Terbuat dari apakah kenangan? Demikian pertanyaan Seno Gumira Ajidarma yang dilontarkan  dalam salah satu cerpennya. Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab dengan pasti. Akan tetapi, satu hal yang pasti bahwa setiap kali melintasi Jalan A.P. Pettarani Makassar, terutama di depan Gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar, selalu ada yang menyeruak dari dalam kepala, yakni kenangan-kenangan tentang PK5.

Secara etimologi, mulanya PK5 dialamatkan kepada pedagang-pedagang bergerobak yang berjualan di pinggir jalan. Mungkin karena dahulu kala, gerobak memiliki kaki tiga, kemudian ditambah oleh dua kaki manusia, maka lahirlah istilah pedagang kaki lima (PK5).

Ada banyak pedagang kaki lima di Makassar, tetapi tak ada yang mengalahkan kemahsyuran pedagang kaki lima yang ada di seberang jalan gedung Phinisi Universitas Negeri Makassar. Satu-satunya konteks yang hadir ketika Anda menyebutkan kata “PK5” di Makassar, maka yang dimaksud adalah sekelompok pedagang yang berjejeran di trotoar jalan A.P. Pettarani Makassar.

Jika Anda berlokasi di Makassar, kemudian mengetik di halaman google “PK5”, maka tempat yang akan google tunjukan adalah lokasi PK5 tersebut berada. PK5 bukan hanya sekadar lapakan dagangan yang menjual aneka makanan ringan dan minuman, tetapi PK5 pada akhirnya menjadi pusat pergumulan dan berkumpulnya berbagai macam karakter. Di malam hari, ia menjadi etalase dan oase mahasiswa untuk berbincang, berkumpul, dan berdiskusi.

PK5 pada dasarnya bukanlah tempat mewah, tetapi justru ia menjadi semacam anomali untuk menjawab tuduhan-tuduhan yang menganggap bahwa kini mahasiswa sudah terlalu hedon dan hanya menjadi bagian dari industri tongkrongan seperti kafe, McDonald, Pizza, atau tongkrongan-tongkrongan modern lainnya. Meski pada akhirnya di PK5, mereka menjadi manusia yang konsumtif juga, tetapi di sisi lain PK5 telah menjadi simbol perlawanan terhadap “kemapanan”.

Saya sendiri, masih ingat betul saat tahun 2012, awal mula saya menjadi seorang mahasiswa di Makassar PK5 Sudah begitu tenar. Bahkan, salah satu tempat yang menjadi destinasi saya saat keluyuran bersama dengan kawan-kawan adalah di PK5. Di PK5 bahkan menjadi tempat kami membangun suatu komunitas dari hasil duduk bersama sambil menyeruput kopi.

Banyak agenda-agenda penting terjadi di sana. Mulai dari rapat, konsolidasi, rencana aksi, hingga hal-hal tidak penting dibicarakan di sana. PK5  memang mendukung nalar kita untuk berpikir, sebab aroma knalpot dan debu-debu jalanan menjadi penanda bahwa hidup harus terus diperjuangkan.

Ada banyak golongan di sana, mulai dari orang-orang yang berbendera, hijau, hitam, merah, orange, biru, hingga orang yang tidak berbendera sama sekali menjadikan PK5 tempat untuk berpikir atau hanya sekadar hidup. Siapapun yang pernah ke sana, akan mengatakan bahwa ada banyak kenangan di sana. Tak ayal, jika setiap kali melewati jalan A.P. Pettarani saat ini, selalu ada yang menyeruak di dalam dada, seperti rasa kehilangan.

Semua pada akhirnya menjadi kenangan. Kini bangunan-bangunan tua itu rata dengan tanah. Puing-puingnya berceceran bersama genangan air hujan. Tak ada lagi asa, yang ada hanya kenangan yang berceceran di mana-mana. Mereka dipaksa pemerintah untuk pergi dengan dalih lama, akan direlokasi ke tempat yang baru dan tepat.

Sesungguhnya pemerintah tak benar-benar mengerti. Bangunan PK5 bukan hanya perkara fisik dan tempat menyambung hidup, tetapi di dalamnya ada rajutan kenangan, memori dan cerita dari setiap penghuninya. Akan tetapi, mereka dipaksa untuk mengakhirinya.

Siapa yang peduli akan kenangan kita jika menggusur bisa menghasilkan laba. Pemerintah tentu berhitung bahwa jika mereka menyediakan tempat dan lapak, maka mereka berhak menarik sewa, biaya kebersihan bahkan mungkin nantinya ada semacam jatah preman. Logika pembangunan tak peduli akan memori dan cerita, ia hanya peduli pada kapital.

Sekali lagi, siapa yang peduli terhadap kenangan-kenangan para penjual dan kita-kita yang pernah merasakan manisnya kopi susu orang tua yang dibuat dengan menahan kantuk di malam hari. Siapa yang peduli bahwa di sana kaki kita pernah timbul bintik-bintik merah karena digigit nyamuk saat asik mengobrol tentang perjuangan – perjuangan apa pun.

Tak ada yang benar-benar peduli selain kita yang punya kenangan. To para pengambil kebijakan duduk manis di kursi empuk di dalam kantor mereka. Mereka meeting di tempat yang penuh pendingin hingga nongkrong di kafe-kafe mutakhir. Mereka tak pernah tahu bagaimana rasanya nongkrong di bawah langit dan dihibur suara-suara mobil yang lalu lalang. Mereka bahkan tak peduli bahwa di PK5 ada banyak kenangan.

Sudahlah, mari berhenti meratap dan tetap melanjutkan hidup. Teriakan-teriakan kita di jalan tak pernah benar-benar mereka dengar, apalagi suara hati kita akan kenangan kita tentang PK5. Saya bahkan curiga bahwa di kepala mereka tak pernah benar-benar ada kenangan.

Facebook Comments
No more articles