Aku telah mendapat izin dari Abdul Kamal untuk memuat cerita pendeknya secara utuh di laman Epigram. Untuk menguatkan izinku, sebab barangkali suatu saat Abdul Kamal mengidap amnesia, karena terserang panik mendapati kenyataan dirinya masih jomlo, aku melampirkan surat pernyataan setuju dengan meterai sepuluh ribu, kepada redaktur Epigram yang bijaksana.

Siapakah Abdul Kamal? … Sepertinya, jauh lebih penting mengetahui: apa nama ibukota negara Guatemala daripada mengetahui informasi soal Abdul Kamal. Tapi menurutku, soal cerita pendek yang ia tulis, lebih daripada sekadar layak untuk diketahui oleh semua orang. Cerita pendeknya, bagiku, mengandung makna yang bisa memberi kita penjelasan tentang situasi-situasi rumit yang belum punya nama. Situasi yang dekat dan selalu kita hadapi setiap hari.

Ketika mengikuti sebuah sayembara tulisan, cerita pendek ini diberi judul, “Jika Kamu Tidak Bisa Bangun dari Tidurmu Itu Jauh Lebih Baik daripada Harus Bangun Lagi.”

*

Ada bunga yang menyala di pagi hari. Ada bising kerumunan api di atap rumahmu, bunyinya terdengar keretek, dan aromanya tidak muat dalam sekali hisap. Sendi-sendi kayu di langit-langit rumahmu terbakar, dan baranya menembus tulang belikatmu. Kamu bangun dari tidur yang ringkas dan mendapati dirimu dalam keadaan penyok, mirip seperti tubuh Spongebob saat masuk ke dalam stoples acar.

Apa yang kamu lakukan tadi malam? Kamu tidak ingat. Jelasnya, tubuhmu sekaku rambut anak Punk, lidahmu sekelu hidung panjang Pinokio, dan bagaimana pun kamu berusaha mengucapkan sesuatu, asap kamarmu yang pengap, menjelma lubang cacing yang menelan semua bunyi yang ingin kamu teriakkan. Dan, oh tidak! Sekarang kamu meleleh.

Liuk-liuk terdengar sirene pemadam kebakaran dari luar. Seseorang lalu berteriak, adakah orang di dalam? Sial, sebab sekeras apa pun kamu berusaha untuk menjawab, ADA-ADA-ADA,  kamu tetap tidak dapat melakukannya. Saat itulah kamu berdoa kepada segala Tuhan yang kamu ketahui, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade yang telah kamu hidupi.

Apakah karena doamu terkabulkan, seseorang akhirnya menembus tebalan asap di kamarmu, lalu menyoroti wajahmu dengan lampu senter dan lekas menggendong tubuhmu keluar dari marah api? Kamu tidak tahu harus menjawabnya dengan bagaimana. Kamu hanya ingin meyakini, orang itu adalah malaikat penyelamat yang diutus Tuhan, agar kamu bisa hidup sekali lagi dalam keadaan beriman.

Kamu didudukkan di pinggir lapangan bulu tangkis, dalam dekap selimut dingin, dan di tengah-tengah kerumunan panik orang-orang. Kamu memandangi rumahmu, satu-satunya warisan dari mendiang orang tuamu, hampir pupus, juga sepuluh buah rumah tetanggamu. Nyala apinya membesar dan warnanya menguning, persis warna langit pagi itu.

“Mengapa dia membakar rumahnya?”

“Mengapa dia harus diselamatkan?”

“Bukankah dia memang ingin mati?”

Kamu mendengar gelembung bisik-bisik itu, membubung dari kerumunan yang sekerling-kerling menatapmu dengan jijik. Kamu masih merasa, tuduhan itu bukan untuk kamu, tapi untuk seseorang yang menjadi tokoh utama peristiwa kebakaran pagi itu. Atau jika itu memang kamu, kamu hanya merasa, kepalamu sedang dipenuhi asap sehingga memunculkan halusinasi.

“Mengapa kamu membakar rumahmu?”

“Mengapa kamu harus selamat?”

“Kamu seharusnya mati saja, sialan!”

Kata Laki-Laki Tua itu, menuding ke arahmu, dan dia adalah tetanggamu. Rumahnya satu rumah dari rumahmu, dan seingatmu dia adalah tetangga paling tidak ramah di dunia. Laki-Laki Tua itu, menatapmu dengan kepulan amarah. Ia seperti ingin segera memadamkan api di matanya dengan menonjok wajahmu yang menggemaskan, karena kelimpungan. Tidak hanya Laki-Laki Tua itu, kini semua tetanggamu semufakat ingin menyerangmu, dan memuntahkan semua nasib sialnya.

Kita bunuh saja!

Tunggu apa lagi.

Saat itu, kamu tentu saja harus melarikan diri. Tetapi sekejap, tangan seseorang menggenggam di tanganmu. Orang-orang lantas menyerbu wajahmu dengan kaki-kakinya, dengan kepalan tangannya, juga dengan sebalok kayu. Beberapa pukulan, masih meleset. Beberapa lagi, berhasil menukik tepat di tengah-tengah dadamu. Kamu merasakan sesak.  Sedangkan napasmu, sesuatu yang biasanya paling mudah kamu lakukan, kini membuatmu kesulitan. Seketika itu juga, tubuhmu menekan tombol otomatis yang dipersiapkan menghadapi ancaman dari luar, untuk mengubah posisimu ke dalam tengkurap. Namun, sebalok kayu lolos mendarat di ubun-ubunmu. Rasa sakit yang kamu alami dari sana, masih membuatmu bingung, hanya bunyinya yang jelas, terdengar mirip suara lebah.

Lantas ada titik-titik hitam yang mengerumuni pandanganmu selama tubuhmu menerima pukulan. Matamu mulai berat dan kamu sepertinya akan meninggalkan tubuhmu. Tetapi karena kebingungan dan rasa ingin tahu yang terus memenuhi kepalamu, kamu terus mempertahankan kesadaranmu.

Ada tetesan darah yang mengucur, mulai dari kening, lalu melewati sela-sela matamu, juga melalui hidungmu, lalu lekas menyusup ke dalam mulutmu, dan kamu tahu  betul, rasa anyir darahmu seperti tomat gosong.

Kamu akan tewas dalam kerumunan massa yang marah, untuk alasan yang tidak kamu ketahui. Bicara soal kematian, itu memang pasti, tetapi soal kepasrahan akan kematianmu, belum tentu. Nyatanya, kamu mendapat satu keajaiban lagi, suara ledakan tembakan dari revolver menembus bising kerumunan massa. Ledakannya harus tiga kali, sampai kerumunan mundur dari tubuhmu yang penyok-penyok.

Kamu lalu digotong ke dalam mobil polisi, meski sebelum sampai ke dalam sana, kamu mendapat beberapa tonjokan yang jorok. Namun, satu tonjokan yang entah dari siapa, terasa bersih dan cukup pantas untuk memingsankan kesadaranmu.

Kamu terbangun di dalam ruang ICU, rumah sakit polisi yang dingin. Dengan kepusingan yang luar biasa, kamu masih bisa menafsirkan tubuhmu yang dirawat sekenanya. Pecah luka-lukamu terperban, wajahmu yang bengkak terbebat biji es, dan darah yang tadinya mengucur, masih punya jejak di sana.

Ada patah yang tumbuh di hatimu ke dalam sebentuk dendam. Kamu mencoba menerka gerimis yang perlahan jatuh dari matamu. Dadamu sesak oleh kenyataan yang membuat seluruh tubuhmu terlucuti di depan umum. Ada amarah yang ingin kamu muntahkan. Ada seruan yang ingin kamu teriakkan. Ada ludah yang ingin kamu lidahkan. Tetapi kamu masih belum punya nyali untuk meledakkan dirimu.

Lalu, kamu melihat dari sela kotak kaca di pintu ruang ICU, dua orang polisi berbadan tambun sedang berbisik-bisik dengan perawat bertubuh tipis. Apapun yang telah mereka bicarakan dari sana, itu telah menggerakkan dua orang polisi berjalan mendekatimu, membuka pintu dan lekas berusaha meloloskan sebuah kursi roda yang bunyi rodanya mendecit seperti sepatu atlet bulu tangkis. Mereka lantas menggopong tubuhmu ke kursi roda itu. Dan membawamu pergi dari sana.

Kenyataannya, kamu dipindahkan ke kantor polisi, untuk didekap di dalam rumah tahanan sambil menunggu persidangan. Seorang polisi mengucapkan informasi itu kepadamu dengan sekali tarikan napas sambil makan roti tawar. Lidahmu yang kelu, tidak lagi keluh. Meskipun masih sulit untuk berkata-kata, kamu berhasil mengucapkan satu kalimat penjelasan kepada polisi.

“Tolong bebaskan saya. Saya bisa terlambat masuk kerja, Pak.”

*

Begitu hasil pengumuman sayembara, rilis tiga pekan kemudian, cerita pendek ini tidak mendapat penghargaan apa pun dari festival sastra di kota Makassar, yang dilaksanakan oleh komunitas sastra setempat.

Setelah mengetahui hasil pengumuman itu, di dalam warung kopi langganan kami, Abdul Kamal melampiaskan kekecewaannya dengan menggratiskan semua pesanan para pengunjung selama empat jam. Tapi, karena merasa usahanya tidak cukup berhasil, Abdul kamal menggerutu di sampingku sambil melahap empat porsi kentang goreng. Isi gerutuannya adalah semua tudingan tidak berdasar kepada para juri: tidak profesional, tidak punya wawasan soal estetika sastra, tidak mengerti gaya, kolot dan tidak pantas jadi juri. Namun, setelah beberapa kali mondar-mandir ke kamar mandi, Abdul Kamal pada akhirnya, bisa berdamai. Kata dia, “Setidaknya saya sudah melaksanakan satu hal yang berfaedah, saya sudah bisa menulis cerita pendek dengan gagasan yang rumit.”

Bagiku, dan ini belum pernah kukatakan ke Abdul Kamal, bahwa Abdul Kamal sejenis penulis ambisius yang merasa mendapatkan wangsit untuk menjadi penulis ketika membaca Metamorfosa-nya Franz Kafka. Dan karena itu, seandainya para juri sering membaca cerpen Franz Kafka, lalu membaca tulisan-tulisan Abdul Kamal, para juri itu pasti akan tahu, sejelek dan seringkas apapun cerita pendek Abdul Kamal, dia hanya berusaha untuk mengulangi makna dari tulisan-tulisan Franz Kafka dalam bentuk lain. Namun, tidak semua orang sekafka Abdul Kamal.

Abdul Kamal, sering menyebut kelindan makna-makna tulisan Franz Kafka sebagai Kafkaesque. Ketika Abdul Kamal menjelaskan apa itu Kafkaesque kepadaku, dia menyodorkan cerita pendek yang sudah kita baca di atas, lalu dia bilang, “Kalau kamu membaca cerpen ini baik-baik, pasti kamu akan sadar, sejak bangun dari tidurnya, si tokoh utama terperangkap kerumitan yang tidak bisa dia pahami. Dan, ketika dia berusaha untuk memahami apa yang sedang terjadi, dia tidak diberi kesempatan. Itulah Kafkaesque. Mirip seperti kisah Gregor Samsa, yang setelah menjadi seekor serangga raksasa, alih-alih hidup sebagai serangga, Gregor Samsa malah digerogoti ketakutan akan kehilangan pekerjaan, dijauhi oleh orang-orang, dibenci oleh keluarganya, dan kemudian tewas sendirian, tanpa pernah kembali seperti semula.”

Saat itu, aku masih belum mengerti, penjelasan Abdul Kamal. Meskipun Abdul Kamal sudah berusaha membuat penjelasannya lebih ringan untuk dimengerti; bahwa Kafkaesque itu seperti antrian para pasien rawat jalan di rumah sakit pemerintah, atau kalau kamu ingin mengerti dengan sekali sebut, Kafkaesque adalah proses pendaftaran CPNS.

Jadi, aku mencoba memahami apa itu Kafkaesque, dengan caraku sendiri. Aku lalu menonton siaran TED-Ed di youtube, judul videonya, “What makes something Kafkaesque? dari Noah Tavlin” berdurasi lima menit empat detik. Video itu menjelaskan, bagaimana situasi tertentu membentuk peristiwa Kafkaesque. Hasilnya, terdapat dalam cerpen Poseidon. Dalam cerpen itu, Franz Kafka menceritakan kisah Dewa Poseidon yang tidak punya waktu buat menjelajahi lautan, sebab harus mengurus surat-surat administratif di kantornya. Karena Dewa Poseidon merasa bawahannya, tidak mungkin bisa mengurusi semua pekerjaannya, Dewa Poseidon akhirnya terperangkap selamanya ke dalam pekerjaanya sendiri. Dari situ, menurut video ini, segala syarat peristiwa Kafkaesque terbentuk, ketika kita merasa mampu menyelesaikan kerumitan birokratif, sendirian.

Aku jadi merekatkan kepingan-kepingan referensi sendiri untuk memahami Kafkaesque. Pertama, Kafkaesque mirip kegiatan sehari-hari Squidward Tentacles yang bekerja sebagai kasir rumah makan cepat saji di dasar lautan. Alih-alih mendapatkan kehidupan aman dan tentram yang ia petik dari hasil pekerjaannya, tuan gurita yang sebenarnya mewakili buruh yang taat, malah terperangkap di antara rekan kerja yang terbuat dari spons kuning sabun cuci yang hiperaktif dan seorang bos dari keturunan kepiting yang kikir.

Kedua, Kafkaesque juga terbentuk ketika Mark Renton dalam film Trainspotting, tiba-tiba harus berlari di tengah-tengah kesibukan lalu lintas kota, diburu oleh dua orang polisi berpakaian jas coklat, tetapi Mark Renton tidak tahu mengapa dirinya harus berlari. Itu mewakili situasi yang sama ketika Joseph K dalam novel The Trial-nya Franz Kafka, ditahan dengan alasan yang tidak pernah ia ketahui.

Ketiga, aku menemukan rumusan Kafkaesque dari novel Kafka on the Shore-nya Haruki Murakami, yang menurutku jauh lebih mengakar daripada sekadar menyebut Kafkaesque sebagai peristiwa yang kita hadapi dari luar diri kita. Seperti dalam kutipan tulisan ini, yang kuambil dari novel Dunia Kafka, terbitan Alvabet: “Kadang-kadang nasib (menurutku dapat diartikan sebagai Kafkaesque) ibarat badai pasir kecil yang terus-menerus berubah arah. Kau mengubah arahmu tetapi badai pasir itu terus mengejarmu. Kau berbalik, badai itu tetap mengikutimu. Kau melakukan hal yang sama terus-menerus, seakan menari-nari dengan kematian menjelang fajar. Mengapa? Karena badai ini bukan sesuatu yang bertiup dari kejauhan. Bukan sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu. Badai ini adalah dirimu sendiri. Sesuatu yang ada di dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan hanyalah menyerah, masuk ke dalam badai itu, menutup mata serta telingamu, sehingga pasirnya tidak dapat masuk, lantas berjalan melewatinya langkah demi langkah. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada waktu, hanya pasir putih yang berputar-putar naik ke angkasa laiknya tulang belulang yang hancur lebur. Itulah badai pasir yang mesti kau bayangkan.”

Selain mengibaratkan perisitiwa Kafkaesque sebagai peristiwa yang justru terjadi dalam diri kita sendiri, Haruki Murakami juga menulis cara menghadapinya, untuk tidak menyebutnya sebagai jalan keluar dari peristiwa Kafkaesque: “Dan kau benar-benar harus mampu melewati badai yang hebat itu. Tak peduli betapapun hebatnya badai itu, jangan sampai salah: ia akan sanggup menembus tubuhmu seperti seribu silet tajam. Orang-orang akan berdarah, dan kau pun akan berdarah. Darah yang merah dan panas. Kau akan mengusap darah itu dengan kedua tanganmu, darahmu sendiri dan darah orang lain. Dan begitu badai berhenti, kau tidak akan ingat bagaimana kau telah melewatinya, bagaimana pula kau mampu bertahan. Malahan sebenarnya kau tak yakin badai itu sudah benar-benar berhenti. Tapi satu hal yang pasti, setelah kau berhasil keluar dari badai itu, kau tidak bakal menjadi orang yang sama. Itulah tujuan dari badai tersebut.”

Ketika aku merumuskan defenisi Kafkaesque untuk diriku sendiri, dan karena itu untuk diriku sendiri, aku tidak akan menuliskannya di sini, yang penting aku sudah paham, peristiwa apakah yang dapat disebut sebagai momen Kafkaesque. Tetapi aku ingin menegaskan, cerita pendek Abdul kamal layak menjuarai semua sayembara tulisan. Dan, Abdul Kamal layak dielu-elukan sebagai penulis mulia oleh para penulis tua. Ditulis dalam media-media arus utama, dan mendapat penghargaan bergengsi. (Meskipun dengan satu syarat, semua orang telah membaca tulisan-tulisan Franz Kafka.) []

BACA  JUGA artikel  Ma’ruf Nurhalis  lainnya  di sini.

Facebook Comments
No more articles