“Sejak dia mati, dia bukan lagi seorang pelacur”. Kutipan dalam novel Cantik Itu Luka yang merupakan buah tangan Eka Kurniawan yang digadang-gadang akan menggantikan Pramoedya Ananta Toer dalam kesusastraan Indonesia, sejak kepergiannya tahun 2006 silam.

Kutipan tersebut, dikatakan oleh Rosinah, tokoh yang diciptakan Eka dalam novel Cantik Itu Luka. Rosinah mengatakan dengan bahasa isyarat, karena Rosinah seorang yang bisu. Kutipan Rosinah keluar bukan tanpa sebab. Keadaannya, saat Dewi Ayu (seorang pelacur) meninggal dan Kiai Jahro seorang imam masjid mengatakan tak sudi untuk menyalatkan apalagi menguburkannya.

Akhirnya Kiai Jahro memimpin upacara pemakaman Dewi Ayu, berkat Rosinah. Hal tersirat dari kutipan tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia harus berlaku adil dan diperlakukan pula secara adil tanpa memandang status sosialnya. Andai saja, Eka menciptakan Pram sebagai salah satu tokoh dalam novelnya, mungkin akan menimpali Sang Imam dan berkata, “seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan”.

Nah, dari peristiwa tersebut, ada relasi antara bahasa dan identitas, baik itu identitas  diri, (sara) suku agama dan ras, maupun gender. Mengapa demikian? Sebut saja tokoh Kiai Jahro, dengan hanya membaca namanya saja, kita sudah mengetahui identitas diri beliau sebagai pemuka agama. Menurut saya, Rosinah seorang tokoh yang mampu melihat benang relasi tersebut. Rosinah dengan lihai menggunakan kata keadilan untuk membuktikan relasi itu.

Saya menyimpulkan, bahwa kata keadlian merupakan simbol bahasa yang tepat untuk digunakan kepada seorang pemuka agama atau masyarakat yang islami untuk menggugahnya. Karena tidak ada agama yang tak mengajarkan keadilan.

Ulama, bhiksu, pandita, romo, dan pendeta selalu berdakwah untuk harus berlaku adil. Meskipun belakangan ini, beberapa dari mereka sudah tak menyampaikan konten ceramah yang semestinya, malah mengajarkan kita untuk membenci satu sama lain. Semoga populasi seperti ini akan segera lenyap.

Contoh lain datang dari seorang mantan aktivis ’98 yang sekarang duduk sebagai anggota DPR-RI. Ia banyak memberikan kontribusi di masanya, bahkan ketika duduk dalam parlemen ia melakukan terobosan dan kontribusi besar dengan memperjuangkan UU Desa  sampai ditetapkannya. Orang itu bernama Budiman Sudjatmiko.

Saya mendengar dalam salah satu akun di kanal youtube, Budiman mengatakan ketika berhadapan dengan masyarakat yang islami dia menggunakan kata keadilan, kalau yang dihadapi masyarakat liberal dia menggunakan bahasa kesetaraan, dan dalam menghadapi masyarakat feodal dia menggunakan bahasa merakyat. Beliau mempunyai kesamaan berpikir dengan tokoh fiksi yang diciptakan Eka dalam melihat relasi tersebut.

Mengapa keadilan punya relasi kuat dengan masyarakat islami? Menurut Gusdur, keadilan menjadi titik sentral masyarakat islam dalam prinsip, prosedur, dan pelaksanaannya sesuai yang dipaparkan dalam Al-qur’an dan Hadis. Demikian menjadi jelas,  bahwa Islam menghendaki kesejahteraan bagi seluruh anggota masyarakat dan hal itu tidak akan tercapai tanpa keadilan yang terwujud secara konkret.

Sama halnya dengan keadilan, kata kesetaraan dan kata merakyat juga punya relasi yang kuat dengan masyarakat liberal dan feodal. Masyarakat liberal berpandangan bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama. Masyarakat liberal dapat tumbuh dalam sistem demokrasi.

Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, dan kebudayaan. Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi. Bukankah demokrasi menginginkan persamaan hak dan kesetaraan?

Begitu pula dengan kata merakyat, masyarakat feodal sudah tercipta sebelum Portugis pertama kali melakukan ekspansi di Kepulauan Indonesia. Sistem ini dikuasai oleh para tuan tanah atau kaum bangsawan. Rakyat biasa tak lebih dianggap sebagai hewan, hewan-hewan tersebut dijadikan sebagai budak-budak pekerja untuk memenuhi hasrat para tuan tanah.

Bukti tersebut secara jelas menggambarkan bahwa sistem feodal sangat tidak merakyat, malah rakyat-rakyat (budak-budak) itu sangat menderita karena hidupnya tak lain hanya untuk membuat tuan tanah semakin kaya, bahkan mereka lupa cara makan itu seperti apa, yang mereka tahu, tugasnya sebagai manusia untuk bekerja demi kesenangan orang lain.

Begitulah Budiman menggunakan bahasa dengan relasi tersebut, tiada lain untuk menggugah mereka yang memiliki identitas-identitas berbeda dalam rangka membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih positif.

Peristiwa tersebut menggambarkan bahwa bahasa dapat mempengaruhi pikiran dan tindakan manusia berdasarkan identitas masing-masing. Salah satu transformasi bahasa biasanya berbentuk sugesti. Pada tataran sugesti bahasa berfungsi untuk mempengaruhi pendengar secara langsung. Bahasa sugesti bersifat motivatif atau menyetujui segala perintah melalui alam bawah sadar.

Bahasa sugesti sangat identik dengan kata, kalimat, bahkan wacana yang mengandung emotif. Jadi, sangat penting menggunakan wacana-wacana emotif ke arah yang lebih positif dalam kehidupan sehari-hari. Menganggap wacana-wacana emotif sebagai hal remeh temeh merupakan suatu kekeliruan terbesar karena akan menciptakan kegaduhan dalam kehidupan bermasyarakat.

Saya sarankan para elit politik sekarang mampu bersikap seperti Budiman. Kelihaian Budiman melihat relasi bahasa dengan identitas semoga dapat tertular seperti penyakit untuk Indonesia yang lebih baik. Bukan menjadi teror yang menakutkan dan membuat kegaduhan serta doktrin untuk saling membenci. Kalau seperti itu kita akan tercerai-berai.

Facebook Comments
No more articles