adalah lingkungan sub-urban terletak di sebuah distrik wilayah Cuauhtemoc di Mexico City. Film dengan durasi 135 menit ini merekam masa kecil keluarga Alfonso Cuaron. Ini adalah kali kedua Cuaron mengambil latar Meksiko, film sebelumnya yang berbasis di Meksiko yakni Y Tu Mama Tambien (2001). Meski mengisahkan masa kecil Cuaron yang begitu pribadi, film Roma tak mengabaikan situasi pergolakan geopol di Meksiko. Misalnya pembantaian Corpus Christi yang digerakkan oleh pemerintah diktator untuk membasmi mahasiswa yang dianggap komunis. Memang Cuaron tak main-main, film ini digarapnya pada awal-awal karirnya di tahun 1991, dan jadilah film seapik dan selembut Roma—selesai di tahun 2018.

Yalitza Aparicio melakukan debut pertamannya dalam dunia perfilman dengan sangat mengejutkan, ia berperan sebagai Cleo, pembantu rumah tangga yang digambarkan sebagai tokoh utama dalam film Roma. Alfonso Cuaron, menyeleksi setidaknya seratus sepuluh orang selama satu setengah tahun untuk menemukan aktor yang cocok memerankan Cleo. Penampilan Yalitza, membuat Roma disebut oleh berbagai media sebagai film terbaik tahun 2018. Hal tersebut ditulis Aulia Adam di Tirto.id bahwa setidaknya Time, New York Film Critics Circle, New York Times, Vox, Independent, Sight & Sound, bahkan situs Roger Ebert menempatkan Roma sebagai film terbaik (2018).

“Padahal, ia tayang di bioskop terbatas, meski sudah lebih dulu ditonton media dalam Festival Film Internasional Venisia, Agustus lalu. Namun, pada pertengahan Desember 2018, ia sudah bisa dinikmati di Netflix.” Tulis Aulia Adam.

Yalitza Apricio yang memerankan Cleo, sebenarnya baru datang seminggu sebelum casting dimulai, menggantikan kakak kandungnya yang sementara hamil. Ketidaksengajaan itu yang membuatnya mendapat tempat dalam dunia perfilman.

Cuaron membuka film Roma dengan menampilkan sebuah lantai yang disirami air, namun ternyata hal tersebut malah seakan tak sengaja memperlihatkan bayangan pesawat yang melintas. Hal yang menunjukkan kesabaran Cuaron dalam menemukan gambar yang alami. Kemudian menampilkan sosok Cleo sebagai pembantu rumah tangga yang tidak henti menyiapkan makanan, membersihkan lantai, mencuci piring dan pakaian, serta merawat anak-anak–termasuk si kecil Cuaron. Cleo bekerja di rumah Dokter Antonio (Fernando Grediaga) dan istrinya Sofia (Marina de Tavira) yang merupakan ahli biokimia. Sofia yang begitu mencintai Antonio sangat mengalami kecemasan di waktu suaminya tak pernah lagi pulang. Antonio meninggalkan Sofia dan keempat anaknya beserta segala kerumitan rumah tangganya. Sebagai pembantu rumah tangga, Cleo menyaksikan secara keseluruhan peristiwa keluarga itu setiap hari. Cleo merekam pertengkaran dan kebahagiaan dalam rumah tangga Antonio dan Sofia.

Hanya Adela (Nancy Garcia), sahabat Cleo, tempat ia berbagi cerita. Cleo sempat menjalin hubungan dengan Fermin (Jorge Antonio Guerrero) yang selalu membawanya ke taman dan bioskop, Cleo bahkan sempat diperlihatkan adegan seni bela diri oleh Fermin dalam keadaan telanjang. Namun, seperti Antonio, Fermin pun juga meninggalkan Cleo, saat situasi begitu rumit. Fermin menolak bertanggung jawab atas tindakannya menghamili Cleo. Cleo yang menyampaikan ke Fermin bahwa ia sepertinya sedang mengandung anak dari Fermin sebab ia sudah beberap bulan tidak datang bulan. Ia membicarakan hal tersebut saat melakukan ciuman di bioskop. Fermin seketika berhenti melanjutkan ciumannya, beralasan ke toilet dan tidak pernah lagi menemui Cleo.

Saat Antonio dan Fermin meninggalkan dua wanita berbeda kelas ini. Salah satu adegan menunjukkan, saat Sofia pulang dalam keadaan mabuk, mengucapkan satu kenyataan pahit di depan Cleo.

“Apa pun yang mereka (laki-laki) katakan, kami (perempuan) selalu sendirian.”

Dalam situasi kelas yang berbeda, satu pembantu dan satu majikan nyatanya tetap bisa mengalami kondisi kecemasan yang sama: dikecewakan dan dicampakkan oleh laki-laki.

Ketabahan kedua peremuan inilah yang disorot tajam Cuaron dalam film Roma, Cleo harus memperjuangkan anaknya lahir dalam keadaan tanpa seorang ayah. Saat ditemani oleh ibu Sofia mencari tempat tidur bayi, Cleo harus merasakan kenyataan pahit. Bersamaan dengan penyerangan Corpus Christie saat mencari tempat tidur bayi, ia menyaksikan demonstrasi mahasiswa yang berujung bentrokan. Ia dan ibu Sofia panik, Cleo merasakan air ketubannya pecah, supir pribadi Sofia mengantar Cleo dalam suasana genting Meksiko menuju rumah sakit. Meski berhasil melahirkan bayinya, Cleo hanya bisa menangis dan menimang jasad bayinya saat dokter mengatakan bayi tersebut dalam keadaan tidak bernyawa.

Sementara Sofia yang telah ditinggalkan Antonio, pada akhirnya memberanikan diri menyampaikan ke anak-anaknya bahwa mereka berdua sudah memutuskan berpisah. Tentu saja keempat anak Sofia bersedih, ia sadar tetap harus menyampaikan kenyataan pahit tersebut. Sembari menjelaskan bahwa ia akan kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Saat membawa ke empat anaknya berlibur, Cleo mendapati Sofia yang sempat digoda oleh seorang temannya, namun Sofia menolak pelukan lelaki tersebut dengan tajam. Ia tidak butuh dikasihani.

Cleo dan Sofia, adalah dua gambaran wanita tabah dengan situasi kelas berbeda yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Cuaron memang bercerita tentang situasi masa kecilnya, namun film ini membawa penonton merasakan hal yang hampir sebagian besar menimpa keluarga dengan segala permasalahan rumah tangganya. Film yang sekaligus menunjukkan bagaimana suasana batin seorang pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah majikannya.

Saat Cuaron ditanyai oleh Simon Hattenstone, wartawan The Guardian tentang adegan apa yang menurutnya paling menyakitkan di film Roma, Cuoron menjawabnya sangat banyak.

“Tapi yang paling membuat saya sakit adalah adegan tentang gambaran keluarga kelas menegah. Film yang berlatar 1971 ini dan masalah sosialnya semakin memburuk sejak saat itu. Itu sangat menyakitkan bagi saya. Kemarin, kami menerima kabar baik tentang pekerja rumah tangga, yang telah berkampanye untuk jaminan sosial agar dilindungi secara hukum. Para hakim menyatakan itu sangat diskriminatif jika mereka tidak memberi hak-hak itu. Yang sangat menakutkan adalah jumlah komentar rasis tentang ini di twitter. Dan ketika Yalitza ada di sampul Vogue, kamu tidak tahu jumlah komentar rasis tentang itu. Jadi 1971 atau 2018? Masalahnya bahkan lebih akut hari ini.”

Facebook Comments
No more articles