Lanjutan dari artikel terjemahan sebelumnya, 20 Karya Nonfiksi Terbaik Sepanjang Satu Dekade.

Ta-Nehisi Coates, Between the World and Me (2015)

Ada tiga fakta dibalik buku ini. Pertama, buku karangan Coates ini pernah diganjar penghargaan National Book Award untuk kategori nonfiksi pada tahun yang sama saat terbit pertama kali. Kedua, menjadi buku yang paling laris versi New York Times, dan ketiga, menjadi buku yang harus dibaca sebelum Anda meninggal menurut Toni Morrison. Lalu apa lagi yang musti saya katakan?

Menyebutnya ‘tepat waktu’ atau ‘mendesak’ atau bahkan ‘sebagai contoh bagaimana seorang manusia berelasi dengan realitasnya, secara politis’ mungkin tidak cukup menangkap pengalaman unik, membumi, memilukan pada waktu  membaca buku ini. Dibingkai sebagai surat kepada anaknya yang masih remaja, Between the World and Me menjadi interogasi yang menggigit tentang sejarah Amerika dan masyarakat saat ini serta pandangan yang intim terhadap keprihatinan dan harapan seorang ayah mewariskan masa depan kepada anaknya.   

Hanya dengan 152 halaman, buku ini menyentuh penciptaan ras (tapi ras di sini merupakan anak dari rasisme, bukan ayah), tindakan rasialisme yang tak terhitung jumlahnya, diberlakukan pada tubuh berwarna hitam, kontrol senjata, dan anekdot dari kehidupan penulis sendiri. Coates, merupakan seorang koresponden untuk majalah The Atlantic, melatih kesaksian dan kejelasan jurnalis serta menggabungkannya dengan eksplorasi seorang novelis dan naluri kepedulian seorang ayah. Itu merupakan dua hal yang luar biasa.

Arah gagasan, nada, berdarah-darah: “saya menuliskanmu di tahun kelimabelasmu. Saya menulis kepadamu karena ini merupakan tahun ketika kau melihat Eric Garner mati tercekik karena menjual rokok: karena kau tahu sekarang bahwa Renisha McBride ditembak karena mencari pertolongan, dan John Crawford ditembak mati karena menjelajah di sebuah pertokoan…”. Between the World and Me secara cemerlang memaksa kita untuk menghadapi tragedi itu lagi—untuk mengingat pengalaman kita sendiri saat menonton liputan berita, untuk melihatnya dalam konteks sejarah yang disaring melalui perspektif tak terduga Coates, dan untuk melihatnya kembali lewat mata anaknya yang kecewa.

Ada kemurahan hati luar biasa, saat-saat ketika penulis berpaling kepada anaknya, mengatakan “kamu”. Ada banyak buku yang berbicara tentang ras, tentang kekerasan dan ketidakadilan serta identitas kultural yang dilembagakan, akan tetapi tidak ada yang cukup kuat seperti buku ini. –Katie Yee, Asisten Editor Book Marks   

Andrea Wulf, The Invention of Nature (2015)

Buku Andrea Wulf meminjam kisah dari biografi Alexander von Humboldt (ilmuan pertama yang menjelaskan perubahan iklim), seorang naturalis Jerman abad-18 yang sangat terkenal di masanya, yang namanya dijadikan kota, sungai, arus, gletser, dan banyak lagi—jauh melebihi kisah tentang satu kehidupan. Selain mencatat suatu masa yang subur dalam sejarah pemikiran dan ide-ide tentang Eropa (Von Humboldt yang adalah teman baik Goethe) Wulf mengungkapkan dalam sosok Humboldt seperti seorang leluhur ekologi yang dengan penafsirannya ke masa kini, seorang ilmuwan yang tidak terlalu peduli dengan pengurangan dunia alami dibandingkan dengan tempat manusia hidup dalam ekosistem yang lebih luas.

Sementara itu Wulf sedikit menampakkan sesuatu yang tak lagi radikal, pemikiran proto-lingkungan Humboldt tentang dunia yang lebih luas, yang dipetakan dan dieksploitasi, sangat berbeda dengan gagasan yang berlaku terkait dominasi Kristen, bahwa posisi teologis yang skeptis disulap dalam bingkai kerajaan. Sejauh ini, Humboldt menjadi yang pertama memahami dan mengartikulasikan dinamika kompleks seputar lingkungan hidup (environmentalist), ia juga yang pertama memberikan peringatan tentang dampak deforestasi yang banyak ia temukan dalam perjalanannya melintasi bagian utara Amerika Selatan. Sebagai catatan perjalanan, sebagian sejarah intelektual, sebagian meditasi ekologis, The Invention of Nature berusaha mengembalikan metode hidup yang alamiah, mengingatkan kita pada kekuatan tektonik gagasan yang berakhir pada aksi atau tindakan. –Jonny Diamond, Pemimpin Redaksi

Stacy Schiff, The Witches (2015)

Terasa mengejutkan, bahwa dengan topik sepopuler dan berulang dalam salah satu tradisi Amerika seperti pembuktian eksistensi penyihir Salem (merupakan kota yang dikenal kota Penyihir di kawasan Massachusetts, Amerika) tak ada lagi buku seperti ini. Penulis pemenang Pulitzer Prize, Cleopatra dan menjadi buku terlaris, Schiff seperti melakukan ‘persidangan’ terhadap penyihir Salem dengan kedalaman rasa ingin tahu dan perspektif menyerupai sejarawan, yang punya tugas mulia untuk mengungkap misteri yang telah membingungkan, namun memesona, dan membuat banyak generasi ketakutan.

Ia menyaksikan bahwa Salem menjadi arus utama dengan punya imaji artistik—bagaimana ia menyatu dengan cerita rakyat dan fiksi serta sampai sekarang menjadi peristiwa sensasional dalam sejarah Amerika yang toh tidak pernah sepenuhnya dipahami. Schiff menerangkan bahwa terlepas dari imajinasi seputar persepsi penyihir Salem, kenyataannya masih terdapat celah dalam sejarah mereka—dan itu menjadi dorongan niat Schiff, menembus histeria massal dan kepanikan yang merobek Salem pada saat itu, menyebabkan eksekusi empat belas wanita dan lima pria.

Dalam bab pembukanya, Schiff secara dingin mengatur suasana teksnya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci yang akan memantik narasi selanjutnya: “Siapa yang berkonspirasi melawanmu? Mungkinkah Anda menjadi penyihir dan tidak menyadarinya? Bisakah orang yang tak bersalah menjadi bersalah? Adakah yang bisa, bertanya-tanya kepada sekelompok pria di akhir musim panas, menganggap diri mereka hangat?”

Yang menjadi fokus utama dari analisis historis Schiff sebenarnya adalah tradisi Puritan di New England—namun yang menjadi sintesisnya adalah bahwa ia memilih secara terpisah pada tiap utas tradisi dan kebudayaan Salem dan mengevaluasi penghakiman penyihir dari pluralitas sudut pandang. Dipuji karena penelitiannya serta kemampuan bercerita dan narasinya, The Witches telah dideskripsikan oleh The Times yang berbasis di London sebagai “sebuah thriller psikologis yang menekan,  forensik, dan kedalaman psikologis”, Schiff sendiri, dikatakan oleh New York Review Books mengatakan “menguasai seluruh sejarah awal New England”.

Sebuah frasa yang masih menghantui saya untuk meresonansi sejarah panjang manusia, adalah “bahkan pada saat itu, jelas bagi sebagian orang bahwa Salem tidak hanya sebuah kota, namun kisah tentang satu hal di masa lalu yang merupakan kisah tentang suatu yang lain sama sekali”. –Eleni Theodoropoulos, Editorial Fellow

Svetlana Alexievich, Tranlated Bella Shayevich, Secondhand Time (2016)

Sebuah karya monumental dari tradisi lisan, karya Svetlana Alexievich, Secondhand Time mencatat keruntuhan dan kejatuhan komunisme Soviet serta kebangkitan kapitalisme oligarkis. Lewat beragam wawancara yang dilakukan antara tahun 1991 dan 2012 dengan dokter, tentara, pelayan, sekretaris partai komunis, dan penulis—Alexievich, menjadi penulis yang penting memahami Soviet, dan disamakan oleh sejarawan Rusia, Aleksandr Solzhenitsyn’s dalam The Gulag Archipelago.

Secondhand Time pertama kali terbit di Rusia pada tahun 2013 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Bella Shayevich. Seperti yang ditulis David Remnick dalam The New Yorker, “terdapat banyak buku berharga menyangkut periode pasca-Soviet dan terpilihnya Putin sebagai presiden Rusia, namun bunga rampai nonfiksi yang telah melakukan analisis terbaik untuk memperdalam pemahaman emosional Rusia selama dan pasca runtuhnya Soviet akhir-akhir ini adalah Svetlana Alexievich. Sangat mengejutkan, Alexievich yang diwawancarai mengatakan terdapat berbagai trauma paling gelap dan penyesalan yang paling dalam. Di dapur mereka, di kuburan mereka, masing-masing karakter menceritakan kisah suatu bangsa yang ditinggal oleh Kremlin.

Seperti kebanyakan karya Alexievich, komposisinya radikal, menantang dengan polifoni suara yang khas, suara “sejarah resmi” masyarakat yang menampilkan sosok sebagai manusia yang homogen dan monolitik—sebuah pencapaian yang diakui komite Nobel ketika mengutip jurnalis Belorusia untuk mengembangkan “jenis genre sastra baru..,sejarah jiwa”. Menyerupai dirinya yang lebih baru, di buku terdahulunya Last Witness: An Oral History of the Children of World War II, karya Alexievich menjadi salah satu kisah terpenting yang sepertinya tengah berlangsung hari ini. –Emily Firetog, Deputy Editor     

(Bersambung)

Diterjemahkan secara langsung oleh Wahyu Gandi G editor epigram.or.id dari artikel The 20 Best Works of Nonfiction of the Decade oleh Emily Temple dimuat di lithub.com

Facebook Comments
No more articles