Gerakan-gerakan dalam usaha mengubah dunia sering dimulai dengan menulis ulang sejarah, dari sana dimungkinkan orang membayangkan kembali masa depan. Apakah Anda ingin para buruh terus melakukan mogok kerja, kaum perempuan memiliki tubuh mereka sendiri, atau kaum minoritas tertindas menuntut hak-hak politik, langkah pertama adalah untuk memberitahu kembali tentang sejarah mereka.

Sejarah baru akan menjelaskan bahwa “situasi kita saat ini tidak bersifat alamiah atau abadi. Dulu keadaannya berbeda. Hanya satu rangkaian peristiwa kebetulan yang menciptakan dunia yang tidak adil yang kita ketahui sekarang. Jika kita bertindak bijak, kita bisa mengubah dunia, dan menciptakan dunia jauh lebih baik.”

Inilah mengapa kaum Marxist menceritakan sejarah kapitalisme; mengapa kaum feminis mempelajari sejarah terbentuknya masyarakat patriarchal; dan mengapa orang Afro-Amerika memperingati kengerian perdagangan budak. Tujuan mereka bukan untuk mengabadikan masa lalu, melainkan untuk membebaskan diri darinya.

Apa yang berlaku dalam revolusi-revolusi sosial juga berlaku pada level mikro kehidupan sehari-hari. Satu pasangan muda yang membangun rumah baru untuk mereka sendiri mungkin akan meminta arsitek agar membuatkan halaman rumput yang cantik di bagian depan. Mengapa halaman rumput? “Karena halaman rumput memang indah,” mungkin begitu pasangan itu menjelaskan. Namun, mengapa mereka berpikir demikian? Ada sejarah di belakangnya.

Para pemburu-pengumpul di zaman batu tidak menanam rumput di pintu masuk gua. Tidak ada padang rumput yang menyambut tamu ke Akropolis Athena, Capitol Romawi, Kuil Yahudi di Yerussalem, atau Kota terlarang di Beijing. Ide menumbuhkan rumput di jalan masuk ke hunian pribadi dan gedung-gedung publik lahir di kastel-kastel kaum aristokrat Prancis dan Inggris pada akhir abad pertengahan.

Halaman rumput yang terawat membutuhkan lahan dan banyak pekerja, terutama pada hari-hari sebelum mesin pemotong rumput dan penyemprot air otomatis bekerja. Padahal, lahan-lahan rumput itu tidak menghasilkan sesuatu yang bernilai. Anda bahkan tidak bisa mengembala ternak di sana karena mereka akan makan dan merusak rumput. Para petani miskin tak akan sanggup membiarkan lahan berharga sia-sia atau membuang-buang waktu untuk halaman rumput.

Tanah berumput cantik di jalan masuk istana menjadi simbol yang tidak bisa dipalsukan oleh siapa pun. Ia memaklumkan dengan tegas kepada siapa pun yang lewat: “Saya sangat kaya dan kuat, dan saya punya banyak tanah dan budak sehingga saya sanggup membuat pertunjukan hijau yang hebat ini.” Semakin luas dan semakin indah halaman rumput , semakin kuat dinasti itu. Jika Anda datang mengunjungi seorang pangeran dan melihat halaman rumputnya buruk, Anda tahu dia sedang menghadapi kesulitan.[1]

Halaman rumput yang indah sering menjadi tempat untuk perayaan-perayaan penting dan hajatan-hajatan sosial, dan pada waktu lain dibatasi dengan ketat. Sampai hari ini, di banyak istana, gedung-gedung pemerintahan, dan tempat-tempat publik terpampang tanda peringatan tegas kepada semua orang untuk “menjauh dari rumput.

Di Oxford, seluruh halaman terbukanya dibentuk dengan halaman rumput yang menarik, yang di atasnya kita dibolehkan berjalan atau duduk hanya satu hari dalam setahun. Pada hari lain, celakalah mahasiswa miskin yang kakinya yang kakinya menodai halaman rumput itu.

Istana-istana kerjaan dan wisma-wisma pangeran mengubah halaman rumput menjadi simbol otoritas. Ketika raja-raja pada akhir era modern digulingkan dan para pangeran dipenggal kepalanya, presiden dan perdana menteri baru tetap mempertahankan halaman rumputnya. Gedung parlemen, mahkamah agung, dan kediaman presiden serta gedung-gedung publik semakin banyak memproklamirkan kekuasaan mereka dalam barisan demi barisan hamparan hijau yang indah.

Secara simultan, halaman rumput merenggut dunia olahraga. Selama ribuan tahun, manusia bermain di atas hampir semua jenis tanah yang bisa dibayangkan, dari es sampai gurun. Namun, dalam dua abad terakhir, olahraga yang benar-benar penting—seperti sepak bola dan tenis—dimainkan di halaman rumput. Asalkan, tentu saja, Anda punya uang. Di perkampungan miskin Rio de Jenairo, generasi sepak bola masa depan Brasil, menendang bola-bola tiruan di atas pasir dan tanah. Namun, daerah sub-urban an kaya, anak-anak orang kaya bersenang-senang di atas lahan rumput yang dirawat dengan cermat.

Dari sanalah manusia pun mengidentifikasi halaman rumput dengan kekuatan politik, status sosial, dan kekayaan ekonomi. Tak mengherankan bahwa pada abad ke-19 kaum borjuis yang sedang menanjak mengadopsi dengan antusias halaman rumput. Mula-mula hanya para bangkir, pengacara, dan industriawan yang bisa menjangkau kemewahan seperti itu di kediaman-kediaman pribadi mereka. Namun, ketika revolusi industri meluaskan kelas menengah dan menaikkan posisi mesin pemotong rumput dan kemudian menyemprot air otomatis, jutaan keluarga tiba-tiba bisa menjangkau kemewahan halaman rumput di rumah. Di masyarakat sub-urban Amerika, halaman rumput nan indah dan bersih mengubah kemewahan orang kaya menjadi kebutuhan kelas menengah.

Itu terjadi ketika sebuah ritual baru ditambahkan ke dalam liturgy sub-urban. Setelah misa Minggu pagi di gereja, banyak orang dengan penuh pengabdian memotong rumput. Saat menyusuri jalan-jalan, Anda bisa dengan cepat yakin tentang kekayaan dan posisi setiap keluarga dengan melihat ukuran halaman dan kualitas halaman rumputnya.  Tak ada tanda yang lebih tepat menunjukkan bahwa suatu masalah sedang menimpa tetangga dari halaman rumput yang terbengkalai di halaman depan. Rumput pada masa kini adalah panen yang paling luas di Amerika Serikat setelah jagung dan gandum, dan industri halaman rumput (tanaman, pupuk, pemotong, penyemprot, dan juru kebun) menyumbang miliaran dolar setiap tahun.[2]

Halaman rumput tidak hanya menjadi kegilaan Eropa dan Amerika. Bahkan, orang yang belum pernah mengunjungi Lembah Loire melihat Presiden Amerika Serikat menyampaikan pidato di halaman rumput gedung putih, pertandingan-pertandingan penting sepak bola dimainkan di stadion hijau, juga Homer dan Bart Simpson bertengkar soal giliran siapa yang memotong rumput. Orang-orang di seluruh muka bumi mengasosiasikan halaman rumput dengan kekuasaan, uang, dan prestise.

Karena itu, halaman rumput telah menyebar jauh dan luas, dan kini bahkan siap mencaplok jantung dunia muslim. Museum seni Islam yang baru dibangun di Qatar diapit halaman rumput megah, yang jauh lebih mengingatkan orang pada istana Versaille Louis XIV ketimbang Bagdad-nya Harum ar-Rasyid. Museum itu dirancang dan dibangun oleh sebuah perusahaan Amerika dan halaman rumputnya yang lebih dari 10 hektare—di tengah-tengah Gurun Arabia—membutuhkan air bersih dalam jumlah yang mencengangkan setiap hari agar rumput itu tetap hijau. Sementara itu, do daerah sub-urban Doha dan Dubai, keluarga-keluarga kelas menengah membanggakan halaman-halaman rumput mereka. Jika bukan karena jubah-jubah putih dan hijba-hijab hitam mereka, Anda akan lebih muda menyangka itu berada di Midwest ketimbang di Timur Tengah.

Setelah membaca sejarah ringkas halaman rumput ini, ketika Anda siap merencanakan rumah impian masa depan, Anda mungkin berpikir dua kali untuk memiliki hamparan halama rumput di bagian depan. Tentu saja, Anda masih bebas untuk melakukannya. Namun, Anda juga bebasa melepaskan kargo kultural yang diwariskan kepada Anda oleh para pangeran Eropa, dedengkot kapitalis, dan keluarga Simpson, dan kemudian membayangkan untuk diri Anda sendiri sebuah kebun cantik Jepang, atau kreasi yang sama sekali baru. Inilah alasan terbaik untuk belajar Sejarah: bukan untuk meramalkan masa depan, melainkan untuk membebaskan diri Anda dari masa lalu dan membayangkan cita-cita alternatif. Tentu saja ini bukan kebebasan, total – kita bisa menghindarkan diri dibentuk oleh masa lalu. Namun, sedikit kebebasan tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.

Catatan:

  1. Lionel S. Smith dan Mark D.E. Fellowes, “Towards a Lawn without Grass: The Journey of the Imperfect Lawn and Its Analogues”, Studies in the History of Garden dan Designed Landscape 33:3 (2013).
  2. Robert J. Lake, “Social Clas,. Etiquette dan Behaviorial Restraint in British Lawn Tennis”, International Journal of the History of Sport 28:6 (2011).

Disunting dari buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari diterjemahkan oleh Yanto Musthopa, diterbitkan penerbit Alfavet 2018, halaman 69-72.

Facebook Comments
No more articles