Banyak orang yang mencemooh film Selesai (2021), dan saya rasa mereka berhak melakukan itu. Film garapan Tompi dianggap banyak mengandung aspek yang “melukai” perempuan. Hal inilah yang kemudian banyak menjadi titik kumpul para pengkritik untuk ramai-ramai menyuarakan perihal kekecewaannya terhadap dua orang yang menjadi biang dari lahirnya film ini: Tompi sebagai sutradara dan Imam Darto sebagai penulis naskah.

Lantas bagaimana sebenarnya film Selesai ini?

Secara sederhana, film ini hendak menyampaikan sebuah premis melalui sepotong sempak: suatu hari Ayu menemukan sebuah sempak (celana dalam) di dalam mobil suaminya, Broto. Ayu tahu bahwa sempak tersebut adalah milik Anya. Fragmen tersebut kemudian menjadi bagian penting dari film, bahkan dijadikan sebagai teaser dengan dialog yang begitu menjual birahi: “Bilang sama dia, lain kali kalau mau ngewek sama laki orang,  di hotel, jangan di mobil. Murahan”. Dari persoalan sempak itulah kemudian film dialirkan dengan mengambil satu setting tempat, di sebuah rumah dengan dalih pandemi: di rumah saja.

Ayu meminta cerai. Sementara itu, Broto berusaha untuk menjelaskan bahwa hal itu—perselingkuhan—adalah hal yang biasa. Sebagaimana yang diungkapkan Ayu, perselingkuhan Broto merupakan kali ketiga, dan selama ini Ayu mempertahankan rumah tangga mereka karena rasa sayang kepada mertuanya. Tetapi hari itu sungguh berbeda, Ayu terlihat serius untuk berpisah. Mereka bertengkar sengit, Ayu mengemasi barang-barang dengan cara ajaib—tak terlihat dan tiba-tiba sudah berada di dalam koper.

Tepat setelah pertengkaran sengit itu, Ayu memutuskan untuk meninggalkan rumah. Tetapi Broto berusaha untuk menahannya.  Pada usaha-usaha tersebut, tiba-tiba Ibu—mertua Ayu—datang berkunjung ke rumah. Pertengkaran mereka kemudian mereda, semua kembali dingin, dan mencoba untuk berbasa-basi dengan Ibu.

Kisah ini kemudian berlangsung beberapa hari. Masalah demi masalah kemudian memuncak dan tidak bisa lagi terselamatkan. Broto menuding Ayu juga melakukan perselingkuhan dan pertengkaran di hadapan Ibu lantas tidak bisa lagi terhindarkan.

Pada tahap itu, penulis skenario mencoba untuk memunculkan twist ending, tetapi sayang jatuhnya justru lebih kepada kekurangcakapan penulis skenario dalam menggarap film. Ada banyak celah demi celah yang kemudian menimbulkan keraguan bagi penonton. Salain itu, balutan seksualitas yang digunakan Tompi dan Darto pada film ini, lebih kepada usaha menjual “seksualitas” ketimbang usaha untuk menjelaskan dan menjejalkan apa yang seharusnya dilakukan perempuan di hadapan lelaki tukang selingkuh.

Kesalahan-kesalahan demi kesalahan kemudian lahir mulai sejak awal dari film ini, dan ini layak kita untuk kita cermati.

Baca Juga: Catatan tentang Buku

Kesalahan pertama adalah penggunaan sempak sebagai dalang dari keinginan Ayu untuk meninggalkan Broto. Seperti yang dijelaskan Ayu bahwa ia sebenarnya sudah tahu apa yang dilakukan oleh Broto, hubungan gelapnya dengan Anya sudah berlangsung selama dua tahun. Bukan hanya itu, Broto bahkan sudah melakukan perselingkuhan sebanyak tiga kali. Tetapi mengapa Ayu membutuhkan legitimasi sebuah sempak untuk meninggalkan Broto. Seharusnya Ayu tidak berlarut-larut di dalam masalah tersebut meninggalkan Broto.

Apa yang dilakukan Ayu—membiarkan dirinya tertindas—menunjukkan representasi penulis skenario dan sutradara terhadap wanita sungguh bermasalah. Logika yang dibangun adalah logika penguasaan, bahwa wanita tidak berdaya di hadapan lelaki, dalam hal ini suami yang sudah berselingkuh selama tiga kali dan menjalin hubungan gelap selama dua tahun dan Ayu tahu semua itu. Itu sungguh berada di luar nalar.

Di bagian akhir, film ini mencoba untuk menunjukkan bahwa ada usaha perempuan dalam melawan dominasi lelaki, tetapi pada akhirnya justru jatuh di lubang yang sama—penindasan perempuan. Di dalam film, Ayu mencoba siasat baru dengan memfitnah Broto melalui sebuah sempak. Sempak—bertuliskan Anya—yang ditemukan Ayu di mobil Broto, sesungguhnya adalah rekayasa Ayu sendiri agar bisa berpisah dengan Broto. Hal ini ditengarahi oleh Dimas—adik Broto—yang ternyata menjadi lelaki yang diimpikan oleh Ayu. Dimas menjadi fantasi dan pelarian Ayu saat memiliki masalah dengan Broto.

Hal itu terlihat sebagai sebuah perlawan Ayu dengan cara memanipulasi persoalan yang ada, tetapi justru menjadi semakin menjerumuskan. Ternyata, selama ini Ayu hanya berhalusinasi terhadap Dimas. Depresi, kesedihan, dan semua masalah yang dihadapi Ayu menyeruak menjadi sebuah “kegilaan”. Di sini kita bisa melihat dua masalah besar di dalam film Selesai.

Baca Juga: Kota dan Kenangan

Pertama, fokus masalah di dalam film, yang bahkan di dalam iklan menonjolkan hubungan panas Broto dengan Anya, tetapi di puncak konflik, justru fokus kepada khayalan Ayu terhadap Dimas. Ada pergeseran fokus, yang seharusnya fokus kepada pengungkapan pengkhianatan Broto, tetapi justru terabaikan. Logika yang digunakan serasa lebih seperti ini: lelaki wajar untuk selingkuh, perempuan tidak wajar, sehingga harus diungkap. Lagi-lagi, perempuan kemudian menjadi objek yang diperlakukan dengan timpang.

Kedua, di bagian akhir, Ayu kemudian menjadi depresi yang berujung pada perawatan di rumah sakit. Tetapi yang mengherankan—entah ini karena pengetahuan saya yang terbatas—bagaimana mungkin seseorang yang sedang mengalami tekanan mental yang seharusnya mendapatkan kasih sayang lebih, justru berakhir semenyedihkan itu. Saya merasa bahwa apa yang mereka (Broto dan keluarga) lakukan kepada Ayu adalah sebuah pengabaian dan menjadi semacam usaha untuk membuang Ayu. Seseorang yang harusnya dilindungi, diperhatikan, dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang, justru harus berakhir pada pengasingan di rumah sakit.

Film ini mencoba memberikan alur cerita yang mengejutkan, tetapi sayang alur yang dibentuk kemudian bolong-bolong. Logika cerita yang lemah, sehingga tidak bisa menampilkan realitas yang bisa berterima di benak penonton. Narasinya jatuh pada tindakan peremehan perempuan. Belum lagi jika kita memeriksa “pernah-pernik” film ini, sungguh ada banyak hal-hal fatal yang mencederai akal sehat kita.

Lihatlah Anya yang diperankan oleh Anya Geraldin, ia tidak memberikan signifikansi apa-apa di dalam film kecuali dijadikan sebagai objek seksual (sebagai selingkuhan) dengan adegan panas di mobil. Selebihnya, hanyalah angin lalu. Selain itu, jika kita mencermati bagaimana peran akting Anya, sungguh kering kerontang. Senyumannya, tatapannya, dan cara ia berbicara sugguh kaku seperti kanebo kering. Saya yakin jika Anya digantikan dengan mahasiswa semester satu jurusan arkeologi, hasil film tersebut akan jauh lebih baik. Jika menilik peran Anya—maafkan kecurigaan saya—sepertinya peran sertanya hanya dijadikan sebagai pelaris untuk film ini, mengingat besarnya jumlah pengikut Anya di Instagram.

Baca Juga: Reply 1988: Cinta, Jendela, dan Meja Makan

Tidak hanya sampai di situ, lihat apa yang dilakukan Bambang di dalam cerita. Ketika di halaman belakang, saat melihat Ayu sedang menelpon, sial, ia beronani di dalam kamar. Sungguh perempuan kemudian hanya dijadikan sebagai objek tatapan yang meningkatkan birahi. Belum lagi jika kita mendengar dialog Bambang dengan Yani—si Pembantu—akan menimbulkan rasa geli yang berujung kepada rasa muak kepada semua hal tentang film ini.

Terakhir yang mungkin menjadi kekecewaan saya adalah kebanggaan orang-orang yang terlibat dalam film setelah beberapa hari rilis, penonton mereka di Bioskop Online sudah tembus 100.000 penonton. Saya berpikir bahwa pada akhirnya semua jadi pada rana popularitas tanpa makna. Mereka mengangap bahwa apa yang mereka perbuat adalah sebuah kesuksesan dengan mengukur hanya pada jumlah penonton, bukan kepada apa yang kemudian publik dapatkan selepas menyelesaikan film tersebut. Padahal, ada banyak orang yang menonton bukan karena kekaguman, tetapi mereka hanya penasaran seberap jelek film tersebut. []

BACA JUGA Artikel Arlin R lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles