An Interview With God, demikian judul film yang muncul di salah satu lini masa media sosial yang diposting seorang kamerad. Membaca judulnya, tidak hanya membuat saya berimajinasi dan bertanya-tanya tentang isi film tersebut, tetapi juga menumbuhkan hasrat saya untuk segera menyaksikannya.

Secara sederhana, ada dua alasan mengapa saya sungguh tertarik dengan hal itu. Pertama, judul yang sangat “marketebel”, kedua, film tersebut dipromosikan (diposting) oleh salah satu kameradku yang saya anggap sangat kritis terhadap seni, buku, dan film.

Singkat cerita, kamerad itu memberikan filmnya. Setelah menyaksikan film tersebut dari awal hingga akhir, saya serasa ingin menggumpat dengan kasar “Sialan, bahkan Tu(h)an pun membela pengkhianat”. Pada akhirnya, saya gagal memberi tafsir film tersebut secara objektif. Yang muncul kemudian adalah imajinasi-imajinasi saya tentang nasib orang-orang yang mengkhianati dan dikhianati dalam sebuah relasi.

Sedikit saya ceritakan tentang “An Interview With God”. Film ini berkisah tentang seorang jurnalis yang sedang naik daun karena hasil liputannya tentang perang Afganistan. Ia akhirnya kembali ke rumah dan mendapatkan cuti.

Di balik kepulangannya ia harus menerima sebuah kenyataan pahit bahwa hidupnya sungguh sedang berantakan. Rumah tangganya sedang diambang kehancuran dan ia tak tak tahu harus melakukan apa. Istrinya berselingkuh dengan lelaki lain. Meski perselingkuhan tersebut sudah berakhir, tetapi istrinya merasa tidak pantas lagi bersama dengan Si Wartawan yang di dalam film dinamakan Paul Asher.

Di tengah kisruh rumah tangganya, tiba-tiba Asher mendapatkan pesan singkat untuk berwawancara dengan Tuhan (di dalam film disebutkan God). Ia medapatkan tiga kali kesempatan untuk berwawancara yang di dalam film digambarkan seperti sebuah wawancara normal; dua orang bertemu di suatu tempat, kemudian terjadilah interaksi yang dinamakan wawancara.

Tema yang mereka bahas sungguh beragam. Ada banyak dialog yang filosofis dan erat kaitannya dengan spiritualitas manusia saat ini termasuk soal kebebasan. Akan tetapi, pada akhirnya, hal yang paling mengecewakan bagi saya muncul: bahwa Tu(h)an pun membela pengkhianat.

God pada dasarnya hadir dan menemui Asher hanya untuk mengatakan bahwa kembalilah kepada istrimu. Perbaiki hubungan kalian, karena itu adalah jalan keselamatanmu.

Lihatlah, betapa Tu(h)an maha pemaaf

Kekecewaan saya pada akhirnya hanya memunculkan satu pertanyaan mendasar, apakah kamerad yang memposting film tersebut berharap untuk kembali menjalin sebuah hubungan dengan seseorang yang pernah mengkhianatinya? Konsep mengkhianati mungkin berbeda di benak setiap orang, tetapi sebutlah bahwa pengkhianatan itu berarti melanggar komitmen yang telah dibangun bersama. Entah itu ditinggalkan, memilih orang lain, atau ditinggalkan untuk memilih orang lain.

Sebenarnya saya tidak menemukan jawaban apa-apa tentang kecurigaan saya terhadap kameradku itu. Tetapi, asumsi saya sederhana saja bahwa seseorang menyukai suatu karya, baik buku, musik, film dan karya seni lainnya karena dua hal. Pertama karena karya tersebut memang berkualitas, dan yang kedua karena karya tersebut ngonteks dengan kehidupannya.

Bagi saya, “An Interview With God” bukanlah karya yang luar biasa. Maka, ada kemungkinan, kamerad saya menyukai film tersebut karena kisah tersebut secara tidak langsung ngonteks dengan kehidupannya.

Pada akhirnya, saya hanya akan mengambil sedikit kesimpulan dari film tersebut. Film tersebut sebenarnya bagus, bagus untuk dua kelompok orang saja. Pertama, mereka yang suka berkhianat: bisa dijadikan alibi untuk mengatakan “Tu(h)an saja maha pemaaf, masa kamu manusia biasa tidak”, sambil berharap kekasihnya kembali ke pelukannya setelah ia khianati berkali-kali. Kedua, untuk kelompok orang yang sering dikhianati. Hal ini bisa menjadi semacam tameng psikologis untuk terus melanjutkan kebodohannya mempertahankan orang-orang yang mengkhianatinya. Ia akan berkata dengan bangganya “Selalu ada jalan pulang untukmu yang aku cintai”. Ah, bahkan Tu(h)an pun membela pengkhianat.

Facebook Comments
No more articles