Bagaimana caranya? “Anak kelas satu saja tahu,” begitu mungkin jawabmu. “Ya dengan mengeja!” Baiklah, tapi apa persisnya itu mengeja? “Begini, kita lihat ada huruf K, lalu ada A, terus M dan U, hasilnya ‘kamu’–begitu seterusnya. Nah, dengan 26 tanda yang ada, dapat kita tuliskan semua kata.” Semua kata? Ya, memang begitu. Dalam semua bahasa pula? Kira-kira begitu.

Hebat sekali, bukan? Dengan 26 tanda sederhana yang terdiri dari beberapa garis saja kita dapat mencatat segala pikiran dan ucapan, baik yang pintar maupun yang konyol, yang baik maupun yang jahat.

Dahulu kala, hal itu tidak begitu gampang bagi orang Mesir kuno dengan tulisan hieroglifnya. Huruf paku juga lebih rumit. Dalam kedua jenis tulisan itu terdapat jumlah tanda yang jauh lebih banyak. Tanda-tanda baru terus dibuat tidak mewakili bunyi huruf tunggal, melainkan paling sedikit satu suku kata.

Kalau kamu tahu sedikit mengenai bahasa Mandarin atau bahasa-bahasa Cina lainnya, tentu lambang suku kata bukan hal yang asing bagimu. Nah, ide bahwa setiap tanda dipakai untuk melambangkan satu bunyi saja dan bahwa kata apa saja dapat disusun dengan hanya 26 tanda tersebut merupakan hal yang sama sekali baru. Pembaruan itu diciptakan oleh orang yang harus menulis banyak. Tidak hanya teks suci dan mazmur, melainkan juga segala macam surat, perjanjian, dan pernyataan.

Orang-orang yang menciptakan cara baru untuk menulis ini adalah para saudagar. Mereka berlayar jauh mengarungi lautan, menukar dan memperjualbelikan barang di banyak negeri. Tempat tinggal mereka tidak jauh dari orang Yahudi. Mereka menghuni kota-kota yang jauh lebih besar dan kuat dibandingkan Yerusalem, yaitu kota pelabuhan Tirus dan Sidon. Hiruk pikuk dan keramaian di kedua kota itu pasti tidak kalah dengan suasana di Babilon.

D segi bahasa dan agama pun mereka serumpun dengan bangsa-bangsa Mesopotamia. Hanya saja orang Fenisia (demikianlah nama penduduk Tirus dan Sidon itu) tidak begitu suka berperang. Mereka lebih gemar menaklukan sesuatu dengan cara lain. Dengan kapal layar mereka menyeberangi  lautan sampai ke pantai-pantai asing. Di sana mereka mendirikan pos-pos dagang. Suku-suku liar yang tinggal di sana membawakan mereka bulu binatang dan batu mulia untuk ditukar dengan perkakas, wadah, dan kain warna-warni.

Orang Fenisia memang terkenal di seantero dunia karena kepandaian mereka di berbagai bidang pertukangan. Mereka ikut serta juga membangun Kenisah Sulaiman di Yerusalem. Diantara aneka jenis barang yang mereka bawa ke berbagai penjuru dunia ada satu yang paling termahsyur dan paling dicari, yaitu kain yang diwarnai, khususnya kain yang dicelup dengan warna merah lembayung.

Beberapa saudagar Fenisia tidak kembali ke kampung halaman; mereka tetap tinggal di perwakilan dagang di pantai-pantai asing itu dan mendirikan kota-kota.  Di mana-mana orang Fenisia disambut baik oleh penduduk setempat, di Afrika, Spanyol, dan Italia bagian selatan, sebab mereka membawa barang-barang yang bagus.

Para perantau itu sendiri tidak merasa lagi terlalu jauh dari kampung halaman, sebab mereka sudah dapat menulis surat kepada teman-teman di Tirus atau di Sidon. Suratnya dibuat dalam temuan mereka yang memesonakan karena serba sederhana, dan tulisan yang sama masih kita pakai sekarang. Benar! Huruf ‘B’ ini misalnya, bentuknya berbeda tipis saja dengan huruf B yang dipakai orang Fenisia 3.000 tahun silam untuk menulis surat dari tempat perantauan di pantai asing ke kampung halaman mereka, ke kota-kota pelabuhan yang ramai dan sibuk itu. Karena kamu sekarang tahu hal itu, tentu kamu tidak akan lupa dengan orang Fenisia.

Ditulis Ernest H. Gombrich pada 1936 dalam bahasa Jerman dengan judul Eine kurze Weltgeschicte fùr junge Leser. Diterjemahkan Elisabeth Soeprapto-Hastrich oleh penerbit Marjin Kiri pada 2015 dengan judul Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda.

Facebook Comments
No more articles