Bagi sebagian orang, berdiskusi adalah aktivitas yang tidak humanis ketika tidak diimbangi dengan finishing (penyelesaian) terhadap objek yang didiskusikan. Universalitas pikiran subjek hanya memahami objek sebagai sesuatu yang ambivalensi, dekat sekaligus jauh darinya dan tentu saja tidak dapat diubah, apalagi jika hanya sebatas oral activism (aktivitas lisan) atau verbalisme.

Aktivitas verbalisme adalah kegiatan yang melingkupi aktivitas produce (produksi) dan receive (menerima) wacana dalam bentuk membaca, mendengar, berdiskusi, ataupun menulis. Aktivitas ini didukung oleh aktivitas aktivisme–aktivitas subjek yang bergerak secara langsung melibatkan fisik dan mental di lapangan dan tanpa basa-basi. “Talk less do more” adalah satir yang cukup jelas mengapa aktivisme lebih baik dari verbalisme. Tetapi “Thinking before acting” tentu saja jadi balasan serupa untuk menjelaskan kelemahan aktivisme. Sialnya aktivitas ini kadangkala saling mengkritik hingga menjatuhkan satu sama lain, meskipun tujuan mereka sama.

Debat calon presiden dan wakil presiden telah ditayangkan dan disaksikan, dirasakan seluruh mata dan hati masyarakat Indonesia, tapi sadarkah kita bahwa berdebat tidak hanya sekadar adu lisan dan gagasan, fakta bersinergi dengan opini, atau mengerdilkan gagasan hingga membenci lawan politik dan simpatisannya. Ada verbalisasi di sana beserta segala bentuk kompleksitasnya. Apapun yang diperdebatkan, kecanggihan bahasa mampu menembus ruang dan waktu, mengajak masa lalu disaksikan masa yang sedang berjalan menuju masa depan, ataupun sebaliknya. Bahasa dapat melakukan apapun untuk diri dan ingatan Anda, sebab sebagai kontrol sosial, melalui kampanye ataupun debat, ia dapat mengubah dua hal yang saling bertentangan menjadi tidak saling bermusuhan, atau mengubah dua hal yang tidak saling bermusuhan menjadi saling bertentangan.

Tahun 2017 di bulan November pada hari Sabtu yang basah, berangkat dari kondisi yang sama, kami berempat merencanakan membentuk sebuah ruang belajar yang diberi nama Epigram. Tak ada alasan riil mengapa kami memilih nama itu, tapi yang pasti setelah nama itu hadir, salah satu dari kami kemudian mengingat puisi Osip Mandelstam, The Stalin Epigram. Kami membayangkan perkumpulan itu seperti Dead Poet Society yang diam-diam mendeklamasikan puisi di gua dan mencintai puisi diam-diam, atau serupa Avengers, dengan bantuan teknologi mutakhir dan kesalahan manusia, terang-terangan menjaga kestabilan dunia poros utama dan kedua dari ancaman dalam dan luar bumi. Tapi, sebisa yang kami lakukan adalah belajar dari keterbatasan dengan menembus batas teritori yang ada.

Mulai hari ini, Sabtu, 19 Januari 2019 Epigram telah bertransformasi menjadi epigram.or.id di ruang maya (cyberspace) dengan identitas artifisialnya dan akan lebih mudah menemui Anda. Ia tak tertutup pada siapapun atau apapun latar belakangmu, maka dari itu silakan berkenalan dengannya (baca: tentang epigram). Kami terbuka dengan apapun, dan tentu saja kami dengan senang hati menerima partisipasi kamerad-kamerad, kirimlah tulisan ke surel kami, redaksiepigram@gmail.com untuk dibawa ke arena pertarungan yang tidak mengharapkan siapapun menjadi pemenang, sebab pemenang tidak berdiri sendirian. Epigram tidak jauh dari Anda.

Redaksi

Facebook Comments
No more articles