Cerpen Kawali dan Pistol karya Alfian Dippahatang merupakan sebuah karya yang menurut hemat saya sedikit menggambarkan historisitas kebekuan tradisi perkawinan masyarakat Bugis-Makassar. Kendati demikian, artikulasi kedua tokohnya, Rungka dan Ramlah entah mengapa terbelenggu pada tradisi itu.

Terdapat sejumlah alasan mengapa saya sampai pada tahap menjustifikasi cerpen tersebut dengan mengilustrasikan struktur tatanan masyarakat setempat. Pertama, Rungka diartikulasikan sebagai tokoh yang menggenggam falsafah tradisi Bugis-Makassar sebagaimana fragmen kalimat dalam paragraf pertama yang mendeskripsikan dirinya sebagai “lelaki bertanggungjawab dengan ucapannya”. Narasi itu sejalan dengan falsafah “Sadda mappabatti ada, Ada mappabatti gau, Gau mappabatti tau”. Kedua, setting tempat memiliki sensitivitas yang kuat di Sulawesi Selatan. Dan ketiga, ada beberapa pandangan yang sama sekali tidak terlepas dari distribusi sensibilitas tradisi Bugis-Makassar dalam perkawinan.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan lebih jauh menjelaskan alasan dari poin pertama dan kedua itu. Namun sebenarnya, saya akan lebih condong membongkar bentuk distribusi sensibilitas yang menjadikan kedua tokoh sebagai yang tak didengarkan, atau sebagai bagian yang tak memiliki bagian dari tatanan Bugis-Makassar. Secara sederhana distribusi sensibilitas dapat dipahami sebagai persepsi indrawi atau partisi yang terbagi ke dalam bagian-bagian tertentu sesuai dengan hukum (nomos) pada suatu tatanan masyarakat.

Baca juga: Orang Bugis

Secara tekstualitas, paragraf kedua cerpen menampakkan bentuk distribusi sensibilitas yang dibuat oleh orang tua—sebagai yang dominan—Ramlah dengan melihat latar belakang Rungka. “Bukan karena kami membebaskanmu memilih lelaki, kau tak mempertimbangkan lagi siapa keluarganya. Namun dengan lelaki pilihanmu ini, kami tak akan memberi restu.” Dan “Cari lelaki lain! Keluarga Rungka, tujuh turunan sudah dikenal sebagai pencuri.”

Artikulasi atau narasi itu, secara tidak langsung mengafirmasi kehadiran rezim yang mensubjektivikasi tokoh ke dalam bagian-bagian kelompok, posisi dan fungsi sosial tertentu. Bagian-bagian itu tak lain, menjadi konstruksi kuat dalam Bugis-Makassar yang melihat seseorang—salah satunya—sesuai dengan garis keturunannya. Konstruksi itu juga tidak terlepas dari konsepsi siri’ yang menjadi hukum (nomos) untuk mempertahankan derajat dalam stratifikasi sosial.

Konsep siri’ ini dimaknai sebagai hal yang prinsipil. Unsur yang memiliki prinsip di dalam diri masyarakat Bugis-Makassar. Bagi yang memegangnya, tidak ada yang patut dipertahankan di muka bumi ini selain siri’. Sehingga siri’ dapat dimaknai sebagai jiwa, martabat, dan harga diri yang hadir di dalam diri masyarakat Bugis-Makassar. Akibatnya, siri’ menjadi satu persepsi hukum logis dan alam dalam melakukan perkawinan.

Baca juga: Mantan Pacarmu dan Apa Yang Tersisa dari Yang Tersisa

Berkaitan dengan itu, bangunan dalam tatanan Bugis-Makassar itu, saya sebut dengan meminjam istilah platon berdasar pembacaan atas kritik filsafat politik Jacques Ranciere sebagai bentuk Arkhe-politik yang menempatkan masyarakat ke dalam identifikasi identitas dan dilandasi oleh hukum tertentu. Hukum itu secara tidak langsung memberikan posisi-posisi tertentu pada proporsionalitas yang menolak hadirnya seseorang untuk bermigrasi dari posisi sebelumya. Misalnya, pada era platon, oligarki tidak dapat menjadi seorang filsuf atau intelektual, begitupun sebaliknya.

Demos sebagai orang-orang banyak (people) yang tak memiliki posisi atau fungsi tertentu—tidak memiliki bagian. Sehingga hukum sebagai dasarnya menjadi tumpang-tindih antara yang memiliki bagian serta bagian yang tak memiliki bagian.

Arkhe tersebut menjebak Rungka dalam cerpen ini, pasalnya struktur atau tatanan sosial itu dengan mengacu pada distribusi sensibilitas dari keluarganya sendiri dan tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ramlah.

“Ramlah menarik dan mengembus napas tidak teratur, kutafsir dia miris mendengar kondisi keluargaku yang kacau balau pernah dililit utang. Aku harus mengungkapkannya, agar kejujuranku tidak membuatnya menyesal di kemudian hari telah mencintaiku.

Kau tak mungkin lagi mendengar suara keluar dari mulutku, tetapi tidak dari hatiku. Bukan begitu, Rungka? Kau perlu tahu, harapan kita menikah secara resmi memang tak akan pernah tercapai. Orang tuaku makin mendidih dalam berkata-kata…..”.

Dari kutipan teks di atas, Ramlah secara empirik semakin berada dalam tatanan yang membuat dirinya tidak didengarkan oleh Rungka. Begitupun sebaliknya, Rungka secara tidak langsung terpenjara di dalam tatanan yang mengafirmasi posisinya dengan kejadian yang menimpa keluarganya. Hal tersebut, secara simbolis memperkuat kehadiran subjek sebagai bagian yang tak memiliki bagian atau yang tak didengarkan di dalam tatanan Bugis-Makassar.

Baca juga: Dari Puisi-puisi M Aan Mansyur, Kita Menemukan Cara Mengakui Diri

Oleh karena itu, secara tekstual, cerpen ini telah mengilustrasikan bentuk arkhe itu ke dalam narasi yang memiliki landasan historis kuat di masyarakat Bugis-Makassar. Dengan begitu, cerpen Kawali dan Pistol sebagai karya sastra, pada akhirnya menghasilkan entitas tertentu yang disebut sebagai imitasi lokalitas di Bugis-Makassar.

Hal ini berkaitan dengan rezim representatif, di mana rezim ini memiliki konsep imitasi yang berkembang menjadi bentuk-bentuk normativitas yang mendefinisikan kondisi-kondisi yang dapat dikenali sebagai milik suatu seni tertentu.

Pada akhirnya Kawali dan Pistol dalam imitasi lokalitasnya, tentu membentuk partisi antara yang terwakili dan yang tak terwakili. Hal ini menjadikan karya ini tidak memasuki ruang yang disebut sebagai politik dan estetika. Berdasarkan buku The politics of Aesthetics: Distribution of the Sensible (2013) oleh Jacques Ranciere, karya sastra atau seni yang estetik tidak lagi terjadi melalui partisi seperti yang dikemukakan rezim representatif atau cerpen tersebut. Estetika dalam hal ini bukan hanya terjebak dalam pandangan umum keindahan, seperti yang digunakan oleh banyak orang menjelaskan karya seni atau sastra.

Estetika itu menawarkan kebebasan seperti istilah Schiller tentang play drive sebagai inti kebebasan yang keluar dari aturan moral atau hukum tertentu. Sehingga karya yang estetik, jika mengacu pada pandangan Ranciere adalah karya yang terlepas dari belenggu genre, komunitas, hukum bahasa, bahkan imitasi tertentu.

Apabila kawali dan pistol mampu melampaui atau terbebas batas-batas distribusi tatanan Bugis-Makassar tersebut, maka karya ini akan menjadi subjek politik yang bukan lagi bertujuan untuk mengambil bagian dari tatanan distribusi itu, akan tetapi dapat menempatkan dirinya sebagai subjek yang setara dalam ruang dan waktu itu sendiri.

Baca juga: Politik Wacana dan Belajar Sinis kepada Aktivis

Pemahaman politik di sini bukan seperti pemahaman umum negara kita yang terbangun saat ini. Justru politiklah yang dapat menghilangkan bagian yang tak memiliki bagian itu atau menjadi oposisi dari rezim distribusi. Politik berdasar atas pengandaian dan sampai pada tahapan tindakan untuk memverifikasi kesetaraan. Sehingga karya sastra sebagai subjek dapat menjadi setara jika terbebas dari belenggu partisi apapun untuk menyuarakan yang tak terdengar dan tak terlihat.

Dari situ dapat ditarik bahwa karya Alfian ini terjebak dalam ruang dan waktu yang ditengarai pada imitasi tertentu. Akibatnya keterjebakan ini justru membuatnya menjadi terbelenggu dan tidak menjadikan dirinya sebagai karya estetik dan politis.

Penulis: Dwi Rezki Hardianto, mahasiswa magister ilmu sastra Universitas Gadjah Mada.

BACA JUGA artikel kontributor lainnya di sini.

Facebook Comments
No more articles