Seorang pria—sangat kukenali, dan setiap orang yang baru saja mengenalnya akan segera menyesalinya. Rambutnya sependek bulu hidung, tapi sangat sadar sisir, gaya tuturnya penangkaran hewan liar, seluruh sudut wajahnya bisa membuat lambung perih, dan bapaknya mewariskannya lima buah nama, satu bernilai doa, sisanya bermakna makian. Dia adalah seorang Mi fans—penggemar produk ponsel Xiaomi garis amatiran dan celakanya, dia baru saja membeli ponsel Xiaomi Mi 10.

Satu jam, setelah dia membuka kemasan baru ponsel, dia duduk di hadapanku, di sebuah kafe yang bising, di tengah-tengah kota yang tetap berusaha bernapas dengan setengah paru-parunya. Lidah orang itu bergerak seperti piston mobil balap, mengepulkan omong-kosong ke telingaku. Dia mulai mengunduh dan membarui aplikasi Whatsapp, dan sesegera mungkin membuat story dengan caption, “Syukur, bisa beli hp baru #XiaomiMi10,” dalam 15 menit sekali dengan tampilan gambar yang selalu sama.

Seseorang—yang entah siapa saya tidak peduli—menghubunginya lewat video call, dia lalu menanggapinya dengan senyuman yang tak tertahankan, “Ia dong, kau betul sekali, kambing gunung, ini memang hp baru …, kalau kau mau beli hp, kau jangan terlalu pusing, langsung saja kau borong Xiaomi. Sekarang, tidak ada hp yang sebagus ini.”

Saya tahu, bahwa setelah itu, seseorang—yang entah siapa saya tidak peduli, pasti menanyakan, “Apa bagusnya?” Dia, lalu memiliki kesempatan, melanjutkan kata-katanya dengan kalimat brengsek ini, “Cobami jatuhkan atau banting, kau langsung tahu kekuatan layarnya. Bagusnya yang lain, kameranya… Kau tidak bosankah dengan hasil kameramu yang burik. Jujur, nah…, koruptor, saya khawatir sekali lihat foto-foto instagrammu…, bikin mata rusak.” Setelah membual cukup lama, dia akhirnya berhenti. Dan saat itu juga, saya ingin sekali meninju batang hidungnya.

Siang yang buram—tadi, enam jam sebelum saya berusaha mengatur siasat agar bisa bergulat dengan orang itu—ponsel Xiaomi Redmi Note 4 yang sudah mendampingi hidupku, selama dua tahun satu bulan, terjatuh dari genggamanku, dan sepersekian detik, dalam keadaan tengkurap, membentur lantai. Layar retak, tampilan lcdnya rabun, dan musik You Never Can Tell, dari Chuck Beryy…, berhenti. Saya berhenti berjoget ketika hampir menjelma Vincent Vega di Pulp Fiction, seperti merasakan bersin yang tertunda. Saya memungutnya, dan di dalam hatiku timbul kecemasan. Ada suasana hening yang tersusun di sekitarku, setelah berkali-kali mencoba menekan tombol restart, dia tidak kembali siuman. Layarnya tetap retak dan masih seputih awan. Namun, saat itulah, ketika tidak ada lagi yang perlu diupayakan, seperti mencoba membenturkan beberapa bagian untuk menimbulkan keajaiban, seperti, cara setiap orang menepuk televisi tabung yang bermasalah. Saya menyadari, dan harus segera menerimanya, inilah waktu yang tepat untuk berpisah.

Hari-hari bersama ponsel Xiaomi Redmi Note 4 adalah pengalaman yang mengagumkan. Meskipun tidak memberi banyak kemewahan teknologi; ukuran kualitas kamera yang tidak cukup instagramable, dan chipset-nya tidak cukup membantu menaikkan derajat player manapun di dalam gim online Mobile Legend. Tapi, secara psikologis, benda yang tidak terlalu banyak omong ini, mengimbangi kapasitasku dalam menghadapi kesendirian.

Xiaomi Redmi Note 4 ada dalam genggamanku, sehari setelah pacarku berubah menjadi mantan pacarku. Dialah yang menemani malam-malamku yang sunyi, memberiku jalan keluar dari sosok yang terlanjur jadi kesayangan keluarga, dan membantu merakit hatiku yang terlahap cinta murahan, untuk kembali menerima cinta yang lebih layak huni. Meskipun sebenarnya, dengan merk ponsel apa saja, dengan suasana hati yang patah, saya pasti akan dekat. Tapi, ponsel Xiaomi Redmi Note 4 yang hadir, dan ketika ia rusak, serusak-rusaknya, sampai membuatku malas meneruskan pikiran untuk membawanya ke tempat servis, inilah waktu yang tepat untuk menyetel lagu Time To Say Goodbye-nya Andrea Bocelli.

Setelah meratapi beberapa kenangan, yang sebenarnya bakal terlupakan dengan kehadiran ponsel baru, saya memutuskan untuk pergi ke kafe beraroma tembakau, untuk merayakan perpisahan, sambil menghabiskan kopi susu dingin, dan dua bungkus lintingan tembakau Mars. Semuanya berjalan romantis, melankolis dan bergaya iklan Marlboro, sampai orang itu datang membawa wajahnya yang layak pukul.

Saya bisa melayangkan tinju ke wajahnya sampai membuat batang hidungnya patah. Ia, mungkin akan segera bertanya, “Kau kenapa, Tikus Botak?” dan saya akan menjawabnya dengan satu pukulan lagi…, ke pipi kirinya. Dan, karena saya tahu, ia akan mulai membalas, saya bisa segera menghindari pukulannya. Tapi, dia akan tetap berusaha menyerang dengan membanting meja kayu dan melemparkan kursi. Lalu, saya akan membalasnya dengan mencekik lehernya, dan membenturkan kepalanya ke jendela kaca.

Namun, setelah mengkalkulasi beberapa perhitungan potensial, yang bakal berakhir dengan tidak adanya kemenangan, dan hanya menambah kerugian kafe langgananku, juga menyebabkan hilangnya mata pencarian seorang pelayan cantik yang selalu pandai berpakaian dengan pilihan warna yang cerah, maka saya memutuskan untuk menunda perkelahian, dan hanya memilih menyelesaikan perkara dengan mengumpat habis-habisan di dalam hati.

Sembilan jam selanjutnya, saya habiskan segala efek fetis ponsel di dalam rumah kosku. Merasakan ketakutan tertinggal informasi, dan mengintip gaya hidup para influencer dan merindukan komentar para haters. Dan sindrom eksisisme yang memuncak, membuatku melinting lebih banyak tembakau.  Namun, yang lebih membuatku khawatir…, saya tidur lebih cepat.

Pada hari kedua, usaha untuk mengatasi gejala nomofobia yang mulai akut, membuatku mengerjakan beberapa hal ajaib; waktu tidurku genap delapan jam, saya bangun pagi, setelah seribu pagi yang selalu kesiangan. Saya membersihkan rumah kosku, dan ini pertama kalinya, saya menjejerkan kata ‘kos’ dan kata ‘bersih’ dalam sebuah susunan kalimat yang utuh. Saya mencuci seprai, lalu menjemur kasur. Saya menyapu kolong ranjang, dan menemukan tiga buah koin seribu kelapa sawit, dan selembar catatan, “Love can never be exactly like we want it to be,” dari mantan pacarku.

Saya mulai mengepel lantai dengan kain basah, dan menyadari ada begitu banyak bekas sundutan rokok. Saya menguras air dan membersihkan akuarium bekas casing PC, yang hanya berisi sepasang kura-kura yang tidak minat kawin. Saya menurunkan buku-buku dan hiasan-hiasan di dinding; foto mendiang Bapakku yang tidak pandai tersenyum, lukisan-lukisan wajah filsuf yang sok serius, dan sebuah coretan yang membentuk kelamin laki-laki yang, karena bentuknya terlihat cukup Picasso, membuatku pergi membeli dua kaleng cat berwarna biru langit. Dan seharian, saya mengecat ulang dinding rumah kosku sambil mendengarkan album, The Mercys-Hidupku sunyi dari perangkat radio kaset.

Pada hari ketiga, saya bangun pagi, lagi. Seluruh sudut ruang rumah kosku, bahkan yang terhoror, seperti sudut anggap saja itu dapur dan anggap saja itu kamar mandi, sudah bersih. Dan, karena tidak ada satu pun pekerjaan rumah yang masuk akal, saya memutuskan untuk pergi ngopi di kafe yang sama, seperti dua hari yang lalu. Tapi, kali ini, untuk menjaga mood yang masih acak-acakan, pasca mengalami fase puncak nomofobia, dan agar bisa menghadapi orang itu, yang selalu ada di sana, saya membawa novel The Ministry of Utmost Happiness-nya Arundhati Roy. Saya sudah berniat membacanya sampai bosan.

Membaca kalimat-kalimat dalam novel The Ministry of Utmost Happiness, bagiku, seperti berenang lintas pulau dengan gaya estetis pascamodernisme. Novel Arundhati Roy, adalah jenis novel yang, “Beginilah seharusnnya sebuah novel ditulis.” Arundhati Roy adalah penulis telaten yang selalu mengupayakan riset dan detail yang menakjubkan, untuk setiap karakter yang ia ciptakan. Jadi, setiap kali menyebut satu tokoh, ia akan melakukan karakterisasi dengan memberi ruang untuk menjelaskan latar belakang sosial dan historisitasnya.

Misalnya, tokoh bernama Saddam Hussein, yang menamakan dirinya sebagai Saddam Hussein, karena terinspirasi dari video singkat di telepon genggam, yang menampilkan Saddam Hussein yang asli, yang berakhir sebagai adi-manusia di tiang gantung. Pseudo-Saddam Hussein dibesarkan oleh dendam kesumat terhadap seorang polisi yang membunuh ayahnya. Ayahnya yang Hindu kelas bawah, bekerja sebagai pengangkut bangkai sapi, yang suatu waktu, pada hari yang bertepatan dengan hari besar agama Hindu, yang juga bertepatan dengan hari paling sial dihidupnya, dia dan ayahnya mendapat klien. Namun, sepulang dari pelayanan yang beres, di tengah jalan yang akan dilewati jamaat agama Hindu, truknya mogok, dan truk berisi tumpukan bangkai sapi, akan jauh lebih busuk dari bayangan busuk apapun. Itu membawanya berurusan dengan polisi, yang memalaknya sejumlah uang, yang apabila ditolak, ayahnya akan dituduh sebagai pembantai sapi dan beragama Islam. Dan, seperti itulah akhirnya, ayahnya menolak memberi uang, karena memang tidak punya cukup uang…, si polisi brengsek menyebarkan berita bohong, ia dituduh sebagai pembantai sapi, dan berita itu menyebar sampai ke telinga jamaat Hindu yang bencinya terhadap agama Islam, sudah kepalang candu. Ayahnya lalu dikeluarkan dari kantor polisi, digiring ke jalan, dan di dekat truknya, dipukuli massa hingga tewas.

Bagian yang menceritakan perjalanan Saddam Hussein yang masuk agama Islam karena niat membunuh, sampai bertemu Anjum di Jannat Guest House and Funeral Services, ada di halaman seratusan lebih. Dan, ketika perhatianku sudah terbagi, karena harus menyambut seorang mungkin bisa jadi pacar yang tiba-tiba datang, seperti kemunculan gerhana matahari cincin, saya menutup dan meletakkannya di meja.

Ini pertemuan kami yang pertama, untuk tujuh bulan yang telah berlalu. Saya mengucapkan hal-hal biasa yang bersifat basa-basi, seperti, “Kau tidak bosan tampil cantik kah?” atau pertanyaan, “Lagi sibuk apa sekarang?” dan ia menjawabnya, dengan jawaban yang menjurus kepada beberapa hal yang membuatnya takut menghadapi hari esok; pekerjaan, pernikahan, dan perkara menerima cinta, hasil pilihan orang tua. Hal-hal yang membuatnya bersuara parau, menahan haru dan mengungkapkan kenyataan, bahwa saya hanya bisa berhubungan dengannya, selamanya, sebagai, “Hanya bisa jadi pacar dalam kemungkinan.”

Saya mengakhiri 72 jam pertamaku tanpa ponsel dengan memintanya menginap di rumah kosku, sambil menikmati terang bulan keju spesial, susu beruang dan menonton seluruh film yang berhubungan langsung dengan Wong Kar-Wai. Ia setuju.

Baca Juga: Panduang Memasak Mi Becek Bawang Gosong untuk Pacarmu yang Murakamian

***

Hari keempat, setelah melewati malam yang panjang, saya masih bangun pagi. Dan mulai ketakutan, karena menganggap bangun pagi akan terancam menjadi pola yang melingkar. Saya lalu membuat sarapan untuk, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar. Saya suka roti bakar, dan dia berteriak dari dalam kamar mandi, bahwa ia suka telur dadar. Agar cukup adil, dan semoga bisa sedikit memekarkan hatinya yang patah, saya menggoreng keduanya ke dalam satu wajan yang sama, dengan langkah-langkah berikut: kocok dua biji telur dengan garam secukupnya, lumuri wajan dengan mentega. Lalu, tuangkan telur kocok ke wajan. Lebarkan adonan telur kocok sampai cukup ruang untuk dua buah roti lapis. Tunggu sampai telur kocoknya matang dan memungkinkan untuk dibalik. Ketika sudah siap, sajian itu akan disebut sebagai, omelet Telur Dadar India dengan isian keju dan potongan daging ayam. Tapi, karena tidak ada irisan keju dan potongan daging ayam, irisan tomat dan mentimun sudah cukup.

Di kelilingi suasana folk rock yang dibentuk oleh lagu-lagu The Mamas and The Papas, dari radio kaset. Saya dan Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar, duduk, menghabiskan Telur Dadar India, yang pada beberapa gigitan terasa asin, di hadapan sebuah akuarium kura-kura, dan lelucon-lelucon singkat tentang beberapa hal menakjubkan yang dapat dilakukan oleh dua orang mabuk. Beberapa bagian membuatnya tertawa, beberapa bagian hanya menghasilkan suasana garing.

Ketika lagu Dedicated To The One I Love berputar dan terdengar cukup nostalgia, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar tiba-tiba memasang tampang serius, lalu mengucapkan, “Ada yang mau kutanyakan.” Sebuah pertanyaan yang mengirim kesunyian ke dalam pikiranku: “Mengapa saya selalu mencintai orang yang salah?”

Saya mengenalnya sembilan tahun lalu sebagai seorang yang terlalu mudah jatuh cinta—kepada laki-laki yang selalu bukan saya. Dengan konsep komitmen, “Memberikan segalanya, sebagai bukti cinta,” mengutuknya sebagai seorang yang menjalani jenis cinta, “Jangan pernah meniru adegan berbahaya ini di rumah, tanpa pengawasan ahli,” sekaligus seorang yang mudah ditinggalkan dengan alasan paling remeh-temeh seperti…, saya ingin hijrah menjadi pribadi yang lebih baik.

Pacarnya yang terakhir, dari delapan orang sebelumnya, berpisah dengannya, setelah menjalani hubungan percintaan romantis, yang sudah cukup romantis untuk membuatnya selalu berurusan dengan otoritas kepolisian dan rumah sakit. Pacarnya, yang sekarang menjadi mantan pacarnya, setelah menghabiskan isi kartu ATM-nya, akan segera kawin dengan seorang yang sangat ia kenali. Dan ia menyadari, bahwa nasib itu, semakin membuktikan, bayangan gelapnya, bahwa cinta, hanyalah sajian singkat pada acara pernikahan orang lain. Karena itu, pertanyaan, “Mengapa saya selalu mencintai orang yang salah?” Meski tragis, sangat cocok untuknya.

Saya tidak memiliki kalimat apa pun untuk menjawab pertanyaan itu. Di kepalaku, tidak muncul sedikit pun cahaya dari bohlam lampu, atau rekahan seutas pelangi seperti yang sering kulihat dari kartun-kartun pagi di saluran televisi. Kalau pun, saya bisa menjawabnya, saya hanya akan memperlebar lubang 12mm di hatinya. Lagi pula, ada beberapa pertanyaan, yang lebih baik dibiarkan tanpa jawaban, agar tetap bermakna. Seperti, membiarkan tindakan Tuhan, seperti membiarkan hujan turun, seperti membiarkan cuaca berganti, dan seperti membiarkan, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar menanyakan, “Mengapa ia, dan mungkin setiap orang, mencintai orang yang salah?”

Di depan akuarium kura-kura, di kelilingi bau anyir cat baru, hanya ada jala kesunyian yang membuat kami terperangkap, seperti dua bayangan yang tersesat ke dalam gelap. Saya tidak bisa mengucapkan apapun, dan Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar, terlalu baik untuk mau merepotkanku dengan pertanyaan susulan. Saya merasa bersalah, tapi untuk saat ini, menurutku, kesunyian jauh lebih baik daripada menjadi bising dengan kalimat-kalimat yang memaksa diri terlihat bijak.

Selamanya Hanya mungkin Jadi pacar mulai meneteskan air mata, sesengguk demi sengguk. Karena tidak ada tisu—dan saya menyesali, karena tidak pernah berpikir, bahwa tisu, bisa begitu dibutuhkan untuk saat-saat genting seperti ini—saya hanya bisa menawarkan ujung baju kausku yang bau keringat. Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar malah melingkarkan lengannya ke pinggangku, dan membenamkan wajahnya ke dadaku. Dan menangis lepaslah ia, di sana.

Dalam dekap yang tidak begitu lebar, dalam pelukan hangat, dalam kesunyian yang lengang, kami larut mendengarkan musik The Mamas and The Papas. Musik Dancing in The Street sedikit membangkitkan suasana. Tapi, ia masih menangis dan mendekapku lebih erat. Dan saat itu, saya ingin sekali menyetel kaset lagu You Don’t Own Me, untuk suasana seperti ini, musik menggigit dari Lesley Gore, konon katanya, bisa menjeda kesedihan seseorang. Tapi, saya tidak bisa bergerak, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar, masih memelukku.

Lagu Monday, Monday dan California Dreaming terlewati, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar akhirnya memiliki kekuatan untuk mengangkat wajahnya yang sudah terlumuri air mata. Tanpa mengikuti aturan film drama mainstream, saya mengusap basah wajahnya dengan tangan kosong, lalu berusaha membuatnya tegar dengan mengirim tatapan ke matanya yang berkaca-kaca, dan beberapa anggukan pelan. Lalu, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar berkata, “Sorry, kubikin basah bajumu,” dan saya menjawab, “Nda apa-apa ji. Ini bisa jadi karya seni. Nanti kupajang di dinding, cukup artistik bentuknya.” Dan ia tersenyum.

Setelah menghabiskan segelas air, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar memohon maaf, sekali lagi, untuk pamit pulang. Sambil mengucapkan terima kasih, Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar memberikan pelukan singkat, sekali lagi, di balik pintu. Saya hanya bisa membalasnya dengan kata-kata, “Percayalah, bagaimana pun kau merawatnya, cinta sejati selalu tumbuh perlahan,” dan saya menyesal, mengucapkan kalimat katrok itu, yang sebenarnya kukutip dari film After the Storm-nya Hirokazu Kore-eda…, dengan sedikit bantuan kontekstualisasi. Ia tersenyum, dan melambaikan d-a-a-a-a sebelum hilang ke dalam taksi online. Tapi, kesunyian tidak ikut hilang, Ia masih tetap di sini, mengintipku dari berbagai sudut, menguras pemahamanku yang landai mengenai cinta.

Hingga saya melewati hari ke empat tanpa ponsel, berbaring, meluruskan punggung di lantai, menatap langit-langit rumah kosku, terkepung kesunyian dengan lagu Billie Holiday-Every Time We Say Goodbye.

Baca Juga: Solastalgia Ciuman Pertama

***

Hari kelima, saya belum tidur sampai matahari menyelundupkan pagi dari sela-sela jendela. Kesunyian karena pertanyaan itu menghasilkan bunyi yang insomniak, menjelma seekor nyamuk cerewet yang terperangkap di lorong telingaku. Ada beberapa jawaban yang bisa membuatku tidur, tapi tidak akan cukup lelap. Dan, saya tidak ingin tidur seperti kucing lapar. Saya lalu mencoba mendongengkan beberapa hal rumit untuk diriku sendiri dengan mata terpejam, berharap bisa tidur.

Apakah kau ingat? Francois de La Rochefoucauld pernah berkata, “Ada orang yang tidak akan pernah jatuh cinta; dia yang tidak pernah mendengar, ada hal semacam itu.” Lalu kau menyadarinya, gigitan pepatah indah dari moralis Prancis itu, tidak akan mungkin terjadi. Akan selalu ada orang yang jatuh cinta, karena selalu ada yang mengirimnya dengan bunyi desis, perlahan-lahan. Karena itu, cinta, tidak melulu kepenuhan yang memikat, cinta hanyalah seperangkat latar belakang yang dapat ditelusuri.

Selain itu …

“Semua orang adalah telur pecah yang tertipu oleh citra telur yang utuh.” Kata Jasques Lacan, dengan sedikit improvisasi. Kau tahu, semua orang menjalani hidup ini, untuk mengumpulkan kepingan-kepingan dirinya, berharap kembali utuh. Tapi, keutuhan itu…, tipuan. Sebab, satu-satunya hal yang mungkin adalah; usaha mencukupkan diri dengan kepingan-kepingan, apa adanya. Dengan begitu, dasar dari segala jalan hidup setiap orang, hanyalah kekurangan selamanya.

Lalu …

Sekarang, entah mengapa? Kau menjadi begitu curiga. Dulu, kau begitu memujanya, cinta adalah sesuatu yang tidak dapat dirangkum menjadi seikat definisi. Ketika seorang perempuan dengan kecerahan yang mengilap, muncul di hadapanmu, Lekuk kecil pada pipinya yang imut, membuatmu mengulang seluruh pengalamanmu akan cinta. Kau menganggapnya sebagai belahan jiwa. Seseorang yang kemudian kau baptis sebut sebagai perempuan tercantik di muka bumi ini.

Usahamu untuk mencintainya, memang sudah sesuai dengan aturan kerja cinta dan dianut oleh banyak orang, kau mengikuti trend. Suatu saat perempuan itu meminjamkan bibirnya untuk kau kecup, membuatmu merasa, kesepian yang kau derita telah sirna. Sampai batas peminjaman itu berakhir…, Dia pergi dengan laki-laki lain, dan membatalkan semua pemahamanmu tentang cinta: Cinta sejati tidak perlu dijelaskan.

Hm …

Sekarang, dengan alasan yang kuat, kau menganggap cinta yang pernah membuatmu terasa penuh, dikirim oleh karangan budaya pop: sinetron televisi; gaya hidup selebriti; drama-drama percintaan; dan kata-kata memikat yang berhamburan di media sosial. Menjadi latar belakang kisah sedih kontemporer dan perihal mencintai orang yang salah.

Oh iya …

Sebenarnya, setiap orang adalah orang yang tepat untuk dicintai. Selamanya Hanya Mungkin Jadi Pacar, juga kau, hanyalah kompilasi cara memahami cinta yang keliru, sehingga semua orang adalah orang yang salah.

Masalahnya …

Dan, kau setidaknya harus tahu, setiap orang yang menjalani hubungan percintaan, akan selalu jadi orang awam. Tidak ada yang ahli dalam mencintai. Karena itu, cara terbaik yang dapat kau lakukan, untuk mencintai seseorang adalah, belajar mencintai tanpa batas akhir, bahkan ketika hubungan itu benar-benar tidak dapat dipertahankan. Dengan kata lain, perpisahan—bagaimana pun pedihnya, adalah bagian dari proses belajar mencintai.

Tapi itu memang tidak mudah diterima. Sebab…, Selalu cinta yang membuat kita tersakiti, yang memberi kita banyak pelajaran.

Mengapa perihal mencintai orang yang salah, terus menjadi kisah sedih kontemporer?

Alain de Botton menjelaskannya lebih terang. Menurutnya, perayaan kita terhadap cinta yang terburu-buru, digerakkan oleh asumsi romantisisme: di luar sana, ada seseorang yang menunggumu, orang-orang menyebutnya sebagai jodoh. Asumsi romantisisme mengatakan, kau akan menemukannya, suatu saat jika kau terus berjalan. Dan, jika kau menemukannya, jiwamu dan jiwanya akan menyatu dan sirnalah segala kesepian yang kau derita. Bagaimana jodoh itu ditemukan? Dengan naluri, romantisisme akan memberimu jawaban seperti itu. Tapi, ketika jodoh itu telah ditemukan, bagaimana cinta itu bisa dirangkai? Romantisisme tidak punya penjelasan.

Dengan kata lain, romantisisme, hanya menyediakan kursi bagi para pengikut kelas merasakan pesona cinta, dengan kata-kata yang memikat. Tapi, sesi…, menjalani cinta sebagai jalan terjal, romantisisme tidak menyediakan tutorial. Palingan, kau hanya diminta untuk menjalaninya sendiri secara alamiah. Dan kau tahu, seperti fungsi tombol otomatis, cinta alamiah yang paling dapat kau mengerti, adalah cinta yang dijalani dengan naluri seksual. Dan hidup, sialnya, tidak hanya tentang perkara persetubuhan. Ada norma umum yang berlaku. Dan, ikatannya jauh lebih kuat daripada sekadar saling mencintai lalu melakukan hubungan seksual. Kau harus menikah, karena NORMA UMUM membenci mereka yang hidup sendiri. Kau harus memiliki pekerjaan,  karena NORMA UMUM membenci mereka yang tidak memiliki pekerjaan. Kau harus membagi waktu antara rumah tangga dan lingkungan tempat kerjamu, melahirkan anak, dan membiayai pendidikannya. Dan, mendapatkan jaminan usia tua, akan terus menghantuimu.

Karena itu …

Cinta yang berdasarkan asumsi romantisisme akan membentuk tipuan telur utuh. Perasaan tidak pernah tercukupi, akan membangkitkan rasa tidak berterima dengan kekurangan selamanya. Cinta, akan menjelma sebagai seperangkat alat pemenuhan diri. Kau memanfaatkan orang lain, yang kau cintai, sebagai upaya untuk memenuhi diri sendiri: Egois, hanya ingin dicintai saja, tidak ingin merepotkan diri sebagai pihak yang mencintai, pasangan dimanfaatkan sebagai upaya pamer diri, kau bahkan bisa meninggalkan rasa sakit di tubuhnya, hanya karena persoalan curiga, kau pasti jalan sama mantanmu, kan? Kenapa kau chat sama orang lain? Hasilnya …, hubungan percintaan yang diharapkan penuh kasih, justru bisa membawamu pada titik kehancuran.

Meski pun begitu, sejak lahir, setiap orang tidak dibekali tata cara mengenali diri sendiri, dan bagaimana memahami orang lain sebagai upaya berbagi kekurangan. Cinta dengan versi terbaik, adalah yang membuatmu mengenali diri sendiri. Sebab, tidak mungkin memahami orang lain, jika kau tidak sempat memahami diri sendiri. Maka, menjalani hubungan percintaan, adalah belajar saling menghargai, agar kau bisa terus mengupgrade sisi kemanusiaanmu.

Lalu…

Lalu…

Lalu..

Baca Juga: Selingkuh Itu Wajar, tapi Jarang Sekali Berakhir Bahagia

***

Saya terbangun oleh bunyi ketukan pintu, dari seseorang yang berteriak, “P-a-a-k-e-e-e-t,” berkali-kali. Kepalaku terasa berat sekali, seperti sedang tertanam di lantai, jantungku berdetak pelan, dan tenggorokanku kering, seperti sumur tua di tengah gurun. Penglihatanku seperti dipenuhi semut-semut hitam, setelah berupaya berdiri, membuka pintu rumah kosku. Sinar matahari, seperti busuran anak panah, menyerbu pandanganku. Silau, dan saya kewalahan menatap wajah seseorang yang berdiri di hadapanku. Meski buram, saya lihat, ia menggunakan topi hitam dengan tulisan ‘express’.

“Tanda tangan di sini, Pak.” Katanya.

Setelah mencoret-coret kertas itu, seseorang yang menggunakan topi hitam, memberiku kardus kecil dan pergi. Saya menutup pintu dan menyimpan kardus itu, di atas meja, dekat akuarium kura-kura, yang sepertinya akan segera kawin.

***

Saya menyadari, bahwa hari ini adalah hari ketujuh, atau sudah 158 jam saya hidup tanpa ponsel. Kemarin, mungkin, saya tidak bisa disebut sebagai masih hidup, sebab, saya tidur seharian seperti beruang kutub jadi-jadian. Saya ingat, masih sempat terbangun, setidaknya dua kali, untuk buang air kecil, sebelum akhirnya tidur lagi.

Begitu selesai mandi, seluruh kesadaranku kembali. Saya membuka paket, yang sepanjang ingatanku tidak pernah kupesan. Begitu menggunting beberapa sudut bungkusannya, isinya ternyata, sebuah ponsel Poco F2 Pro dan secarik note, “Terima kasih buat Telur Dadar India-nya. Sekarang saya akan merawat cintaku, perlahan-lahan.” []

BACA JUGA artikel Ma’ruf Nurhalis lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles