Sekitar tujuh tahun lalu, seorang senior memperkenalkan diri disusul pertanyaan, “Mengapa puisi, penting dan dibaca?”

Tentu bagi kami yang belum sepekan merasakan nikmat dan menderitanya menjadi mahasiswa, ada rasa bahwa pertanyaan orang itu salah alamat. Tapi untung saja kami beruntung, sebab jauh sebelum menyadari cara melarikan diri, si senior yang belakangan populer dan cukup gandrung dengan karya-karya susah dipahami menuntaskannya, “jika saya membaca buku atau tulisan apa pun dan ia membuat sekujur tubuh ini menggigil sehingga tak ada satu pun api yang sanggup menghangatkannya, maka ketahuilah itu adalah puisi”. Dan seketika saya merasa terbakar.

Baca Juga: Di Atas Segalanya Orang-orang Mesti Malu dan Bertahan

Lebih dari sepuluh tahun berkutat dengan berbagai macam teks sastra, lelaki berbadan tambun dan berambut gondrong itu untuk pertama kalinya banyak bicara. Peristiwa itu muncul tidak lama setelah ia berlama-lama berdiri tepat di muka salah satu mading kampus. Oleh siapa pun yang mengenalnya, orang itu sebenarnya cukup pendiam dan dingin namun kali ini berubah jadi api. Kebetulan saya mengikuti salah satu akun media sosialnya dan dari sana saya jadi tahu mengapa ia mengumpat.

Puisi panjang berlatar hijau daun yang terpampang di mading hari ini cukup mengganggu harinya hari itu. Yang membuat ini sedang kelaparan, makan dan menelan semuanya mentah-mentah. Orang ini tidak menulis tapi buang air. Suaranya hampa, penuh omong kosong, layu dan dimakan ulat. Begitu ia berkomentar di salah satu postingan media sosial lengkap dengan hasil tangkapan kamera ponselnya. Tentu pikiran saya tergerak tapi malah berujung, “apa maksudnya layu dan dimakan ulat?”

Dia sebenarnya bukan sosok asing. Orang itu salah satu yang pernah mengajari saya sajak-sajak John Milton, penyair dan intelektual Inggris. Karyanya Paradise Lost (1667), secara luas dianggap sebagai salah satu karya terbesar yang pernah ditulis dan sekali waktu, membentuk ulang identitas bahasa Inggris—dan karya itu pada akhirnya membawa saya merengkuh gelar sarjana.

Baca juga: Memang Mematikan, Tapi Juga Menghidupi Kecemasan

Puisi memberi kita sebuah arsip. Begitu ia membuka diskusi lima tahun lalu. Arsip terbesar pikiran dan perasaan manusia yang diciptakan oleh orang-orang dan sanggup mengolah pengalaman secara utuh sekaligus akurat ke dalam bahasa. Saya benar-benar mencatatnya dengan baik.  

Pertemuan kami terjadi setelah satu dekade berlalu. Sekilas ia tampak seperti orang asing yang datang dari negeri penjajah. Tubuh yang dulunya tambun kini menipis, rambut yang dulunya panjang berubah klimis. Dan sebaliknya saya seperti melihat diri saya sesaat setelah langkahnya mendekat. Tak ada yang berubah selain kelihatannya. Apa yang dulu dicitrakan orang-orang di kampus tentang dia masih tetap sama bahkan keliru kalau tidak dikatakan sudah jauh lebih jauh. Studi masternya telah ia tuntaskan belum lama ini dan sebentar lagi, ia akan menjadi salah satu staf pengajar di sini. Supaya pertemuan yang kebetulan ini tak sia-sia, saya inisiatif menahannya, menawarinya untuk ngopi sebentar sembari mengenang dan menebak-nebak masa lalu. Agar menarik, saya tentu mesti masuk ke dalam horisonnya.

Tahun ini cukup mengejutkan, begitu saya membuka rekaan ini. Pemenang Nobel Sastra pada akhirnya jatuh ke tangan penyair. Saya hampir tak ingat siapa kali terakhir penyair yang diganjar Nobel Sastra, itu pun kalau kita bersepakat penyair tidak sama dengan musisi atau lagu jauh berbeda dengan puisi. Jarang-jarang karena puisi, seorang penulis memenangkan penghargaan prestisius itu. Momen tersebut sekaligus menjadikan Louise Gluck perempuan kedua Amerika Serikat yang menang setelah Toni Morrison melakukannya di tahun 1993. Tapi apakah ini mengejutkan? Saya kira tidak. Begitu timpalnya.

Ia mulai memperbaiki lengan kemejanya dan tak lupa posisi duduknya. Matanya lurus menembus dinding, sebatang kretek susul terbakar. Dunia dalam horison kesastraan Indonesia, barangkali atau sebagian besar asing dengan nama Louise Gluck, penyair berkewarganegaraan Amerika kelahiran New York 1943. Pembaca Indonesia khususnya puisi mungkin lebih terbiasa dengan karya-karya Emily Dickinson, Audre Lorde, atau Sylvia Plath dibanding profesor bahasa Inggris dan sastra bandingan Universitas Yale ini. Seperti kamu, nama Gluck mencuat begitu terpilih sebagai Pemenang Nobel Sastra di tahun ini.

Baca juga: Kawan Dekat yang Tinggal di Tempat Jauh

Dalam konteks sastra Barat terkhusus Amerika dan Eropa, nama dan karya Gluck sudah lebih dulu menuai benderangnya dan diakui sebagai satu dari sedikit penyair terkemuka di arena sastra kontemporer Amerika. Sepanjang hidupnya, ia sudah punya—kalau tidak salah 12 buku puisi dan beberapa volume koleksi esai yang membahas soal puisi.

Memulai debut kepenyairannya pada 1968 lewat karyanya Firstborn, Gluck tak perlu menunggu lama punya sayap untuk terbang atau menjadi ulat untuk naik daun. Sebelum meraih Nobel Sastra, ia telah lebih dulu meraih sejumlah penghargaan yang bukan kaleng-kaleng, dua diantaranya kalau tidak salah Pulitzer Prize tahun 1993 dan National Book Award di tahun 2014. Katanya ia kebetulan pernah mengulas karya-karya Gluck dalam sebuah reaction paper untuk salah satu matakuliah kemarin.

Karya Gluck punya napas atau corak tersendiri mengenai perjuangan bertemu dengan kepastian. Mulai dari kehidupan masa kanak-kanak, hingga hubungan dengan orang tua dan saudara yang menyakitkan—penuh luka dan tak berdarah, merupakan tema-tema yang sering dibicarakan puisi-puisi Gluck. Panitia penyelenggara Nobel, Swedish Academy menyebut karya-karyanya, “mendengarkan apa yang tersisa dari yang tersisa, mimpi juga delusi, serta tak ada yang lebih sukar daripada ia mesti menghadapi ilusi atas dirinya”. Menurutku karyanya mampu membantu orang-orang di luar sana menjalani kehidupan mereka.

Argumennya menarik. Tapi saya malah spontan saat itu, “maksudnya?”

Baca juga: Kami yang Keras Kepala atau Dia yang Tidak Mudah Menyesal

Pelan-pelan kita menuju ke sana. Tapi sebelumnya penting digarisbawahi bahwa sudah banyak penelitian, jurnal, ulasan, hingga buku yang secara khusus ngomong tentang Gluck dan karya-karyanya. Satu dari sekian banyak pilihan yang menurutku kaya suara adalah yang ditulis Daniel Morris, judulnya The Poetry Louise Gluck: A Thematic Introduction (2006). Dalam pengantarnya, Gluck dianggap sebagai salah satu penyair lirik kontemporer terkemuka di Amerika, oleh banyak kritikus maupun pembaca awam. Puisinya secara umum diidentifikasi dengan berbagai stilistika retoris selain puisi lirik tradisional yang tetap menjadi keahliannya. Selain itu, terdapat suara yang bersaing dalam sebuah hubungan dialogis terbuka yang dinilai menawarkan dimensi naratif.

Ia kemudian membuka ponselnya dan mengirim sebuah dokumen. Sebelum mendengarnya lebih lanjut, saya sekilas membaca dokumen tersebut. Persis yang ada dalam bagian pertama “Poem are Autobiography”: Toward Imagining a Postconfenssionalist’s Biography, sejumlah penyair dan kritiknya bersepakat sekaligus mengapresiasi bagaimana strategi Oma Gluck dalam menggambungkan lirik-lirik dan naratf menjadi sebuah kesaksian yang unik. Menariknya, ia mengaburkan batas antara gaya modernis dan kontemporer. Secara bersamaan sangat individualistis namun terasa universal, mistis, tragis, dan komikal. Pada domain akademis, sastra, sejarah, dan kritis, posisi subjek yang dibangun Gluck tampak lunak untuk menempati banyak ruang dan untuk menarik konstituen yang berbeda.

Pada bagian kedua, Dedicated to Hunger: A Poetics of Desire puisi-puisi Gluck perlahan masuk ke lapisan lain seputar hasrat, lapar, dan keinginan-keinginan abstrak. Persona puitika Gluck tentang situasi lack atau berkekurangan terkait dengan godaan oleh hal-hal duniawi. Dalam puisinya, keinginan sebagaimana di atas dimengerti sebagai libid-arus inal yang mengalir menuju objek cinta, namun tidak dapat sampai ke tujuannya. Persis seperti yang pernah diungkap Zizek soal the ril atau Yang Nyata—yang selalu diburu oleh subjek tetapi takkan pernah mendapatkan kebermaknaannya.

Baca Juga: Catatan untuk Rijneverld

Karyanya yang berjudul “The Destination” yang termuat dalam buku The Seven Ages (2001) bicara soal itu. Tentang bagaimana sebuah hubungan cinta yang berlangsung, “hanya beberapa hari” justru “hidup hampir sepenuhnya dalam imajinasi” ketika narator fokus bukan pada penyesalannya bahwa hubungan yang sebenarnya dengan yang dicintai begitu singkat, namun sebaliknya hal itu “tidak pernah diizinkan untuk mekar .. menjadi penerimaan atau kasih sayang yang lamban”

The days were very long, like the days now.

And the intervals, the separations, exalted,

suffused with a kind of passionate joy that seemed, somehow, to extend those days, to be inseparable from them.

So that a few hours could take up a lifetime.

Seperti kisah dalam teks puisi di atas, narator seperti mencintai jarak lewat lirik dalam suatu waktu dan ruang, memberi siginifikansi linguistik dari pengalaman erotis yang sebaliknya terlihat sia-sia dikarenakan meleset. Paradoksnya, penolakan narator terhadap relasi dengan kekasih menjadi taksir nilai suatu peristiwa baginya sebagai sumber penghormatan imajinatif.

Selain itu, Gluck juga secara gamblang tanggap dan kritis terhadap hal-hal besar. Alhasil memperkokoh posisinya sebagai salah satu penyair kontemporer terkemuka kendati secara khusus dilabelisasi sebagai penyair Yahudi. Terasa bahwa karya-karyanya dekat dengan berbagai narasi Alkitab, meski terkadang secara kritis menginterupsi berbagai bentuk penyalahgunaan otoritas terutama dalam relasi teologis. Tak hanya itu, Gluck juga diidentifikasi melalui suara-suara naratornya yang lekat dengan diskursus gender, kelompok marginal, dan identitas.

Hari itu saya beruntung bertemu dia. Tentu saja ini seperti mendapat kuliah tiga satuan kredit semester entah dari mana. Di sela-sela obrolannya, orang itu tiba-tiba diam. Saya tahu ia seorang yang pendiam. Matanya mengarah pada sebuah koridor, di sana terpampang sebuah mading tua dengan sisa-sisa kertas yang melekat. Seketika ia tertawa tipis dan tampak mengingat sesuatu.

“Ingat sesuatu kanda?” Isi gelas hampir tandas, artinya tidak lama ia akan bergegas. Tanpa merespon pertanyaan saya, tangannya merogoh kantung kemejanya. Sebuah korek ia raih dan seketika membakar ujung rokoknya. Sebagai mantan junior dan pembangkang, saya mengikuti bahasa tubuhnya.

Di bagian lain berjudul The Wound in the Word: Trauma Theory and the Question of the Witness, kita semakin mengerti apa maksud mampu membantu orang-orang di luar sana menjalani kehidupan. Bagian ini semakin memperjelas spirit sekaligus motif yang dibawa Gluck dalam sebagian besar karya-karyanya. Oleh Daniel Morris, Gluck disebut sebagai seniman atau penyair trauma.

Sebutan itu tidak lain lantaran persepsinya tentang ketidakmampuan bahasa dan mitos menanggapi kehilangan lewat representasi yang menimbulkan luka psikologis. Meski terdengar dalam, rasa itu tidak dengan mudah sampai ke diri pembaca. Gluck menyoroti pengalaman, sejarah, dan peristiwa yang memicu—tidak hanya sekadar luka fisik yang tampak melainkan psikis yang bisa saja memicu ketidaksadaran subjek dalam memahami diri dan dunianya di masa kini.

Baca juga: Orang-orang Oetimu dan Keganjilannya

Dalam hubungan antara trauma dan pemulihan, penggunaan bahasa, mitos, dan narasi dalam puisi Gluck bermuara pada apa yang bagianya merupakan situs traumatis. Puisi-puisi Gluck dibaca sebagai tafsiran atas kesaksian bukan lagi sekadar gejala luka atau tanda pengalaman sebelumnya atau apa yang diberikan kehidupan terhadap subjek sebagai korban. Kesaksian dibagian ini dipahami mirip seperti katarsis yang berarti merawat dan menyembuhkan luka yang sama bukan sekiranya membawa subjek kembali ke masa lalu. []

BACA JUGA Artikel Wahyu Gandi G lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles