“Anak muda jaman sekarang lebih banyak bercita-cita menjadi Youtuber ketimbang menjadi petani,” demikian salah satu penggalan kalimat Cania Citta di salah satu vlog politik yang diasuhnya di Geotimes. Sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga petani, saya mengamini ucapan tersebut, dan sepakat bahwa ada beberapa alasan yang membuat anak muda untuk tidak  menjadi petani.

Sebelumnya, sedikit saya ceritakan tentang diri saya, saya lahir di sebuah kampung kecil di Kabupaten Barru Sulawesi Selatan. Orang tua saya seorang petani, kakek saya juga petani, bahkan saya curiga bahwa nenek moyang saya bukan seorang pelaut, tetapi justru adalah seorang petani.

Saya adalah generasi pertama yang mampu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Saya mendapatkan kesempatan itu di salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar pada tahun 2012-2017.

Meski orang tua saya adalah seorang petani tulen dan kuliah saya dibiayai dari hasil penjualan gabah dan beras, tetapi saya tidak memilih untuk menjadi seorang petani (petani padi). Mengapa? Alasan-alasan itulah yang akan saya uraikan di dalam tulisan ini.

Lahan Pertanian Semakin Berkurang

Salah satu alasan saya untuk tidak menjadi seorang petani, karena petani dan pertanian memiliki banyak persoalan. Sebut saja persoalan lahan. Lahan pertanian semakin sempit dan berkurang. Ia sempit karena adanya pengalihan dari lahan pertanian menjadi pemukiman penduduk. Semakin berkurang sebab, dijual kepada tuan tanah atau borjuasi-borjuasi kampung.

Alasan penjualan lahan pertanian bermacam-macam. Terkadang persoalan uang makan yang sulit, biaya pernikahan anak, biaya pendidikan dan kadang juga karena generasi yang mendapatkan warisan sawah tersebut tidak lagi bekerja sebagai petani dan memilih menjual warisannya.

Kurangnya lahan tentu menjadi masalah yang serius. Contoh sederhana dapat saya temukan di dalam keluarga saya. Sebutlah saya memiliki sekitar 2 hektar sawah. Sebenarnya itu tergolong luas, hanya saja kondisi tanah di kampung saya tidak sesubur tanah di daerah lain, sehingga tanah seluasa itu hanya hanya mampu memeberikan penghasilan yang cukup untuk makan setahun serta membiayai kuliah adik saya di perguruan tinggi.

Lantas bagaiman dengan orang lain yang memiliki tanah lebih sedikit. Dan sungguh banyak orang yang memiliki lahan hanya seperempat dari luas lahan saya, tentu saja lahan tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Jika saya memilih menjadi petani, maka artinya lahan saya kedepan akan dibagi menjadi tiga bagian, satu bagian untuk bapak-ibu saya, kemudian dua bagian untuk saya dan adik saya, itu pun kalau orangtua saya tidak memutuskan untuk menambah momongan. Jadi, penduduk semakin bertambah, sedangkan pembukaan lahan baru tergolong sangat minim karena memang susah membuka lahan baru. Maka, ke depannya, setiap generasi, akan meghadapi persoalan kekuarangan lahan.

Nasib Petani Ada di ujung Tanduk

“Nasib adalah kesunyian masing-masing,” kata Chaeril Anwar. Dan pertanyaan  yang paling mendasar, siapakah hari ini yang benar-benar peduli terhadap petani?

Harga alat pertanian semakin canggih dengan harga selangit, meski mempermuda petani, tetapi persoalannya adalah darimana petani kecil mendapatkan uang membeli alat pertanian tersebut. Sebut saja untuk traktor, petani harus merogok kantong hampir seharga satu sepeda motor. Bedanya adalah motor biasa dicicil, sedangkan traktor tidak.

Alat untuk panen, lebih gila lagi. Ia hampir seharga mobil dua kelas pada umumnya. Petani dengan lahan pas-pasan, mana mungkin bisa membeli alat seperti. Pada akhirnya pemilik modal membeli mobil pemanen tersebut dan mendapatkan keuntungan dengan mengola pertanian warga. Pemilik modal akhirnya semakin untung, petani mendapat kemudahan dengan konsekuensi penghasilan yang juga berkurang.

Harga pupuk, obat-obatan, hingga bibit juga tidak benar-benar memudahkan petani. Ongkos petani bahkan relatif lebih mahal sebab bermunculan iklan obatan-obatan (festisida, herbisidan, fungisida) yang menggoda petani untuk menggunakannya.

Belum lagi saat pulang ke rumah, di tv kita lihat Rizal Ramli bicara soal mafia impor beras yang merugikan petani. Mafia tersebut menari di atas penderitaan petani. Jika berkaca di kampung saya, maka harga jual beras kami biasanya lebih rendah daripada harga yang muncul di tv-tv. Marginnya sekitar seribu hingga dua ribu rupiah untuk perkilogramnya.

Lantas dengan berbagai macam persoalan tersebut, sebesar apa harapan petani untuk menjadi sejahtera?

Persoalan kultural

Jika Anda pernah menyaksikan film Cek Toko Sebelah karya Ernest Prakasa, maka Anda akan menemukan narasi tentang harapan orang Tionghoa kepada anak-anaknya agar mewarisi “tradisi” mereka menjadi seorang pengusaha (dalam film konteksnya adalah toko).

Di lain tempat, kita bisa melihat artis-artis di tv memboyong anaknya di tivi untuk syuting sambil berharap anaknya kelak akan menjadi artis yang terkenal. Para politis kelas atas ramai-ramai menggiring anaknya masuk ke dalam partai dan mencalonkannya menjadi anggota dewan. Harapannya tentu saja agar anak-anaknya melanjutkan karirnya dan menjadi politisi ulung.

Tetapi itu semua sulit ditemukan di dalam keluarga petani. Saya bahkan tidak pernah menemukan seorang keluarga yang berharap agar anaknya mewarisi bakatya menjadi seorang petani ulung. Tidak ada seorang petani yang menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi dengan harapan kelak ia akan kembali menjadi seorang petani. Seolah tak ada kebanggaan apa pun dalam profesi petani. Bahkan seandainya Bapak saya pernah bertemu Soe Hok Gie, saya yakin ia akan mengatakan “Nasib terburuk adalah dilahirkan dan menjadi tua sebagai seorang petani”.

Saat saya sarjana satu tahun lalu, saya mengutarakan niat untuk membantu ayah saya di sawah. Saya melihat muka ibu saya memerah yang menjadi penanda ketidaksetujuan ibu saya terhadap ide saya. Menjadi seorang petani seolah menjadi takdir terakhir saat takdir-takdir lain sudah buntu. Lantas bagaimana saya menjadi petani jika tak ada yang benar-benar mengharapkan hal itu.

Petani vs Pendidikan, di dalam Paradigma Masyarakat

Di kampung saya, pendidikan dan pertanian adalah dua hal yang didikotomikan. Jika anda adalah seorang terdidik (dalam artian mendapatkan pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi) maka tak ada ruang untuk anda menjadi seorang petani. itu adalah ekspektasi hampir seluruh masyarakat di kampung halaman saya.

Kegagalan terbesar anda bukan ketika anda tidak menemukan pasangan hidup, atau jomlo menahun, tetapi jika anda seorang sarjana dan gagal mendapatkan pekerjaan selain menjadi petani.

Coba bayangkan betapa horornya kehidupan saya ketika memilih menjadi seorang petani. Saat sesekali saya turun ke sawah untuk membantu ayah saya menggarap lahan pertanian, suara-suara miring itu sungguh terdengar jelas.

“Sekolah tinggi-tinggi tetapi ujung-ujungnya kembali bertani”  atau “Sudah dibiayai mahal-mahal untuk kuliah, tetapi kembali jadi petani”. Dua pandangan itu sebenarnya tidak benar-benar mengurangi niat saya untuk menjadi petani, tetapi ada narasi lain yang membuat saya sungguh tak ingin menjadi petani. Narasi tersebut adalah “Anak saya cukup saya sekolahkan sampai SMA saja, itu si A, sekolah tinggi-tinggi tetapi ujung-ujungnya jadi petani juga”. Wow, beban moral yang sungguh berat bagi saya.

Terkadang masyarakat mengambil kesimpulan hanya berdasarkan pada satu contoh kasus saja. Hal itu sungguh mengkhawatirkan. Jangan sampai, anak muda- anak muda di kampung saya tidak lagi mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan hanya karena berkaca kepada satu dua orang saja.

Pada akhirnya, saya dan beberapa teman yang memiliki gelar sarjana memilih untuk tidak menjadi petani secara utuh. Ada yang pergi merantau, kembali ke Makassar untuk berjuang dan ada juga yang mengabdi untuk menjadi guru honorer di tempat-tempat yang jauh.

Harapan kami tentu sederhana saja, jika kami didefinisikan gagal, maka janganlah kegagalan kami menjadi penyebab anak-anak di desa kami tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

***

Semua asumsi dan cerita saya tentu hanyalah pengalaman subjektif. Akan tetapi, bukankah kehidupan ini pada dasarnya adalah kumpulan fragmen-fragmen. Tetapi apa pun itu, saya berharap bahwa beberapa alasan untuk tidak menjadi seorang petani bisa dijawab oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai persoalan hidup.

Facebook Comments
No more articles