Konon, asal mula segala kejahatan di dunia terkurung di dalam suatu kotak. Pandora adalah seseorang yang pertama kali membuka kotak itu. Segala jenis kejahatan kemudian terbang mengintari bumi kecuali satu hal yaitu kejahatan yang bernama elpis. Kejahatan ini terlalu lemah, sehingga tidak mampu menyelinap keluar sebelum Zeus memerintahkan Pandoran menutup kembali kota itu.

Manusia-manusia yang tidak benar-benar tahu, kemudian berpikir bahwa kotak itu adalah kota keberuntungan. Maka, berlomba-lombalah mereka untuk mendapatkan kotak itu. Melihat situasi tersebut, Zeus kemudian memerintahkan Pandora untuk membuka kotak itu. Selepas kotak itu dibuka, dengan segenap kekuatan, elpis terbang dan bertengger di setiap jiwa manusia. Elpis inilah yang kemudian kita kenal dengan nama “harapan”.

Nietzsche kemudian dengan penuh perenungan mengatakan “sesungguhnya harapan adalah kejahatan yang paling berbahaya, karena ia memperpanjang derita manusia”. Harapan adalah keinginan sebelum kenyataan itu hadir.

Lantas bagaimana harapan memperpanjang derita manusia? Mari kita renungkan kembali apa yang terjadi dengan Purnomo, seorang pemuda dalam sinetron Tukang Ojek Pengkolan, ia ditinggal nikah karena kekasihnya dijodohkan. Purnomo tak kuasa menahan kekasihnya, hingga mereka akhirnya harus bertemu untuk terakhir kalinya sebelum saling melepaskan.

Purnomo dengan segenap kemanusiaannya berucap, “aku harus melihat kamu bahagia, meski pun kamu bahagianya sama orang lain, bukan sama aku. Tapi, satu hal yang harus kau tahu, di sini ada hati yang selalu dengan tulus menyayangi kamu.”

Ah, Purnomo, kamu mewakili seluruh manusia yang bersedih karena ditinggalkan, karena gagal memenuhi harapan, dan yang paling penting adalah kalah karena persoalan sosial ekonomi.

Meski berusaha tegar menghadapi perpisahan dan segala macam kesedihannya, sebenarnya ia begitu terpukul. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan yang paling genting, hatinya terluka.

Ia meratap. Ia meratapi kesedihan yang bersemayam di dalam hatinya. Harapan untuk memiliki kekasihnya dalam ikatan pernikahan pupus dihantam perjodohan. Lantas apa yang dilakukan Purnomo?

Dalam keadaan melankolis, Purnomo kembali ke kampung halaman. Ia berusaha berlibur sambil menghibur diri. Akan tetapi, cinta tetaplah cinta, meski ia dibalut kesedihan.

Setelah beberapa hari meratapi nasib, Purnomo kembali ke rutinitas semula__bekerja sebagai tukang ojek. Purnomo mungkin tak pernah mendengar kisah tentang kotak Pandora. Bahkan Purnomo mungkin tak pernah berpikir bahwa ada seseorang pernah hidup di dunia ini yang bernama Nietzsche dengan kata-kata ajaib, “harapan hanya memperpanjang derita manusia”, tetapi Purnomo tahu persis hal itu.

Ia berhenti berharap dengan kekasihnya yang telah dijodohkan dengan lelaki lain. Ia mulai menyusun kembali kepingan hatinya yang hancur. Ia jatuh cinta dengan penghuni baru kost-kostsan tempat kekasihnya dulu juga ngekost.

Jatuh hatinya Purnomo kepada perempuan lain setelah dilukai seluka-lukanya oleh kekasihnya mengajarkan kita bahwa Purnomo adalah manusia yang sesungguhnya. Manusia yang tak pupus meratapi kesedihan, tetapi justru bangkit dengan menemukan hati yang baru.

Yah, harapan sepertinya memang hanya memperpanjang derita manusia. Maka, sesuatu yang semestinya tak bisa lagi diharapkan, maka sebaiknya tidak diharapkan lagi. Sama persis apa yang dilakukan Purnomo dengan melupakan kekasihnya dan jatuh hati dengan perempuan lain. Sifat yang sungguh manusiawi dan semanusia-manusianya manusia.

Saya yang saat ini sedang “patah hati” meratapi kegagalan memperjuangkan masa. Saya juga berharap bisa setegar dan semanusiawi Purnomo. Saya gagal dalam perburuan beasiswa. Saya meratap. Tetapi saya sedang berusaha menemukan masa depan yang lain, karena seperti kata Nietzsche, harapan sesungguhnya kejahatan yang paling berbahaya, ia memperpanjang derita manusia. Daeng Purnomo dan Puang Nietzsche, mohon semangati aku!

Facebook Comments
No more articles