Pekerjaan merekonstruksi atau membangun ulang bangunan bersejarah yang berserakan dimana-mana tentu saja bukan sesuatu yang mudah. Sang arsitek perlu mempertimbangkan hal sekecil apapun, yang bahkan sama sekali luput di kepala pekerja biasa. Mulai dari mempelajari struktur bangunan secara komprehensif, riset terhadap gejala atau peristiwa alam, hingga mengumpulkan subjek-subjek yang berserakan dimana-mana—sekecil apapun. Selain karena kecintaan atau benar peduli terhadap peristiwa masa lalu, tentu saja sang arsitek akan bertanggungjawab terhadap dua hal logis dari apa yang dikerjakannya; diri sendiri dan orang-orang banyak.

Jika dengan pendekatan fenomenologi persepsi Marleau-Ponty kita dapat menyadari bahwa peristiwa bukanlah kejadian biasa, dan perjumpaan seorang manusia dengan alam adalah suatu peristiwa, sesuatu yang bermakna. Maka seperti yang coba dimaknai ia dayung sampan ke biru hindia/seperti mengajarinya kaidah melarikan diri/sebab di daratan, berkali-kali jejaknya ditafsir peluru buta pemburu. (Solipsistis—halaman 20-21) tidak akan hanya menghadirkan representasi atau tiruan realitas sosial, sebagai fenomena kehadirannya justru mampu menambah realitas sosial.

Dikala rasa heran memicu suatu gejala emosi dan juga kesadaran bahwa mengapa hal tersebut dapat terjadi. Tentu saja semua orang membutuhkan jawaban, namun tak semua pertanyaan mengandung jawaban. Jika jawaban mengapa bangunan tersebut hancur adalah semacam persepsi inti dari korelasi antara struktur material bangunan dan gejala alam yang menyebabkan perubahan struktur secara natural (alami), maka persepsi tersebut adalah kemampuan tubuh subjek untuk merasakan dan mengontemplasikan dirinya berada di dalam tubuh jagat raya.

Sebagai penyair muda yang berkarya dan berkontemplasi di kota Makassar, Ibe S Palogai rentang dengan peristiwa-peristiwa monumental, kontekstual dan ikonik di kota itu. Sejarah panjang Makassar (Ujung Pandang atau Juppandang) lekat dinarasikan oleh orang-orang lokal sebagai bentuk kecintaan terhadap sejarah kampung halaman. Ia kemudian secara tak sengaja bertemu pada dua peristiwa lumrah di kota itu, seperti semacam anomali baginya, tetapi cukup biasa bagi orang lain. Perhatian itu tertuju pada peristiwa perkelahian dua lelaki yang salah satunya tak ragu menarik badik dari pinggannya yang hanya disebabkan oleh hal sepele dan tidak disengaja yakni bersenggolan badan. Apa yang membuat mereka tergila-gila pada darah? Tanyanya. Ia menebak-nebak mengapa hal tersebut dengan mudah terjadi sesaat masyarakat telah berkerumum, ia dikutip lagi kekalahannya ratusan tahun lalu/”biarlah raja yang menyerah dalam sumpahnya/tetapi peperangan ini belum selesai”. (Astana Galesong—halaman 16)

Peristiwa kedua, ketika ia remaja—mendengar perdebatan tentang nasib pemuda Makassar yang hendak melamar kekasihnya yang bersuku Bugis. Kabarnya ia ditolak oleh keluarga perempuan itu. Lantas apa pentingnya mengisahkan nasib sedih atau seseorang? Mengesampingkan kepentingan dan pertanyaan tersebut, hal menarik kemudian muncul adalah beberapa bulan berselang, lelaki lain yang bersuku Makassar tetapi berasal dari daerah Turatea diterima keluarga gadis itu. Sundallang! Apa karena persoalan uang? Atau hal lain, ketampanankah? Kita cukup dapat membayangkan nasib pemuda itu, aku melihat segala hal yang tak tercatat oleh waktu/bila setiap kebahagiaan patah seperti tangkai ketapang/di pantai, apakah dedaunan yang turut itu kausebut gugur/atau hanya penderitaan yang terus kita beri nama. (Ininnawa—halaman 32)  

Membaca ulang peristiwa perang Makassar (1633-1667) kemudian membangunnya dengan narasi baru dari perspektif psiko-sosiologis masyarakatnya melalui medium puisi tentu perkara yang susah-susah gampang. Kecenderungan yang mengakari kata ‘susah-susah’ yang utama ditenggarai bagaimana penyair (arsiteknya) berlaku adil menghadirkan posisinalitas teks sejarah yang seimbang diantara kebekuan konvensi masyarakat dan peristiwa yang sebenarnya serta tak menutup kemungkinan peluang subjek-subjek baru muncul yang sebelumnya tercerai berai. Selain itu, ketersediaan teks-teks lain, sumber-sumber lain atau material lain yang berkualitas mumpuni harus mampu mendukung bangunan tersebut berdiri kokoh.

Lalu yang gampang seperti apa? Mungkin mencari dan menemukan posisi penyair di tengah masyarakat. Mengutip Hasan Aspahani dalam esainya, penyair, sebagaimana anggota masyarakat lain, berada dalam kultur di mana ia hadir. Ia hidup dalam realitas keseharian, menaati atau mencoba membangkang, mungkin mengabaikan, tapi pasti ia dipengaruhi, oleh simbol-simbol lain, termasuk seni, sejarah, dan bahasanya. Penyair tumbuh atas bangunan kepercayaan atau persepsi terhadap teks sejarah adalah hal yang utama, selain tanpa mengesampingkan daya jelajah interteks atau intertekstualitas yang dipahami suatu teks tidak dapat berdiri sendiri, suatu teks disusun dari kutipan atau teks yang lain. Teks diibaratkan sebagai struktur bangunan, sedangkan teks lain atau sumber lain diidentifikasi sebagai material atau unsur pembangun teks. Atau bisa saja dipersepsikan teks sebagai bangunan sejarah dan teks lain atau sumber lain diasosiasikan sebagai fondasi atas pikiran atau strukutur yang mapan sebagai medan makna dari bangunan tersebut.

Perang pertama dan kedua masing-masing bergejolak pada tahun 1633 dan 1954 yang diawali oleh perilaku Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC) yang berusaha menghalang-halangi pedagang yang masuk maupun keluar pelabuhan Makassar. Pertempuran ketiga (1966-1967) dalam bentuk perang besar yang kemudian ditandai dengan perjanjian Bungaya oleh kerajaan Gowa dan VOC yang bersekutu dengan kerajaan Bone. Tragedi dari perang tersebut menyisakan berbagai macam kerugian, materi dan metafisik yang akhirnya membentuk pola perilaku sosial masyarakat Bugis dan Makassar sebagai gejala sosial di mana ia bermukim.

Konstruksi itu kemudian dilihat penyair Ibe S Palogai sebagai puing-puing bangunan sejarah yang hancur dan terpisah-pisah dari kerangka intinya yang kemudian ditumbuhi tumbuhan merambat sekaligus menjulang yang dapat mencekik leher siapa saja. Atau semacam titah yang harus dijalani seolah hal tersebut berada diluar kendali manusia tanpa perlu mempertanyakannya secara kritis. Monumen tersebut tidak secara alamiah hadir begitu saja, tumbuh  dan berkembang, tetapi melalui kumpulan puisi Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi (GPU,2018) ia beranggapan gejala tersebut timbul sebagai akibat dari perang, penghujung perang mengantar kita bersisian di sungai ini/milikmu rimbun pohon-pohon dan aku tanah yang hijau/aliran ini memisah kau dan aku, juga kita dan gelombang laut/lalu jejak dayung dan lintasan angin. (Penghujung Perang—halaman 58) sajak itu mengasosiasikan perbedaan jalan antara yang menang dan yang kalah. Namun imaji yang kemudian hadir dari penghujung perang mengantar kita bersisian di sungai ini menyalin sebuah usaha merekonstruksi kembali hubungan /kita/ yang sebenarnya sama-sama kalah di hadapan dendam, kebencian dan ketakutan. Selain sebab dehumanisasi bangsa kolonial.

Perbedaan klaim dan persepsi kebencian yang dibangun antara para keturunan kerajaan Bone dan Gowa bisa dikatakan penentu babak akhir perang tersebut. Masing-masing sisi mewariskan dendam dan kebencian dengan cita rasa yang berbeda-beda, ada motif yang ditanamkan maka pada simpang jalan itu kita jumpai gadis penenun/menjalin helai-helai luka menjadi sutera, sebab budak luhur Bone/membangun kanal sempanjang Binanga Beru hingga Ujung Tanah/mereka butuh penyalut malu dari taklukan masa lalu. (I Massia—halaman 38) hal tersebut mengacu pada fragmen peristiwa Tumabbicara butta Kerajaan Gowa, Karaeng Karunrung yang meminta para bangsawan Bone turut serta bersama puluhan ribu budak yang berasal dari Bone dan Soppeng untuk menggali parit sepanjang Barombong hingga Ujung Tanah. Hal tersebut membuat raja Bone saat itu, Arung Palakka dan rakyatnya merasa dipermalukan, perang menyala pada hitam matamu/tak padam meski seluruh air mata aku tawarkan/sebab kemenangan itu maya, mendiami derita lawan/tapi luka siapa yang bersualang di tubuh ini? (Nawa—halaman 25)

Di sisi yang lain, keturunan-keturunan yang hendak melupakannya dan tak ingin terlibat memilih merantau ke suatu tempat yang jauh, membawa ingatan dan dendam serta kerabat dan sanak keluarga untuk memulai hidup yang baru. Peristiwa tersebut dianggap sebagai periode perantauan pasca perang yang dianggap sebagai salah satu alasan pudarnya identitas kultural seseorang. Kondisi tersebut mengharuskan para perantau menanggalkan atribut kebangsawanannya untuk dapat diterima dan bertahan hidup di kota perantauannya, aku hidup dalam pikiranku dan pikiran lain tentangku/dari orang yang percaya bahwa untuk terus bertahan,/aku harus menemukan kebahagiaan yang tersesat/di pita pikiran seseorang yang mati dalam pikiranku. (Menyudahi Kebahagiaan—halaman 56-57)  tidak mengherankan—hampir di seluruh pulau di Indonesia hingga semenanjung Malaysia, dan negara tetangga terdapat orang-orang yang berasal dari suku Bugis atau Makassar sebagai penduduk tetapnya.

Beban kekalahan yang ditanggung oleh pihak yang kalah tumbuh liar. Namun Ibe S Palogai menanamkannya tidak sebagai bentuk penyerahan diri atas kekalahan, seolah sebagai sandera atau rampasan perang, apa yang bisa ditepati dari kekalahan? kuketuk pintu dan aku menjadi tamu/seragam ini, karaeng, seragam ini/di tubuhku berlindung seluruh darah/tempat Tunipallanga berlayar/di atas perahu musuh yang karam. (Konkuisnador—halaman 36-37)  hingga menemui andagium bagaimana menyikapi kekalahan. Repetisi yang cukup apik dan dinamis dari ..seragam ini, karaeng, seragam ini.. sebagai simbol atribut pengkultusan harga diri sekaligus metafora kekalahan terhadap kesetiaan kurayakan kekalahan ini/dengan kembali merebut rumah, biarlah mayatku di kelak lain/menyerah sendirian.. yang bersaksi di hadapan laut dan darat.

Dari sudut lain yang cukup menarik untuk disimak adalah kepengarangan. Puisi diciptakan oleh penyairnya dengan menyadari adanya dunia yang banal, yang tidak jelas, dan atau mapan secara konstekstual sebagai subjek di tengah kubangan peristiwa sejarah yang sarat akan politisasi. Seorang penyair hadir diantara atau bahkan melampauinya. Dunia sebenarnya tidak menawarkan konsepsi yang baru, tetapi kesadaran subjek yang selalu melewatkan banyak hal di dunia ini, dan saat subjek itu menyadarinya, seolah-olah itu adalah hal yang baru. Ini kemudian yang terjadi dan berlaku pada puisi-puisi Ibe S Palogai dan dirinya sendiri, bagaimana seorang penyair menuliskan ulang peristiwa lampau dengan konsepsi kesadarannya. Tetapi selain pertanyaan bagaimana, tantangan terbesar hadir dari usahanya menghadirkan narasi baru terhadap peristiwa perang Makassar adalah keberpihakan atau posisinalitas teks terhadap subjek-subjek yang berperang.

Apakah kita terlahir dari riwayat keturunan-keturuan yang kalah? pada angka-angka kau dan aku diam berselamat jalan/petiklah perpisahan dari titik rebah matahari/tapi aku hanya mampu menyusun riwayat kepedihan. (Selamat Jalan—halaman 88-89)

Data Buku:

Judul buku      : Cuaca Buruk Sebuah Buku Puisi

Penulis             : Ibe S Palogai

Cetakan           : Pertama, Maret 2018

Tebal               : 92 Halaman; 20 cm

ISBN               : 9786020384061

Facebook Comments
No more articles