I: Minke: Titik Pertemuan Dua Budaya

Tokoh utama dalam tertralogi Bumi Manusia adalah Minke. Tokoh rekaan Pramoedya untuk mengungkapkan kesengsaraan rakyat pribumi dan citra pemberontak terhadap kekuasaan kolonial, warisan budaya yang menjadi hambatan, dan gerakan nasionalisme di Tanah Air. Minke adalah seorang pribumi asli yang lahir dari keluarga priayi yang mendapat pendidikan Eropa di HBS [1] Surabaya [2].

Sebagai anak seorang bupati menurut undang-undang Belanda, Minke memperoleh kesempatan belajar di HBS. Menurut adat, dapat dipastikan, Minke adalah calon bupati, karena jabatan bupati diterima turun-temurun. Keadaan seperti ini, menempatkan Minke pada kedudukan yang dihormati, baik di kalangan masyarakat Jawa, maupun pemerintah kolonial Belanda. Melalui pendidikan dan pergaulan dengan orang-orang yang berpandangan liberal dan rasional, Minke pun berubah menjadi orang yang menyadari keadaan bangsanya dan berusaha mengatasi masalah-masalah yang bersumber dari tradisi budaya.

Dalam struktur masyarakat Jawa pada abad ke-19, keadaan Minke dapat diterima karena kedudukan bupati pada mulanya memang digunakan pemerintah kolonial Belanda, berdasarkan kenyataan bahwa bupati dipandang sebagai pemimpin aristokrasi yang disahkan dan diperlukan rakyat. Oleh karena itu bupati “dimanfaatkan” oleh pihak Belanda. Maka, Minke menolak mentah-mentah untuk dianggap sebagai calon bupati yang akan menggantikan kedudukan ayahnya kelak.

Bagaimanapun, “untuk memahami tokoh Minke secara menyeluruh, tidaklah cukup jika membandingkannya dengan tokoh R.M. Tirto Adhisoerjo. Perbandingan itu harus dilengkapi pula, setidak-tidaknya, dengan tokoh sejarah lain, yaitu Pramoedya Ananta Toer sendiri. Ketiga tokoh itu membentuk segitiga yang dinamik dan terkait secara sosial-historis. Ketiganya memiliki sejumlah kemiripan: orang Jawa yang lahir di Blora, hidup berkarir di Betawi, bersikap tegar, pemberani, nasionalis, pembela rakyat kecil, berkali-kali dihukum oleh penguasa, penulis produktif, dan lain-lain”[3].

Minke dapat dikatakan sebagai tokoh utama yang kontradiktif. Latar belakang keturunan Jawa tradisional sebenarnya mempunyai sifat-sifat khas yang bertentangan dengan latar belakang pendidikan Eropa yang liberal. Maka, Minke adalah pribadi yang berdiri pada titik pertemuan dua latar belakang kebudayaan yang berkonfrontasi itu. Di antara kedua latar belakang budaya tersebut, Minke sendiri merasa risau. Tetapi Minke didorong ke jalan yang tepat dengan pertolongan beberapa orang yang bersikap liberal dan rasional. Di antaranya, pada awal perkembangan novel itu, Nyai Ontosoroh dapat dikatakan adalah orang yang paling mempengaruhi Minke supaya menjadi insan yang bersikap lebih terbuka. Dengan kata lain, Minke membuka mata terhadap kepentingan ilmu pengetahuan Barat melalui percakapan dengan si Nyai. Maka, Nyai Ontosoroh merupakan katalisator untuk menyadarkan apa yang diperlukan Minke. Dengan demikian, pertemuan antara Minke dengan Nyai Ontosoroh amatlah bermakna dalam novel ini. Keith Foulcher menguraikan pertemuan ini sebagai yang berikut:

His contact with Nyai Ontosoroh and her environment confirms his admiration for the modern world, and seeds of significant change for Java. At their first meeting, he responds approvingly to details like Nyai’s unaffected dress, and the absence of “feodal” behaviour in her servants [4].

(Hubungannya dengan Nyai Ontosoroh dan lingkungannya menegaskan kekagumannya pada dunia modern, dan bibit dari perubahan yang berarti untuk masyarakat Jawa. Pada pertemuan pertama mereka, ia merespon dengan baik pada detail-detail tertentu yang ada, seperti baju Nyai yang tak berpengaruh, dan tidak adanya perilaku “feodal” dalam diri pelayan-pelayannya*)

Jiwa Minke sangat tersiksa ketika ia hendak melepaskan diri dari adat bangsanya. Dalam pada itu, ibu kandungnya selalu berusaha mengingatkan supaya tidak lupa kepada adat istiadat nenek moyang serta keyakinan diri sebagai keturunan priayi yang terhormat. Desakan seperti ini membuat Minke berhadapan dengan konflik, karena pendidikan sistem Barat terlah menyadarkannya bahwa ada tradisi budaya bangsanya yang menjadi halangan bagi kemajuan. Kenyataan ini menunjukkan konflik Minke yang berada di persimpangan antara sosok jati diri yang berdarah daging Jawa dan cita-cita tinggi yang berorientasikan ilmu pengetahuan Barat. Namun, Minke terus berusaha untuk menegakkan jati dirinya sebagai orang Jawa.

Dalam tetralogi Bumi Manusia, Minke digambarkan sebagai perintis pergerakan nasional di Idonesia. Pengarangnya coba membuat penafsiran baru tentang sejarah nasional Indonesia. Selama ini, Budi Utomo (1908) dianggap sebagai organisasi pribumi yang modern dan pertama serta yang bersemangat nasional. Tetapi, dalam karya ini Syarikat Priayi (1906) dianggap sebagai organisasi modern pribumi pertama. Dalam karya Pramoedya itu, Budi Utomo diceritakan sebagai kesinambungan kekuasaan pemerintah kolonial yang lebih banyak menguntungkan kepentingan penjajah daripada kepentingan kaum pribumi yang terjajah. Pramoedya tidak setuju pada pandangan bahwa kesadaran nasional dimulai oleh para calon priayi dan priayi. Penyebabnya adalah karena mereka lebih banyak berperanan sebagai perantaraan golongan menengah bagi tujuan melindungi kepentingan mereka[5].

Sebenarnya ruang lingkup aktivitas Budi Utomo terbatas pada gerakan kultural; itu pun terbatas bagi orang Jawa dan Madura. Jadi, organisasi ini didirikan tanpa desakan politis yang praktis, seperti menuntut kemerdekaan atau mempersoalkan keabsahan kolonialisme misalnya. Bahasa pengantar yang digunakan Budi Utomo juga bahasa Jawa dan Belanda. Sebaliknya Syarikat Priayi dan Syarikat Dagang Islam (1909) yang sama-sama dirintis oleh tokoh Minke adalah organisasi modern pribumi yang bercorak nasional. Dari segi wawasan dan semangat, Syariat Priayi lebih maju daripada Budi Utomo.

Syarikat Priayi menggunakan bahasa Melayu (induk bahasa Indonesia sekarang), dan keanggotaannya tidak terbatas pada suku Jawa dan Madura saja [6]. Kenyataan ini membuktikan Minke digambarkan sebagai perintis pergerakan nasional yang memihak rakyat pribumi.

II: Nyai Ontosoroh: Bangkit karena Ditindas

Tertralogi Bumi Manusia membuka era baru kebudayaan Indonesia modern yang menempatkan manusia baru yang sadar akan identitasnya sebagai manusia Indonesia di tengah bumi Indonesia dewasa ini. Bukan suatu kebetulan jika Pramoedya menampilkan wanita di dalam karya-karyanya sebagai pembentuk tokoh yang dapat menjawab tantangan nasional pada zamannya. Biarpun tokoh wanita yang dihadirkan Pramoedya bersifat legendaris, sasaran utamanya adalah seruan pada kaum wanita untuk menyadari bahwa bunga-bunga nasionalis bangsa itu berada di tangan mereka.

Nyai Ontosoroh (Nyai) digambarkan sebagai seorang wanita yang mendapat pendidikan yang baik, sehingga dia tidak lagi menjadi wanita yang hina, tetapi justru sebaliknya dapat menjalankan kehidupan yang terhormat di samping memainkan peranan penting dalam masyarakat.

Sanikem, nama yang dipanggil sebelum dijadikan gundik, dijual oleh ayah kandung kepada Herman Mellema bagi kepentingan ayahnya sendiri untuk menjadi Nyai. Sebagai seorang gundik, Nyai ternyata bukanlah sampah hina-dina seperti yang sering tergambar pada masyarakat kolonial waktu itu. Berkat ajaran tuannya, Nyai berhasil mengembangkan perusahaan pertanian di Wonokromo, Broederij Buitenzorg [7]. Bahkan, Nyai bersama Annelies menjadi tulang punggung tegaknya perusahaan setelah Tuan Mellema disingkirkan oleh Nyai. Dalam pandangan Nyai, suaminya tidak lagi dapat dianggap sebagai manusia bermoral yang patut dihormati dan disayangi. Nyai kini menempatkan diri seakan-akan “macan betina” yang garang: keras, tegas, pintar dan memiliki harga diri yang tidak luluh oleh penindasan. Pendek kata, Nyai adalah manusia dengan pribadi yang mengangumkan.

Walaupun berbagai ragam tokoh dimunculkan dalam karya ini, yang sangat menonjol dalam penggambaran watak tokohnya adalah toko Nyai Ontosoroh. Tingkah laku Nyai yang berkesan ini sebenarnya bermula dari rasa dendam terhadap ayahnya sendiri, terhadap sistem pemerintah kolonial yang tidak adil, dan juga terhadap ketidakadilan masyarakat. Maka, dendam itu telah memaksanya untuk bangkit melawan semuanya. Ruang lingkup dendam Nyai lama kelamaan meluas. Rasa dendam inilah yang menggalakkan Nyai bersikap keras. Walaupun kemampuannya terbatas di hadapan kekuasaan kolonial, pembicaraan Nyai di pengadilan ketika menuntut pengesahan perkawinan Annelies dengan Minke, amatlah mengesankan dan berani. Dibandingkan dengan watak tokoh Nyai Dasima, Nyai Ontosoroh lebih tajam dan meyakinkan. Tidak banyak novel Indonesia yang berhasil menyuguhkan gambaran tokoh seistimewa Nyai.

Melalui ketokohan Nyai pula, Pramoedya memperlihatkan kepentingan faktor pendidikan yang amat berperanan dalam membentuk pribadi manusia. Sebelum dijual kepada Tuan, Sanikem/Nyai sebenarnya buta huruf. Tetapi, berkat pengajaran tuannya, dia berani mengemukakan dan mengambil risiko untuk hal yang diyakini. Jelas bahwa tanpa pengajaran Tuan, Nyai tidak dapat melawan ketidakadilan kekuasaan penjajahan. Mengenai faktor pendidikan dalam karya ini, Keith Foulcher menjelaskan:

What we see in Bumi Manusia is education beginning to challenge the exercise of hegemony in Indies society. Pramoedya knows, however, that education, and changed consciousness is by itself not enough: other ideological components of the society, here, morality and the law, remain in their place, sharing up the political and economic realities of colonialism against the liberal challenge to it. As these becomes felt in the novel, we see the Indonesian consciousness beginning to reassert more of its pribumi characteristics [8].

(Apa yang kita lihat dalam Bumi Manusia adalah pelajaran yang memulai untuk menantang praktik hegemoni dalam generasi indie. Pramoedya tahu pelajaran tersebut dan perubahan akan kesadaran dengan sendirinya tidaklah cukup: komponen ideologi lain dari masyarakat, seperti moralitas dan hukum, menyisakan ruang berbagi untuk realitas politik dan ekonomi dari kolonialisme yang menentang tantangan liberal terhadapnya. Seperti hal yang akhirnya kita rasakan dalam novel, kita lihat bahwa kesadaran masyarakat Indonesia merupakan awal untuk lebih mempertegas kembali karakteristik pribuminya.*)

Melalui sejumlah faktor itu, dalam karya ini, dapat diungkapkan peranan wanita yang tidak mudah tunduk kepada lelaki. Jika mempertimbangkan keadaan masyarakat feodal Jawa ketika itu dan kekuasaan kolonialisme yang diskriminatif, peranan Nyai lebih menonjol sebagai tokoh perintis kesadarn masyarakat dalam menghadapi tantangan pihak luar.

Carmel Budiardjo berpendapat, bahwa justru Nyai yang memegang peranan besar dalam mendorong Minke bergerak ke arah pikiran-pikiran serta nilai-nilai baru, sehingga akhirnya menjadi seorang pejuang. Nyai menjadi korban ayahnya yang rakus, tetapi dia menemukan kekuatan dalam keadaan tragis itu untuk menempa diri, untuk menguasai masalah-masalah perusahaan dan kemudian untuk memperjuangkan secara gigih hak-hak yang dirampas secara keji oleh sistem kolonial Belanda [9]. Maka, dapat dikatakan bahwa Pramoedya berhasil memaparkan kekuatan citra wanita [10] yang bangkit apabila ditindas oleh ketidakadilan sistem penjajahan. []

[1] HBS: Hogere Burger School, Sekolah Menengah Belanda.

[2] Mengenai pengambilan latar belakang Kota Surabaya, Pramoedya menjelaskan bahwa ketika itu Kota Surabaya merupakan kota dagang terbesar, yang melahirkan ide-ide baru dari seluruh dunia. Maka, untuk menceritakan peralihan pemikiran, kota inilah yang paling tepat. Waktu itu Kota Betawi (Jakarta) boleh dikatakan sebagai kota priayi. (Tempo, No. 27, 30 Agustus 1980. hal. 42-43).

[3] Ariel Heryanto, “Jejak Langkah Sang Pemula,” hal. 232.

[4] Keitch Foulcher, 1981, “Pramoedya Ananta Toer and the Indonesian Consciousness: Some Considerations,” makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia, 19-22 Agustus, Pacet, hal. 2.

[5] Dalam surat Pramoedya kepada Marjanne Termorshuzen-Arts, 6 Februari 1987.

[6] Akira Nagazumi juga secara tajam mengemukakan bahwa pada tahap tertentu lahirnya dunia pergerakan bersamaan dengan perkembangan Sarekat Islam. Lihat Akira Nagazumi, 1967. “The Origin and the Earlier Years of Budi Utomo 1908-1918,” disertasi Ph.D. Cornell University, hal. 324.

[7] Dari kata Buitenzorg inilai Nyai mendapat julukan “Ontosoroh” menurut pengucapan lidah Jawa yang tidak fasih.

[8] Keith Foulcher, 1981, “Pramoedya Ananta Toer and the Indonesian Consciousness, hal. 3.

[9] Carmel Budiarjo, 1981, “Beberapa Catatan mengenai Peranan Wanita dalam Buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer,” dalam Kancah, September, hal. 51.

[10] Selain tokoh Nyai Ontosoroh, tokoh-tokoh wanita lainnya dalam karya ini mempunyai watak istimewa. Di antaranya, tokoh Magda Peters, guru sastra Minke yang mendorong dia menjadi penulis, adik-beradik Sarah dan Miriam yang mengajak Minke berpikir mengenai ide-ide Multatuli, dan juga eksploitasi seks ditonjolkan melalui pengalaman Maiko, seorang pelacur Jepang yang menceritakan kekejaman kaum lelaki yang menjualbelikan dan menyiksanya.

*Dua penggalan berbahasa Inggris di atas dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh Tirta Ningtyas Sutaji.

Dicopy-paste dari tulisan Koh Young Hun dalam bukunya Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia, hal. 91-98. Dieditori Maman S. Mahayana, diterbitkan Gramedia pada Desember 2011.

Facebook Comments
No more articles