Akhir-akhir ini, saya menemukan beberapa fragmen menarik tentang surat, dimulai dari tulisan jurnalistik Gabriel Garcia Marquez berjudul Pak Pos Membunyikan Bel Seribu Kali. Gabo—sebutan akrab Gabriel Garcia Marquez—menulis tentang kuburan surat-surat yang tidak berhasil menemui tuannya. Gabo melaporkan bahwa setiap tahunnya, di Kolombia, ada ribuan surat yang tidak bisa tersampaikan ke orang yang seharusnya dituju, entah karena berpindah tempat, alamat tidak diketahui, alamat fiktif, hingga berbagai musabab lainnya.

Pos Kolombia sebagai penanggung jawab atas surat-surat tersebut mengaku bahwa mereka sudah melakukan segala upaya dan daya, tetapi tetap gagal. Mereka telah menelusuri jalan demi jalan, lorong demi lorong, kota demi kota, demi mendapatkan nama dan alamat sebagaimana yang tertera di sampul surat, tetapi pada akhirnya, hasilnya nihil.

Tidak hanya sampai di tahap itu, terkadang datang masa yang sungguh tidak bersahabat, setelah Pak Pos mengetuk pintu dan membunyikan bel ribuan kali,  ada kalanya Pak Pos benar-benar mengalami kesialan. Saat mereka hendak mengembalikan ke pengirimnya, tiba-tiba pemiliknya juga menjadi tiada: entah karena pindah rumah, meninggal atau memang sengaja menghilang. Satu-satunya jalan, setelah melakukan pencarian sekian lama, mereka mengubur surat-surat tersebut di sebuah rumah tua.

Baca Juga: K-Pop dan Sesak Napas Gerakan Mahasiswa

Surat-surat yang berakhir di rumah tua pada akhirnya harus bernasib ironi, kata-kata yang digoreskan dengan lembut dan lirih, kemudian hanya menguap ke udara—tidak tersampaikan. Padahal, mungkin saja di dalamnya ada pesan yang harus segera tersampaikan: mungkin  pesan cinta atau barangkali pesan kematian. Ya, demikianlah bagaimana kisah tentang surat-surat yang kemudian kehilangan arah dan tujuan.

*

Selepas membaca tulisan tersebut, secara sengaja, saya menyaksikan film rekomendasi seorang kawan yang juga mengusung konsep surat di dalam ceritanya, The Last Letter From Your Lover (2021). Kisahnya romantis, dan tentu saja sebagaimana kisah-kisah cinta pada umumnya selalu ada titik nadir di dalam cerita.

Baca Juga: Orang-orang Oetimu dan Keganjilannya

Dikisahkan bahwa seorang perempuan, Jennifer Stirling, hidup dalam kemewahan bersama dengan suaminya—seorang pengusaha yang kaya raya. Suatu hari, Anthony O’Hare, seorang jurnalis di bidang ekonomi datang untuk mewawancarai Laurence Stirling—suami Jennifer. Karena Laurence begitu sibuk, Jennifer lebih banyak mengambil alih pelayanan kepada jurnalis, O’Hare. Mudah ditebak, bahwa pada momen-momen kebersamaan mereka, tumbuh cinta yang menggebu-gebu.

Menampilkan setting 1965-an, film ini menjadikan surat sebagai salah satu sisi terpenting dari film ini. O’Hare mulai menulis surat kepada Jennifer, sementara Jennifer dengan muka semekar mawar membalas surat-surat tersebut. Perasaan  mereka diutarakan dengan cara berbalas surat.

Namun pada akhirnya kegamangan muncul di antara mereka, O’Hare percaya bahwa apa yang terjadi di antara mereka sungguh adalah cinta, sementara Jennifer merasa bahwa apa yang mereka lakukan adalah hal salah. Melalui sepucuk surat, O’Hare membujuk Jennifer agar ikut bersamanya ke Amerika, tetapi Jenifer menolak. O’Hare memberi Jennifer pilihan yang sulit: “jika kau meyakini bahwa perasaanmu padaku sungguh adalah cinta, maka tinggalkan semuanya, ikutlah denganku, aku menunggumu di stasiun malam nanti.

Meski awalnya kukuh dengan pilihannya untuk setia kepada suaminya, tetapi di detik-detik terakhir, saat Jennifer merenungi semuanya, tiba-tiba Jennifer berubah pikiran. Ia hendak ikut dengan O’Hare. Tetapi sayang, semua sudah terlambat, O’Hare sedang perjalanan ke stasiun meninggalkan Jennifer. Dengan segenap tenaga dan daya, Jennifer mencoba mengejar dengan waktu yang begitu kikuk dan rumit. Di bawah langit kota London murung karena hujan deras, saat perjalanan menuju stasiun, Jennifer kecelakaan yang berujung pada hilang ingatan.

Di sisi lain, sang suami yang sudah tahu semua kisah yang ada, kemudian mulai membentengi istrinya. Ia mengarang cerita bahwa lelaki yang terlibat insiden saat kecelakaan adalah O’Hare, dan ia telah meninggal. Tetapi tabir kebenaran selalu muncul di waktu-waktu yang tidak tepat. Saat semua sudah normal seperti sebelum mengenal O’Hare, tiba-tiba Jennifer menemukan sepucuk surat dalam lembaran buku yang ia temukan di rak bukunya. Saat itu, ia kemudian merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ternyata, selama ini O’Hare masih hidup dan selalu menuliskan surat untuk Jennifer, tetapi surat-surat itu disembunyikan oleh suaminya.

Di sisi lain, O’Hare juga mulai merasakan frustasi, ia merasa bahwa Jennifer telah benar-benar memilih suaminya dan ia harus menghargai keputusan itu.

Hingga suatu hari O’Hare dan Jennifer dipertemukan kembali, meski perasaan mereka masih tetap saling mencintai, tetapi semua seolah sudah berbeda. Tetapi sebagaimana lazimnya sebuah hidup, ada banyak hal di luar kendali manusia. O’Hare tiba-tiba kembali mengajak Jennifer menyatukan cinta.  Lagi-lagi Jennifer ragu. O’Hare sangat kecewa. Saat Jenifer kembali mencoba untuk mengejar O’Hare, apa daya, O’hare telah pergi entah ke mana dan tidak meninggalkan jejak sedikit pun.

Di masa senjakala mereka, saat mereka sudah mengubur kisah itu dalam-dalam, seorang jurnalis perempuan penasaran dengan surat-surat tersebut. Ia memutuskan untuk menelusuri arsip-arsip surat tersebut. Kemudian terungkaplah fakta bahwa, saat mereka berpisah, sebenarnya keduanya masih saling mencintai—tetapi tidak saling tahu. O’Hare yang kecewa tidak menampakkan diri lagi di media mana pun, sementara Jennifer juga merasa bahwa O’Hare dengan sengaja meninggalkannya.

*

Fragmen ketiga adalah kisah dari negeri kita sendiri, yaitu kisah tentang surat untuk pemimpin tercinta, Presiden Republik Indonesia. Meski tidak lagi dimasukkan dalam amplop dan menggunakan materai enam ribu, tetapi kita masih menyepakati bahwa itu adalah surat. Semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, sudah puluhan orang menulis surat untuk Presiden Jokowi.

Baca juga: Tiba Sebelum Berangkat: Menerka Alasan Batari Meninggalkan Mapata

Terbaru ada dua surat yaitu mereka yang mengatasnamakam diri sebagai Asosisiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) menulis surat untuk Jokowi. Isinya perihal duka mereka sebagai pemain sepak bola yang kini seperti mati suri selama pandemi. Tak ada kompetisi, tak ada liga, semua pemain kemudian menganggur. Sumber penghasilan mereka sebagai atlet kemudian hilang. Banyak dari mereka kemudian banting setir membuat warung, merambah YouTuber, hingga menjadi kuli bangunan. Secara sederhana APPI meminta agar pemerintah bisa menggulirkan kompetisi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Selain itu, ada lagi pekerja idustri film yang juga seorang aktor kenamaan, Didi Riady. Ia juga menuliskan surat terbuka kepada Presiden untuk segera menghentikan PPKM Darurat. Menurut Didi, PPKM Darurat hanya menyengsarakan rakyat, membatasi mereka untuk mencari nafkah, mengurung mereka di rumah, tetapi pemerintah tidak hadir untuk mereka yang kesulitan karena PPKM. Bansos yang peruntukannya sebulan hanya cukup untuk seminggu. Bagaimana mereka bisa waras dengan keadaan seperti itu?

*

Lantas bagaimana nasib surat-surat itu?

Gabo dengan jelas mengatakan bahwa Pak Pos sudah menekan bel seribu kali, tetapi apa daya, mereka tidak menemukan orang-orang yang seharusnya menerima surat tersebut. Sementara itu, dalam kasus film The Last Letter Form Your Lover, sangat jelas bahwa mereka harus menunda kebersamaan mereka hingga di hari tua karena seseorang telah menyembunyikan surat-surat untuk Jennifer. Itulah musabab mereka kemudian kehilangan kontak untuk saling berkomunikasi.

Sementara itu, di Indonesia surat-surat yang dituliskan oleh rakyat kepada pemimpinnya, sungguh mengalami nasib yang begitu tragis. Mereka tahu, bahkan semua orang tahu kepada siapa surat itu ditujukan, mereka tahu di mana alamat presiden berada, mereka tahu bahwa sesekali presiden masih sempat update status tentang pertumbuhan ekonomi, meminta anak muda jadi petani, dan mendorong orang-orang bertani porang (bote), tetapi surat-surat mereka tidak digubris. Jangankan dibaca, dilirik pun mungkin tidak.

Kini toa masjid-masjid sudah menyampaikan pengumuman duka sudah seperti minum obat,—tiga kali sehari—angka kasus positif meningkat drastis, angka kematian semakin tinggi, dan semakin sulit untuk menjaga periuk panci untuk tetap mengepul. Tetapi lihat apa yang dilakukan oleh pemimpin dan elit politik kita, mereka sibuk dengan urusan warna cat pesawat, mereka sibuk konferensi pers tentang pertumbuhan ekonomi, bahkan ada juga yang mengelontorkan jutaan uang hanya untuk menghasilkan polusi visual berupa baliho-baliho perkenalan diri.

Sungguh semua ini serasa di luar nalar. Seharusnya jika mereka memang tidak kompeten menangani pandemi, setidaknya jangan perlihatkan ketidak-empati-an kalian. Please, bersedihlah bersama kami, meski itu hanya pura-pura. []

BACA JUGA Artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles