Langit sedang mendung saat memasuki Red Corner Cafe di Jl. Yusuf Dg. Ngawing , Makassar, Kamis , 17 Januari 2019. Ketika memasuki ruangan yang mulai ramai di lantai dua, waktu menunjukkan pukul 15.48 Wita. Saya melihat Aslan Abidin, berpindah dari satu meja ke meja lain, sibuk mengajak berbicara para tamu. Hari itu, jadwal peresmian Institut Sastra Makassar (ISM), sebuah kelas penulisan yang digagas oleh Faisal Oddang, Ibe S. Palogai, Imhe Mawar, dan Aslan Abidin. Akibat cuaca yang terus-menerus diguyur hujan, peresmian yang dalam jadwal awal rencananya akan digelar pukul 14.00 Wita, baru bisa dimulai sekitar pukul 16.00 Wita.

Imhe Mawar memandu jalannya peresmian ISM. Ia mengundang Aslan Abidin, selaku Rektor untuk memberi sambutan, memperkenalkan ISM, dan sekaligus meresmikan ISM. Juga turut jadi pembicara, Eka Besse Wulandari yang merupakan Direktur Katakerja dalam kesempatan tersebut berbagi pengalaman seputar pengalamannya mengelola perpustakaan kreatif Katakerja. Dihadiri lebih dari tiga puluh tamu undangan, peresmian ISM baru berakhir saat menjelang Magrib tiba.

Rencana awal saya, ingin mewawancarai langsung Aslan Abidin di lokasi peresmian, terpaksa harus ditunda. Seusai peresmian, Aslan kembali kembali sibuk berdiskusi dengan para tamu. Saya kemudian menjumpainya untuk melakukan janji mewawancarainya via whatsapp, ia tidak berkeberatan dan berikut hasil wawancaranya.

Sebelum ISM diresmikan, Faisal sempat memposting soal pembicaraan pembentukan ISM dimulai dari diskusi di kolong (dengan Aslan dan Ibe). Bisa diceritakan lebih detailnya, seputaran awal terbentuknya ISM?

Berdasarkan pengalaman daku belajar menulis, mulai dari belajar sendiri di SMA, lalu di Unhas masuk Kosaster, membentuk Masyarakat Sastra Tamalanrea (MST), ikut Koran Kampus Identitas, Komunitas Literasi Makassar, sampai gabung ke Malam Sure’, daku melihat bahwa perkembangan untuk menjadi penulis lewat cara seperti itu lambat. Sehingga daku mengajak Faisal dan Ibe’ untuk membuat lembaga belajar yang lebih intensif.

Seperti apa sebenarnya ISM ini?

Lembaga ini berbentuk institut. Sebuah tempat belajar teori dan praktik menulis dengan tugas akhir pesertanya berupa sebuah karya tulis berwujud buku. Lama belajarnya satu tahun. Semacam D1. Institut ini sebagai tempat belajar untuk terampil mengenai suatu bidang. Hasil akhirnya atau tugas akhir mahasiswanya adalah penciptaan sebuah karya, yang di ISM adalah sebuah buku sastra.

Siapa-siapa saja pengajar atau pengelola ISM? Awal mulanya kan setelah bertemu Ibe’ dan Faisal, selanjutnya menghubungi Imhe Mawar, setelah itu?

Setelah itu mencari tambahan pengelolanya. Kemudian menghubungi Imhe Mawar. Imhe Mawar punya pengalaman bagus mengelola Komunitas Literasi Makassar serta Alfian Dippahatang. Pengajarnya antara lain Alwy Rachman, Aslan Abidin, Faisal Oddang, Aan Mansyur, Hendragunawan S. Thayf, dan Nurhady Sirimorok.

Durasi enam bulan pertama akan berlangsung sekitar lima puluh kali pertemuan. Bagaimana sesi pembagian materi dan bahan bacaan? Saat sesi peresmian ISM, sempat diutarakan bahwa bakal ada banyak buku wajib yang harus dibaca dulu sebelum memasuki kelas perdana. Apakah proses membaca banyak buku itu tidak bakal menyita waktu lama?

Institut ini meyakini bahwa seseorang tak bisa menjadi penulis tanpa memiliki penguasaan bahasa memadai. Untuk itu, peserta diharap memiliki militansi membaca buku yang tinggi. Ada 100 judul buku sastra dunia dan Indonesia yang mesti dibaca sambil mencatat bagian-bagian yang mereka anggap penting, kemudian didiskusikan di kelas. Setelah membaca cukup, barulah kelas akan mulai dengan pengenalan struktur dan isi tulisan. Kemudian dilanjutkan dengan  praktik menulis.

Berarti untuk kelas-kelas awal yang dilakukan adalah membahas buku-buku yang dibaca peserta? Pengenalan struktur, isi tulisan, dan sejenisnya baru akan masuk setelah proses membaca dan berdiskusi bacaan kelar?

Enam bulan akan lebih banyak digunakan untuk membaca dan mendiskusikan bacaan. Setelah itu baru lebih banyak membahas teori dan praktik menulis.

Kelas perdana ISM bakal mulai kapan? Lokasi tepatnya di mana?

Kelas akan dimulai tanggal 27 Januari 2019. Kampusnya di Taeng (Gowa). Sekaligus tempat persiapan untuk menerima peserta dari luar Makassar sehingga dapat tinggal di sana.

ISM sebagai kelas penulisan , apa institut ini termasuk singgungan bagi kampus-kampus sastra di Sulawesi yang tidak terlalu memfokuskan kurikulum untuk penulis?

Ya. Memang belum ada perguruan tinggi untuk penulisan di Indonesia. Institut yang ada seperti Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), hanya jurusan seni drama, film, tari, dan rupa. Belum ada untuk penulisan. Sementara universitas memang tidak mengajarkan keterampilan menulis. Fakultas Sastra dipersiapkan untuk menghasilkan ilmuwan sastra. Bukan penulis karya sastra.

Kita berandai-andai. Seandainya, 3-4 angkatan ISM ke depan, betul-betul membuahkan hasil, apa tidak ada rencana menjadikan ISM ini sebagai satu kampus. Seperti yang disampaikan Faisal saat peresmian ISM kemarin, bahwa di IOWA ada satu prodi yang memang mengkhususkan penulisan (sastra).

Ya. Memang dipersiapkan menjadi sebuah kampus penulisan sastra sebagai institut dengan masa belajar empat tahun sebagaimana umumnya perguruan tinggi. Hanya untuk awal, dijalankan dalam waktu satu tahun. Sebuah jenjang waktu yang sebenarnya sangat singkat untuk benar-benar mempersiapkan seorang penulis.

Mengenai pemantik atau pengajar ISM, bagaimana mengantisipasi kesibukan masing-masing. Faisal Oddang akan ke Jerman, Ibe’ ada kemungkinan lanjut studi di Yogyakarta, Aan dengan jadwal keluar kota yg padat dan Aslan Abidin yang sementara menyelesaikan disertasi S3.

Untuk sementara, melihat kesiapan para pengajarnya, sepertinya belum akan mengalami kesulitan mengenai pertemuan kelasnya. Kalaupun ada, dengan kurikulum yang jelas, penggiliran pengajar bisa saja terjadi tanpa mengurangi kualitas.

Apa yang dibayangkan seorang Aslan dengan adanya ISM tiga hingga enam tahun mendatang? Barangkali termasuk harapan.

Harapannya, ada sekelompok sastrawan muda dengan kualitas tulisan bagus yang bisa eksis di Indonesia atau luar Indonesia. Kelompok itu juga bisa memicu semangat menulis kelompok penulis lain di Makassar untuk menulis lebih baik.

Facebook Comments
No more articles